Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Il Vero Zio


__ADS_3

Miabella dan Romeo membicarakan Tobia untuk beberapa saat di perkebunan, sampai akhirnya Romeo menyerah karena panas matahari mulai terasa begitu menyengat. “Kita harus masuk, Bella," ajaknya. "Aku mulai tak nyaman jika terlalu lama memicingkan mata." Romeo segera berbalik ke arah bangunan Casa de Luca, sementara Miabella masih berdiam di sana.


“Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini,” sahut Miabella. Hamparan perkebunan yang tak pernah dia amati sedetail itu, kini dirinya pandangi tanpa bosan. Miabella bermaksud untuk masuk hingga ke tengah-tengah perkebunan, ketika suara anjing menyalak saling bersahutan. Gadis itu sudah dapat menebak. Pastilah Dante yang tengah menghampirinya.


“Aku masih di sekitar Casa de Luca, Dante. Kau tak perlu terus mengikutiku!” dengusnya kesal.


“Aku harus tetap mengikutimu ke manapun, Nona. Ini perintah langsung dari tuan Adriano,” sahut Dante menegaskan. Ucapan pria itu segera disambut oleh gonggongan anjing-anjing kesayangannya.


“Ya ampun!” Miabella mengempaskan napasnya kasar. “Kalau begitu, kembalikan dulu anjing-anjingmu ke dalam kandang. Jika kau tak mau, maka aku akan mengadu kepada daddy zio,” titah gadis itu seenaknya.


“Maaf, Nona. Hari ini aku belum mengajak mereka keluar. Kau tahu bukan jika anjing harus sering-sering dibawa berjalan-jalan, supaya mereka tidak stress,” kilah Dante.


“Anjingmu baik-baik saja dan justru aku yang akan menjadi stress!" gerutu Miabella jengkel. "Jika kau bersikeras membawa mereka berjalan-jalan sambil menjagaku, maka kupastikan aku tak akan pernah keluar dari dalam bangunan Casa de Luca!" tegas gadis dengan t-shirt putih press body itu.


“Astaga, Nona. Kenapa kau tidak menyukai anak-anakku?” tanya Dante dengan sorot mata penuh sesal.


“Jangan banyak bertanya! Kau tinggal memilih salah satu, memasukkan anak-anakmu ke kandang atau kulaporkan kau pada daddy zio!” ancam Miabella dengan seringaia khas dari bibir indahnya.


“Kau membuatku berada dalam situasi yang teramat sulit, Nona,” keluh Dante. Baru kali ini dia mengetahui karakter yang sebenarnya dari seorang Miabella.


“Putuskan saja sendiri,” ujar Miabella seraya melipat tangan di dada dengan wajah setengah mendongak.


“Baiklah. Akan kumasukkan anak-anakku. Nanti saja kuajak mereka jalan-jalan. Kuharap nanti sore kau tidak pergi ke mana-mana, sehingga aku tak perlu menjagamu,” ujar Dante yang akhirnya memilih untuk mengalah. Dia membalikkan badan sembari menunduk lesu. Dalam hati, pria itu merindukan sahabatnya Serafino yang kini menjadi ajudan bagi Benigno di Roma.


“Tenang saja, Dante. Aku tidak akan ke mana-mana nanti sore!” seru Miabella dengan sorot mata yang mengikuti gerak Dante hingga tak terlihat dari pandangan.


Gadis cantik itu tersenyum penuh kemenangan, lalu diam-diam meninggalkan perkebunan.


Miabella masih mengingat jalan rahasia yang dia temukan bersama Tobia, saat liburan musim panas tiga tahun lalu. Jalur tersembunyi tadi berada di ujung perkebunan, pada perbatasan terluar yang langsung menuju ke jalan raya.


Ya, Miabella akan memulai petualangannya hari ini. Tujuan pertama gadis itu adalah mendatangi kompleks pemakaman. Dia masih bisa mengingat rutenya, walaupun sudah tak pernah berkunjung lagi ke sana.

__ADS_1


Untuk sejenak, Miabella berdiri di depan gerbang pemakaman berwarna hitam. Gadis cantik itu kemudian menyibakkan rambut ke belakang. Dia seperti tak merasa takut sama sekali jika kulit indahnya akan terbakar sinar matahari.


Dengan langkah penuh percaya diri, Miabella memasuki area pemakaman tadi. Tak ada rona takut dalam wajah cantiknya. Gadis itu berjalan melewati deretan batu nisan yang berjejer rapi. Tujuan utamanya adalah makam sang ayah, Matteo de Luca. Namun, sebelum tiba di sana, dari jarak beberapa meter Miabella harus menghentikan langkah.


Gadis itu melihat sosok seorang pria bertubuh tegap dengan t-shirt abu-abu lengan panjang yang dinaikkan hingga tiga per empat. Dengan segera, Miabella mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai senjata. Saat itu, tatapannya terkunci pada sebuah batu berukuran segenggaman tangan. Miabella pun segera memungut benda tersebut dan memegangnya dengan erat.


Gadis cantik berpostur 170 cm itu kembali melanjutkan langkah menuju pusara sang ayah. Hati-hati dan penuh kewaspadaan, dia berusaha untuk tak menimbulkan suara sedikit pun. Akan tetapi, tepat sekitar beberapa langkah lagi, pria yang sejak tadi berdiri di hadapan nisan Matteo segera menoleh padanya. Miabella pun melonjak kaget. Dia bahkan hampir menjatuhkan batu yang dia sembunyikan di balik tubuh.


Pria berambut gelap itu memandang intens kepada Miabella, yang membalas tatapan si pria dengan tak gentar sama sekali. Gadis itu memang memiliki keberanian layaknya sang ayah dulu.


"Siapa Anda? Kenapa Anda berdiri di hadapan nisan ayahku?" tanya Miabella masih tetap menjaga jarak dari pria tadi. Akan tetapi, si pria tak segera menjawab. Dia masih saja memandang gadis muda itu. Pria itu justru membalikkan badan, sehingga menghadap sepenuhnya kepada Miabella.


"Miabella Conchetta?" Pria bermata cokelat madu tadi menyebutkan nama si gadis dan membuatnya terhenyak.


"Anda mengenalku?" tanya Miabella.


"Tidak terlalu. Aku hanya mengetahui siapa dirimu," jawab pria itu dengan nada bicara serta raut wajahnya yang datar.


Miabella yang menyembunyikan tangan di balik badan, semakin mengeratkan genggaman pada batu yang masih berada dalam telapaknya. Terlebih, saat itu pria asing berambut gelap tadi berjalan menghampiri, lalu berdiri di hadapannya.


"Bukan apa-apa," jawab Miabella bergerak mundur beberapa langkah. "Siapa Anda?" tanya gadis itu lagi penuh penekanan.


Pria itu menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. "Siapa aku? Rupanya tak ada seorang pun yang mengingatku di sini. Sudah kuduga." Dia mengempaskan napas pelan. "Apa ibumu tak pernah memberitahu bahwa kau memiliki seorang paman?" tanya pria yang ternyata adalah Juan Pablo Herrera.


"Paman?" Miabella tampak mengernyitkan kening. Gadis itu kemudian tertawa renyah. "Aku memiliki banyak paman. Ada paman Ricci, paman Arsen ...."


"Aku pamanmu yang sesungguhnya," potong Juan Pablo, membuat tawa renyah di bibir Miabella sirna seketika.


"Pamanku yang sesungguhnnya? Maksud Anda?" tanya gadis bermata abu-abu itu masih belum mengerti.


Juan Pablo kembali menyunggingkan sebuah senyuman samar. "Akan kuberitahukan sedikit cerita padamu," ucap Juan Pablo. "Apa kau bersedia untuk ikut denganku?" tawarnya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Jangan konyol! Aku tidak tahu siapa Anda," tolak Miabella dengan senyum mencibir. "Permisi. Aku harus berdoa untuk mendiang ayahku." Gadis itu berjalan menerobos ke arah Juan Pablo, bahkan hingga menyenggol lengan pria tersebut. Tanpa ada rasa apapun, Miabella berdiri di hadapan puasara sang ayah.


"Kupikir kau ada di Monaco," ucap Juan Pablo membuat Miabella segera menoleh padanya.


"Aku sedang berlibur di sini. Memangnya kenapa?" Miabella mendelik kepada pria yang kembali berjalan mendekat ke arah nisan Matteo.


"Tidak apa-apa," sahut Juan Pablo. "Apakah ayah tirimu juga ada di Italia?" tanyanya.


Miabella yang sedang berdoa sambil terpejam, sedikit membuka mata. Dia melirik kepada pria paruh baya di sebelahnya. "Anda mengenal daddy zio-ku?" tanyanya kemudian. Miabella tak akan bisa fokus berdoa, karena dia mulai tertarik untuk mengetahui pria yang telah mengaku sebagai paman sesungguhnya itu.


"Tentu saja. Aku mengenal Adriano D'Angelo dengan baik. Begitu juga ibumu Florecita Mia. Aku tahu siapa Ricci dan juga Arsen. Omong-omong, bagaimana kabar Damiano sekarang?" tanya Juan Pablo membuat Miabella tak hanya melirik. Gadis itu langsung saja menghadapkan tubuhnya kepada pria itu.


"Baiklah, Paman yang sesungguhnya. Jadi, tolong katakan siapa dirimu. Setidaknya, berikan aku sebuah nama." Miabella masih belum juga melepaskan batu tadi dari genggamannya.


"Juan Pablo Herrera. Aku adalah kakak dari Matteo de Luca," jawab Juan Pablo dengan yakin.


"Sungguh? Kenapa aku tak pernah mendengar namamu sama sekali, Paman?" tanya Miabella ragu.


"Karena tak penting juga untuk mengenalku," jawab Juan Pablo dengan tenang. Dia lalu mengalihkan pandangan pada nisan berlapis marmer hitam mengkilap di dekatnya. "Ini kali pertama aku menginjakkan kaki lagi di Italia, setelah lebih dari lima belas tahun berlalu. Itu pun dengan alasan untuk pergi ke Monaco." Juan Pablo menggumam pelan.


"Kenapa? Apakah Italia terlarang untukmu?" tanya Miabella.


"Tidak juga. Aku yang tak ingin datang kemari. Akan tetapi, entah mengapa ada sesuatu yang tiba-tiba menggiringku berkunjung ke tempat ini," jelas Juan Pablo. Dia lalu menoleh kepada Miabella. "Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa aku mengaku sebagai kakak dari mendiang ayahmu. Jika kau ingin tahu, mari kuceritakan di jalan. Biar kuantar kau pulang ke Casa de Luca," ajak Juan Pablo.


"Ah, tidak usah," tolak Miabella. Dia belum mengetahui dengan pasti siapa pria di di hadapannya tersebut. Miabella tak ingin mengambil risiko.


Namun, Juan Pablo pun dapat memahami keraguan yang terpancar dari sorot mata gadis itu. Lagi-lagi, dia hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. "Jangan takut. Aku juga memiliki seorang anak gadis seusia adikmu. Namun, dia sekarang berada di Amerika bersama istriku. Kau perlu tahu bahwa istriku merupakan adik dari Adriano D'Angelo."


Miabella mengempaskan napas pelan penuh keluhan. Gadis itu tertunduk untuk sejenak. "Banyak sekali yang tak kuketahui," ucapnya pelan.


Juan Pablo kembali menggumam pelan. "Karena itulah, mari kuantar kau pulang. Lagi pula, cuaca di sini sangat panas."

__ADS_1


Rasa penasaran yang besar, telah membuat Miabella akhirnya menerima ajakan dari Juan Pablo. Dia lalu mengikuti langkah tegap pria itu, menuju sebuah mobil sedan klasik yang terparkir tak jauh dari area pemakaman. Tatap mata Miabella masih awas tertuju kepada pria yang masih tampak bugar, meski tak berusia muda lagi. Sedangkan batu tadi pun tak jua lepas dari genggamannya.


"Aku akan mengantarmu sampai gerbang Casa de Luca. Sebelum itu, bisakah kau buang batu yang ada dalam genggamanmu?" Juan Pablo menoleh setelah membukakan pintu mobil untuk Miabella. Gadis itu tersenyum. Dia lalu melemparkan batu tadi dengan sembarang, kemudian masuk ke dalam kendaraan.


__ADS_2