
Dengan meminjam mobil milik Bianca, Coco segera menuju titik terakhir yang terlihat di radar pada laptop. Sama seperti mendiang Matteo, Adriano juga tipe orang yang suka melakukan segala sesuatunya sendiri. Jarang sekali pria tampan itu melibatkan anak buah yang tak terkira banyaknya untuk sekadar melakukan pengawalan, ataupun melaksanakan sebuah misi. Akan tetapi, sikap Adriano yang demikian, ternyata membawa dampak buruk. Contohnya seperti saat ini, di mana Coco kebingungan atas menghilangnya Adriano.
Tak sampai sepuluh menit, Coco telah tiba di lokasi yang diperkirakan menjadi tempat terakhir Adriano sebelum hilang kontak dengannya. Dia menepikan mobil yang dikendarainya, lalu mengamati sekeliling. Di sana tampak jalanan beraspal yang cukup lebar. Namun, suasannya terlihat sangat lengang. Sisi kanan jalan raya adalah padang rumput luas dengan ditumbuhi beberapa pohon Hawthorn, yang biasa tumbuh di antara semak belukar di dataran Inggris. Sementara sisi kiri jalan tersebut adalah jurang terjal berbatu.
Coco sempat merasa was-was, ketika dia mengarahkannya senternya pada jalanan tersebut. Tampaklah jejak ban di atas aspal. Noda hitam sebagai tanda bahwa kendaraan yang melintas di jalan itu sempat menginjak rem secara mendadak. Dia langsung menuju pagar pembatas jalan dan melongok ke dasar jurang. Coco bisa sedikit merasa tenang, karena tak ditemukan bangkai kendaraan atau apapun yang menunjukkan bahwa telah terjadi kecelakaan di sana.
Pria berambut ikal itu pun mengembuskan napas lega, bersamaan ponselnya yang berdering nyaring. Adalah Mia yang menghubunginya saat itu. “Pronto, Mia,” sapa Coco.
“Bagaimana, Ricci? Apakah kau menemukan sesuatu di sana?” tanya Mia was-was.
“Maaf, Mia. Aku tidak dapat menemukan apapun di sini. Aku hanya melihat jejak rem, tapi aku tak dapat memastikan itu jejak dari kendaraan milik Adriano atau bukan,” terang Coco.
Suasana hening sejenak, lalu terdengar isakan pelan. “Hei, Mia. Tenanglah. Aku yakin Adriano akan baik-baik saja. Mungkin dia sedang ada pertemuan mendadak dan tidak sempat mengabarimu,” bujuk Coco menenangkan, “atau coba kau tanyakan pada rekan Adriano. Minta dia agar menghubungi Don Vargas, barangkali kolega Adriano itu mengetahui sesuatu,” sarannya kemudian.
“Baiklah. Akan kucoba,” ucap Mia pada akhirnya.
“Bagus. Aku akan segera kembali ke rumah. Jika masih belum menemukan titik terang, maka kita harus melaporkan hal ini pada polisi,” ujar Coco sebelum menutup teleponnya. Setelah itu, pria berambut ikal tersebut bergegas kembali menuju mobil, untuk pulang ke rumah sewaan. Di sana, dia memarkirkan mobil di halaman depan, lalu berlari masuk ke dalam.
__ADS_1
Di ruang tamu, Mia terisak sembari menggendong Miabella yang kebingungan. Di samping Mia, tampak Bianca yang tengah menelepon seseorang. Melihat Coco datang, wanita itu mematikan ponsel dan berdiri menghampirinya.
“Don Vargas maupun Juan Pablo, keduanya tidak mengetahui ke mana Adriano pergi,” terang Bianca pada Coco.
“Kalau begitu, tak ada jalan lain,” Coco merogoh ponselnya dari saku celana. Dia memencet sebuah nomor yang memiliki kode negara Italia. Pemilik nomor itu tak lain adalah detektif Ignazio Ranieri. Dia mengabarkan melalui pesan tertulis pada polisi muda itu bahwa Adriano menghilang dan kemungkinan diculik. Setelah mengirim pesan, barulah Coco menghubungi nomor kepolisian setempat.
Sementara itu, berpuluh kilometer jauhnya dari tempat Mia berada, pada sebuah gudang kayu di tengah peternakan biri-biri, Adriano tersadar dari pingsannya.
Pria itu meringis perlahan seraya memicingkan mata. Kepalanya terasa begitu sakit, terlebih di bagian belakang. Adriano menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, sampai dia sadar bahwa badannya terikat erat pada sebuah kursi. Tali tampar melilit sekujur tubuhnya yang terduduk di kursi besi.
Pandangan Adriano yang awalnya kabur, kini mulai kembali normal. Dia mengedarkan tatapannya pada sekeliling tempat itu. Tampaklah belasan orang bersenjata lengkap yang tengah berdiri di sekelilingnya. Semua dari mereka bertubuh tegap khas orang-orang militer. “Apa dia sudah siuman?” terdengar suara seseorang yang entah berasal dari mana.
Wanita itu menyeringai dengan sikapnya yang begitu menggoda. Sementara mulutnya bergerak-gerak mengunyah permen karet. “Aku tak pernah mengira bahwa kau setampan ini. Kau bahkan terlihat jauh lebih tampan, jika dibandingkan dengan yang kulihat dari foto-fotomu,” dia merogoh saku jaket kulitnya lalu mengeluarkan berlembar-lembar foto dan melemparkannya begitu saja ke wajah Adriano. Beberapa foto jatuh di pangkuan pria rupawan itu.
Tampaklah potret dirinya dalam berbagai pose. Mulai dari saat dia keluar dari apartemen di London, saat tengah menggendong Miabella di wahana akuarium sampai ketika dirinya hendak masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke lokasi proyek di Birmingham. Ada pula foto Mia dan Miabella. Adriano lalu mendongak dan menatap tajam pada wanita asing itu. “Apa maumu?” desisnya.
Wanita itu memiringkan kepala sembari bersedekap. “Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama,” ujarnya sambil mengangkat satu kaki, kemudian meletakkannya di paha Adriano dan memainkan ujung hak sepatu bootnya.
__ADS_1
“Kau boleh berada di atas angin sekarang, Nona. Namun, kusarankan sebaiknya kau bunuhlah aku. Karena jika aku masih hidup dan berhasil lolos, maka tak ada jaminan bahwa dirimu atau semua orang yang ada di sini bisa selamat dari pembalasanku,” seringai Adriano. Dia masih tetap percaya diri meskipun dalam situasi tidak menguntungkan sekalipun.
“Kalau begitu, aku tak akan membiarkan dirimu lolos,” wanita itu tertawa lebar. Satu tangannya meraba dada bidang Adriano yang masih berbalut kemeja putih dan terus menjalar naik ke leher. Tangan wanita itu berhenti di pipi. “Kau benar-benar tampan,” bisiknya tepat di telinga Adriano, dengan napas yang terasa menghangat di pipi sebelah kiri pria bermata biru tersebut.
Suami dari Mia itu tak menjawab. Perhatiannya malah teralihkan pada kalung emas berbandul pedang yang menghiasi leher jenjang wanita asing di hadapannya. Tiba-tiba terbersit sebuah ide gila dalam benaknya. “Apa kau benar-benar tertarik padaku?” Adriano balas berbisik.
“Sepertinya begitu,” wanita itu menyejajarkan wajah cantiknya pada wajah Adriano.
Adriano memamerkan senyumannya yang menawan. “Aku merasa tersanjung,” ucap Adriano dengan nada penuh rayuan dan sorot mata menggoda, “mungkin kita bisa berbicara dengan baik-baik tanpa harus membuatku tersiksa begini,” bujuknya.
“Sayangnya, aku suka melihatmu tersiksa. Kau semakin terlihat seksi,” wanita itu lalu mendudukkan diri di atas pangkuan Adriano dan melingkarkan tangan di lehernya.
“Begitukah?” bisik Adriani lagi. "Aku juga bisa membuatmu tersiksa," pria bermata biru itu menyusuri leher wanita tadi dan berhenti di bawah telinga. Dia mengecup lembut leher indah itu sampai si pemilik leher melenguh pelan. Belasan pria yang mengelilingi mereka, segera membalikkan badan. Mereka seakan tahu bahwa wanita yang sepertinya mempunyai pangkat lebih tinggi tersebut, akan berbuat yang lebih jauh dari apa yang mereka saksikan saat itu.
Melihat hal tersebut, Adriano menyeringai lebar. Dia meneruskan cumbuannya sampai wanita itu tak sadar bahwa kalung emas miliknya sudah berpindah tempat. Dengan lihai, Adriano melepaskan pengait kalung menggunakan mulut dalam waktu yang sangat cepat. Kalung itu merosot dan terjatuh di ujung jari kaki Adriano yang tak beralas. Adriano menjepit tali kalung tadi dengan ibu jari kakinya dan menggeserkan benda tersebut hingga semakin tersembunyi. Selagi dia sibuk membuat si wanita hanyut dalam cumbuan kecilnya, Adriano menyembunyikan kalung milik wanita itu di bawah telapak kaki.
Terdengar suara tawa manja wanita berpenampilan eksentrik itu. Jemari lentiknya yang berhiaskan kuku dengan kuteks berwarna hitam, menangkup paras tampan Adriano. "Sebenarnya aku ingin mengajakmu bersenang-senang, Tampan. Namun, tidak malam ini. Pertama, karena aku terlalu lelah. Kedua, kau juga harus bersiap untuk menemui seseorang besok pagi," ucapnya seraya menyentuh permukaan bibir Adriano yang saat itu berusaha untuk menghindar.
__ADS_1
Wanita bertubuh ramping tadi kemudian bangkit dari atas pangkuan Adriano. Dia berdiri sejenak sambil memperhatikan pria yang dalam keadaan terikat kencang. Setelah itu, wanita tersebut menoleh kepada para pria berperawakan tegap yang masih membelakanginya. "Pastikan pria tampan ini tetap berada di tempatnya. Awasi terus, karena dia sangat berbahaya. Kalian akan tahu akibatnya jika sampai bersikap teledor!" pesannya dengan tegas, seraya berlalu dari ruangan tersebut.