
Arsen tersenyum kecil, kemudian meneguk minumannya. Pria asal Yunani itu menatap sang pemilik mansion untuk beberapa saat. Dia seakan tengah memikirkan sesuatu. Suami dari Olivia tersebut lalu kembali meneguk isi dalam gelas kristal yang tinggal sedikit. "Kau sekarang sudah menikah, Adriano. Kulihat Mia sangat mencemaskanmu. Aku senang, itu artinya dia benar-benar menganggap dirimu sebagai suaminya," ujar pria tampan itu diiringi helaan napas panjang.
"Ya. Keberuntungan terbesar dalam hidupku," sahut Adriano seraya tersenyum kalem.
"Oleh karena itu, berhentilah sampai di sini. Kau bukan orang yang bodoh, jadi jangan bertindak konyol," saran Arsen dengan tegas tapi masih bernada santai. Pria itu kemudian meletakkan gelasnya yang telah kosong. "Kematian Don Vargas seharusnya menjadi sesuatu yang harus kau perhatikan. Kita tahu seperti apa reputasi orang tersebut. Aku sangat mengenalnya, dan hingga saat ini aku masih belum percaya bahwa dia tewas dengan semudah itu," Arsen kembali mengempaskan napasnya, sedangkan Adriano mengisi kembali gelas kristalnya yang telah kosong.
"Aku bukan pria tua seperti Don Vargas, Tuan Moras," ujar Adriano dengan enteng. Sepasang mata birunya tampak berbinar, menunjukkan betapa dia merasa begitu bahagia atas kematian pria paruh baya tersebut. "Setidaknya, satu dari beberapa orang yang ingin kusingkirkan telah tewas. Aku tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk turun tangan secara langsung." Adriano tersenyum puas.
"Jangan katakan jika kau masih tetap membidik Nenad Ljudevit. Terus terang saja, aku tidak akan mengizinkanmu, Sobat," telunjuk Arsen terarah lurus kepada Adriano, sebagai tanda bahwa dia tengah berbicara dengan serius.
"Aku tidak akan meminta izinmu, karena kau bukan ayahku," balas Adriano dengan tak acuh. Dia meneguk minuman dalam gelasnya. "Nenad Ljudevit harus kusingkirkan. Tiba-tiba aku menjadi sangat ambisius jika sudah menyebut nama orang itu," Adriano kembali tersenyum puas.
"Ah, tidak!" cegah Arsen dengan segera. "Kau tidak tahu siapa saja yang berada di belakang bandar senjata itu. Nenad memiliki keamanan yang berlapis. Tidak akan mudah bagimu untuk mendapatkan pria tersebut, meskipun pada kenyataannya dia hanyalah seorang pecundang," tutur Arsen. Dia yang memang mengenal sosok Nenad Ljudevit, sangat mengetahui seperti apa pria asal Kroasia tersebut.
__ADS_1
"Kau sangat mengenalnya. Namun, aku juga sudah mengetahui siapa saja orang yang berdiri di belakang Nenad Ljudevit. Pria itu pula yang sudah membuat Ricci terluka parah, bahkan harus terus menjalani perawatan hingga saat ini," terang Adriano antara marah dan menyesali tragedi yang menimpa Coco beberapa waktu ke belakang.
"Memangnya ada apa dengan pria Italia itu?" tanya Arsen yang memang belum mengetahui apa yang terjadi kepada calon adik ipar Mia tersebut, sehingga Adriano pun menceritakan semuanya.
"Dari sana aku mengetahui seberapa kuat pertahanan yang dibangun untuk melindungi Nenad Ljudevit. Aku juga mengenal orang yang berada di belakangnya," jelas Adriano dengan yakin. "Apa kau tahu dengan pria yang bernama Lionel? Dia merupakan seseorang yang menjadi pengurus dari komplotan pembunuh bayaran di Amerika," terang Adriano lagi.
"Lionel?" ulang Arsen. Pria tampan asal Yunani itu memang memiliki jaringan pertemanan yang jauh lebih luas jika dibandingkan dengan Adriano. Arsen yang supel dan pandai melobi, kerap menjual jasanya bagi para pengusaha-pengusaha besar, termasuk mereka yang juga hidup di dunia hitam seperti Adriano ataupun Don Vargas. "Seperti apa ciri-cirinya?" tanya suami dari Olivia tersebut penasaran.
"Tunggu sebentar," Adriano merogoh ponsel dari saku kemejanya. Dia tampak menyentuh layar benda itu, entah untuk mencari apa. Namun, tak lama kemudian pria bermata biru tadi segera memperlihatkan layar ponselnya kepada Arsen. "Ini orangnya," dia menunjukkan wajah seorang pria yang bernama Lionel.
"Kau mengenalnya?" tanya Adriano penuh selidik.
"Tentu saja," jawab Arsen tenang sambil tersenyum. Sebuah senyuman menawan khas perayu wanita. "Akan tetapi, setahuku pria itu bukan bernama Lionel," bantahnya, membuat Adriano seketika membetulkan posisi duduk menjadi lebih tegak. Sang ketua Tigre Nero tersebut menatap lekat rekannya itu dengan lekat, seakan meminta sebuah penjelasan darinya. Sementara Arsen masih terlihat tenang sambil menikmati gelas kedua. "Minuman yang sangat nikmat," gumamnya sambil kembali mencicipi isi dalam gelas kristal yang tengah dia genggam.
__ADS_1
"Jadi siapa pria itu sebenarnya?" tanya Adriano kemudian, karena Arsen tak kunjung memberikan penjelasan.
Pria yang entah telah meniduri berapa wanita selama hidupnya itu, kembali mengalihkan perhatian kepada si tampan bermata biru yang duduk tak jauh dari dirinya. Arsen kembali meneguk minuman tadi sebelum bicara. "Kau mengenal dia sebagai Lionel? Pada kenyataannya itu bukan identitas asli pria tersebut," ujarnya membuat rasa penasaran dalam diri Adriano kian besar.
"Lalu siapa?" tanya sang pemilik mansion itu dengan nada setengah mendesak.
"Kuberitahu kau sesuatu tentang pria di dalam foto tadi," ucap Arsen lagi yang seakan tengah mempermainkan rasa ingin tahu Adriano, yang tak lama lagi akan meledak. "Nama asli pria itu Melker Eidef Kielman. Dia merupakan pria berkebangsaan Swedia. Setahuku berasal dari Stockholm, kota yang sangat indah," terang Arsen masih terlihat tenang.
"Lalu?" tanya Adriano seraya menautkan alisnya.
"Dalam beberapa tahun terakhir, dia memilih untuk mengajukan pindah kewarganegaraan setelah menikahi seorang wanita asal New York, Amerika Serikat. Setelah itu, Melker bahkan bekerja untuk pemerintah USA sebagai agen rahasia. Akan tetapi, dia adalah orang yang tamak dan gila akan uang. Hampir sama sepertiku, tapi aku tentunya tidak separah dia," jelas Arsen lagi. Sementara Adriano masih mendengarkan dengan saksama.
"Melker bekerja untuk pemerintah USA selama beberapa periode, sampai akhirnya dia diketahui telah berkhianat dengan menjadi mata-mata dari pihak Rusia. Seperti yang kukatakan tadi, Adriano. Semuanya kembali pada uang," terang Arsen lagi. Dia lalu meneguk minumannya.
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Adriano yang tampak semakin tertarik dengan penuturan dari Arsen.
"Setelah kelakuan nakalnya diketahui pihak pemerintah USA, Melker ditangkap. Namun, ketika pria itu akan diadili ... ternyata dia berhasil melarikan diri. Entah seperti apa caranya, tapi yang pasti dia sangat licik dan juga licin. Dia mungkin mengganti identitas aslinya. Aku bahkan tidak tahu bahwa Melker terlibat dalam organisasi pembunuh bayaran di Amerika," Arsen mengakhiri penuturannya dengan satu tegukan lagi.