Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Darah Moriarty


__ADS_3

“Ayolah, jawab pertanyaanku, Ibu,” Adriano berjalan mendekati Claudia yang langsung bergerak mundur dengan perlahan. Namun, sebelum wanita paruh baya itu bergerak lebih jauh, Adriano lebih dulu meraih pergelangan tangan sang ibu tiri dan mencengkeramnya erat, sehingga Claudia tak bisa bergerak lagi. “Sejak dulu, Ilario selalu menjadi anak kesayanganmu, bahkan lebih dari Agustine maupun Gianna yang merupakan anak perempuan satu-satunya di rumah ini. Apakah itu alasannya sehingga kau tak bersedia untuk membuka mulut?” Adriano memiringkan kepala sambil mengamati ekspresi mencurigakan dari wanita paruh baya di hadapannya.


“Aku ...." Claudia menunduk dalam-dalam. Terlihat jelas sikapnya yang teramat gugup dan ketakutan saat itu. Dia sadar jika kini dirinya tidak sedang berhadapan dengan seorang anak yang tak bisa melawan saat dia siksa.


“Ada apa ini, Madre? Aku sama sekali tidak mengerti,” Gianna yang kebingungan, menepuk dan mengusap bahu ibunya.


“Baiklah, biar aku saja yang menjelaskan,” Adriano berjalan mundur, kemudian meraih bungkusan besar tersebut dan menimangnya. Dia lalu mendekatkan bungkusan yang sedang dipegangnya ke dekat hidung, lalu menghirupnya perlahan. Sejurus kemudian, raut wajahnya terlihat berubah. Sepasang matanya pun tampak menyipit.


“Ini adalah heroin berkualitas tinggi. Kuperkirakan beratnya mencapai tiga kilogram. Sungguh jumlah yang sangat fantastis. Jika Padre memiliki benda ini, tentu dia tak perlu repot-repot mencari uang untuk membayar utang. Semua akan dapat dia lunasi dengan mudah. Sayangnya, Padre tak memiliki keinginan semacam itu. Dia ingin melunasi utangnya dengan cara yang baik. Akan tetapi ….” Adriano kembali meletakkan bungkusan itu dan bergerak maju untuk menghampiri Agustine.


Kakak tirinya itu sedikit lebih pendek dari Adriano. Dia juga tak memiliki nyali sebesar Gianna. Buktinya, Agustine langsung memalingkan muka, tak berani membalas tatapan pria bermata biru tersebut.


“Akan tetapi, Nyonya Claudia Bocelli tentu tak setuju dengan kemauan dari suaminya. Bagi dia, hidup mewah dan nyaman adalah yang utama meskipun harus didapatkan dengan cara yang tak baik,” senyuman sinis Adriano tertuju kepada ibu tirinya. Sesaat kemudian, Adriano lalu berjalan ke hadapan Claudia.


“Apa maksudnya, Adriano? Tolong jangan berbelit-belit,” desak Gianna yang mulai tak sabar.


“Aku sudah membuka semua file dan email di komputer Padre. Aku juga sudah tahu jika seluruh dana investor telah dikembalikan oleh Ilario. Menurut tebakanku, dia mengganti semuanya dengan menggunakan uang hasil jual beli heroin ini," terang Adriano, membuat Gianna seketika terbelalak mendengarkan penjelasan kakak tirinya tersebut. Sorot matanya seakan tak percaya.

__ADS_1


“Di sinilah letak permasalahannya. Kemungkinan besar Ilario berbuat curang. Entah dia mengambil uang yang bukan bagiannya, atau bisa jadi mencuri serta mengambil lebih banyak heroin dari yang telah disepakati,” lanjut Adriano lagi.


“Umumnya orang-orang dari dunia hitam, tak menyukai pengkhianat. Mereka pun memburu Ilario. Akan tetapi, karena Ilario adalah anak kesayangan, maka lebih baik Padrelah yang diserahkan. Bagi Nyonya Claudia Bocelli, suaminya sudah tak berguna karena tidak dapat menghasilkan banyak uang lagi. Betul begitu bukan, Ibu?” intonasi Adriano terdengar datar, tapi menakutkan. Agustine sampai harus menelan ludah berkali-kali.


Gianna yang polos semakin terbelalak. Dia tak tahu apa-apa tentang intrik-intrik yang terjadi di sekelilingnya. Karena itulah, gadis berambut pirang tersebut sangat panik, ketika ayahnya dibawa oleh orang-orang tak dikenal. Sementara ibu dan kakak-kakaknya hanya diam dan terkesan membiarkan. Tak putus asa, Gianna mencari bantuan.


Adriano terdiam untuk beberapa saat. Dia masih menatap sang ibu tiri dengan lekat. Sesaat kemudian, pria bermata biru itu mengalihkan pandangan kepada Gianna yang masih terlihat sangat terkejut. "Dari mana kau tahu jika aku sedang berada di Casa de Luca?" tanya Adriano dengan sorot mata yang menyipit.


“A-aku kebingungan melihat sikap madre dan Agustine. Sementara aku juga tak memiliki keberanian jika harus menghadapi mereka seorang diri. Entahlah, karena yang ada dalam pikiranku saat itu hanya kau, lalu aku masuk ke ruang kerja Padre untuk mencari nomor teleponmu. Setelah aku menemukannya, maka diriku langsung menghubungi nomor tersebut. Akan tetapi, ternyata seorang pria bernama Pierre yang menjawabnya. Aku memperkenalkan diri, menyebutkan nama dan juga hubungan kita. Barulah setelah itu aku menanyakan keberadaanmu. Pierre mengatakan bahwa kau tengah berada di Casa de Luca. Tanpa pikir panjang, aku segera menyusulmu ke sana,” tutur Gianna dengan suara bergetar.


“Kau sungguh keterlaluan, Claudia! Aku bahkan tak sudi memanggilmu dengan sebutan ibu. Kau masih ingat dengan semua perlakuanmu padaku dulu? Luar biasa sekali karena kau juga melakukan hal yang sama terhadap ayahku,” desis Adriano menahan amarahnya.


“Aku harus melakukannya, karena diriku tak ingin hidup menggelandang! Para pemilik modal itu mengancam akan menyita rumah ini. Sementara kau pun tak bersedia menjual rumah Alessandro atau memberikan kami bantuan secara finansial. Semua adalah salahmu!” tuding Claudia dengan tegas dan tak terkendali.


Akan tetapi, Adriano tak menghiraukan tudingan keras yang dialamatkan kepadanya. Dia malah meraih pergelangan tangan Gianna, kemudian menuntun gadis itu serta membawanya turun. “Kau harus membantuku menjemput padre,” bisiknya. “Berdasarkan plat nomor yang kau sebutan tadi, mobil yang membawa padre terdaftar sebagai salah satu mobil inventaris perusahaan ekspedisi. Detektif Ignazio sudah memberikan alamat kantornya padaku," terang pria berambut gelap tersebut.


“Kau tak boleh membawa Gianna ke manapun! Dia adalah putriku!” seru Claudia dengan keras. Wanita itu masih berdiri di tempatnya tadi. “Kau juga, Agustine! Lakukanlah sesuatu! Jangan diam saja!" dia lalu bergerak ke dekat putra sulungnya. Claudia mendorong-dorong tubuh pria itu agar segera menghentikan Adriano. Akan tetapi, Agustine tetap bergeming sembari menunduk. Dia memang tak memiliki keberanian untuk melawan sang ketua dari organisasi terbesar dan juga kuat di Benua Eropa.

__ADS_1


“Tidak madre," tolak Gianna sebelum Agustine sempat bergerak. "Seperti apapun keadaan Emiliano saat ini, dia masih tetap ayah kandungku. Sebagai seorang anak, maka aku akan menyelamatkannya!” tegas gadis ity. Dia menoleh sekilas kepada Claudia, lalu berbalik dan terus mengikuti langkah tegap Adriano.


"Jangan berbuat bodoh, Gianna! Kau tak tahu apa yang akan terjadi di sana!" seru Claudia lagi dengan segala amarah yang tertahan di dalam dirinya karena Gianna tak menggubrisnya sama sekali. Gadis itu lebih memilih pergi bersama Adriano.


Perlahan tubuh Claudia ambruk. Dia terduduk di lantai. Bagaimanapun juga, wanita itu tetap mencemaskan anak gadisnya.


Sementara Adriano dan Gianna sudah meninggalkan rumah itu. Mereka bergegas menuju tempat yang disebutkan oleh detektif Ranieri. "Jangan khawatir, Gianna. Kau akan aman bersamaku," ucap Adriano tetap terihat tenang. Dia terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Adriano tahu bahwa orang-orang yang menculik Emiliano tak akan berani melakukan apapun.


"Aku sangat mencemaskan ayah kita," ucap Gianna dengan suara bergetar. "Dia sudah tua dan juga semakin lemah," lanjut gadis itu seraya tertunduk. Sementara Adriano tidak menanggapi ucapannya. Dia tetap fokus pada kemudi.


"Kau tahu, Adriano? Saat dirimu pergi dari rumah, dia sangat kehilanganmu. Hampir setiap malam, dirinya mengatakan padaku bahwa kau mewarisi darah Moriarty. Namun, sayangnya karena nama itu tak bisa dia berikan untukmu," tutur Gianna membuat Adriano semakin terdiam mendengarnya.


🍒🍒🍒


Satu lagi rekomendasi novel keren dari ceuceu. Jangan lupa dicek.


__ADS_1


__ADS_2