
Mia turun dari tempat duduknya. Tatapan yang disertai senyuman nakal, dia gunakan untuk menarik perhatian Adriano sehingga mengikutinya. Dia mendudukan pria bertubuh tegap itu pada sofa yang terletak tidak jauh dari meja bar tadi. Mia lalu naik ke atas pangkuan Adriano hingga bagian bawah gaunnya tersingkap begitu tinggi. Agresif, jemari lentik wanita cantik itu melepas satu per satu kancing kemeja yang Adriano kenakan. Senyuman nakal pun tak jua lepas dari paras menggoda yang tampak memerah.
“Kau selalu membuatku bergairah,” bisik Adriano. Sementara Mia hanya tertawa renyah saat menanggapinya. Dia membalas ucapan sang suami dengan sebuah kecupan di leher pria itu, menggigit dan mengisapnya perlahan. Adriano sempat menolak, tapi Mia yang sudah dipengaruhi minuman begitu hilang kontrol. Dia bersikap liar dan melakukan apapun sesuka hatinya, membuat Adriano kewalahan dan akhirnya membiarkan apapun yang dia inginkan. Namun, tentu saja pria itu sangat menyukai hal tersebut.
“Ah ... Mia ....” helaan napas berat tertahan Adriano, mengisi seluruh ruangan, berbaur dengan alunan musik romantis yang mengiringi sikap nakal Mia terhadap sang suami.
Mia yang sudah tak terkendali dan begitu ingin meluapkan segala hasratnya, bergerak memacu diri di atas pangkuan Adriano yang tersenyum puas atas pelayanan sang istri.
Ini benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan bagi Adriano, ketika dirinya bercinta dengan Mia di atas sofa itu. Dia berharap arwah Matteo tidak datang untuk menembaknya. Namun, hingga beberapa saat dia menikmati keindahan ragawi Mia, bahkan sampai peluh bercucuran dengan napas berat yang menderu, apa yang pernah ada dalam mimpi Adriano beberapa tahun silam tak terjadi sama sekali. Dia masih dapat menikmati seonggok daging segar berbalut kulit kuning langsat itu dengan sangat leluasa, membolak-balikannya sesuka hati.
Puas rasa hati Adriano saat melihat Mia yang berada dalam genggamannya, membuat wanita itu melenguh dan sesekali mengerang saat menerima setiap perlakuannya. Tak ada satu sudut pun keindahan tubuh Mia yang luput dari sentuhannya. Segala rasa penasaran dalam hati Adriano terjawab sudah. Tak salah jika dirinya selalu memiliki angan terindah bersama wanita yang kini sudah terkulai lemas di atas sofa, dengan tanpa selembar benang pun yang menutupi tubuhnya.
Perlahan Adriano bangkit dan menaikan resleting celana panjangnya. Dia lalu mendekati kaki Mia, melepas sepatu yang dikenakannya. Adriano mengelus perlahan betis jenjang wanita yang kini sudah tak sadarkan diri di atas sofa tadi. Tak berselang lama, direngkuhnya tubuh polos Mia. Pria itu kemudian membopongnya menuju kamar.
“Theo ... maafkan aku. Aku mencintainya ....” racau Mia dengan mata terpejam. Entah dirinya sadar atau tidak saat mengatakan hal itu.
Adriano yang tengah berjalan sambil menggendong Mia, tersenyum simpul. “Aku juga mencintaimu, Sayang,” ucap pria itu seraya mengecup kening wanita dengan kepala yang terkulai lemah di pundaknya.
Adriano lalu membaringkan tubuh sang istri dengan sangat hati-hati di atas ranjang. Dia kemudian ikut berbaring di sisinya.
Terdengar dengkuran halus dari bibir Mia. Tak berapa lama, tangan wanita itu tampak bergerak-gerak, seakan hendak meraih sesuatu.
“Ada apa, Mia?” dia segera menggenggam tangan yang terulur dan mengecupnya berkali-kali.
“Adriano, jangan pergi,” gumam Mia.
“Aku ada di sini,” Adriano memeluk tubuh Mia semakin rapat.
__ADS_1
“Adriano, jangan ke mana-mana. Biarkan mereka. Aku tidak ingin kau terluka,” Mia terus meracau.
“Ssh, tenanglah, Sayang,” Adriano mengecup lembut kening istrinya dan kembali memeluk erat tubuh indah itu. Kehangatan kembali mengalir saat permukaan kulit keduanya saling bersentuhan.
“Bagaimanapun, aku akan memenuhi janjiku terhadapmu, Mia. Akan kutemukan setiap orang yang bertanggung jawab atas kematian Matteo,” pungkas Adriano sebelum memejamkan sepasang mata birunya.
Entah sudah berapa lama pria itu tertidur. Adriano terbangun dengan tiba-tiba saat terdengar dering ponselnya yang demikian nyaring. Dia terdiam sejenak di tepi ranjang, sebelum kesadarannya kembali penuh. Adriano lalu meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas laci. Ada nama Damiano yang tertera di layar. Segera saja dia mengangkatnya.
“Ada apa, Damiano?” tanya Adriano seraya melihat ke arah Mia yang masih terlelap.
“Apa kau masih lama, Nak? Miabella tak henti-hentinya mencari kalian,” jawab Damiano.
“Jam berapa ini?” mata biru Adriano bergerak-gerak mencari jam tangannya yang terlepas entah di mana.
“Jam tujuh, Nak. Apa kalian baik-baik saja?” nada bicara Damiano mulai terdengar khawatir.
“Mabuk? Setahuku Mia tak pernah mengonsumsi minuman beralkohol,” sahut Damiano keheranan.
“Ya, itu salahku. Aku yang memaksanya,” sesal Adriano. Tak pernah dia sangka jika ternyata Mia belum pernah mencicipi minuman beralkohol sebelumnya.
“Baiklah, kalau begitu kau tunggu saja sampai Mia sadar. Aku akan mengalihkan perhatian Miabella dulu,” putus Damiano seraya terkekeh.
Baru saja Adriano meletakkan ponselnya, benda pipih itu lagi-lagi berbunyi. Kali ini nama Pierre yang tertera di sana. “Ada apa, Pierre?” tanya Adriano tanpa basa-basi.
“Maaf mengganggu pagi Anda, Tuan. Aku hanya mengabarkan bahwa nona Alegra berkali-kali datang ke mansion untuk mencari Anda,” jawab ajudan Adriano tersebut.
“Kenapa dia mencariku?” Adriano mengernyit sembari memijit tengkuknya. Sesekali dia melirik pada Mia yang masih terlelap.
__ADS_1
“Dia ingin membicarakan perihal perjalanan ke London dalam beberapa hari ke depan,” jelas Pierre.
“London, ya? Baiklah. Katakan padanya, aku akan pulang besok,” ujar Adriano. Dia sempat berbincang-bincang sejenak dengan Pierre sebelum menutup telepon.
Setelah mengakhiri panggilannya, Adriano kembali memperhatikan Mia. Diusapnya lembut kening istrinya itu. Namun, hal itu ternyata membuat Mia bangun dan terduduk tiba-tiba. “A-Adriano? Apa yang terjadi?” tanya Mia tergagap.
“Apa kau sama sekali tak mengingatnya?” raut wajah Adriano mendadak berubah kecewa.
“Ah, ya, a-aku ....” mata Mia terbelalak ketika dia mulai mengingat samar-samar peristiwa semalam. Wajahnya memerah seketika. “Kita harus pulang! Miabella pasti sudah menunggu,” Mia mengalihkan pembicaraan begitu saja untuk menutupi rasa malu. Dengan segera wanita itu menyibakan selimut dan bermaksud untuk turun dari ranjang.
Akan tetapi, keseimbangannya yang belum pulih benar membuat Mia sedikit limbung dan hampir terjatuh. Beruntung, Adriano sigap mencekal lengan dan menarik tubuh Mia agar kembali duduk di atas ranjang.
“Jangan buru-buru. Kita mandi dulu,” tanpa aba-aba, Adriano membopong tubuh istrinya dan membawa Mia masuk ke kamar mandi.
“Turunkan aku, Adriano! Aku bisa mandi sendiri,” pekik Mia saat Adriano membaringkannya di dalam bathub yang masih belum terisi air.
“Kalau bisa berdua, kenapa harus mandi sendiri?” Adriano mengerling nakal, lalu menyalakan shower. Setelah itu, dia meraih spons mandi dan membasuh seluruh permukaan kulit Mia dengan lembut.
“Hentikan, Adriano. Aku bisa sendiri,” jantung Mia kembali berdebar saat Adriano berlama-lama pada area tertentu dari tubuhnya.
“Kenapa harus malu, Sayang. Tadi malam kau begitu ....”
Mia segera membungkam bibir Adriano dengan sebuah ciuman. Adriano membalasnya dengan luma•tan yang tak kalah panas. Sebentar lagi, mereka akan mengulang adegan indah semalam. Namun, semuanya terpaksa harus berhenti ketika ponsel Adriano berdering nyaring.
“Itu pasti Damiano,” Adriano segera menjauhkan tubuh sang istri darinya.
“Astaga, Miabella,” seru Mia. Pupus sudah keinginannya untuk mengulang percintaan tadi malam. Kini, mereka menjalani ritual mandi berdua dengan terburu-buru. Seusai dari kamar mandi, keduanya segera berpakaian dengan terburu-buru. Adriano bahkan tidak sempat merapikan rambut. Dia juga mengenakan kemeja dengan tanpa memasukannya ke dalam celana. Sementara Mia pun sama saja. Dia pulang dengan mengenakan gaun yang semalam. Wanita itu hanya menyisir rambutnya dengan jari. Setelah masuk ke mobil, mereka saling tertawa dengan kegilaan pagi itu.
__ADS_1
"Ya ampun, Mia ...." Adriano menggelengkan kepalanya perlahan sambil terus mengemudikan mobil. Baru kali ini dia merasa begitu konyol.