Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Under the Tree


__ADS_3

Tepat pukul sepuluh malam, Miabella baru tertidur. Seharian tadi, gadis kecil itu menikmati indahnya suasana alam di sekitar danau dekat pondok kayu itu. Russell pun tampak senang saat menunjukan beberapa satwa yang sedang dalam penangkaran. Dia begitu takjub dengan antusiasme Miabella, yang terus memperhatikannya saat mengobati dan merawat hewan-hewan yang sakit dan juga terluka.


Kini, Miabella tampak sangat kelelahan. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Mia untuk menidurkan putri semata wayangnya. Mia kemudian menutupi tubuh mungil Miabella dengan selembar selimut tipis hingga sebatas dada. Dia tersenyum kecil saat melihat wajah damai putri kecilnya yang tanpa terasa sudah memasuki usia empat tahun. Miabella terlihat begitu bahagia saat bertemu kembali dengan Adriano. Tampak jelas seberapa besar rasa sayang anak itu terhadap ayah sambungnya.


“Mia,” suara berat Adriano membuyarkan lamunan wanita itu. Dia menoleh dan kembali tersenyum. “Bagaimana jika kita menikmati udara segar malam hari. Kau pasti akan menyukainya,” tawar pria bermata biru tersebut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mia segera berdiri dan menghampiri Adriano yang segera mengajaknya keluar.


Suasana malam di sekitar pondok kayu itu teramat sepi. Mereka bahkan seolah dapat mendengar suara hembusan angin sepoy-sepoy yang menyapa, tatkala keduanya berdiri di atas jembatan kayu yang menjorok ke danau. Gelap pekat menyelimuti, dan seakan hendak menyamarkan kedua insan itu dari pandangan dunia. Satu-satunya penerangan di sana, hanyalah dari lampu gantung kecil yang berada di beranda pondok.


“Aku menyukai tempat ini,” ucap Mia seraya melirik Adriano, yang saat itu tengah melayangkan tatapannya pada hamparan danau cukup luas di depan mereka, "di sini terasa begitu tenang dan damai," lanjutnya.


“Aku biasa menghabiskan waktu di dekat danau ini. Terkadang begitu membosankan. Namun, sejujurnya aku duduk termenung sambil memikirkanmu. Itu membuat rasa bosan dalam diriku lenyap seketika, tapi justru malah menumbuhkan kerinduan yang sangat mendalam,” Adriano tersenyum simpul setelah berkata demikian.


“Bagaimana kau bisa sampai kemari? Jarak dari tempatmu mengalami kecelakaan cukup jauh dengan tempat ini,” Mia masih menatap paras rupawan di sebelahnya.


“Ada seorang pria tua yang membantuku. Aku bersyukur karena di dunia ini masih banyak orang baik yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya,” tutur Adriano pelan.


“Itu semua balasan untukmu, karena kau juga pria yang baik,” ucap Mia menghadapkan dirinya kepada pria itu. Adriano pun melakukan hal yang sama. Kini mereka jadi saling beradapan. Perlahan Mia menyentuh lilitan perban yang membalut sebagian tubuh tegap Adriano. Jemari lentiknya begitu gemulai di atas permukaan tubuh sang suami, meskipun pria itu tak dapat merasakannya secara langsung. “Ini pasti terasa sakit sekali,” ucap Mia setengah berbisik.

__ADS_1


“Tak seberapa sakit jika dibandingkan dengan saat aku berjauhan denganmu,” sahut Adriano tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Mia.


“Mulai sekarang biarkan aku yang merawat semua luka-lukamu,” balas Mia. Dia mendongak dan membalas tatapan suaminya yang membuat wanita bermata colelat itu menjadi tak karuan. Adriano seperti sebuah medan magnet yang sangat kuat. Tatapan matanya saja telah mampu melumpuhkan akal sehat dalam diri Mia.


“Lihatlah aku sekarang, Mia. Tubuhku sudah dipenuhi bekas luka yang entah kapan akan hilang,” Adriano menunjukan luka sayat di tangan, dan beberapa bagian lainnya kepada Mia.


“Kau tidak perlu khawatir, Sayang. Adriano akan selalu terlihat tampan dan memesona meskipun memiliki banyak bekas luka, karena aku yang akan menutupinya,” Mia mengakhiri kata-kata manis dengan sebuah sentuhan lembut pada permukaan bibir Adriano. Dia menangkup paras tampan dengan janggut yang mulai tumbuh dengan tak beraturan.


“Ini yang selalu membuatku rindu padamu,” Adriano merangkul pinggang sang istri dan membalas ciumannya dengan jauh lebih mesra. Untuk beberapa saat, keduanya asyik menikmati adegan tersebut, melepas rindu karena tak berjumpa selama beberapa hari. Di bawah langit malam yang gelap, mereka membuktikan bahwa kini cinta telah hadir dan mengikat keduanya dengan erat.


“Ayo, Mia. Ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu,” Adriano melepaskan ciumannya dan mengajak Mia pada bagian lain tempat itu. Dia berhenti di dekat sebuah pohon rindang, di mana terdapat rumput liar yang ditumbuhi oleh bunga kecil berwarna-warni. Sayang sekali, karena saat itu suasana cukup gelap sehingga warna-warna indah itu tidak terlihat dengan jelas. “Entah sejak kapan aku jadi senang melihat bunga,” ujar Adriano diiringi senyum kecil.


“Pria sepertiku?” Adriano mengernyitkan keningnya.


“Kau pria yang manis, Adriano. Kau sangat romantis dan juga ....” Mia tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Adriano segera mendorong mundur dengan perlahan tubuh rampingnya, hingga bersandar pada pohon rindang tadi. Napas pria bermata biru tersebut mulai memburu. Hal itu sebagai pertanda, bahwa dirinya tak kuasa lagi menahan gejolak rindu di dalam dada.


“Kau bilang aku manis dan romantis? Seperti itukah, Sayang?” napas berat Adriano menghangat di permukaan wajah Mia.

__ADS_1


Namun, wanita itu tak menanggapi pertanyaan Adriano. Dia malah menjalarkan sentuhan lembut penuh godaan pada lengan dan dada bidang pria di hadapannya. “Kau tidak memakai baju. Apakah dirimu tidak merasa kedinginan?” pertanyaan yang terdengar sungguh menggoda dari Mia, membuat hasrat dalam diri Adriano kian memuncak.


“Tentu saja tidak, karena ada kau yang akan menghangatkanku,” bisik pria itu seraya mengecup lembut daun telinga Mia, membuat si pemiliknya terpejam.


“Kau menggodaku. Jangan katakan jika dirimu ingin mengajakku bercinta di tempat ini,” balas Mia di sela desa•han pelannya karena sentuhan bibir Adriano yang sudah berada di leher. Wanita cantik bermata cokelat itu sedikit mendongak sambil meremas lembut rambut belakang sang suami yang sangat dia rindukan. Rasa geli bercampur nikmat, ketika bulu-bulu halus pada wajah Adriano mulai menyapu permukaan kulitnya dengan lembut.


“Di manapun kita melakukan itu, rasanya sama saja. Tak akan mengurangi kenikmatannya,” tangan kanan Adriano mulai bergerak nakal, menyentuh dada kemudian turun dan menelusuri paha mulus Mia. Dia lalu menaikkan bagian bawah dress yang wanita itu kenakan. Sementara bibirnya kembali menyatu dengan bibir Mia, membuat ibu dari Miabella tersebut tampak sedikit terengah-engah karena Adriano tak membiarkannya bernapas dengan leluasa. Namun, Adriano sepertinya sengaja melakukan hal tersebut. Dia merasa senang saat melihat merasa tersiksa karena menahan cumbuannya yang luar biasa.


Akan tetapi, ketika jemari Adriano mulai menyentuh pakaian dalam berbahan katun lembut yang Mia kenakan dan bermaksud untuk menurunkannya, pria itu tertegun sejenak. Sorot matanya tiba-tiba berubah. Dia pun tampak menajamkan pendengaran.


“Ada apa?” tanya Mia pelan, karena Adriano menghentikan apa yang dilakukannya.


“Ada seseorang yang sedang mengawasi kita,” bisik Adriano membuat Mia seketika membelalakan mata.


“Bagaimana mungkin? Kita tidak memiliki musuh di sini selain Thomas Bolton yang ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya, karena dengan segera Adriano menempelkan jari telunjuk pada permukaan bibir wanita itu.


“Sebaiknya kita masuk saja. Lagi pula, aku tidak membawa senjata,” ucap Adriano lagi masih sambil berbisik. Tanpa berlama-lama, dia menuntun Mia untuk masuk ke pondok. Sebelum menutup pintu, Adriano sempat melihat sekeliling tempat itu. Dirinya merasa yakin, bahwa ada seseorang yang tengah bersembunyi di balik salah satu pohon rindang yang berada tak jauh dari pondok.

__ADS_1


Namun, dengan segera dia lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Ingatannya kembali pada cerita Coco. Setelah makan malam tadi, dia mengatakan bahwa ada seseorang yang diduga tengah mengawasi rumah sewaan yang mereka tempati secara diam-diam. “Saat datang kemari, apa kau yakin bahwa tidak ada yang mengikuti kalian?” tanya pria bermata biru itu serius.


“Aku rasa tidak ada. Kami sempat berjalan kaki dan tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan,” jelas Mia yakin. “Bisa saja jika yang kau curigai itu hanya seekor hewan liar,” ujar Mia menduga-duga.


__ADS_2