
“Bolehkah aku berbicara sebentar saja dengan Ricci, Francesca? Aku berjanji tak akan lama,” pinta Adriano.
Gadis cantik dengan tubuh semampai itu tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan pria itu. “Baiklah, tapi lima menit saja. Kata dokter jadwal makan dan tidur Ricci tidak boleh terlambat dan harus sangat teratur. Jika tidak begitu, maka proses penyembuhannya akan memakan waktu lebih lama,” tegas Francesca.
“Memangnya kenapa jika lama, Francesca? Apa kau sudah lelah? Aku tidak memintamu untuk ….”
“Bisakah kau berhenti, Ricci? Aku sudah mulai bosan dengan kata-katamu yang sama setiap harinya!” sergah Francesca yang memotong kalimat kekasihnya begitu saja. “Terserah apapun yang ingin kau katakan! Tekadku sudah bulat untuk merawatmu hingga sembuh. Nanti jika kau sudah bisa menggunakan kakimu dengan baik, maka saat itu kau boleh menendangku keluar sesuka hatimu!” tandasnya seraya berbalik meninggalkan kamar, lalu menutup pintunya dengan cukup keras. Francesca kembali merasa kesal dan tak mampu menahan amarahnya.
Adriano ternganga menyaksikan perselisihan tadi. Untuk sesaat, dia menatap pintu yang tertutup rapat. Setelah itu, perhatiannya kembali terarah kepada Coco yang tampak tidak terlalu nyaman. Suasana canggung pun sempat hadir di antara kedua pria itu, untuk beberapa saat lamanya di dalam ruangan tersebut. Baik Coco maupun Adriano, sama-sama terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. “Maafkan atas sikap Francy barusan, ” ucap Coco kemudian, dengan nada bicara yang terdengar kurang enak. Dia pasti merasa tak nyaman atas perselisihannya dengan Francesca.
“Kenapa kau harus meminta maaf? Lagi pula, Francesca pun tidak salah,” sahut Adriano, “mungkin apa yang kusampaikan ini sedikit lancang, tapi menurutku sebaiknya agar kau jangan terlalu keras pada kekasihmu sendiri,” saran pria bermata biru itu dengan nada yang sangat hati-hati.
“Francy harus tahu jika hidup tak selalu sesuai dengan apa yang dia inginkan,” sahut Coco datar. Matanya menerawang pada langit-langit ruangan. Dia lalu kembali terdiam. "Aku tak ingin membuatnya merasa terperangkap olehku. Dia masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Dia dapat meraih apapun yang dia inginkan," sambungnya beberapa saat kemudian.
“Dia sudah memilih untuk menjadi bagian dari hidupmu, Ricci. Setidaknya hargailah sedikit saja,” balas Adriano lagi.
“Belum sepenuhnya," sahut Coco seraya mengempaskan napas pelan. "Sudahlah, Amico. Bukankah kau kemari bukan untuk membahas urusan pribadiku? Kenapa kita jadi membicarakan masalahku dengan Francy?” protesnya keras, sampai-sampai Coco lupa jika otot perutnya akan ikut tertarik saat dia berteriak. “Aduh,” akhirnya pria berambut ikal itu meringis kesakitan. “Pergi sajalah kau, Adriano! Kau sudah merusak moodku!” omelnya.
Bukannya menanggapi kekesalan Coco, Adriano justru malah tergelak. “Maaf, aku tak bermaksud menertawakanmu,” ucapnya sambil menahan tawa. “Sebenarnya aku ingin membahas tentang hal penting.”
“Ya, bagaimana tentang Lionel? Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Coco ketus.
“Berdasarkan informasi dari detektif Ignazio, dia berada di Brescia. Pria yang berusaha menculik Mia kemarin adalah Lionel,” jelas Adriano.
“Astaga, benarkah itu?” saking terkejutnya, Coco sampai berusaha mengangkat tubuhnya, lalu berakhir dengan erangan kesakitan.
__ADS_1
“Jangan banyak bergerak dulu, Ricci,” cegah Adriano sambil membetulkan letak bantal Coco, lalu membantunya kembali ke posisi semula. “Kau tenang saja. Dalam perjalanan pulang dari Milan tadi, aku sudah menghubungi Benigno untuk mengerahkan anak buahnya ke sekitar Casa de Luca. Apalagi Dante dan Serafino juga masih berjaga di sini,” lanjutnya.
“Aku juga sudah menelepon Valerie agar datang kemari. Meskipun hidupnya tak pernah bisa diam di satu tempat, tapi dia juga dapat diandalkan. Adik angkatku itu cukup lihai dalam menembak jarak jauh. Aku .…” kalimat Adriano terhenti saat Francesca masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa satu teko besar air.
“Sudah lebih dari lima menit, Adriano. Ricci harus segera meminum obatnya,” ujar Francesca, datar dan dingin.
“Baiklah, kita akan melanjutkan pembicaraan ini besok. Semoga lekas membaik, Ricci,” Adriano menepuk lengan Coco pelan, lalu tersenyum pada Francesca. Pria itu bergegas meninggalkan kamar Coco tanpa menoleh lagi.
Dari ruangan Coco, Adriano bermaksud untuk kembali ke kamar Miabella. Namun, Dante lebih dulu menghentikan langkahnya dengan wajah tegang. “Bos,” sapanya.
“Ada apa?” tanya Adriano.
“Serafino menemukan sebuah drone dengan tipe yang sama seperti drone yang dulu pernah masuk ke dalam Casa de Luca,” jawab Dante.
“Di depan gerbang pertama, Bos,” Dante mengarahkan tangannya sebagai isyarat agar Adriano mengikutinya. Dengan langkah tegap dan cepat, Adriano setengah berlari menuju gerbang terluar Casa de Luca.
Begitu pula dengan Dante yang berjalan di sampingnya.
Di area yang dimaksud, Serafino telah menunggu bersama anjing-anjing milik Dante. Ada pula beberapa penjaga gerbang dan pengawal Casa de Luca yang memang bertugas menjaga pos masing-masing.
“Di mana dronenya?” tanya Adriano setengah terengah.
“Ini, Tuan,” salah satu pengawal Casa de Luca maju dan menyerahkan benda kecil yang mirip dengan helikopter itu pada Adriano. “Ada kertas yang tertempel di sana, Tuan. Sepertinya itu merupakan sebuah pesan yang ditujukan untuk Anda,” lapor pengawal itu.
Adriano membolak-balik drone tadi. Sudah jelas jika itu adalah drone berjenis sama persis seperti drone yang pernah dia temukan beberapa waktu lalu. Dia lalu menarik kertas yang disinyalir berisi pesan untuk dirinya. Kertas itu menempel di badan drone. Adriano kemudian membaca pesan yang tertulis di sana.
__ADS_1
Ti aspetto al lago. Solo! Prometto di non barare (Kutunggu kau di danau. Sendiri! Aku berjanji tidak akan berbuat curang)
Adriano mere•mas kertas kecil itu, lalu berpikir untuk sejenak sambil berkacak pinggang. Sesekali dia menyugar rambutnya ke belakang. “Bisakah kau ambilkan jeep Matteo untukku?” suruh pria itu beberapa saat kemudian pada salah seorang pengawal.
“Baik, Tuan,” pengawal yang ditunjuk segera melaksanakan perintah Adriano dan bergegas menuju garasi. Tak berapa lama, jeep peninggalan Matteo melaju serta mendekat ke arahnya. Pengawal tadi melompat turun dari kendaraan dan menghampiri Adriano. “Sudah siap, Tuan,” lapornya.
“Grazie,” Adriano mengangguk, kemudian menepuk lengan pengawal itu.
“Apa kami perlu ikut, Bos?” tawar Serafino.
“Tidak usah! Tugas kalian semua di sini adalah menjaga setiap orang yang berada di dalam bangunan dan wilayah perkebunan de Luca, tanpa terkecuali. Apakah dimengerti?” tegas nada bicara Adriano. Mata birunya berkilat dan menatap tajam pada orang-orang yang berada di sekelilingnya.
“Baik, Bos,” Dante dan Serafino mengangguk serempak.
“Tunggulah bala bantuan yang segera tiba. Benigno dan puluhan algojonya akan datang kurang dari setengah jam lagi. Itu menurut perhitunganku,” ucap Adriano lagi sebelum berjalan memasuki jeep yang mesinnya sudah dalam keadaan menyala. Lihai tangannya memutar kemudi, sehingga kemdaraan tersebut melaju kencang dan segera keluar dari gerbang. Mobil itu kemudian berbelok ke arah danau tempat Adriano dan Coco pernah menyisir keberadaan pengendali drone misterius, bersimbol Tangan Setan beberapa waktu lalu.
Kurang dari sepuluh menit berkendara, Adriano membelokkan kemudi dan menurunkan kecepatan. Dia lalu berhenti tepat di jalan bebatuan tepi danau. Lampu jeepnya sempat menyorot sesosok pria jangkung yang berdiri menghadap ke danau.
Penuh kewaspadaan, Adriano membuka pintu mobil dan turun perlahan sambil meraih pistol yang selalu terselip di balik pinggangnya. Tanpa suara, dia mendekat ke arah sosok itu seraya mengarahkan moncong pistol itu pada kepala sosok yang kini menoleh padanya.
Sosok itu tersenyum lebar. Dia sama sekali tak gentar, ketika Adriano menodongkan pistol dalam jarak kurang dari lima meter terhadapnya. “Apa kabar, Tuan D’Angelo?” sapa pria yang tiada lain adalah Lionel. Dia mengangkat kedua tangan ke atas.
“Tak perlu berbasa-basi. Katakan apa maumu?” sahut Adriano. Wajah kalem itu berubah menjadi bengis hanya dalam waktu beberapa detik saja.
“Turunkan dulu pistolmu, Tuan D'Angelo," pinta Lionel, "setelah itu, barulah kita bisa berbincang-bincang dengan tenang,” ujarnya lagi tanpa memperlihatkan raut tegang sedikit pun.
__ADS_1