
Urusan di London belumlah selesai. Akan tetapi, Adriano memutuskan untuk segera berangkat ke Birmingham. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka tiba di halaman sebuah rumah yang telah disediakan oleh Don Vargas. Di sana juga telah berdiri Juan Pablo yang segera menghampiri mereka. "Tuan D'Angelo," sapanya seraya menyalami Adriano yang baru turun dari mobil. Tak lama, Mia dan Coco datang bergabung. Juan Pablo pun menyalami pria berambut ikal itu, barulah dia mencium punggung tangan Mia dengan sopan. Sesaat, pria keturunan Meksiko-Spanyol tersebut menatap Miabella yang segera bersembunyi di balik tubuh ramping sang ibu.
"Selamat datang," sambut Juan Pablo. "Inilah rumah yang sudah disiapkan oleh Don Vargas untuk Anda dan keluarga tempati selama berada di Birmingham. Rumahnya memang tidak semegah mansion di Monaco, Tuan D'Angelo. Namun, aku pastikan jika istri dan putri kecil Anda akan merasa nyaman selama berada di sini," ujar pria bermata cokelat madu tersebut. Sesekali, dirinya mencuri pandang terhadap Mia yang tengah asyik melihat keadaan sekeliling rumah itu.
Sementara Coco juga lekat memperhatikan pria di hadapannya. Entah kenapa, dia merasa begitu penasaran akan sosok Juan Pablo. Coco melihat ada sisi tersembunyi dalam diri pria tersebut yang tidak ditunjukan olehnya. "Apa dia tidak bisa bicara dalam bahasa Italia?" bisik pria yang kini mulai memelihara kumis itu.
"Sesuai yang kudengar ... tidak," jawab Adriano.
"Oh, baiklah," balas Coco sambil manggut-manggut. "Apa kau tidak akan mempersilakan kami untuk masuk?" tanyanya. Juan Pablo yang tengah mencuri pandang kepada Mia, segera mengalihkan perhatian terhadap Coco.
"Ini kuncinya," Juan Pablo menyodorkan sebuah kunci kepada Adriano. Dengan segera, pria bermata biru tersebut menerimanya. Setelah itu, dia menoleh kepada Coco. "Ajaklah istri dan putriku masuk," suruhnya. Adriano sadar betul jika sejak tadi Juan Pablo kerap mencuri pandang terhadap Mia.
Coco mengangguk setuju. "Mia," panggilnya pelan. "Ayo, kita lihat seperti apa bagian dalam rumah ini," ajaknya.
Mia menoleh terlebih dahulu kepada Adriano sebelum mengikuti Coco. Pria bermata biru itu memberikan isyarat agar dia menuruti ajakan calon adik iparnya. Tanpa banyak protes, Mia mengangguk pelan. Diraihnya pergelangan tangan Miabella lalu dituntun menuju pintu masuk, Adriano dapat melihat jelas saat ekor mata Juan Pablo mengikuti langkah gemulai Mia yang berlalu dari hadapan mereka berdua.
Untuk sejenak, Adriano tertawa dalam hatinya. Dia baru menyadari, mungkin seperti itu pula yang dirasakan Matteo ketika dirinya terus menyerang Mia dengan tatapan menggoda. Wajar saja jika malam itu Matteo begitu emosi, ketika mengetahui bahwa dia telah mencium paksa Mia. Adriano pun pasti akan bersikap demikian, atau mungkin lebih dari itu. Saat ini saja, dia sudah tidak tahan untuk segera mengusir Juan Pablo dari hadapannya.
"Kami akan berkumpul di lokasi sekitar pukul sepuluh pagi. Usahakanlah agar Anda tiba di sana tepat waktu, karena Don Vargas termasuk seseorang yang sangat disiplin," ucap Juan Pablo mengingatkan.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Herrera. Aku merupakan orang yang sangat menghargai waktu," balas Adriano.
"Besok kita juga akan bertemu langsung dengan arsitek yang sudah dipercaya oleh Don Vargas untuk proyek ini. Dia berasal dari Amerika, tapi telah lama menetap di Inggris," terang Juan Pablo lagi tanpa mengubah mimik dan intonasinya dalam berbicara.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Aku akan mengingatnya," sahut Adriano singkat dan terkesan malas.
"Satu hal lagi," lanjut Juan Pablo. "Kami sudah menyiapkan kendaraan untuk Anda lengkap dengan sopir pribadi," Juan Pablo menunjuk pada mobil sedan hitam, dengan seorang pria muda berjas hitam pula yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu mengangguk sopan ketika Adriano dan Juan Pablo menoleh ke arahnya. "Dia yang akan mengantar Anda dan keluarga untuk pergi ke manapun."
"Sebelumnya, aku mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan kalian. Namun, menurutku Don Vargas terlalu berlebihan. Aku bisa memakai mobil sewaan selama berada di sini, jadi ...."
"Don Vargas tidak akan menyukai jika dia mendengar apa yang Anda katakan barusan. Dia memang selalu bersikap demikian terhadap semua rekan bisnisnya. Jadi, jangan heran akan hal seperti itu," sela Juan Pablo. Sesaat kemudian, pria bermata cokelat madu tersebut melihat arlojinya. "Aku harus segera kembali. Jangan lupa besok pukul sepuluh pagi. Selamat menikmati Birmingham," ucapnya seraya menyalami Adriano.
"Terima kasih," balas Adriano singkat. Dia memperhatikan Juan Pablo yang langsung berbalik dan masuk ke mobilnya. Tanpa berbasa-basi lagi, pria yang selalu bersikap dingin itu melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah dua lantai yang akan ditempati Adriano. Sementara Adriano masih terpaku di tempatnya. Dia lalu mengalihkan pendangan pada mobil dengan sopir yang sejak tadi hanya berdiri bagaikan seorang pengawal. Tanpa banyak bicara, pria rupawan berambut gelap tersebut segera masuk.
"Apakah pria itu sudah pergi?" tanya Coco yang langsung menyambut Adriano di ruang tamu dengan sebuah pertanyaan.
"Sudah," jawab Adriano seraya menoleh kepada Coco yang tengah duduk santai sambil bermain ponsel.
"Aku merasa aneh dengan pria bernama Juan Pablo tadi," ujar Coco menghentikan sejenak apa yang sedang dilakukannya. Dia menoeh kepada Adriano dan menatapnya sesaat.
"Tidak kau pinta pun aku pasti akan menjaga mereka berdua. Pergi saja dan selesaikan semua urusanmu. Lagi pula, kau membawa semua alat yang sudah keberikan kemarin. Dengan begitu, kita akan selalu terhubung. Selama kau masih bernyawa tentunya," celoteh Coco pada akhir kalimatnya. Pria berambut ikal itu kemudian tergelak bebas dan seakan begitu puas. Sementara Adriano tak menanggapinya. Dia menatap Coco untuk sejenak, kemudian berlalu begitu saja.
"Hey, kau tidak ingin menanggapi ucapanku sama sekali?" seru Coco sambil menahan tawanya.
......................
Keesokan harinya. Seperti yang sudah dipesankan oleh Juan Pablo kemarin, bahwa mereka akan bertemu di lokasi proyek pembangunan kasino. Sekitar pukul sembilan tiga puluh pagi, Adriano sudah terlihat rapi dengan mengenakan kemeja putih. Sementara, rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang.
__ADS_1
"Kau akan berangkat sekarang?" tanya Mia seraya berdiri di hadapan sang suami. Dirapikannya bagian depan kemeja yang pria itu kenakan.
"Iya. Jangan khawatir, karena Ricci akan di sini menemanimu selama aku pergi," jawab Adriano mengelus lembut pipi Mia dengan punggung tangannya. Dia masih merasa jika apa yang didapatkannya kini seperti sebuah mimpi. Dia tak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa menyentuh dan mencium Mia dengan leluasa, seperti apa yang sedang dia lakukan saat itu.
"Aku jauh lebih mengkhawatirkanmu, Adriano," Mia memegangi kedua lengan kekar sang suami yang berbalut kemeja press body. "Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, tapi entah mengapa karena perasaanku benar-benar tidak nyaman. Jika boleh memilih, aku tak ingin kau pergi ke manapun," Mia menangkup paras tampan berhiaskan janggut tipis yang sudah tercukur rapi itu. Dia lalu menciumnya dengan mesra untuk beberapa saat, hingga suara Miabella menghentikan adegan manis tersebut.
Gadis kecil itu sudah berdiri di dekat kaki Adriano. Dia menarik-narik celana sang ayah agar segera menoleh padanya. "Ada apa, Sayang?" Adriano melepaskan diri dari Mia, kemudian menurunkan tubuhnya di hadapan Miabella.
"Kapan kita akan makan es krim sambil naik bianglala tinggi yang kemarin kulihat itu, Daddy Zio?" ekspresi dan gaya bicara Miabella terdengar begitu lucu.
"Setelah urusanku selesai, kita akan melanjutkan acara jalan-jalan yang tertunda. Sekarang aku harus pergi dulu, Anak Manis," Adriano mencium kening Miabella, lalu berdiri tegak. Setelah melirik Mia untuk sesaat, dia pun segera keluar kamar. Adriano harus bergegas menuju ke lokasi proyek pembangunan.
Dengan menggunakan mobil plus sopir pribadi yang telah disiapkan oleh Don Vargas, Adriano menuju tempat yang berjarak sekitar satu jam perjalanan. Tampaklah kesibukan para pekerja proyek dengan tugasnya masing-masing. Adriano keluar dari mobil dan segera berjalan menghampiri Don Vargas yang tengah berbincang bersama dua orang pria. Bianca pun terlihat di antara mereka. Sebelumnya, ada salah seorang yang memberikan helm proyek untuk Adriano kenakan selama berada di sana.
"Tuan D'Angelo," sambut Don Vargas seraya menghampiri Adriano. Dia menyalami dan memeluk pria bertubuh tegap itu dengan akrab. "Bagaimana hari pertama Anda di Birmingham?" tanya pria paruh baya itu berbasa-basi.
"Luar biasa, terima kasih banyak. Semua fasilitas yang telah Anda siapkan benar-benar membuatku merasa nyaman," jawab Adriano tersenyum kalem.
"Aku senang sekali mendengarnya, terlebih Anda kemari dengan membawa serta keluarga," Don Vargas menanggapi. "Mari kuperkenalkan pada arsitek yang telah berjasa, dengan memberikan rancangan luar biasanya dalam proyek ini," ajak pria berambut agak gondrong itu. Dia yang menyambut Adriano, segera membawa pria itu kembali ke tempatnya tadi. "Tuan Dixon, perkenalkan ini adalah tuan Adriano D'Angelo," ucapnya.
Timothy Dixon segera menoleh dan menatap lekat Adriano. Setelah itu, barulah dirinya mengulurkan tangan dan mengajak pria tampan bermata biru itu untuk bersalaman. "Apa kabar, Tuan D'Angelo? Senang bertemu denganmu," sapa pria berjanggut cukup tebal tersebut.
"Terima kasih, Tuan Dixon. Suatu kehormatan bisa berkenalan denganmu," balas Adriano ramah. Namun, sesaat kemudian Adriano terdiam dan berpikir setelah mengingat kembali nama Dixon. Nama itu sama dengan yang disebutkan pemuda kemarin.
__ADS_1
"Hai, Adriano," sapa Bianca seraya mencium pipi suami dari Mia tersebut. "Aku tahu kau akan datang tepat waktu," ucapnya dengan senyum manis nan anggun.
"Aku tak ingin mengecawakan rekan bisnisku," balas Adriano. Dia kembali mengarahkan perhatian kepada Timothy yang baru ditemuinya. Satu hal yang membuat Adriano semakin tertarik kepada pria tersebut selain nama belakang Dixon. Adalah sebuah kalung berbandul aneh yang dikenakannya. Adriano merasa pernah melihat kalung itu sebelumnya.