
Setelah beristirahat satu hari sambil memulihkan kondisi Coco, mereka kembali melanjutkan rencana menuju ke Menara Hitam. Selama dalam perjalanan, Adriano tampak memikirkan apa yang Ertan ucapkan kemarin. Akan tetapi, tekadnya sudah bulat untuk menemukan sosok Nenad.
“Apakah Anda yakin, Tuan-tuan?” Ertan kembali melontarkan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. Tangan pria itu lincah memegang kemudi dan membelokkannya sesuai arah jalan.
“Tenang saja, Ertan. Aku tidak takut mati. Tidak akan ada yang menangisiku. Tidak juga Francy,” suara Coco yang terdengar semakin melemah. Antara kasihan dan geli, Adriano tersenyum simpul lalu menoleh ke arah jendela. Sebisa mungkin dia tak menanggapi kegalauan dari sahabat mendiang Matteo itu.
“Siapa Francy?” tanya pemandu asal Serbia itu lagi.
“Bukan siapa-siapa, Ertan. Tolong, fokuslah mengemudi,” tegur Adriano pelan.
“Baiklah, Gospodin. Akan tetapi, kita sudah hampir sampai. Anda lihat tembok besar di depan sana?" tunjuk Ertan. "Itu adalah tanda perbatasan antara Zlatibor dengan Menara Hitam,” jelasnya sambil terus mengemudi.
Adriano sedikit menunduk, kemudian memandang tajam pada bangunan tembok yang memanjang hingga belasan kilometer jauhnya. Begitu pula dengan Coco yang sempat berdecak kagum. “Ada apa di balik tembok itu?” gumamnya.
“Aku juga tidak tahu dengan pasti, Tuan-tuan. Namun, banyak isu menakutkan yang beredar seputar kota mati itu,” beber Ertan.
“Oh, ya? Seperti apa?” Adriano yang mulai tertarik, segera mencondongkan badannya ke arah kursi pengemudi.
“Anda mungkin tidak akan menyukai apa yang aku katakan,” Ertan mulai ragu.
“Tidak apa-apa. Katakan saja,” desak Adriano meyakinkan.
“Tidak ada yang pernah tahu seperti apa keadaan di dalam sana, Gospodin. Siapa pun yang masuk, tidak pernah terlihat keluar lagi,” jelas Ertan dengan wajah memucat. “Sepertinya aku juga harus berhenti sampai di sini. Aku tidak bisa mengantarkan Anda lebih jauh lagi,” Ertan buru-buru keluar dari mobil, lalu membuka bagasi dan mengeluarkan dua tas ransel milik Adriano serta Coco. Setelah itu, dibukanya pintu penumpang. Ertan melemparkan tas ransel yang baru saja dia ambil ke pangkuan Adriano begitu saja.
“Hei!” protes Coco.
__ADS_1
“Sudah, tidak apa-apa,” Adriano mengangkat satu tangannya sebagai isyarat agar Coco tetap tenang.
“Aku tidak boleh terlihat di sekitar sini, atau wajahku akan masuk di kamera pengawas mereka. Anda harus tahu, Tuan-tuan. Mereka akan memonitor siapa pun yang masuk atau sekadar mendekati wilayah Menara Hitam. Mereka pasti menandai siapa saja yang terlihat berada di sekitar sini. Tidak boleh ada seorang pun yang mengetahui keadaan tempat ini. Sekarang, kumohon keluarlah dari dalam mobilku,” pintanya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
“Baiklah, Ertan. Aku tidak akan memaksamu lebih jauh lagi,” sembari tersenyum, Adriano keluar dari kendaraan dan merogoh sesuatu dari dalam kantongnya. Segepok uang kertas dalam bentuk dinar Serbia dia berikan kepada Ertan tanpa beban. “Upahmu sama sekali tidak dikurangi dari perjanjian awal kita,” tuturnya.
Ertan terbelalak dan sedikit gemetar menerima uang itu. “I-ini terlalu banyak, Gospodin,” ucapnya terbata.
“Tidak apa-apa. Gunakan untuk keperluan sekolah anak-anakmu. Istrimu juga sepertinya hendak melahirkan,” jawab Adriano enteng, membuat Ertan kembali trekesiap dan tertegun untuk beberapa saat.
“Da-darimana Anda tahu tentang keluargaku?” keringat dingin mulai membasahi kening sang pemandu.
“Begitulah aku. Setiap orang yang kuajak bekerja sama, maka akan kuselidiki latar belakangnya terlebih dulu. Kau sepertinya orang yang bersih, tak pernah berkecimpung di dunia hitam. Jadi, aku bisa mendapatkan informasi tentangmu dengan mudah. Lain halnya jika orang kuajak bekerja sama adalah orang yang sama-sama berkecimpung di dunia hitam. Akan sedikit sulit bagiku untuk mengorek latar belakangnya,” ujar Adriano dengan pikiran yang tertuju kepada Don Vargas.
“Ka-kau? Siapa kau sebenarnya?” Ertan tergagap ketika menyadari ketika Adriano bukanlah orang biasa.
“Macan Hitam?” ulang Ertan.
“Sebaiknya kau segera pergi dari sini, karena kami akan bergerak mendekat ke Menara Hitam,” suruh Adriano masih dengan nadanya yang terlihat begitu tenang.
Tanpa menunggu lama, Ertan bergegas memasuki kendaraan dan memutar kemudi. Dia melajukannya dengan kecepatan tinggi, dengan diiringi tatapan Adriano dan juga Coco.
Setelah mobil itu tak terlihat lagi, barulah Coco mengamati sekitarnya. Jalan raya yang cukup lebar itu memang sangatlah sepi. Tidak ada satu kendaraan pun yang terlihat melintas di area tersebut. Coco berpikir sejenak. Masuk akal baginya, karena posisi jalan raya tadi sepertinya membelah hutan belantara.
Di kanan dan kiri mereka terdapat pepohonan tinggi dan lebat, khas hutan sub tropis bersuhu dingin. Coco sempat mengecek ponsel dan melihat suhu yang terdeteksi olehnya. Suhu di sana berkisar sekitar sepuluh derajat celcius. Dia yang saat itu mengenakan kaos oblong dan jaket denim, harus merapatkan pakaiannya. “Kita berada di negeri antah berantah,” gumam Coco.
__ADS_1
Sementara Adriano lebih memilih untuk mengawasi tembok besar yang melintang, beberapa ratus meter di depannya. Tembok yang terbuat dari batu yang penuh dengan lumut itu memotong jalan besar tersebut begitu saja, seolah-olah jalan raya tadi merupakan jalan buntu. “Nenad membangun istananya di tengah hutan,” ucap Adriano pelan.
“Bagaimana sekarang?” Coco berkacak pinggang dan berdiri di samping Adriano.
“Tak ada jalan lain selain kembali ke arah kota Zlatibor, atau terus maju menembus tembok itu,” jawab Adriano datar. “Apakah kau membawa peralatanmu?”
“Tentu!” Coco membuka ransel yang berukuran lebih besar dari ransel milik Adriano yang sedari tadi dia tenteng. Diambilnya sebuah drone berukuran sangat kecil dan dipamerkannya kepada Adriano. “Ini adalah drone rakitanku sendiri. Tak ada duanya di dunia,” ujar Coco bangga seraya menyeringai lebar.
“Lalu, di mana remote untuk menggerakkannya?” tanya Adriano.
“Aku tidak perlu remote. Semua sudah tersedia di dalam ponselku,” Coco mengangkat ponselnya dan kembali menyeringai. “Drone sekecil ini tak akan menarik perhatian. Mereka akan mengira bahwa alat ini hanyalah seekor serangga,” celotehnya sambil mengoperasikan benda itu.
Beberapa saat lamanya Coco serius mengoperasikan ponsel dan menautkannya dengan drone mini itu sampai benda kecil mirip laba-laba tersebut melayang dan terbang memutar di atasnya.
“Kita tunggu dia memetakan tempat ini. Duduklah di sana sebentar,” Coco mengajak Adriano menepi ke samping jalan. Mereka melangkah masuk sedikit lebih dalam ke arah hutan, lalu duduk di sebuah batu besar.
Coco kemudian mengeluarkan laptop dan menyalakannya. “Laptop ini sudah terhubung dengan drone tadi. Kita akan dapat melihat apa saja yang tertangkap kamera drone melalui layar,” terangnya dengan raut wajah yang jauh lebih serius.
“Baiklah,” dengan sabar Adriano menunggu sampai muncul sesuatu dari layar. Drone itu terlihat melayang di antara pepohonan, kemudian bergerak turun hingga hampir menyentuh tanah. Namun, berkali-kali drone itu berhenti sebelum kembali melayang lagi.
“Apakah ada kesalahan?” Adriano sedikit was-was.
“Tidak, Amico. Selain kamera, droneku juga sudah dilengkapi alat mini pendeteksi logam. Ketika dia berhenti, itu artinya dia tengah menemukan benda dengan kandungan metal atau jenis logam lainnya dalam kadar yang sangat tinggi,” jelas Coco antusias.
“Maksudmu?” Adriano tampak ragu.
__ADS_1
“Sepertinya Nenad memasang ranjau di tiap jengkal hutan ini,” jawab Coco.