
"Hey, Marco! Kau ini keterlaluan sekali. Sekian lama aku terbaring dan kau tak sekalipun menjengukku kemari," protes Coco ketika dia mendapat telepon dari suami Daniella tersebut. "Sekarang saat aku sudah berangsur pulih, barulah kau muncul. Dasar brengsek!" umpat pria berambut ikal tersebut.
Bukannya tersinggung, Marco justru malah tertawa terbahak-bahak mendengar omelan dari Coco. "Maafkan aku, Coco. Aku membawa istri dan kedua putraku berkeliling Eropa. Kau tahu bukan, itu adalah rencana lama yang baru terealisasikan saat ini," jelasnya. "Nanti aku pasti akan mampir ke Casa de Luca, setelah semua urusan beres tentunya," ucap Marco lagi.
"Sialan kau! Aku hampir mati kemarin dan kau masih bisa bersenang-senang," gerutu Coco lagi.
Marco kembali tertawa dengan sangat puas, sampai-sampai Coco harus menjauhkan ponsel dari telinganya. "Saat ini kau masih hidup dan bahkan terus menggerutu padaku," ujarnya sambil terus terkekeh.
"Diam kau! Perutku masih terasa sakit jika emosi seperti ini. Sudahlah, aku tidak tahu lagi sampai di mana batas rasa pedulimu padaku," balas Coco jengkel.
"Oh, astaga. Kau sensitif sekali," ledek Marco lagi. "Sudah kukatakan nanti aku akan datang ke sana. Apa Adriano masih di Casa de Luca?"
"Tidak," jawab Coco dengan segera, "Adriano sudah ...." pria berambut ikal itu tidak melanjutkan kata-katanya, ketika ada seorang penjaga pintu gerbang yang datang menghadap. Pria itu berdiri di ambang pintu. Dia tak berani mendekat, karena melihat Coco yang tengah asyik berbicara di telepon. Coco memberi isyarat kepada penjaga pintu gerbang tadi dengan hanya menggerakkan alis. Namun, si pria masih tidak mengatakan apapun. "Ada apa?" tanya Coco pada akhirnya.
Penjaga bertubuh tinggi besar tadi kemudian mendekat. Dengan sopan dan penuh hormat, dia memberitahukan sesuatu kepada Coco, yang membuat pria bermata cokelat itu tampak berpikir untuk sejenak, sebelum dia mengangguk pelan tanda setuju. Tak berselang lama, si penjaga tersebut kembali ke luar, pada pos penjagaannya. Sedangkan Coco melanjutkan perbincangan dengan Marco. "Lain kali kuhubungi lagi. Aku harus menerima tamu dulu," ucapnya sebelum mengakhiri sambungan telepon. Coco lalu meletakkan ponselnya di atas meja, ketika tamu yang dimaksud telah berada di sana.
Entah mimpi apa seorang Giovanni Francesco Ricci, ketika dia mendapati ada wanita cantik berambut merah yang datang mengunjunginya di Casa de Luca. Ya, Miljana Manduzic alias Monique datang dengan membawa senyuman hangat yang terlihat sangat manis dan memesona. Dengan langkah anggun bak seorang peragawati, Monique berjalan menghampiri Coco yang masih berdiri dengan tatapan tak percaya.
"Hai, Ricci. Bagaimana kabarmu?" sapa Monique selalu dengan sikapnya yang manis.
"Aku sudah jauh lebih baik. Francy merawatku dengan sangat telaten," jawab Coco sambil tersenyum. Saat itu, kondisi pria berambut ikal tersebut memang sudah berangsur pulih, meskipun dia belum bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Namun, Coco sudah mulai dapat berjalan-jalan di sekitar rumah.
"Oh, syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya," balas Monique. Seperti biasa, sepasang mata hijau zamrud mantan asisten Nenad Ljudevit itu selalu dipenuhi binar penuh kekaguman jika sudah berhadapan dengan Coco. "Aku beruntung sekali. Tidak sulit menemukan alamat tempat ini," ujar Monique seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Tatapannya kemudian terkunci pada sebuah foto dengan ukuran yang cukup besar dan berbingkai emas. "Foto siapa itu?" tanyanya. Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di hadapan foto tadi sambil terus mengamatinya dengan saksama.
__ADS_1
"Dialah Matteo de Luca, sahabatku," sahut Coco yang kemudian menghampiri Monique dan berdiri di sebelahnya. "Demi membalas kematiannya, aku harus menjalani perawatan hingga saat ini. Namun, itu tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan makna dari persahabatan kami berdua. Jika memang dapat ditukar, maka aku rela menggantikan nyawaku dengan kehidupannya," tutur Coco yang ikut memperhatikan foto sahabat dekatnya itu.
"Seperti itukah?" Monique menoleh dengan sorot matanya yang terlihat keheranan.
"Ya. Ada banyak sekali orang yang menangis dan terluka akibat kepergian Matteo. Berbeda denganku. Aku hanya sebatang kara di dunia ini," jelas Coco sambil tersenyum getir.
"Bukankah ada Francesca? Sepertinya dia sangat mencintaimu. Dia pasti akan cemburu jika melihatku ada di sini," ujar Monique dengan entengnya. Namun, Coco tidak menanggapi ucapan wanita bertubuh sintal tersebut. Dia lebih memilih untuk mempersilakan Monique agar duduk. Wanita berambut merah itu pun memilih tempat tepat di sebelah Coco. Dia menyilangkan kaki dengan posisi tubuh setengah menghadap kepada pria itu.
"Kapan kau tiba di Italia?" tanya Coco seraya melirik wanita cantik tadi. "Ah, iya. Kau ingin minum sesuatu? Anggur dari Casa de Luca adalah yang terbaik di Italia. Kau harus mencicipinya." Coco kemudian memanggil salah seorang pelayan. Dia meminta untuk menyuguhkan minuman bagi Monique.
"Ow, aku merasa sangat istimewa," ujar Monique ketika Coco menuangkan minuman itu ke dalam gelas kristal yang segera dia sodorkan kepada wanita itu. "Kau tidak minum juga, Tampan?"
"Tidak. Francy akan memarahiku habis-habisan," tolak Coco dengan segera.
"Oh, sayang sekali kondisimu belum sepenuhnya pulih. Sudah lama sekali sejak kejadian hari itu, dan kau masih berkutat dengan lukamu, Sayang," ucap Monique yang memasang wajah iba. "Sebenarnya, aku tiba di Italia sekitar beberapa hari yang lalu. Namun, aku langsung menuju Positano dan menikmati penghujung musim panas yang indah di sana. Kau tahu? Aku mendapat kenalan seorang pria lokal. Namanya Giordano Vittori. Dia memang tidak setampan dirimu atau pria dalam foto itu. Akan tetapi, aku sangat menyukai sikapnya yang sopan. Kami telah membuat janji untuk bertemu lagi sebelum diriku kembali ke Serbia," tutur Monique dengan binar indah di matanya.
"Aku selalu merasa penasaran dengan pria-pria tampan. Namun, pria Italia tentu saja memiliki nilai lebih. Itu semua karena dirimu," celoteh Monique seraya tertawa geli dengan ucapannya sendiri, "tapi, pria Italia memang memberikan magnet yang sangat luar biasa," lanjut wanita berambut merah itu lagi. Dia lalu meneguk minumannya. "Anggur yang luar biasa," gumamnya merasa takjub.
"Aku sangat terkesan," ujar Coco menanggapi sanjungan wanita cantik tersebut. Dia lalu mengempaskan napas pelan sebelum kembali berbicara. "Lalu bagaimana dengan penelitianmu? Apakah sudah ada perkembangan?" tanyanya lagi mulai membahas sesuatu yang serius.
"Belum terlalu signifikan. Kau tahu bukan jika butuh waktu yang panjang untuk melakukan sebuah penelitian. Lagi pula, kerusakan yang telah ditimbulkan oleh Nenad benar-benar sudah di luar batas," jelas Monique seraya mengempaskan keluhan pelan.
"Kemarin pria itu berhasil melarikan diri. Jika dia tetap dibiarkan hidup, bukan tidak mungkin bahwa dia akan kembali meneruskan semua pekerjaan kotornya tersebut," ucap Coco seraya mengalihkan sejenak pandangannya pada foto Matteo.
__ADS_1
"Ya, itu bisa saja terjadi. Nenad adalah pria yang sangat licik dan juga begitu licin. Sulit untuk dapat menghabisinya. Apalagi, setahuku dia juga memiliki banyak sekali tempat persembunyian, dan itu bukan hanya berada di Serbia," terang Monique dengan yakin, sehingga membuat Coco segera membetulkan posisi duduknya. Pria itu menghadap kepada wanita cantik tersebut dengan raut yang penuh penasaran. Coco merasa semakin tertarik dengan perbincangan tersebut.
"Begitukah? Kau tahu di mana saja tempat persembunyian Nenad?" pancing Coco seraya mengangkat sebelah alisnya.
Monique tertawa renyah mendengar pertanyaan dari Coco. Dia lalu menyibakkan rambutnya yang panjang nan indah. "Aku tidak yakin dia ada di mana saat ini. Akan tetapi, jika Nenad tidak ada di Serbia, maka dia pasti pergi ke rumah peristirahatannya yang berada si Vukovar, Kroasia," terangnya.
"Vukovar, Kroasia?" ulang Coco sambil manggut-manggut.
"Ya. Setahuku dia kerap pergi ke sana. Sebenarnya, dulu aku juga sempat diajak ke tempat itu, tapi hanya satu kali. Aku tidak ingin kembali meskipun dia pernah memintaku untuk menemaninya lagi " tutur Monique lagi. Dia menunjukkan ekspresi yang kurang nyaman setelah berkata demikian.
"Memangnya kenapa?" tanya Coco yang semakin tertarik dengan pembahasan itu.
Monique tampak berpikir untuk sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Coco. Dia mengalihkan perhatian pada bukaan ruang tamu, yang langsung menghadap ke area halaman luas dengan kolam air mancur sebagai penghiasnya. Sesaat kemudian, wanita cantik tersebut kembali menatap Coco dengan sorot mata yang terlihat sedikit aneh dan tak seperti biasanya. "Kau tahu, Tampan? Aku tidak menyukai tempat itu," jawabnya seraya meringis kecil.
"Kenapa? Apakah itu seperti Menara Hitam?" tanya Coco lagi yang terus berusaha mengorek informasi dari mantan asisten Nenad Ljudevit tersebut.
"Menurutku jauh lebih mengerikan dari Menara Hitam. Aku melihat jalanan yang lengang. Jarang sekali ada kendaraan yang melewatinya. Nenad membawaku pada sebuah gedung tua dua lantai di sudut jalan. Bangunan itu sangat luas tapi terlihat menakutkan. Apalagi, karena letaknya berada di antara reruntuhan sisa peperangan. Tak ada bangunan lain yang masih berbentuk, selain gedung dua lantai tadi. Semuanya tampak porak poranda. Entah berapa nyawa yang tewas di sana," terang Monique dengan tatapan yang kembali menerawang pada halaman luas Casa de Luca.
"Kenapa Nenad Ljudevit menyukai tempat-tempat seperti itu?" gumam Coco terlihat berpikir.
"Entahlah. Aku rasa mungkin untuk menyamarkan segala aktivitas bisnisnya. Aku yakin jika di dalam gedung luas itu, dia juga tengah melakukan sebuah eksperimen lain. Nenad itu seseorang yang ... ah bagaimana cara untuk menjelaskannya?" Monique berdecak pelan karena merasa bingung dengan kata-kata yang akan dia ucapkan kepada Coco. "Namun, aku juga tak tahu apa yang sedang dia lakukan di sana, karena sejujurnya aku tidak berani untuk melangkah lebih jauh. Aku terlalu takut mati," wanita berambut merah itu tertawa getir.
"Hal yang wajar bagi seorang wanita sepertimu merasakan demikian. Aku rasa berada di dekat Nenad dengan segala kegilaannya saja, itu sudah merupakan sebuah keberanian lebih untukmu, Miljana," ujar Coco menanggapi santai ucapan Monique tentang ketakutannya.
__ADS_1
"Ya, mungkin karena itulah aku membutuhkan seorang pelindung. Sosok pemberani seperti dirimu contohnya," gurau wanita berambut merah itu diiringi tawa renyah nan manja.
Sedangkan Coco pun hanya menanggapinya dengan hal yang sama. Mereka berdua terlihat sangat akrab saat itu dan seakan tengah bercengkerama mesra. Setidaknya demikian yang ada dalam pandangan Francesca. Gadis bermata hazel tersebut baru saja muncul dari bagian lain bangunan Casa de Luca. Dia lalu berdiri di hadapan mereka berdua dengan memasang wajah yang tidak bersahabat, terutama kepada Monique. "Oh, ada tamu rupanya. Padahal sudah waktunya aku menyeka tubuhmu, Sayang," ucap Francesca dengan gaya bicara dan senyum yang tampak dibuat-buat.