
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Adriano mengantarkan Gianna menuju klub yang berlokasi di kota Roma. Bersamaan dengan itu, Coco pun menemui sang kekasih di apartemennya. Hubungan dua sejoli itu memang sedang agak renggang, akibat perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini kerap terjadi. Coco yang ingin segera menikah, ditolak dengan tegas oleh Francesca yang masih mencintai kariernya sebagai model. Namun, sikap keras Francesca, nyatanya tak membuat Coco memutuskan untuk mundur dari jalinan asmara yang telah terbentuk sejak kurang lebih lima tahun yang lalu.
“Kau jarang sekali mampir kemari. Mengurus perkebunan membuatmu lupa padaku,” rajuk Francesca sambil bergelayut manja dalam dekapan sang kekasih.
“Aku hanya ingin mengalihkan perhatianku dari pikiran yang macam-macam,” sahut Coco sedikit menyindir Francesca.
“Ayolah, jangan mulai lagi. Kumohon, Ricci. Kau adalah pria paling pengertian yang pernah kukenal,” bujuk Francesca yang telah dapat menebak arah pembicaraan kekasihnya. “Kau tahu alasanku bukan karena sesuatu yang mengada-ada,” ujar Francesca lagi.
“Lalu, sampai kapan aku harus menunggumu? Saat nanti usiamu semakin matang, maka aku sudah sangat tua dan belum tentu sanggup memuaskanmu, Francy,” celetuk Coco dengan agak kesal.
Francesca tidak menanggapi ucapan sang kekasih. Dia hanya merebahkan kepalanya di dada berbalut t-shirt hitam polos yang Coco kenakan. “Kau akan menginap di sini?” tanya gadis itu seraya mendongak. Ujung telunjuknya memainkan dagu berhiaskan janggut yang sepertinya baru dicukur, karena terasa tajam di kulit.
“Tidak. Aku akan langsung pulang,” jawab Coco tanpa ragu, membuat Francesca segera menegakkan tubuhnya. Dia juga menggeser posisi duduk, jadi sedikit menjauh dari Coco. Gadis bermata hazel tersebut terlihat kesal dengan jawaban dari pria yang amat dicintainya itu.
“Kau kenapa?” tanya Coco sambil memperhatikan sikap sang kekasih.
“Kau ingin menjaga jarak dariku, Ricci? Apa itu balasan karena aku menolak untuk menikah dalam waktu dekat?” tukas Francesca dengan kesal. Wajah cantiknya tampak merengut.
“Hey, apa-apaan kau ini? Sikapmu seperti anak remaja saja,” ujar Coco dengan enteng. Sesaat kemudian, pria penyuka motor sport tersebut menggeser duduknya, sehingga kembali mendekat kepada Francesca.
“Kenapa kau tidak menginap?” protes Francesca dengan manjanya.
“Aku sibuk. Besok aku harus menemani Adriano ke Serbia,” jawab Coco seraya berdiri. Dia berjalan menuju dapur dan membuka pintu kulkas dengan santai. Sikapnya seakan-akan bahwa dirinya tengah berada di rumah sendiri. “Hei, Francy. Apa kau tak punya makanan di dalam sini?” serunya.
Akan tetapi, Francesca tidak menanggapi pertanyaan Coco. Perhatiannya lebih terfokus pada ucapan pria ucapan pria itu yang mengatakan bahwa dia akan pergi ke Serbia. “Untuk apa kau pergi ke Serbia?" tanya gadis bermata hazel itu penuh selidik. "Apakah masih berhubungan dengan penyelidikan kematian Matteo?” dia beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Coco. Gadis itu berdiri di ambang pintu dapur sambil bersedekap. Sesaat kemudian, Francesca pun mendekat kepada kekasihnya.
__ADS_1
“Ya," jawab Coco tanpa menoleh. Dia masih sibuk mengobrak-abrik isi lemari tempat menyimpan berbagai bahan makanan. "Astaga, ke mana semua makananmu? Aku kelaparan, Francy,” Coco mengeluh sembari mengusap perutnya.
“Aku harus menjaga pola makanku. Kemarin, berat badanku sedikit naik,” jawab Francesca seraya bersandar di samping kulkas.
Coco terbelalak dan mengamati kekasihnya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kau sudah sekurus ini, Francy! Untuk apa harus tetap diet?”
“Apanya yang kurus? Lihatkah lemakku bertebaran di mana-mana!” Francy membuka kausnya, lalu menarik permukaan perut menggunakan kedua tangan. Dia juga memutar tubuhnya beberapa kali.
Sementara Coco hanya bisa berdecak pelan. “Kau sudah mulai tidak sehat, Francy. Pekerjaan ini membuatmu tak waras. Tulang-tulangmu mulai tampak dan menonjol di beberapa bagian, tapi kau masih saja mengatakan bahwa kau terlalu gemuk,” ujarnya. "Aku harap kau tidak menderita anoreksia," dengus pria itu kesal.
“Jangan bicara seperti itu atau aku akan marah!" sergah Francesca. "Ini impianku sejak dulu, Ricci. Seharusnya kau mendukungku!” Francesca mengarahkan satu telunjuknya ke dada Coco. Dia juga tampaknya mulai kesal dengan ucapan pria itu.
“Oh, jadi ini impianmu? Lalu, di mana aku? Di mana posisiku di dalam salah satu mimpimu itu? Katakan Francy, apakah aku tidak ada di dalam bayangan dan impian masa depanmu?” suara Coco terdengar sangat datar dan dingin saat itu.
“Kau selalu mengatakan bahwa kegiatan modelling adalah impianmu. Berkeliling dunia adalah impianmu. Akan tetapi, kau tak pernah menyebutku dalam rencana masa depanmu. Apakah aku tidak jauh lebih berharga dari kariermu?” lanjutnya.
Tak terkira betapa besarnya rasa kesal yang dirasakan oleh Francesca atas sikap Coco. Beberapa saat lamanya dia terdiam, lalu memilih untuk mengalah. “Ayolah, Sayang. Kita jarang bertemu. Jangan isi kesempatan langka ini dengan pertengkaran,” bujuknya sambil kembali berusaha memeluk Coco. Kali ini pria berambut ikal itu tak menghindar.
“Kau tahu, Francy. Cinta itu tak sekadar ucapan. Aku membuktikan cintaku dengan setia hanya padamu. Padahal kau tahu sendiri seperti apa diriku sebelum mengenalmu. Sekarang, kau berkali-kali menyatakan cinta, tanpa pernah sekalipun membuktikannya,” ujar Coco setelah beberapa saat terdiam untuk menenangkan diri.
“Kau sangat menyebalkan, Ricci,” pernyataan Coco itu kembali memantik emosi Francesca. Dia mengurai pelukannya, lalu memukul dada bidang kekasihnya. Francesca juga berdiri sambil membelakangi pria bermata cokelat itu.
“Kenapa marah? Itu memang kenyataannya, Francy. Kau jauh lebih mencintai kariermu jika dibandingkan denganku. Lihatlah, bahkan tubuhmu sekurus ini, hanya demi karier! Kau telah banyak berubah. Aku seperti tidak mengenalmu lagi saat ini," tanpa menunggu balasan dari Francesca, Coco segera menyambar jaket kulitnya dari sandaran sofa. Dia bergegas keluar begitu saja dari apartemen itu, dengan membawa kekesalan dalam hatinya. Niat untuk melepas rindu dan memperbaiki hubungannya yang mulai renggang, ternyata justru berakhir dengan sebuah pertengkaran yang seharusnya bisa dihindari.
Tak dipedulikannya Francesca yang berkali-kali memanggil namanya, serta berusaha mencegah dia agar tidak keluar dari apartemen. Namun, Coco tak peduli.
__ADS_1
Langkahnya cepat menuju lift sehingga Francesca tak punya kesempatan untuk mengejar. Dia dapat melihat kekasihnya itu memohon untuk tidak pergi, saat pintu lift telah hampir tertutup.
“Brengsek!” Coco meninju dinding lift dengan penuh penyesalan. Seharusnya hari ini mereka bisa memadu kasih dan saling melepas rindu. Akan tetapi, apa daya karena rasa kesal telah terlebih dulu menyelimuti hatinya.
Setibanya di lantai dasar. Coco bingung menentukan tujuan. Dia memilih untuk diam sejenak di area parkir. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menemui Adriano yang tengah sibuk meninjau klub malamnya.
Dengan gagah, Coco mengendarai motor sportnya membelah jalanan kota Roma, menuju klub mewah milik Adriano yang terletak di pusat kota. Tak sulit bagi dirinya untuk dapat menemukan tempat tersebut.
Setelah memarkirkan motornya, dengan penuh percaya diri Coco berjalan ke dalam bangunan bergaya Romawi tersebut. Akan tetapi, langkahnya harus terhenti saat seorang penjaga menghalanginya. “Maaf, Tuan. Tempat ini belum buka. Anda bisa datang kembali pukul tujuh malam nanti,” cegahnya.
“Astaga,” Coco memutar bola matanya, lalu meraih ponsel. Di depan penjaga itu, dia menghubungi Adriano dan mengeraskan suara panggilannya.
“Pronto,” terdengar suara Adriano dari seberang sana.
“Anak buahmu melarangku masuk, Amico! Pecat saja dia!” umpat Coco yang seakan ingin melampiaskan kekesalannya. Sikap pria itu seketika membuat Adriano terbahak untuk beberapa saat lamanya.
“Berikan ponselmu padanya,” suruh Adriano kemudian.
“Kau dengar sendiri, ‘kan?” ujar Coco puas seraya menaikturunkan alis. Dia lalu menyodorkan ponsel miliknya pada penjaga tadi.
Dengan ragu-ragu, penjaga itu menerima dan memposisikan ponselnya di depan mulut. “Ya, Bos?” ucapnya terlihat resah.
“Biarkan dia masuk,” jawab Adriano singkat yang segera dimengerti oleh si penjaga.
Penjaga itu mengangguk, lalu mengembalikan ponsel Coco. “Silakan, Tuan,” berbeda dari sikap sebelumnya. Dia kini bersikap jauh lebih ramah sambil membuka pintu masuk lebar-lebar. Tak sulit menemukan Adriano di dalam ruangan klub yang masih tampak sepi. Lagi pula, hanya satu atau dua pegawai saja yang lalu lalang di sana.
__ADS_1
Adriano berdiri gagah di salah satu ruangan VIP sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Sementara tangan yang lain bergerak mengikuti kalimat yang dia ucapkan. Rupanya suami dari Mia itu tengah memberi instruksi pada Gianna dan beberapa orang lainnya.
“Amico!” panggil Coco. “Kita harus bicara,” ujarnya seraya mendekat.