Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
In the Festive Feast


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak kepulangan Adriano dari Inggris. Pesta yang telah disiapkan selama kurang lebih dua Minggu, kini akan segera dilangsungkan. Sebuah perhelatan yang sudah dinantikan untuk kembali menghidupkan suasana Casa de Luca.


Acara pemberkatan oleh seorang pendeta akan segera dilaksanakan. Adriano dan Marco berdiri gagah dengan setelan tuksedo rapi. Mereka bertugas sebagai pendamping pengantin pria. Bahagia bercampur haru dalam hati Giovanni Francesco Ricci, ketika dirinya teringat akan sosok sahabat sejatinya Matteo de Luca. Harapan untuk menjadikan pria itu sebagai pendamping dirinya dalam pesta pernikahan, harus pupus dan menjadi sebuah kekecewaan yang berakhir dalam rasa sedih. Namun, Coco harus tetap tersenyum dalam kerinduan berat itu terhadap Matteo, tatkala dia melihat Francesca yang sudah hadir di sana dalam balutan gaun pengantin indah dan elegant.


"Tenangkan diri dan persiapkan mental. Itulah calon bosmu," bisik Adriano yang mencoba menggoda Coco


"Mulai saat ini, kau harus selalu menyiapkan surat izin setiap hendak keluar rumah," timpal Marco.


"Tutup mulut kalian!" sergah Coco tak ingin ambil pusing dengan keisengan dua pria tadi, terlebih karena Francesca sudah semakin mendekat padanya. Gadis cantik itu bahkan telah berdiri di sebelah Coco, untuk melakukan ritual pemberkatan.


Suasana khidmat begitu terasa, ketika pendeta yang memimpin jalannya acara tengah menyampaikan khotbahnya. Saat acara sakral itu berlangsung, Juan Pablo baru datang dengan tanpa ditemani oleh Gianna. Pria itu tak ingin ambil risiko dengan membawa istrinya yang tengah hamil muda, untuk menempuh perjalanan sejauh lima jam dari kota Roma menuju Brescia.


Kedatangan Juan Pablo segera disambut hangat oleh Damiano. Kakek kesayangan Miabella itu segera memeluknya dengan hangat. Damiano juga mengajak pria asal Meksiko tersebut untuk bergabung di mejanya bersama Adriano serta Marco.


"Apa kabar, Juan?" sapa Adriano seraya menyalami suami dari Gianna tersebut.


"Kita baru bertemu dua hari yang lalu," jawab Juan Pablo dengan sikap yang seperti biasanya.


"Ah ya, kau benar," sahut Adriano seraya tersenyum kalem saat menanggapi ucapan Juan Pablo, sangat berbeda dengan sikap Marco yang terlihat aneh ketika memperhatikan pria dari Amerika Latin itu. "Juan, perkenalkan ... Marco de Luca. Dia adalah ketua dari Klan de Luca yang menggantikan posisi mendiang Matteo." Pandangan Adriano tertuju kepada Marco, sebelum akhirnya kembali pada Juan Pablo.


Untuk beberapa saat, suami Daniella tersebut tak mengatakan apapun. Tatapannya lekat tertuju pada pria dengan rambut gelap tadi. Marco baru tersadar saat Juan Pablo menyapanya terlebih dahulu. "Tuan de Luca."


"Ah ya. Maaf," sahut Marco gelagapan. Dia membalas ajakan jabat tangan dari Juan Pablo. Namun, entah mengapa karena Marco merasakan sesuatu yang sangat aneh. Sementara Damiano tampak begitu hangat dalam memperlakukan Juan Pablo. Sikap yang sebenarnya biasa untuk pria tua itu, tapi menjadi sedikit janggal bagi Marco.


"Bukankah kau akan datang bersama Gianna?" tanya Adriano yang duduk di sebelah Juan Pablo.

__ADS_1


"Tadinya begitu, tapi tiba-tiba dia mengeluh tidak enak badan. Aku tak ingin mengambil risiko untuk memaksakan dirinya agar ikut," jawab Juan Pablo sambil memperhatikan pasangan pengantin yang terlihat sangat bahagia. Tatapan Juan Pablo tertuju kepada Coco. Dia tahu jika pria itulah yang telah menghabisi Thomas Bolton dan juga Nenad Ljudevit.


Sesaat kemudian, perhatian Juan Pablo beralih kepada Mia dan Daniella yang tengah asyik berbincang. Tampak pula kedua putra Marco bersama para pengasuhnya. Sedangkan Miabella berlari ke dekat Damiano. "Kakek, aku ingin minuman berwarna merah yang ada di sana," tunjuk Miabella pada meja tempat aneka hidangan tersaji.


"Akan kubawakan buah untukmu, Sayang," balas Damiano.


"Ya sudah. Aku minta pada daddy zio saja," ujar Miabella dengan kecewa. Dia lalu berpindah kepada Adriano yang berada di sebelah Juan Pablo. Gadis kecil itu kembali merengek terhadap ayah sambungnya tersebut. Sikap manja Miabella tadi menjadi perhatian bagi Juan Pablo yang juga akan menjadi seorang ayah.


"Dia sangat manja padamu," ucap Juan Pablo pelan.


"Aku menyayangi Miabella dengan tulus, karena itulah dia juga menyayangi dan menganggapku seperti ayah kandungnya." Adriano tersenyum simpul. "Itulah mengapa aku bertekad untuk mencari keadilan bagi gadis kecil itu. Aku bersumpah akan menumpas habis semua pelaku yang telah membuat Miabella harus kehilangan ayah di usianya yang masih balita," ucap Adriano lagi yang meskipun pelan tapi terdengar sangat yakin dan penuh percaya diri.


"Lakukanlah apa yang menurutmu benar. Sama sepertiku. Aku juga tak akan berhenti mencari siapa saja yang telah membuat Don Vargas tewas mengenaskan di Serbia," balas Juan Pablo yang menaruh curiga terhadap Adriano.


Pria bermata biru itu hanya terkekeh pelan menanggapinya. “Begitulah siklus hidup di dunia hitam. Kita harus bersiap untuk mati setiap saat. Aku hanya berharap jika waktunya telah tiba, anak-anakku akan tetap berdiri tegak tanpa meratapi kematian ayahnya. Keturunanku harus menjadi orang-orang yang kuat, yang bisa bertahan meskipun aku tak ada lagi di samping mereka." Adriano mengakhiri kata-katanya dengan hembusan napas pelan.


“Orang-orang seperti kita harusnya tidak mencintai ataupun dicintai,” timpal Juan Pablo seraya mengempaskan napas pelan. Sebenarnya, ucapan seperti itu lebih cocok ditujukan pada dia sendiri yang telah jatuh dalam pesona seorang Gianna.


“Terlalu menyakitkan saat harus menghabiskan hidup dalam kesendirian, bahkan untuk seseorang yang terbiasa ditempa dalam kehidupan yang demikian keras. Perasaan sedih dan tersiksa itu tetap hadir saat kehilangan orang terdekat, terlebih lagi keluarga. Seperti halnya Ilario, aku tak pernah akrab dengannya. Akan tetapi, ketika mendengar kabar bahwa dia tiada, makanyang ada dalam benakku hanyalah wajah tua dan lelah ayahku yang pasti akan sangat berduka,” tutur Adriano lagi yang seakan dengan sengaja memancing reaksi pria di sebelahnya.


Tanpa sadar, Juan Pablo mencengkeram gelasnya erat-erat. Rasa gelisah, gugup, dan juga tak nyaman bercampur menjadi satu di dalam dadanya. “Kudengar dari Stefano bahwa kau sudah menyelidiki kematian saudara tirimu itu,” ucapnya datar dan dingin.


“Ya, tentu saja. Seberapapun rasa benci terhadap ibu tiri dan ayah kandung yang pernah membuangku, aku tetap tak akan bisa menolak jika suatu saat mereka meminta pertolongan,” sahut Adriano menatap Juan Pablo dalam-dalam, lalu tersenyum. "Jadi, Stefano melapor padamu?" tanya Adriano seraya menaikkan sebelah alisnya.


Juan Pablo masih mencoba untuk tetap terlihat tenang. "Ya. Dia mengatakan bahwa kau datang ke markas Artiglio Di Corvo," jawab pria bermata cokelat madu itu. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau inginkan, Adriano? Seberapa jauh dirimu menyelidiki hidupku, dan hal apa saja yang telah kau ketahui?" tanya Juan Pablo pelan tapi bernada sangat serius.

__ADS_1


“Tak banyak data yang kudapat tentang dirimi, selain kau berpacaran dengan Gianna dan ayah tirimu adalah seorang tentara. Selebihnya aku tidak tahu apa-apa lagi,” jawab Adriano tenang. Selesai berkata demikian, sang ketua Tigre Nero lalu berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku harus menemani Ricci. Dia sudah memanggilku. Nikmatilah pesta dan berbagai sajiannya. Barangkali kau berminat untuk menjadi warga asli Italia, maka biasakan mulutmu dengan berbagai rasa makanannya,” ucap Adriano lalu berpamitan sambil mengangguk pada Juan Pablo. Sementara pria Meksiko itu membalas hal itu dengan mengangkat gelas berisi anggur, dengan posisi sedikit lebih tinggi dari kepalanya.


Juan Pablo terus memperhatikan Adriano yang melangkah gagah saat menghampiri Coco yang tampak begitu ceria. Tangan kekar pria berambut ikal itu sama sekali tak lepas dari pinggang ramping Francesca, yang kini telah sah menjadi istrinya. Tersungging senyuman samar saat melihat kebahagiaan pasangan suami istri baru itu. Sebuah penyesalan besar menyeruak dalam hatinya, karena dia tak bisa menyuguhkan sebuah pesta pernikahan yang terbaik bagi Gianna. Juan Pablo bahkan baru memberikannya cincin, setelah kembali dari Inggris.


Lamunan pria asal Meksiko itu buyar ketika para wanita tengah bersorak memperebutkan buket bunga berwaran putih, yang sedari tadi berada dalam genggaman Francesca. Gadis yang sudah sah bergelar ‘Nyonya Ricci’ itu akhirnya berhasil lepas dari 'cengkeraman' suaminya. Dia akan segera memeriahkan suasana, dengan melemparkan buket bunga ke arah tamu-tamu wanita. “Dani, minggirlah. Kau bukan lagi lajang,” protes Francesca yang membuat semua orang tergelak.


“Menyingkirlah dulu, Dani. Beri kesempatan bagi mereka yang masih lajang.” Mia menarik lengan kakak tirinya itu pelan dan mendekat pada Marco. Perhatian Mia lalu beralih pada Miabella yang berlari menuju meja para undangan berbentuk bulat dan dilapisi dengan taplak meja dari sutra berwarna putih. “Bella, kau mau ke mana?” Mia berjalan cepat, mengikuti putri kecilnya. Ternyata, dia hendak mengambil pitanya yang tertinggal di meja yang ditempat oleh Juan Pablo.


“Hati-hati, Mia. Ingat kandunganmu,” tegur Adriano sedikit was-was ketika Mia bergerak semakin mendekat ke meja Juan Pablo


“Apa kau berpikir untuk menikah lagi, Sayang?” sindir Marco.


“Ya, ampun, Suamiku. Aku hanya ingin bersenang-senang. Itu saja.” Daniella tergelak, lalu menyentuh pipi suaminya dengan begitu lembut. Namun, tawa itu harus berhenti saat pandangannya menangkap sosok seseorang yang dirasa pernah dia lihat sebelumnya.


Orang itu berjalan di kejauhan. Langkahnya tertatih dengan menggunakan sebuah tongkat. Dia menapaki jalan kecil berkerikil yang menjadi penghubung antara bangunan utama dengan taman yang terletak di bagian belakang wilayah Casa de Luca. “Hei, Ricci! Apa dia temanmu? Kenapa aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat? Lihatlah, gayanya mencurigakan sekali,” tunjuk Daniella pada pria bermantel panjang dan bertopi itu.


Adriano dan juga Coco serentak menoleh ke arah yang sama. Adriano terbelalak saat menyadari bahwa pria aneh itu adalah Jacob. “Sial! Bagaimana bisa dia menembus pengamanan berlapis di tempat ini!” serunya panik sambil berlari menuju Mia dan Miabella. Dia berniat untuk melindungi dua orang yang sangat dicintainya tersebut dari pria berbahaya macam Jacob.


Namun, langkah Adriano harus terhenti saat Jacob berteriak memanggil namanya. “Adriano D’Angelo! Akhirnya kau berhasil duduk satu meja dengan Elang Rimba!” serunya sambil tergelak.


“Apa maksudmu!” sentak Adriano.


“Ya, ampun. Kau lambat juga rupanya. Lihatlah di sana, Elang Rimba tengah berada dekat sekali dengan istri dan putri kecilmu.” Jacob mengarahkan telunjuknya lurus kepada Juan Pablo yang kini sudah bangkit dari kursi.


🍒 🍒 🍒

__ADS_1


Tenangkan diri dari ketegangan sejenak. Yuk, baca novel keren ini.



__ADS_2