
Coco mengalihkan perhatiannya dari layar laptop, ketika terdengar suara ponsel yang berdering. Diraihnya benda itu, lalu dia periksa. Sebuah panggilan asing masuk, entah dari siapa. Namun, Coco tetap menjawab panggilan tersebut. Dari seberang sana, terdengar sapaan seorang pria dengan aksen Inggrisnya yang kental. Sudah dipastikan jika itu bukanlah Adriano.
"Tuan Ricci? Kami dari pihak Kepolisian Metro Birmingham. Kami ingin mengabarkan sesuatu kepada anda."
"Apakah berita terbaru tentang Adriano?" Coco tampak bersemangat. Sedangkan Mia yang saat itu baru selesai membereskan dapur, bergegas menghampiri calon adik iparnya. Ibu satu anak itu segera duduk di sebelah Coco. Raut wajahnya penuh harap-harap cemas, menunggu penjelasan dari Coco yang tampak serius mendengarkan penuturan dari pihak kepolisian. Beberapa saat kemudian, pria berambut ikal tersebut mengakhiri perbincangannya di telepon. Namun, rona penuh keanehan yang ditunjukannya, membuat rasa penasaran dalam diri Mia kian besar.
"Katakan padaku ada berita apa, Ricci?" Mia sudah terlihat tidak sabar. Dia menggenggam pergelangan tangan Coco dengan erat.
Bingung dan juga ragu, entah bagaimana caranya Coco menjelaskan kepada Mia tentang penemuan dari pihak kepolisian setempat. Pria itu hanya menggaruk-garuk kepalanya menggunakan tangan kiri. Melihat sikap Coco yang demikian, tanda tanya di hati Mia kian menjadi. Dia mencengkeram erat pergelangan tangan pria itu. Gelisah dan rasa cemas mulai menyapanya. "Ricci ... katakan ada apa?" pinta Mia dengan nada memohon. Namun, Coco masih juga tidak bicara. Pria berambut ikal itu mengempaskan napas dalam-dalam. "Ricci ...." Mia sudah terlihat semakin tak menentu.
Pada akhirnya, mau tak mau Coco harus bicara. Dia menoleh kepada Mia dan menatapnya. Kekasih dari Francesca tersebut meletakkan tangan kiri di atas punggung tangan Mia. "Mia ...." berat rasanya bagi pria bermata cokelat itu untuk bicara. "Dengar, ini belum tentu benar atau tidak. Pihak kepolisian menemukan bangkai mobil yang sudah hangus terbakar di dasar jurang sekitar lima kilometer dari sini. Namun, mereka belum dapat memastikan jika itu ...." Coco tak melanjutkan kata-katanya. Dia terdiam sejenak saat merasakan tangan Mia yang mulai berkeringat. Cengkeramannya pun makin lama semakin lemah, hingga akhirnya terlepas.
Mia lalu berdiri dan mondar-mandir di depan Coco. Sesekali dia menggigit kuku jemari telunjuknya. Kebiasaan yang selalu Mia lakukan setiap kali sedang merasa cemas. Namun, makin lama gelagatnya terlihat semakin aneh. Wajah cantik tanpa riasan itu, tampak memucat dengan keringat yang membasahi kening. Mia lalu memegangi dadanya dan berusaha untuk tetap bernapas dengan normal.
Sementara Coco yang sejak awal terus mengawasi sikap Mia, sigap menghampiri calon kakak iparnya. Dia membantu wanita itu untuk duduk. Tak lupa, Coco juga mengambilkan segelas air minum. Sedangkan Miabella yang sedang asyik bermain sendiri, segera beranjak menghampiri sang ibu dan duduk di sebelahnya. "Ibu kenapa?" tanya gadis kecil itu dengan mata beningnya yang berkilau.
"Ibumu tidak apa-apa, Bella," sahut Coco seraya menepuk-nepuk pucuk kepala gadis kecil itu.
"Lalu, daddy zio ke mana? Kenapa dia tidak pulang?" tanya Miabella lagi membuat Mia terlihat semakin gelisah. Namun, Coco kembali menepuk-nepuk pucuk kepalanya sambil tersenyum.
"Mia, tenangkan dirimu. Apa kau ingin ikut denganku ke sana atau akan menunggu saja di rumah?" tawar Coco setelah melihat Mia cukup tenang.
"Aku akan ikut. Aku ingin memastikan sendiri apakah itu benar- benar mobil yang ditumpangi Adriano atau bukan," Mia meraih kepala Miabella, kemudian mengecupnya dengan lembut. "Ayo, Sayang," ajaknya seraya berdiri. Tanpa banyak bertanya, gadis kecil itu menurut saja ketika sang ibu menuntunnya menuju pintu. Sedangkan Coco yang sudah lebih dulu menunggu, segera membukakan pintu tersebut.
__ADS_1
Namun, alangkah terkejutnya dia ketika mendapati seseorang yang sudah berdiri di luar dan tengah mengangkat tangan. Tampaknya orang yang tiada lain adalah Juan Pablo, hendak mengetuk pintu, tetapi segera dia urungkan. "Selamat siang," sapa pria tanpa ekspresi itu. Nada bicaranya terdengar sangat datar.
"Selamat siang," balas Coco. "Maaf sebelumnya, tapi kami harus segera pergi," ucap pria berambut ikal itu.
"Apa tuan D'Angelo masih belum kembali?" tanya Juan Pablo. Dia mengarahkan tatapannya kepada Mia yang masih memegangi tangan Miabella. Wanita cantik itu terlihat sangat kacau. Dia bahkan tak memoleskan lipstik tipis sekalipun.
"Kami baru mendapat laporan dari pihak kepolisian. Katanya mereka menemukan mobil yang terbakar di dasar jurang, lima kilometer dari sini. Kami akan segera ke sana," terang Coco.
"Jurang? Lima kilometer?" ulang Juan Pablo seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Bagaimana jika kuantar kalian berdua?" tawarnya.
Coco dan Mia saling pandang. Namun, Mia tak memberikan respon apapun, sehingga Coco lah yang mengambil keputusan. Lagi pula, mereka juga tidak memiliki kendaraan di sana. "Terima kasih sebelumnya. Aku harap itu tidak merepotkanmu," ucap Coco mencoba menyingkirkan rasa aneh dalam dirinya terhadap Juan Pablo.
"Aku tidak akan menawarkan diri jika sedang sibuk atau merasa direpotkan. Lagi pula, tuan D'Angelo adalah relasi dari Don Vargas. Dia datang kemari untuk urusan bisnis," balas Juan Pablo menanggapi ucapan Coco. Tanpa banyak bicara lagi, Juan Pablo segera membalikkan badan dan kembali menuju mobilnya terparkir.
Mia tak menanggapi celotehan pria itu. Dia segera menuntun Miabella menuju mobil Juan Pablo. Wanita itu bahkan telah masuk, karena Juan Pablo sudah menunggu dan membukakan pintu untuknya. Mia mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih. Tak ada alasan bagi Coco untuk tak mengikutinya. Lagi pula, dia ingin segera tiba di tempat kejadian dan memastikan penemuan polisi itu. Setelah berpesan pada beberapa anak buah Adriano, Coco bergegas menuju mobil Juan Pablo.
“Apakah kami harus mengabrakn kepada tuan Corbyn?” tanya salah satu anak buah Adriano sesaat sebelum Coco memasuki kendaraan.
“Tunggu aba-aba dulu dariku,” tegas Coco seraya menutup pintu mobil.
SUV hitam yang dikendarai Juan Pablo, mulai melaju dengan gagah meninggalkan halaman rumah sewaan tadi. Selama di dalam perjalanan, mereka saling terdiam, begitu juga dengan Miabella. Gadis kecil tersebut seakan sudah merasakan sebuah firasat tidak baik. Sementara Coco merasa tidak nyaman. Dia tak enak dengan Juan Pablo, jika dirinya tak berbasa-basi sama sekali. Diliriknya pria bermata cokelat madu dengan raut datar itu. "Kau sepertinya sangat mengetahui wilayah di sini," ujar Coco.
__ADS_1
"Tidak juga. Bosku Don Vargas akan membuka bisnis di kota ini. Karena itulah sebelum memutuskan demikian, maka kami harus benar-benar mengenal dulu seperti apa karakteristik dari target yang menjadi tujuan kami," jelas Juan Pablo tanpa menoleh sedikit pun kepada Coco.
"Detail sekali," tanggap Coco.
"Detail dan teliti. Dua hal yang sangat mutlak bagi kami," sahut Juan Pablo lagi. Dia lalu menghentikan laju mobilnya di sebuah tikungan. Di sana sudah ada beberapa orang polisi yang terlihat sibuk. "Kita sudah sampai. Aku rasa ini tempatnya," Juan Pablo melepas sabuk pengaman yang melintang di dada. Dia lalu melihat kepada Mia melalui spion tengah. Wanita cantik itu terlihat sedang bersiap-siap untuk turun bersama putri kecilnya. Sesaat kemudian, Juan Pablo segera keluar, mengikuti Coco yang telah melangkah ke arah para polisi di sana. Sebelum bergabung dengan mereka, Juan Pablo membukakan pintu terlebih dahulu untuk Mia.
"Terima kasih, Tuan Herrera," ucap Mia pelan. Kali ini dia sedang tak ingin tersenyum atau berbasa-basi dengan siapa pun. Mia bergegas menghampiri Coco dan para petugas polisi. Sedangkan Juan Pablo mengikutinya dengan langkah gagah dan terlihat begitu tenang.
"Mia," Coco menyambut wanita itu dengan wajah penuh penyesalan.
"Pegangi Miabella. Aku ingin melihat ke bawah," pinta Mia datar. Dia menyodorkan tangan gadis kecil itu, dan segera disambut oleh Coco. Pada awalnya Miabella menolak, tapi Mia memberikan isyarat kepada sang putri agar menurut. Setelah itu, Mia memberanikan diri melongok ke bawah. Di dasar jurang yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu, teronggok bangkai mobil yang sudah hangus terbakar.
"Kami belum menemukan jasad penumpang mobil itu. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Selama belum ada bukti penemuan korban, maka kami tidak akan menyatakan jika penumpang di dalamnya telah tewas," ujar salah seorang petugas polisi kepada Mia.
"Jika itu memang mobil suamiku, apa ada kemungkinan bahwa dia masih hidup?" tanya Mia penuh harap, meskipun antara yakin dan tidak. Namun, Mia tentu saja tak ingin memikirkan sesuatu yang buruk. Tak akan sanggup dirinya jika harus merasakan kehilangan lagi.
"Bisa saja, Nyonya. Kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang Tuhan berikan kepada umat-Nya," jawab petugas itu lagi. "Ini adalah nomor dari kendaraan itu," dia memperlihatkan sebuah catatan dari hasil penyelidikan sementara di lapangan.
Juan Pablo yang ikut melihat catatan itu, segera memicingkan matanya. Dirinya tahu betul dengan nomor kendaraan tersebut, karena memang dialah yang memberikannya kepada Adriano. "Itu memang mobil inventaris dari Don Vargas," ucap pria itu datar, membuat Mia dan Coco seketika menoleh padanya. "Aku sangat mengetahui plat nomornya," Juan Pablo meyakinkan mereka berdua.
"Jadi, sudah dipastikan bahwa tuan D'Angelo ada di dalam mobil tersebut. Kami akan melakukan pencarian dalam radius terdekat, karena kalaupun tuan D'Angelo berhasil keluar dari mobil, maka dia pasti dalam keadaan terluka parah. Sangat kecil kemungkinan dirinya bisa bergerak jauh, terlebih medan yang terjal dan juga curam," jelas petugas itu lagi.
Mendengar ucapan sang petugas, air mata Mia mengalir dengan cukup deras. Isakannya pun mulai terdengar. Seketika dia membalikan badan seraya berteriak dengan tubuh setengah membungkuk. "Adriano!"
__ADS_1
Melihat Mia yang bisa saja terjatuh, Juan Pablo refleks menarik tangan wanita itu dengan cukup kuat. "Mia!"
Wanita cantik tersebut bergerak mundur. Namun, karena tarikan Juan Pablo yang terlalu kuat, membuat Mia akhirnya jatuh ke dalam dekapan pria itu.