Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
End of Party


__ADS_3

Adriano dan Arsen berjalan dengan tenang, ke arah Dejan yang masih asyik mengobrol bersama Damiano. Mereka bersikap seolah tak terjadi apapun. Senyum Adriano terkembang mengiringi gerak tubuhnya yang memilih untuk duduk di samping Mia, lalu melingkarkan tangan di atas pundak sang istri. Sementara Arsen segera duduk dan merangkul tubuh ramping Olivia tanpa sungkan. “Apa yang telah kami lewatkan?” tanyanya dengan begitu santai.


“Ah, tidak ada. Aku hanya terkesan dengan keramahan orang-orang Italia seperti Tuan Damiano Baresi dan juga .…” Dejan menjeda kalimatnya, lalu melirik ke arah Olivia serta Mia. “Para wanita Italia sangat cantik dan juga menawan,” sambungnya diiringi tawa lebar.


“Ya kau benar. Aku sangat setuju dengan hal itu,” timpal Arsen seraya melirik pada sang istri, kemudian mengedipkan sebelah mata. Sikapnya telah membuat Olivia memalingkan wajah untuk menutupi sikap malu-malunya. Sesaat kemudian, Arsen melirik kepada Adriano. Tatap matanya penuh dengan bahasa isyarat yang hanya bisa diketahui oleh kedua pria itu. Adriano pun mengangguk samar, bersamaan dengan Arsen yang kembali berdiri. “Aku meminta izin untuk berkeliling dan mengobrol dengan para tamu di meja masing-masing. Jangan pulang dulu, Dejan. Aku ingin berbincang sebentar denganmu setelah pesta usai,” pesannya. “Ayo, Sayang,” Arsen beralih pada Olivia. Dia mengulurkan tangan kepada wanita muda itu


Gadis berambut hitam dan panjang tersebut segera berdiri dan menyambut ajakan suaminya. Dia juga membalas mengulurkan tangan yang segera digenggam oleh Arsen. Sepasang pengantin itu meninggalkan Dejan di antara Adriano dan juga Damiano. Saat itu, Miabella terlihat beberapa kali menguap panjang. “Apa kau lelah, Sayang?” tanya Mia lembut.


“Aku mengantuk, Bu,” jawab Miabella seraya mendongak dan menatap wajah ibunya dengan mata sayu.


“Pulanglah dulu, Sayang. Biar pengawalku yang mengantarmu,” Adriano menunjuk salah seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari lokasi pesta. Dia adalah seorang pegawai sekaligus penjaga klub malamnya di Yunani. “Nanti aku akan menyusul,” ucap Adriano lagi tersenyum penuh arti.


“Apa Daddy Zio dan kakek Damiano tidak ikut?” balita itu memandang sendu kepada Adriano serta Damiano. Hal itu membuat Adriano begitu gemas. Dia segera mencium pipi gembul Miabella.


“Aku masih harus menemani paman Arsen, Principessa. Mungkin kakek Damiano bersedia ikut denganmu,” jawab Adriano seraya memandang Damiano dengan tatapan berharap.


“Bene, bene. Lagi pula, pinggangku sudah terasa sakit,” Damiano mengalah. Dia menuruti permintaan Miabella walaupun sebenarnya dia masih menikmati jalannya pesta.


“Daddy Zio juga, ya, Bu,” Miabella mulai merajuk dan memaksa Mia agar membantunya merayu Adriano.


“Aku berjanji akan segera menyusulmu, segera setelah paman Arsen kembali kemari,” Adriano mencondongkan badan dan mendekatkan wajahnya pada Miabella.


“Janji?” ulang gadis kecil itu seraya mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajah Adriano. Melihat hal itu, Damiano tersenyum pilu. Miabella terlihat begitu menyayangi dan sangat bergantung pada Adriano


“Aku berjanji,” Adriano turut menautkan kelingkingnya, lalu tertawa. “Berhati-hatilah, Damiano, jalanan sedikit curam,” pesannya saat Damiano dan juga Mia berjalan ke arah pegawal Adriano.


“Aku menunggu janji dari Daddy Zio!” seru Miabella setelah sampai di kejauhan.


Sementara Adriano hanya menanggapinya dengan gelengan pelan, lalu kembali duduk di hadapan Dejan. “Jadi, Anda berdomisili di mana?” dia mencoba untuk berbasa-basi.


“Tidak di manapun. Aku selalu berpindah-pindah, tergantung bosku,” jawab Dejan. Senyuman hangat tak juga lepas dari wajahnya.


“Nenad, maksudmu?” tanya Adriano.

__ADS_1


“Ya, betul. Aku hanya mengabdi pada satu bos, yaitu Nenad Ljudevit,” suara Dejan saat itu cukup nyaring. Adriano sedikit khawatir jika Don Vargas mendengarnya. Namun, saat dia diam-diam menoleh ke arah majikan Juan Pablo tersebut, pria itu masih tampak asyik berbincang dengan Arsen dan juga Olivia. Juan Pablo lah yang sempat memergoki Adriano menoleh ke arahnya.


Dengan segera, Adriano membuang muka dan melanjutkan perbincangan ringannya bersama Dejan. Tak terasa waktu berlalu dan satu per satu tamu undangan berpamitan, tak terkecuali Don Vargas dan Juan Pablo.


“Sampai jumpa lagi di Monaco, Tuan D’Angelo,” pamit pria berambut putih itu sambil menyalami tangan Adriano, diikuti oleh Juan Pablo. Mata coklat madunya melirik ke sekitar, lalu kembali pada Adriano.


“Di mana nyonya?” tanyanya.


Adriano terkekeh pelan sebelum menjawab. “Istriku sudah pulang. Biar kuwakilkan jabat tangannya,” Adriano mengulurkan tangan lalu menyalami Juan Pablo lagi.


Suasana menjadi sedikit canggung saat itu. Air muka Juan Pablo mendadak berubah menjadi jauh lebih dingin dari sebelumnya. “Baiklah, kalau begitu. Kami permisi,” ucapan Don Vargas memecah keheningan yang berlangsung untuk beberapa saat.


......................


Waktu sudah menjelang malam. Lampu-lampu telah dinyalakan. Beberapa orang penyelenggara pesta yang sengaja disewa oleh Arsen, tampak merapikan lokasi. Demikian pula dengan kedua orang tua Arsen dan Olivia yang sudah terlebih dulu kembali ke rumah. Arsen juga berpamitan padanya untuk mengantar Olivia pulang. Namun, Dejan tidak terlihat ingin pergi dari tempat itu.


“Anda tidak ingin pulang?” tanya Adriano keheranan.


“Ah, tidak. Aku ingin menikmati pemandangan dulu di sini. Lagi pula, penginapanku tak terlau jauh. Jaraknya hanya sekitar sepuluh menit,” jawab Dejan.


“Tidak usah repot-repot, Tuan,” tolak Dejan halus.


“Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Kau suka minum? Aku akan mentraktirmu di klub malamku,” Adriano tak putus asa.


“Anda mempunyai klub malam?” Dejan mulai tertarik.


“Ya,” jawab Adriano singkat.


“Sepertinya menyenangkan,” gumam Dejan. Mimik mukanya tampak menimbang-nimbang.


“Ayolah, tidak jauh dari sini,” setengah memaksa, Adriano menarik lengan Dejan dan merengkuh pria tinggi besar itu. Sembari mengobrol, dia mengajak Dejan melewati turunan. Lebar jalan yang mereka lewati hanya cukup untuk dua orang. Sedangkan sebelah kirinya adalah tebing-tebing curam yang langsung menjorok ke laut. Sementara sebelah kanan berupa gang-gang kecil menuju perumahan penduduk.


“Apakah klubmu masih jauh, Tuan?” tanya Dejan setelah cukup lama mereka berjalan.

__ADS_1


“Sedikit lagi,” Adriano tersenyum samar, lalu sengaja berbelok ke sebuah gang buntu.


“Hei, apa kau tidak salah jalan?” Dejan mulai keheranan dan curiga.


“Tentu saja tidak,” Adriano membalikkan badan ke arah Dejan yang berada di belakangnya. Dia lalu menarik kerah kemeja pria itu dan mendorong hingga punggungnya menempel pada dinding gang.


“Apa yang kau lakukan, Brengsek!” Dejan berusaha memberontak. Gerak Adriano yang terlalu cepat, membuatnya tak sempat mengelak. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Adriano yang menekan kuat lehernya. Akan tetapi, tenaga Adriano dia rasa begitu kuat.


“Saranku, jangan banyak bergerak atau kau akan kehabisan oksigen,” ujar Adriano dengan penuh penekanan sambil tersenyum sinis.


“Apa maumu, Sialan?” umpat Dejan. Dia berniat menggerakkan kaki kanannya untuk menendang pangkal paha Adriano. Akan tetapi, ketua klan Tigre Nero itu sudah lebih dulu mengantisipasi dengan menginjak kuat-kuat punggung kaki Dejan. Sedangkan kaki lainnya bergerak cepat menghantam alat vital pria itu.


Pria tinggi besar tadi memekik kesakitan. Tak berhenti sampai di situ, Adriano melepaskan cengkeramannya, lalu memukul tangan dan perut Dejan secara membabi buta. Saking kerasnya pukulan Adriano, sampai-sampai terdengar retakan tulang di tangan kanan dan kiri Dejan. Dia tidak sempat membalas, ketika Adriano kembali melancarkan serangan. Kali ini, dua kali tendangan mengarah ke kaki kanan dan kiri Dejan hingga pria itu jatuh tersungkur. Dalam posisi tertelungkup, Adriano menginjak belakang kepalanya. “Katakan padaku, di mana Nenad?” tanyanya. Intonasi yang terdengar sangat dingin dan menakutkan.


“Kau bodoh jika mengira bahwa aku akan mengatakannya padamu!” jawab Dejan dengan nada mengejek. Napasnya tersengal-sengal.


“Jadi begitu, ya?” Adriano menyeringai dan semakin memperkuat injakannya. “Banyak syaraf-syaraf penting yang terdapat di kepala bagian belakang serta tengkuk. Jika aku merusak bagian ini, kau mungkin tidak akan langsung mati, melainkan akan lumpuh. Tubuhmu menjadi tidak berguna. Aku merasa sangsi. Jika kau dalam kondisi seperti itu, apakah Nenad masih akan tetap mempekerjakanmu? Bukan tidak mungkin justru kau akan menjadi beban untuk Nenad. Aku yakin orang itu pasti akan membuangmu,” ujarnya.


“Kurang ajar kau!” Dejan mendongak dan berusaha bangkit, tapi kaki Adrian lebih dulu menghentikan aksi pria tadi. Dia menginjak Dejan sekuat tenaga. Wajah pria itu terempas dan menghantam aspal. Darah mulai mengucur dari lubang hidung dan telinga Dejan.


“Kau tak punya pilihan,” Adriano semakin kuat menekan kakinya ke tengkuk Dejan.


“Hentikan! Aku tidak bisa bernapas,” suara Dejan mulai melemah.


“Kalau begitu, katakan padaku,” desak Adriano. Paras rupawan itu terlihat dingin sekaligus bengis.


“Cari dia di Menara Hitam, Zlatibor,” balas Dejan pada akhirnya.


“Zlatibor? Di mana itu?”


“Serbia,” jawab Dejan dengan terengah.


Senyuman puas tersungging di wajah tampan Adriano. “Terima kasih, Dejan. Kau baik sekali,” ucapnya sebelum menghentakkan kaki sedemikian keras hingga leher pria itu patah. Tak lama kemudian, Adriano merogoh ponselnya dan menghubungi salah seorang pengawal.

__ADS_1


“Chris, bawa pasukanmu kemari dan bersihkan kekacauan yang sudah kutimbulkan. Sekarang juga! Kukirimkan lokasinya padamu,” tanpa beban, Adriano mengakhiri panggilannya, lalu berjalan mendekat ke salah satu sisi gang dan bersandar di sana.


Sambil menunggu anak buahnya datang, Adriano menengadahkan kepala ke angkasa dan mulai terbawa lamunan. “Sedikit lagi, Mia. Sedikit lagi,” gumamnya pelan.


__ADS_2