Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Father And Daughter


__ADS_3

Mia menutup mulutnya karena tak percaya dengan pengakuan sang suami. "Astaga. Apa yang telah kau lakukan, Sayang?" Wanita cantik itu mengernyitkan kening, lalu duduk di tepian ranjang dengan posisi menghadap kepada Adriano.


"Aku benar-benar marah karena Juan Pablo telah berani menyanderamu, Mia. Tak ada hal lain lagi yang kupikirkan saat itu, selain membabat habis semua yang berkaitan dengannya," kilah Adriano. "Apa kau akan menyalahkanku karena hal itu?"


"Tidak, Sayang. Tentu saja bukan itu maksudku. Namun, kenyataannya sekarang Gianna sendirian di Roma. Dia sedang mengandung. Sementara suaminya terbaring dalam keadaan luka parah di sini. Juan Pablo tak bisa melakukan apapun untuk bisa melindungi adikmu," jelas Mia. Wanita itu terdiam sejenak. "Coba pikirkan cara lain, Adriano. Aku sangat mencemaskannya," pinta Mia tampak resah.


Adriano terdiam dan tampak memikirkan sebuah cara. Sesaat kemudian, pria tampan dengan plester di hidungnya itu meminta Mia untuk menyambungkan panggilan kepada seseorang. Mia pun segera mengetikkan deretan angka yang Adriano sebutkan.


"Bonjour," sapa suara seorang pria dari ujung telepon. Mia lalu menyentuh tanda loudspeaker agar Adriano bisa berbicara tanpa harus memegangi ponsel.


"Pierre, ini aku Adriano. Tolong kirimkan nomor ponsel milik Benigno sekarang juga?" pintanya.


"Tuan? Apa kabar? Kapan anda akan kembali ke Monaco?" Bukannya menanggapi permintaan Adriano, Pierre malah mengajaknya berbasa-basi.


"Entahlah, Pierre. Aku masih memiliki banyak urusan di sini. Lagi pula, sekarang aku sedang berada di rumah sakit," jelas Adriano. "Jangan bertanya apa-apa dulu. Sekarang cepatlah kirimkan nomornya padaku. Ini sangat mendesak," titah Adriano. Dia tahu bahwa Pierre pasti akan begitu mencemaskan dirinya.


"Baiklah. Tunggu sebentar," sahut Pierre. Untuk beberapa saat, tak ada suara dari pria asal Perancis tersebut hingga sebuah pesan masuk ke nomor ponsel Mia. "Sudah kukirimkan, tuan," ucapnya kemudian.


"Terima kasih," tutup Adriano. Tanpa banyak bicara lagi, dia meminta Mia untuk menghubungi nomor ponsel milik Benigno.


"Pronto. Siapa ini?" tanya Benigno dengan nada bicaranya yang tegas. Wajah sangar serta pembawaan yang menakutkan pun dapat langsung terbayang saat Mia mendengar suara pria itu.


"Benigno, ini aku," jawab Adriano tenang.


"Tuan." Seketika nada bicara Benigno berubah, saat mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah Adriano. "Bagaimana keadaan anda saat ini? Maaf karena aku belum sempat menjenguk. Oh ya. Kami sudah melakukan tugas yang anda berikan."


"Sudahlah. Kita bahas hal itu nanti saja. Aku punya tugas lain untukmu," sahut Adriano.


"Apapun itu, tuan," balas Benigno patuh.

__ADS_1


"Datangi tempat Gianna lalu berjagalah di sana. Aku mendengar ada ancaman yang diarahkan kepadanya. Bawa serta beberapa anak buah pilihanmu. Namun, ingat agar jangan sampai terlihat mencurigakan," perintah Adriano dengan lugas.


"Baik, tuan. Aku akan segera ke sana. Apa ada hal lain?" tanyanya.


"Tidak ada. Hubungi aku lagi ke nomor ini jika ada apa-apa, karena ponselku rusak," pesan Adriano sekaligus mengakhiri perbincangannya dengan begitu saja. Sementara Mia tampak mengernyitkan kening saat memperhatikan sang suami. Dia terlihat heran karenanya. "Ada apa, Sayang?" tanya Adriano penasaran.


"Seperti itukah caramu meminta bantuan kepada orang lain?" Mia masih memasang raut tak mengerti. Sedangkan Adriano hanya tersenyum seraya menaikkan sebelah alisnya.


Sementara itu, jauh di kota Roma. Benigno beserta tiga orang anak buahnya mendatangi apartemen yang ditempati oleh Gianna. Namun, tempat yang dulunya merupakan milik Adriano tersebut berada dalam kondisi terkunci. Benigno tak menemukan tanda-tanda adanya Gianna. Pria itu pun memutuskan untuk pergi dan segera menuju klub. Kebetulan, dalam beberapa hari terakhir dia tidak berkunjung ke sana.


"Sudah beberapa hari ini nona Moriarty tidak datang kemari," lapor penjaga pintu masuk klub, saat Benigno mencari keberadaan Gianna di tempat itu.


"Sial! Di mana dia?" keluh Benigno seraya berdecak kesal. Pria berpostur tinggi besar tersebut berdiri sambil berkacak pinggang. Sementara gerak matanya menunjukkan kegelisahan. Bagaimanapun juga, dirinya sudah cukup mengenal sosok adik tiri Adriano tersebut. Dengan terpaksa, Benigno harus memberikan laporannya kepada sang majikan. Dia kembali menghubungi Adriano. Benigno tak tahu bahwa Gianna berada di villa milik Juan Pablo.


Sore itu, Gianna memaksakan dirinya untuk bangun dan keluar kamar. Resah rasa hatinya memikirkan kondisi sang suami yang tengah berada di rumah sakit. Dia duduk sendiri di beranda belakang villa. Gianna termenung beberapa saat hingga akhirnya memutuskan untuk meraih ponsel dan menghubungi seseorang. "Padre," sapanya pelan. "Apa kabar?"


"Aku sudah membaik, nak. Kau sendiri bagaimana?" Terdengar suara lembut Emiliano di ujung telepon, yang membuat Gianna tiba-tiba meneteskan air mata. Wanita muda berambut pirang itu terdiam untuk beberapa saat. Dia bingung harus mengawali perbincangan dari mana. "Apa kau baik-baik saja, nak?" Emiliano kembali menanyakan kabar anak gadisnya.


"Tentang apa, nak? Katakan saja."


"Padre, aku dan Juan Pablo sudah menikah beberapa hari yang lalu. Saat ini ... saat ini aku sedang mengandung." Gianna tertunduk. Sedih rasa hatinya ketika harus mengakui hal itu kepada sang ayah, terlebih karena Emiliano tak segera menanggapi pengakuan putrinya tersebut. Kebisuan itu membuat hati Gianna menjadi kian gelisah. Entah apa yang akan terjadi, andai dia memberitahukan bahwa Ilario telah tewas dihabisi oleh anak buah Juan Pablo.


"Padre?" Gianna memanggil sang ayah. Dirinya hanya ingin memastikan bahwa pria paruh baya itu masih berada dalam sambungan telepon bersamanya.


"Iya, nak. Aku masih di sini," sahut Emiliano pelan.


"Maafkan aku," ucap Gianna lagi pelan.


"Tak apa, anakku. Aku yakin kalian pasti memiliki alasan sendiri kenapa harus menikah dengan diam-diam. Bisakah aku bertemu denganmu dan juga Juan Pablo? Aku ingin memberikan restu dan doa untuk kalian berdua." Bergetar suara Emiliano saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Apakah padre tidak bertemu dengannya di pernikahan Ricci kemarin?" tanya Gianna.


"Aku tidak menghadirinya, nak. Ibumu sakit. Aku tidak bisa ke mana-mana," jawab Emiliano.


Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibir Gianna. Rasa gundah kembali menggelayuti hatinya. Wanita bermata biru itu semakin bingung. Bagaimanapun juga, dia tetap mengkhawatirkan kondisi Claudia.


"Jangan cemas, nak. Aku dan Agustine akan merawat ibumu dengan baik," ucap Emiliano. Dia seakan sudah dapat menebak kereshan tak terucap yang dirasakan oleh putrinya.


"Aku tak hanya mengkhawatirkan kondisi madre, karena keadaan suamiku pun saat ini sedang tidak baik. Sementara aku tidak bisa menemaninya di sana."


"Apa yang terjadi pada suamimu, nak?" tanya Emiliano.


"Dia terlibat perselisihan dengan Adriano. Saat ini keduanya sedang berada di rumah sakit pusat kota Milan. Tolong luangkanlah waktu sebentar saja untuk melihat keadaan suamiku. Tak ada siapa pun yang menemaninya." Gianna tak kuasa menahan tangis yang sejak tadi berusaha untuk dia sembunyikan. "Aku sangat mencemaskannya. Dia sendirian. Ibunda Juan berada jauh di Meksiko dan aku ...."


"Aku akan segera ke sana. Kau tidak perlu khawatir," sela Emiliano dengan segera.


"Terima kasih, padre. Terima kasih. Maaf karena aku baru bisa menghubungimu. Kondisiku pun sedang tidak memungkinkan saat ini," ucap Gianna. Dia harus menghentikan perbincangan itu, ketika pelayan yang menemaninya di sana datang menghampiri.


"Nyonya, ada tamu untuk tuan Herrera," lapornya.


Gianna terdiam sejenak. "Kau tahu dia sedang tidak ada."


"Aku sudah mengatakannya, tapi dia juga menyebutkan nama Adriano D'Angelo. Apakah Anda ingin menemuinya atau tidak?"


Gianna pun berpamitan terlebih dahulu kepada Emiliano, sebelum memutuskan untuk beranjak ke bagian depan villa. Meskipun hatinya ragu, tapi dia merasa penasaran akan tamu yang dimaksud. Tanpa membuka grendel pintu rantai, Gianna berdiri di baliknya. Dia melihat sosok pria jangkung berdiri di luar. "Maaf, Anda siapa?" tanya wanita muda itu.


🍒 🍒 🍒


Hai, ada satu lagi rekomendasi novel keren untuk semuanya. Cek 😉

__ADS_1



__ADS_2