
“Hm, bagus juga pengamanannya,” ujar Adriano. “Jadi, di titik mana saja yang terdapat ranjau? Bisakah kau menandainya?”
“Sudah kulakukan. Lihatlah ini,” telunjuk Coco mengarah pada layar. Dia menunjukkan beberapa titik merah pada Adriano. “Sudah kupetakan di mana saja letak ranjau itu. Dari sini, kita akan menentukan jalur aman,” terangnya.
“Astaga, lihat itu,” tunjuk Coco lagi pada gambar di layar laptop yang terbelah menjadi dua bagian. Satu layar menunjukkan gambar dan obyek yang tertangkap oleh kamera, sedangkan separuh layar lainnya menunjukkan peta. “Nenad juga memasang kamera pengawas di banyak tempat. Mereka meletakkan kamera itu di bagian atas batang pohon,” drone bergerak sesuai arahan Coco melalui ponsel.
“Jadi, bagaimana cara kita masuk ke dalam sana tanpa diketahui?” pikir Adriano sambil mengusap dagu.
“Organisasi sekelas milik Nenad pasti memiliki sistem pengamanan cyber tersendiri. Sistem itulah yang mengatur segala informasi yang masuk dari berbagai sumber. Kamera-kamera pengawas tadi pasti terhubung ke monitor utama. Andai saja aku bisa meretas dan masuk ke dalam jaringan sistem dan firewall mereka, mungkin aku dapat menghentikan aktivitas kamera pengawas tersebut untuk sementara,” jawab Coco memberikan penjelasannya kepada Adriano.
“Sampai berapa lama?” Adriano kembali bertanya.
“Maksimal antara sepuluh hingga lima belas menit,” jelas Coco lagi.
“Sepertinya cukup,” gumam Adriano.
“Baiklah, akan kucoba,” Coco mulai serius mengutak-atik laptopnya. Sesekali dia melirik ke arah ponsel, lalu kembali bekerja. “Kuhilangkan sinyal dan jaringan dari ponsel kita agar tak terlacak,” ujar Coco tiba-tiba.
Adriano menanggapinya dengan anggukan pelan sambil tetap memfokuskan perhatiannya pada pekerjaan Coco. “Sedikit lagi, aku akan bisa menerobos masuk ke dalam sistem mereka. Aku sudah berhasil menemukan celah dan retakan,” ucapnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar laptop.
“Berhasil!” seru Coco setelah beberapa menit berlalu. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu menepuk-nepuk pundak Adriano. “Aku menahan jalur data mereka selama dua puluh menit, Amico. Kegiatan internet mereka akan membeku selama rentang waktu itu,” sambungnya.
“Kalau begitu, tunggu apalagi?” Adriano cepat-cepat meraih ransel, lalu menggantungkannya di bahu.
__ADS_1
“Sebentar, akan kusalin peta yang ada di laptop ke dalam ponsel,” ujarnya, lalu kembali fokus pada laptop. Tak berselang lama, dia mematikan laptop itu dan memasukkannya kembali ke dalam ransel bututnya. “Ayo,” ajaknya seraya menunjukkan layar ponsel. “Ingat, setiap kali melangkah untuk selalu melihat pada peta dan hindari titik-titik merah ini, karena itu adalah ranjau," pesan Coco serius.
Adriano mengangguk tanda mengerti dan mulai bergerak. Dia berjalan di belakang Coco yang siap memberikan aba-aba.
“Belok kiri, Amico,” seru Coco dengan tidak terlalu nyaring, sambil setengah berlari hingga akhirnya mereka tiba di depan tembok perbatasan. Bau anyir lumut akibat kelembaban udara yang tinggi, menyeruak masuk ke dalam saluran pernapasan Adriano dan juga Coco. “Apakah kita akan memanjatnya?” tanya pria berambut ikal itu.
“Sepertinya sulit. Bagaimana jika kau korbankan dronemu saja untuk pengalihan?” tawar Adriano.
“Apa maksudmu?” Coco menautkan kedua alisnya.
Adriano menggaruk pelipisnya sesaat sebelum menjawab, “Arahkan dronemu ke sini," suruhnya.
Tanpa membantah, Coco menuruti perkataan Adriano. Melalui ponsel, dia mengrahkan drone tadi ke titik di mana dirinya berdiri. Tak lama kemudian, drone kecil itu melayang tepat di atasnya, lalu bergerak turun hingga sejajar dengan wajah Adriano. “Sudah, lalu bagaimana?” Coco menoleh pada suami Mia tersebut.
“Apakah drone ini cukup kuat untuk membawa beberapa batu berukuran sedang?” Adriano malah balik bertanya.
“Berarti sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencobanya,” Adriano tersenyum lebar pada pria berambut ikal itu.
“Awas saja jika sampai rusak,” dengus Coco sambil mengambil beberapa buah batu dan mengikatnya dengan menggunakan tali ransel yang baru saja dia potong. Setelah itu, Coco mencoba mengangkat drone itu menggunakan remote. “Berat sekali, Amico! Hendak dibawa ke mana ini?” tanyanya.
“Arahkan ke salah satu titik ranjau,” titah Adriano. Sontak Coco terbelalak kaget dan melotot ke arahnya.
“Apa kau ingin mengorbankan droneku?” serunya dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Ayolah, hanya itu satu-satunya cara untuk mengalihkan perhatian mereka,” bujuk Adriano dengan sikap kalemnya.
Coco hanya bisa berdecak kesal. Meskipun berat dan merasa sayang dengan drone ciptaannya itu, tapi dia melakukan apa yang Adriano minta. Susah payah, Coco menaikkan drone kecil itu, lalu menerbangkannya ke salah satu titik ranjau. Ketika dirasa sudah tepat sasaran, Coco menurunkan benda itu dengan kecepatan penuh.
Rencana Adriano berhasil. Drone yang diikat bersama beberapa batu tersebut jatuh dan membuat ranjau bereaksi. Satu ranjau meledak, menimbulkan suara menggelegar.
“Gawat, Amico! Kalau aku tidak membuka jalur data mereka, maka mereka akan tahu bahwa jaringannya telah diretas,” ujar Coco panik.
“Kalau begitu kembalikan jalur datanya sekarang,” selesai Adriano berkata demikian, Coco segera mengoperasikan ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana.
“Sudah selesai,” ucap Coco lega bersamaan dengan keluarnya beberapa orang dari balik tembok pembatas. Orang-orang itu memakai pakaian yang bercorak militer. Adriano dan Coco pun segera bersembunyi di balik batu besar yang menempel di salah satu titik di tembok besar dan memanjang itu. “Apakah mereka .…” Coco memandang orang-orang itu penuh keheranan.
“Mereka pasti tentara bayaran,” sahut Adriano tanpa melepas pandangan dari orang-orang itu. Dia seakan sudah tahu apa yang dimaksud oleh Coco.
“Lalu, bagaimana?” bisik Coco.
“Tunggu sebentar di sini. Jangan bergerak sedikit pun!” suruh Adriano seraya berlari mengikuti gerombolan itu. Tampak orang-orang berpakaian militer tersebut tengah waspada menyelidiki ranjau yang meledak tiba-tiba. Dia juga mengamati beberapa kamera pengawas di sekitar area itu yang rusak terkena ledakan ranjau tersebut.
Sambil mengendap-endap, Adriano mendekati satu orang yang berdiri paling belakang. Pria itu melepas jaket aviatornya. Pelan dan tanpa suara, Adriano melilitkan jaket itu pada leher dan muka orang tersebut. Dia juga merebut senjata laras panjangnya. Senapan bertali itu kemudian dia sampirkan ke pundak, lalu menarik pria tadi ke dalam semak-semak yang berada di balik pepohonan besar.
Di sana, Adriano mengencangkan lilitan jaketnya pada leher dan wajah tentara bayaran yang tak putus asa memberontak. Pria itu menggerakkan tangannya ke segala arah, berusaha melepaskan lilitan seraya menarik tangan Adriano supaya menjauh. Akan tetapi, Adriano jauh lebih kuat. sehingga pria itu tak mampu berteriak ataupun melawan, hingga pada akhirnya dia kehabisan tenaga.
Adriano menunggu beberapa saat lamanya hingga pria itu benar-benar tak bergerak. Barulah dia melepaskan jaket dari pria asing tadi. Setelah memeriksa denyut nadi dan memastikan orang itu mati, Adriano segera berdiri untuk melihat keadaan sekitar. Tersisa empat orang yang menyisir tempat itu sambil mengokang senjata.
__ADS_1
Penuh kehati-hatian, Adriano membidik senapan dari tempatnya bersembunyi. Dia mengarahkan moncongnya pada salah satu dari empat kepala orang-orang itu. Tembakan yang dia lesatkan tepat sasaran. Secepat kilat, Adriano mengarahkan tembakannya pada satu orang lainnya dan tepat sasaran pula.
Panik, orang-orang tadi mulai menembakkan senjatanya ke segala arah karena belum mengetahui asal tembakan. Adriano kembali memuntahkan pelurunya pada dua orang yang masih tersisa. Mereka pun roboh dalam waktu hampir bersamaan.