
"Apa makna dari nama itu?" tanya Gianna yang masih berada di atas punggung Juan Pablo.
"Nama bersejarah milik ayahku," jawab Juan Pablo tanpa membuka matanya.
"Apa dia juga seseorang seperti dirimu?" Gianna bertanya lagi. Gadis itu benar-benar dipenuhi oleh rasa penasaran yang besar, akan diri pria yang telah bercinta dengannya sebanyak dua kali
"Kau masih saja cerewet, Bice." Juan Pablo menggerakkan tubuhnya, sehingga Gianna terempas ke samping. Gadis itu memekik kaget, tapi pada akhirnya dia tertawa geli setelah Juan Pablo meraih tubuh polosnya. Juan Pablo lalu memeluk Gianna yang berada dalam posisi telentang dari samping. Sesekali, pria dengan tato kalajengking itu mencium pipi gadis yang tak bisa ke mana-mana karena dia dekap dengan erat.
"Aku harus ke kamar mandi," ucap Gianna melirik Juan Pablo yang ternyata sudah tertidur lelap. Sebuah dengkuran halus terdengar darinya. Perlahan, Gianna menyingkirkan tangan kekar dengan tato yang merupakan sebuah tulisan di pergelangan bagian bawah. Dia sempat membaca nama itu. Mattea. Entah nama siapa. Gianna tak bisa menanyakan hal tersebut, karena Juan Pablo sudah terlelap. Akhirnya, dia memilih untuk turun dari atas tempat tidur.
Beberapa saat berlalu. Gadis berambut pirang tadi sudah kembali berpakaian. Dia memperhatikan Juan Pablo untuk beberapa saat. Setelah itu, dihampirinya pria yang terlihat sangat kelelahan tersebut. Dengan telaten, Gianna menyelimuti tubuh polos yang berbalut kulit eksotis.
Merasa tak ada yang bisa dia lakukan di dalam kamar, Gianna pun memutuskan untuk keluar. Dia begitu penasaran dengan keadaan sekeliling villa yang megah dan asri milik Juan Pablo.
Tujuan pertama Gianna adalah beranda samping, di mana terdapat kolam renang. Halaman di sana cukup luas dan semakin indah dengan adanya sebuah gazebo. Beberapa saat lamanya, Gianna berdiri memandangi area tersebut. Setelah merasa bosan, gadis berambut pirang tadi beranjak dari sana. Dia menyusuri bagian lain dari bangunan megah bergaya Tuscany itu.
Di sana ada banyak ruangan yang entah dimanfaatkan untuk apa. Namun, semua pintu terkunci dengan rapat. Lalu, tibalah Gianna di depan ruangan terakhir. Dia memutar pegangan pintu tadi, dan ternyata tidak terkunci. Gadis itu pun dengan leluasa masuk ke sana.
Gianna tak tahu fungsi ruangan itu, karena di sana tak ada apapun. Dia lalu menyalakan lampu untuk semakin memperjelas penglihatannya. Gianna pun mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan tersebut. Di sana memang tak ada apapun, selain sebuah tempat sampah jaring dari bahan logam. Gadis itu melihat ada tumpukan kertas yang sepertinya memang sengaja dibakar di dalamnya.
__ADS_1
Seperti biasa, rasa penasaran dalam diri gadis dua puluh empat tahun itu kembali muncul. Dia mendekati benda tersebut, kemudian menurunkan tubuhnya. Dengan setengah berjongkok, Gianna memungut selembar foto yang telah terbakar sebagian. Namun, ada bagian yang masih bisa terlihat jelas, begitu juga dengan wajah seseorang yang ada dalam foto yang ditemukannya.
"Sedang apa kau di sini" suara berat Juan Pablo seketika membuat Gianna tersentak kaget. Gadis itu segera berdiri kemudian menoleh tanpa melepaskan foto yang sudah dalam keadaan terbakar sebagian tadi. Gianna memandang Juan Pablo dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Perasaannya berkecamuk dan tak bisa dia pahami. Sementara Juan Pablo balas menatapnya dengan intens. Dingin dan juga datar. Sesaat kemudian, pria tiga puluh lima tahun tadi mengalihkan perhatian pada foto yang ada di dalam genggaman Gianna. "Kau tidak ingin bertanya?" Nada bicara yang terdengar begitu datar dari Juan Pablo. Tampaknya dia tidak menyukai sikap Gianna yang masuk ke ruangan itu tanpa seizinnya.
"Bukankah kau malas jika aku sudah banyak bertanya padamu?" Nada bicara Gianna pun terdengar biasa saja. Namun, ada setitik rasa kecewa dalam sorot mata gadis berambut pirang tersebut.
"Tanyakan saja," balas Juan Pablo seakan menantang gadis di hadapannya.
"Kau pria yang aneh, Juan!" Volume suara Gianna sedikit meninggi. Dia melemparkan foto yang sejak tadi digenggamnya ke hadapan Juan Pablo. Setelah itu, Gianna bermaksud untuk keluar dari dalam ruangan tersebut. Akan tetapi, dengan segera Juan Pablo meraih lengan gadis itu dan mencekalnya cukup kencang. Dia menahan Gianna agar tidak melanjutkan langkah. "Lepaskan aku, Juan!" sergah Gianna dengan tatapan tajam kepada pria yang hanya mengenakan celana jeans itu.
"Aku tidak akan membiarkan kau pergi ke manapun, Bice," balas Juan Pablo dengan intonasi yang datar tetapi terdengar tegas. Dia mendorong tubuh Gianna hingga bergerak mundur dan bersandar pada dinding ruangan. Seperti beberapa waktu yang lalu, Juan Pablo kembali menghalangi gerak gadis bermata biru itu. "Tanyakan apa yang ingin kau ketahui," pria asal Amerika Latin tersebut mendekatkan wajah kepada Gianna, sehingga gadis itu dapat merasakan hembusan napasnya yang menghangat. Namun, dengan segera Gianna memalingkan mukanya.
"Kenapa aku harus marah padamu?" Gianna kembali mengarahkan tatapannya kepada Juan Pablo.
"Entahlah. Aku berharap kau marah," jawab pria dengan postur tegap tersebut. Sorot matanya begitu intens tertuju pada paras cantik di hadapannya yang kini justru memilih untuk diam. Sedangkan Juan Pablo pun masih menunggu tanggapan dari gadis itu.
"Kenapa, Juan? Sejak kapan kau tertarik kepada Mia?" tanya Gianna pada akhinya, dengan suara yang bergetar. "Kenapa harus istri kakakku?" tanyanya lagi.
Juan Pablo tak segera menjawab. Dia menatap Gianna untuk sesaat. Setelah itu, pria bermata cokelat madu tersebut lalu beranjak dari hadapan Gianna. Dia memilih duduk di lantai sambil bersandar dan menekuk kaki kanannya. Sementara kaki kiri dia biarkan terulur lurus ke depan. Juan Pablo terdengar mengempaskan napas dalam-dalam. Dia meletakkan sebelah tangannya di atas lutut yang ditekuk tadi.
__ADS_1
Tatapan Juan Pablo menerawang, menembus dinding kamar tanpa jendela itu untuk beberapa saat. Tak berselang lama, pria bermata cokelat madu tersebut mengalihkan pandangan kepada Gianna yang masih berdiri memperhatikannya. Juan Pablo memberikan isyarat agar gadis itu ikut duduk di sebelahnya.
Awalnya, Gianna bersikap seakan hendak menolak. Namun, tak lama kemudian gadis berambut pirang tadi akhirnya menurut. Dia duduk bersila di sebelah Juan Pablo yang masih menatapnya. "Aku sudah tertarik kepada Mia sejak lima tahun yang lalu, dari semenjak pertama kali melihatnya. Bagiku, dia wanita yang tampak sangat berbeda dari semua wanita yang pernah kutemui. Ini bukan hanya tentang kecantikannya, tapi entahlah ... ada sesuatu yang membuatnya seperti sebuah magnet yang sangat kuat," tutur Juan Pablo. Dia memberikan sebuah penjelasan kepada Gianna.
"Sejak saat itu, aku terus memperhatikannya. Segala sesuatu tentang dia, tapi itu justru membuat hidupku tertutup untuk wanita lain. Katakan saja bahwa diriku telah terobsesi. Aku tak akan menyangkalnya," ungkap Juan Pablo lagi.
"Aku sadar jika hal itu membuat diriku merasa amat bodoh. Namun, ternyata aku tak mampu beranjak. Aku baru bisa menghentikan kekonyolan ini setelah kau hadir. Kau ...." Juan Pablo terus menatap Gianna dengan lekat, membuat gadis berkulit putih itu merasa tak nyaman. Namun, Gianna ternyata gadis yang pemberani. Dia membalas tatapan pria rupawan tersebut, meskipun dalam hati ada gemuruh yang teramat besar.
"Katakan sesuatu, tolonglah," pinta Juan Pablo. Sorot matanya makin lama semakin melunak.
"Bagaimana perasaanmu saat ini terhadap Mia?" tanya Gianna. Kedewasaanya diuji saat itu.
"Sudah kukatakan bahwa kau telah menghentikan kekonyolanku," jawab Juan Pablo dengan raut wajah yang datar. Akan tetapi, nada bicaranya terdengar sangat yakin.
Gianna mengalihkan perhatiannya dari Juan Pablo. Dia menatap lantai dan tampak berpikir. "Aku baru mengenal Mia kemarin-kemarin, saat ayahku diculik oleh sekelompok orang tak dikenal. Pada awalnya aku heran mengapa Adriano harus menikahi seorang janda beranak satu, karena setahuku dia akan lebih cocok bersanding dengan Carina. Namun, makin ke sini aku semakin mengenal Mia. Aku tahu bahwa Adriano tidak salah karena telah memilihnya."
"Tidak. Bukan itu maksudku, Bice," sanggah Juan Pablo. Dia meraih jemari lentik Gianna, kemudian menggengamnya. "Aku menemukan hal lain dalam dirimu. Ketenangan dan juga kebahagiaan," ucap pria itu seraya mencium punggung tangan Gianna, membuat gadis cantik tersebut kembali mengalihkan perhatian padanya. "Aku menyukaimu," bisik Juan Pablo sembari mendekatkan wajahnya.
Gianna tersenyum, kemudian memejamkan mata saat menyambut sebuah sentuhan lembut di bibirnya. Rasa percaya diri kembali hadir dalam hati gadis itu, ketika Juan Pablo menciumnya dengan semakin dalam.
__ADS_1
"Tetaplah di dekatku," bisik Juan Pablo lagi, yang berbalas sebuah pelukan dari Gianna.