
Malam belum terlalu larut, tetapi suasana sudah begitu sepi di area Casa de Luca. Bangunan megah itu kembali menelan duka yang sangat besar, atas kepergian Damiano yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya di sana.
Bagaikan sebuah mimpi buruk di malam yang menakutkan bagi Miabella. Gadis itu tak dapat memejamkan mata sama sekali. Dia hanya bergerak ke kiri dan kanan, demi mengurangi keresahan dalam hatinya. Namun, semakin lama ternyata dia tak dapat menahan diri lagi. Miabella pun memutuskan untuk bangun dan turun dari atas ranjang.
Dengan hanya mengenakan singlet putih dan celana tidur, gadis cantik tersebut melangkah keluar dari dalam kamar. Dia menyusuri koridor hingga tiba di bukaan ruang tamu. Entah mengapa karena tempat itu seakan menjadi favorit bagi semua orang, untuk merenung sambil menikmati kegelapan malam yang terasa damai.
Miabella berdiri di dekat bukaan dengan bagian atas berbentuk melengkung. Dia menyandarkan lengannya pada salah satu pilar. Tatapan mata abu-abu gadis itu menerawang jauh, pada hamparan warna hitam yang menyelimuti kota Brescia.
Tak banyak kenangan yang Miabella miliki bersama Matteo. Namun, lain halnya dengan Damiano. Gadis cantik berambut panjang itu menghabiskan sebagian besar masa kecilnya bersama pria yang selalu dia panggil dengan sebutan 'kakek'. Setitik air mata pun jatuh dan menetes di sudut bibir Miabella. Gadis itu tak sempat menghapusnya, karena tetesan lain telah lebih dulu ikut membasahi pipi mulus putri sulung dari Mia tersebut.
"Kau belum tidur, Bella?" Suara berat Adriano memecah kesunyian di dalam ruangan tadi.
Dengan segera, Miabella menyeka air matanya. Namun, dia tak hendak menoleh kepada sang ayah, yang saat itu sudah berdiri di sebelahnya. Miabella justru memalingkan wajah, seakan tak ingin jika Adriano tahu bahwa dia tengah menangis. Akan tetapi, dari isakan yang masih sesekali terdengar sudah dapat dipastikan dengan jelas, sehingga Adriano tak harus bertanya lagi.
"Dulu saat kau masih kecil, aku juga kerap menghabiskan malam di sini jika tak bisa tidur. Menurut Damiano, Matteo dan juga Ricci sering melakukan hal yang sama," tutur Adriano. Dia lalu tersenyum seraya menggumam pelan. "Entah magnet apa yang dimiliki tempat ini, hingga selalu dapat menarik setiap orang untuk merenung dan mengurangi keresahannya di sini."
Adriano terdiam beberapa saat. Tatap matanya lurus ke depan, menerawang jauh menembus berlapis-lapis kenangan yang telah terlewati. Puluhan tahun berlalu, banyak hal yang pastinya telah berubah.
__ADS_1
"Aku telah melewati banyak kepedihan dalam hidup ini. Aku bahkan pernah hampir kehilangan nyawa sendiri. Jika harus ditangisi, entah berapa banyak air mata yang sudah tertumpah," tutur pria itu pelan.
"Aku sangat sedih," ucap Miabella kembali terisak. Seberapa bandel dan tangguhnya gadis itu, ternyata dia belum sanggup menghadapi kepergian dari orang yang dicintainya.
"Kau harus kuat, Sayang. Miabella Conchetta adalah putri dari Matteo de Luca. Dirimu hidup dalam asuhan Adriano D'Angelo. Apa lagi yang kurang?" Adriano menoleh kepada anak gadisnya tersebut. "Walaupun selama ini aku begitu memanjakanmu, tapi kau pasti dapat memahami sesuatu yang lebih dari itu semua. Kau bisa melihat seperti apa kehidupan yang kujalani selama ini."
Miabella memilih untuk tak menyahut. Gadis itu hanya tertunduk lesu. Untuk sesaat, keheningan berlangsung dalam kebersamaan mereka berdua. Miabella dan Adriano larut dalam pikiran masing-masing, hingga kakak dari Adriana tersebut kembali bersuara. "Kenapa kau tak mengajak Carlo kemari?"
Adriano mengempaskan napas pelan, ketika mendengar Miabella kembali menyebut nama Carlo. "Dia bertugas untuk berjaga di mansion," jawabnya.
"Kau memiliki banyak anak buah. Keamanan mansion juga berlapis dan sudah sangat canggih. Kenapa masih harus memaksa Carlo untuk tetap berada di sana?" protes Miabella pelan.
"Dia ada di makam ayahku," sahut Miabella dengan segera. "Kau ataupun ibu tak pernah bercerita tentangnya."
"Dengan siapa kau pergi ke sana? Kenapa Dante tak memberikan laporan padaku jika kau bertemu dengan Juan Pablo?" Adriano mengernyitkan kening sambil terus menatap Miabella yang memilih untuk tak menoleh kepada sang ayah.
"Aku pergi sendiri," jawab gadis cantik bermata abu-abu itu. Walaupun ada rasa ragu untuk memberikan jawaban demikian kepada sang ayah, tapi dia tak ingin berbohong.
__ADS_1
"Apa? Kau pergi sendiri keluar dari Casa de Luca? Tanpa pengawalan? Ke mana Dante?" Adriano tampak memasang raut wajah yang teramat serius. Sorot mata pria itu pun menajam, sebagai tanda bahwa dia tak menyukai apa yang baru saja didengarnya.
"Dante sibuk mengandangkan anjing-anjingnya," sahut Miabella yang segera memalingkan wajah demi menghindari tatapan tajam sang ayah sambung. "Sudahlah. Aku lelah. Selamat malam, Daddy Zio." Miabella membalikkan badan. Sebelum beranjak dari sana, gadis itu sempat mencium pipi Adriano. Setidaknya, dia tak lupa untuk melakukan kebiasaan dari kecil, yang kerap dilakukan sebelum dirinya pergi tidur.
Adriano pun membalasnya dengan sebuah kecupan lembut di kening Miabella. Dia bahkan menatap langkah anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa, hingga tubuh ramping tadi menghilang di balik dinding penyekat ruangan. Pria bermata biru itu kemudian menggeleng pelan. Satu kali dirinya kecolongan. Dia harus memberikan teguran keras kepada Dante.
Keesokan harinya, Adriano langsung memanggil Dante agar segera menghadap. Pria yang merupakan pecinta anjing tersebut, sudah tahu untuk apa sang majikan menyuruh dia agar datang. Dugaan Dante pun memang tidaklah meleset.
"Aku sedang mengandangkan anjing-anjingku ketika nona Miabella tiba-tiba pergi dari perkebunan. Aku langsung berkeliling untuk mencarinya, dan memastikan tak ada satu sudut pun yang terlewat. Anda pasti sudah tahu seperti apa kinerjaku, Tuan. Setelah beberapa saat, tiba-tiba nona muncul dari gerbang depan. Penjaga di sana mengatakan bahwa dia melihat sebuah mobil sedan klasik yang berhenti tak jauh dari gerbang pertama," tutur Dante menjelaskan yang sesungguhnya. Dia juga tentunya tak ingin disalahkan.
Adriano mendengarkan cerita dari Dante sambil mengusap-usap dagu. Dia sangat tahu kinerja dari salah satu pengawal kepercayaannya itu. Adriano pun mengenal seperti apa karakter Miabella.
"Kuharap hal seperti ini tak terulang lagi. Miabella adalah gadis yang spesial. Jadi, dia membutuhkan pengawalan yang ketat. Kau pasti paham dengan maksudku."
"Iya, Tuan. Tidak Anda jelaskan pun aku bisa memahami hal itu," sahut Dante seraya mengulum senyuman.
"Bagus. Intinya memang seperti itu." Adriano beranjak dari kursi. Dia lalu menghampiri sang pengawal yang berdiri dengan sikap penuh hormat padanya. "Kutekankan satu hal padamu. Aku tak akan mentolerir jika Miabella mengalami sesuatu yang tak diinginkan. Kau yang harus bertanggung jawab, andai sedikit saja kulit putriku sampai tergores." Adriano menepuk pundak Dante. Pria itu menanggapi ultimatum dari sang majikan dengan sebuah anggukan penuh keyakinan.
__ADS_1
Sementara Miabella yang saat itu menguping di balik dinding pembatas ruangan, hanya tersenyum simpul. Dia menoleh kepada Adriana yang memainkan alis di hadapannya. "Ini untukmu." Miabella menyodorkan beberapa euro kepada sang adik. Adriana pun menerimanya dengan gembira
"Aku akan memanggilmu jika ada informasi penting lagi," ujar Adriana sambil memasukkan uang tadi ke dalam saku celana jeansnya.