
Lagi-lagi Coco memperhatikan cara Adriano mengoperasikan komputer milik Marco. Jemari pria tampan itu lincah bergerak di atas keyboard. Perhatian Coco seketika terpecah ketika Adriano berseru pelan, “Kena! Aku berhasil melacaknya," sorot mata puas terlihat dari sepasang warna biru itu.
“Bagaimana?” Marco yang sejak awal sudah mencondongkan badan di sebelah Adriano, segera mengerutkan alis saat melihat tampilan di layar komputernya. Dia mengamati sesuatu yang muncul di sana.
“Marcus Bolt memberikan sebuah link yang ternyata adalah sebuah alamat website berisi panduan menanam bunga-bunga hias. Kupikir dia memberikan informasi palsu. Namun, setelah kutelusuri alamat IPnya, aku menemukan sesuatu yang mengejutkan,” jelas Adriano terlihat bersemangat.
“Apa itu?” tanya Marco dan Coco secara bersamaan.
“Ini agak aneh karena mudah sekali melacak alamatnya, seolah-olah pemilik website itu memang ingin ditemukan. Aku bahkan dapat melihat lokasi tempat tinggalnya dari peta satelit,” jawab Adriano seraya mengangkat sebelah alisnya. Itu adalah sesuatu yang patut untuk dia waspadai.
“Siapa nama pemilik website itu dan di mana dia tinggal?” tanya Marco lagi. Dia juga terlihat sangat antusias dengan penemuan kali ini.
“Siapkan diri kalian, karena kita akan segera pergi ke Kroasia untuk menemui Andreja Borislav,” tegas Adriano seraya berdiri dan merogoh ponselnya. Dia bermaksud hendak menghubungi Pierre.
“Kroasia? Apa kau yakin?” Coco terlihat ragu.
Adriano yang saat itu masih bercakap-cakap dengan Pierre melalui sambungan telepon, tak segera menjawab. Dia mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat agar Coco bersedia untuk menunggu. Sementara Marco sudah hendak bersiap-siap untuk mengikuti Adriano. Dia memeriksa beberapa pistol di ruang kerjanya yang akan dia bawa ke Kroasia. “Apa kau membutuhkan senjata cadangan?” tanyanya kepada Coco.
Pria berambut ikal itu segera menggeleng. “Apa kita benar-benar akan pergi ke Kroasia?” Coco mengulangi pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban.
“Tentu saja! Aku bersedia mengikuti petunjuk sekecil apapun, asalkan kita bisa keluar dari jalan buntu ini,” ucap Marco sambil terus bersiap.
“Baiklah. Tidak ada salahnya mencoba,” Coco pun pada akhirnya mengangguk setuju.
“Aku sudah menghubungi Pierre,” ucap Adriano setelah mengakhiri panggilannya. “Aku menanyakan keadaan para wanita di mansion. Mereka sedang mengadakan pesta kebun. Pierre mengatakan bahwa Mia terlihat ceria,” mata biru Adriano terlihat berbinar saat menyebut nama wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Marco dan Coco terdiam untuk sesaat. Mereka dapat merasakan kebahagiaan dan kelegaan yang terpancar dari raut wajah rupawan Adriano. Sedikit banyak, Marco dapat memahami betapa besar cinta yang Adriano persembahkan untuk Mia.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Marco yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Adriano. Akan tetapi, baru saja Marco membuka pintu ruang kerja, seorang anak buah yang bertubuh tinggi besar sudah berdiri tegap di hadapannya. “Ada apa, Bruno?” tanyanya.
__ADS_1
“Maaf, Bos. Ada seorang detektif polisi dari distrik Catania memaksa ingin bertemu dengan Anda,” jawab Bruno.
“Ck,” Coco berdecak kesal. “Itu pasti Ignazio Ranieri,” gerutunya pelan. “Apa lagi yang dia inginkan?” Marco berpikir untuk beberapa saat kemudian memberikan izinnya. “Suruh dia menunggu di ruang tamu,” titahnya.
“Baik, Bos!” Bruno menunduk penuh hormat dan berlalu dari sana. Begitu pula dengan Marco, Coco dan juga Adriano. Mereka bergegas meninggalkan ruang kerja dan menunggu detektif Ignazio di ruang tamu. Tak berselang lama, polisi muda itu datang lalu memasuki ruang tamu luas milik istana de Luca. Dia menyeringai lebar sambil mengulurkan tangannya. Pria tersebut menyalami setiap orang satu per satu.
“Apa kau mengikuti kami, Detektif?” tanya Marco curiga.
“Begitulah. Berhubung percakapan kita tadi pagi belum selesai,” jawab Ignazio tak henti-hentinya tersenyum.
“Sebenarnya apa yang Anda inginkan?” Adriano memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap tajam detektif tersebut.
“Seperti yang kukatakan tadi, kerja sama dengan kalian.Jangan sampai menolak atau akan kubongkar seluruh bisnis ilegal klan de Luca dan Tigre Nero,” ancam Ignazio.
“Oh, ya? Apakah Anda sudah memiliki bukti untuk semua itu? Apa kegiatan mengawasi kami semua sudah membuahkan hasil?” nada bicara Adriano setengah mengejek, tapi tetap terdengar berwibawa.
“Seiring berjalannya waktu, aku akan mengungkap semuanya,” tegas Ignazio penuh percaya diri.
“Bagaimana kesepakatannya?” tanya Adriano kemudian.
“Seperti yang kukatakan tadi. Bantu aku untuk mengungkap pembunuh ayahku sekaligus Matteo, kemudian hancurkan Tangan Setan. Sebagai gantinya, aku tidak akan mengusik bisnis dan organisasi kalian. Ini sumpahku! Sumpah seorang anak yang telah kehilangan sosok ayahnya,” pungkas Ignazio yakin.
Adriano menggaruk pelipisnya kemudian tersenyum. “Baiklah, jika kau memaksa. Aku juga merupakan seseorang yang sangat menepati janji, tapi aku tidak yakin denganmu. Jadi, jika nanti pada akhirnya kau mengingkari janjimu, maka jangan salahkan seandainya kami memburu seluruh anggota keluargamu sampai habis tak tersisa,” Adriano juga mengeluarkan ancamannya.
“Setuju!” tak disangka, Ignazio langsung menjabat erat tangan Adriano, membuat Marco dan Coco terheran-heran dan saling pandang. “Ayahku selalu mengajarkan untuk selalu memegang kata-kata yang sudah terucap,” tegas Ignazio.
“Baiklah, jika tak ada yang dibicarakan lagi, maka sebaiknya Anda pergi. Kami sedang ada urusan mendesak,” ujar Marco.
“Apakah kalian telah menemukan sebuah petunjuk?” tanya Ignazio yang diliputi rasa penasaran.
__ADS_1
“Anggap saja begitu,” sahut Adriano. “Satu lagi syarat yang harus Anda terima, jangan ikut campur dalam penyelidikan kami. Anda cukup duduk tenang dan menerima semua laporan,” lanjutnya.
“Tak masalah, asalkan Marco de Luca tetap tinggal di sini untuk menjadi perantaraku denganmu,” balas Ignazio dengan entengnya.
Adriano, Coco dan Marco saling berpandangan untuk sejenak. Marco kemudian mengela napas panjang, “Baiklah, aku akan tinggal di sini. Lagi pula, aku tak bisa meninggalkan organisasi terlalu lama. Aku baru ingat jika besok ada pertemuan dengan calon klienku," ujarnya.
“Astaga! Bisa-bisanya kau, Marco!” sungut Coco. Pria itu merasa keberatan dan tak nyaman jika hanya pergi berdua dengan Adriano.
“Tidak apa-apa, Ricci. Kita berangkat sekarang, tapi ingat pesanku. Kita akan tetap menyalakan ponsel, tetapi jangan sekalipun kalian menerima atau melakukan panggilan. Letakkan ponselmu di dalam brankas besi, Marco. Sedangkan Coco dan aku akan menyimpan ponsel kami di dalam pesawat pribadiku," jelas Adriano.
“Kenapa demikian?” tanya Ignazio yang merasa penasaran.
“Untuk mengecoh siapa pun yang berusaha melacak keberadaan kami,” sindir Adriano pada Ignazio. Pria itu yakin jika Ignazio sudah memasang pelacak pada ponselnya dan juga Marco.
Ignazio tertawa renyah. “Kuakui bahwa dirimu memang cerdas, Tuan D'Angelo. Kutunggu kabar baik dari kalian,” seringai pria itu, lalu berbalik begitu saja meninggalkan mereka bertiga.
“Ayo!” ajak Adriano yang sudah tak sabar untuk segera terbang ke Kroasia.
“Jadi, Marco benar-benar tak ikut?” tanya Coco untuk memastikan.
“Tidak apa-apa. Kalian pergilah, aku akan berusaha membantu sebisaku dari sini,” ucap Marco menenangkan Coco. Dia menepuk pundak pria berambut ikal tersebut dan mengisyaratkan sesuatu. Coco menanggapi isyarat yang Marco berikan dengan sebuah hempasan napas panjang.
Dengan sangat terpaksa, dirinya harus pergi berdua saja dengan Adriano dan meninggalkan Marco di istana de Luca.
🍒
🍒
🍒
__ADS_1
Satu lagi rekomendasi novel keren dan pasti asyik untuk diikuti. Jangan lupa cek segera, ya.