
Mia membetulkan posisi duduknya ketika Carina menyebut bahkan hingga menunjuk ke arah Adriano. Sementara pria itu masih duduk dan terlihat sangat tenang. Adriano tersenyum simpul. Sesekali dia menggerakkan ujung kaki kanan berbalut sepatu pantofel, yang diletakannya di atas paha sebelah kiri. Pria itu juga tampaknya begitu menikmati lagu yang dibawakan oleh Carina. Melihat sikap Adriano yang demikian, Mia merasa semakin kesal. “Aku ke toilet dulu,” ucap wanita dengan mini dress itu seraya berlalu begitu saja.
Mia pergi dengan membawa semua rasa kesal dan cemburu dalam hatinya. Dia melangkah terburu-buru dan tidak berkonsentrasi, sehingga tanpa sengaja dirinya menabrak seorang pria bertopi. “Ah, maaf,” ucap Mia seraya menoleh kepada pria yang tak menghiraukannya sama sekali. Pria itu segera memalingkan wajah sambil berlalu tanpa menanggapi permintaan maaf dari Mia. Namun, wanita bermata cokelat tersebut berpikir untuk sejenak. Dia seakan pernah mencium aroma parfum yang serupa, dengan yang dipakai pria tadi.
Tak peduli, Mia menggeleng pelan. Dia melanjutkan langkah menuju toilet dan sedikit menenangkan diri di sana. Ini adalah acara kencan yang sangat menyebalkan. Entah kenapa Adriano harus mengajaknya ke sana, dan bertemu dengan kedua wanita itu.
Mia lalu menyalakan kran dan mencuci tangan. Setelah itu, dia menatap wajahnya pada pantulan cermin meja wastafel sembari merapikan rambut dan juga riasan.
Tak berselang lama, tampak Carina yang baru masuk dan berdiri di sebelahnya. Wanita muda itu menyalakan kran dan membasuh kedua tangan. Sementara Mia, bersikap tak peduli. Wanita berambut cokelat itu mempercepat apa yang sedang dia lakukan di depan cermin, kemudian bermaksud untuk segera keluar dari dalam toilet. Akan tetapi, baru saja Mia berbalik, langkahnya seketika terhenti. Suara sapaan halus dari Carina membuat Mia harus menoleh dengan terpaksa. “Sudah berapa lama kalian menikah?” tanyanya.
“Belum lama. Kenapa memangnya?” Mia balik bertanya dengan nada bicaranya yang terkesan agak ketus.
“Tidak apa-apa. Sebagai sahabat dekat Adriano, aku hanya ingin mengetahui hal itu karena kebetulan dia tidak mengundangku ke acara pernikahannya,” jawab Carina dengan sikap yang terlihat sangat anggun, tapi ada keangkuhan yang dapat Mia rasakan di sana.
“Oh, aku sama sekali tidak tahu jika Adriano berteman denganmu, karena dia tidak pernah membicarakan tentang dirimu di depanku,” ujar Mia dengan senyumnya.
“Tak apa, yang penting sekarang kau sudah tahu jika Adriano dan aku berteman,” ucap Carina lagi dengan penuh percaya diri.
“Lalu? Apa kau akan mengajaknya berduet dalam salah satu lagumu?” Mia tertawa pelan. “Suamiku lebih senang menghabiskan waktunya di dalam ruang kerja, daripada duduk malas di depan televisi dan menonton serial drama murahan,” selesai berkata demikian, Mia segera membalikkan badannya.
Namun, baru saja Mia melangkah ke arah pintu, Carina lagi-lagi berhasil menghentikan dirinya. “Bagaimana rasanya, Mia?” tanya Carina dengan sorot mata yang terlihat aneh.
Mia menoleh seraya mengenyitkan keningnya. “Apanya?” tanya wanita berambut cokelat itu.
Carina berjalan menghampiri Mia dan berdiri di hadapannya. Postur tubuh yang sama, membuat wajah mereka berdua saling berhadapan. “Bagaimana rasanya bisa menaklukan pria seperti Matteo de Luca dan Adriano D’Angelo?” tatapan sinis Carina tertuju tepat dan langsung menusuk sepasang mata cokelat Mia. Sebuah pertanyaan yang dirasa benar-benar tidak pantas diucapkan dari bibir seorang public figure seperti dirinya.
“Kelebihan apa yang kau miliki, sehingga bisa membuat kedua pria itu bertekuk lutut dengan begitu mudah di hadapanmu? Menurutku kau terlihat sangat biasa, Mia,” ucapan Carina terdengar semakin tidak bersahabat dan tak seramah saat di depan Adriano.
Akan tetapi, Mia berusaha untuk tidak terpengaruh. Dia harus belajar mengesampingkan segala kelemahlembutannya selama ini. Mia sadar, ada banyak wanita seperti Carina yang mengelilingi Adriano. Sesuatu yang belum dia ketahui tentang pria itu. Ya, inilah saatnya untuk berkencan dengan sang suami. Mencoba berbicara dari hati ke hati dan berusaha untuk saling mengenal, meskipun Mia yakin jika Adriano sudah mengetahui jauh lebih banyak tentang dirinya.
__ADS_1
“Adriano sudah memiliki kehidupan yang luar biasa. Dia mungkin merasa bosan dengan sesuatu yang terlihat berlebihan, karena itu perhatiannya tertuju pada seseorang yang biasa sepertiku. Atau mungkin bagi seseorang yang sedang dilanda iri sepertimu, aku akan terlihat biasa saja. Namun, yang jelas bagi Adriano aku selalu tampak istimewa dan itu sudah cukup bagiku. Aku tak membutuhkan penilaian dari orang lain,” lugas jawaban Mia membuat Carina terdiam seketika.
Mia menyeringai puas, lalu segera meraih gagang pintu toilet, tapi lagi-lagi Carina menahannya. “Tunggu,” desis artis cantik itu. Tangannya yang berkuku panjang mencengkeram lengan mulus Mia.
“Apa yang akan kau lakukan? Kau ingin melukaiku? Mencakarku? Mendorongku? Tak masalah dengan apapun yang akan kau lakukan. Akan tetapi, kau harus mengingat reputasimu. Apa jadinya jika seorang artis terkenal menyerang wanita biasa-biasa saja sepertiku hanya karena merasa cemburu dan kalah saing?” cerca Mia dengan setengah meledek. "Aku bisa saja menggunakan reputasi yang Adriano miliki untuk membuatmu bersujud padaku, dan menyesali apa yang telah kau lakukan ini, Nona de Rossi!" ancam Mia dengan penekanan yang sangat tegas, meskipun suaranya tidak terlalu nyaring.
Carina tampak memikirkan kata-kata Mia saat itu. Perlahan, dia merenggangkan cengkeramannya, lalu mendengus kesal.
Mia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk segera keluar dari toilet. Melihat hal itu, Carina juga berniat mengikuti langkah Mia. Namun, di depan pintu telah berdiri seorang pria yang sebelumnya sempat bertabrakan dengan Mia. Pria itu segera mencegatnya. “Kita harus bicara,” ujar pria itu pada Carina. Dia menarik lengan sang aktris, lalu masuk dengan seenaknya ke dalam toilet wanita.
Sementara itu, Mia sudah berada di depan meja tempat Adriano berada. Dia melihat suaminya masih menikmati hiburan yang disuguhkan di cafe tersebut.
“Aku mau pulang! Terserah kalau kau masih ingin di sini,” ujar Mia seraya berlalu dari hadapan Adriano begitu saja.
“Ada apa ini, Mia?” Adriano yang keheranan segera menyusul sang istri dan menyejajari langkahnya.
“Hei, ada apa ini?” tanya Adriano lagi. Pria itu membalikkan tubuh ramping Mia dan menghadapkan wajah cantik sang istri padanya.
“Aku hanya tidak nyaman di sini. Sahabat lamamu itu tak menyukai kehadiranku,” ucap Mia sembari memalingkan muka.
“Carina?” Adriano memicingkan mata. “Apa yang dia katakan padamu?” tanyanya.
“Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan hal itu. Bawa saja aku pulang, Adriano. Aku ingin bertemu Miabella. Setidaknya hatiku merasa tenteram bila bersamanya. Berbeda dengan di sini, hatiku terasa sangat panas!” ujar Mia menahan rasa kesal dalam hatinya. Tanpa menunggu Adriano, Mia membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi sambil bersedekap.
Adriano yang sedikit banyak sudah memahami arti bahasa tubuh Mia, tersenyum penuh arti. “Apakah kau sedang cemburu, Sayang?” tanyanya sesaat setelah duduk di belakang kemudi.
Akan tetapi, bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Mia malah membuang muka dan membuat Adriano tersenyum semakin lebar. “Aku suka jika kau cemburu padaku. Itu artinya ....” pria bermata biru itu sengaja tak melanjutkan kalimatnya.
Merasa penasaran, Mia pun akhirnya menoleh dan disambut dengan sebuah ciuman mesra dari Adriano. Kedua tangannya langsung menangkup wajah cantik Mia sehingga wanita itu tak sempat mengelak.
__ADS_1
Lembut, Adriano mencium bibir istrinya untuk beberapa lama sampai Mia mendorong tubuh tegap itu menjauh. “Hentikan, Adriano. Kita sedang berada di tempat parkir,” sergah Mia dengan muka memerah.
“Tak ada yang melarang sepasang suami istri berciuman di manapun. Lagi pula, kita di dalam mobil dan tidak ada siapa pun yang melihat," balas Adriano seraya tertawa pelan. Pria itu akhirnya menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju Casa de Luca.
Di waktu yang sama, beratus kilometer jauhnya dari pusat kota Milan, beberapa mobil SUV hitam bergerak beriringan membelah jalanan kota Karlovac di Croatia.
Rombongan mobil itu melaju dengan kecepatan sedang ke arah pinggiran kota. Mereka menyeberangi jembatan kokoh, menuju sebuah rumah terpencil yang terletak di tengah-tengah padang rumput.
Mobil-mobil itu kemudian berhenti dan langsung parkir dalam posisi sejaja.
Puluhan orang keluar dari masing-masing kendaraan secara serempak. Mereka semua memakai setelan jas berwarna sama.
Satu orang di antaranya, masuk terlebih dulu dengan berbalut sarung tangan. Dia mendorong pintu, lalu berjalan gagah menaiki tangga ke lantai dua. Di sana, pria itu terdiam sejenak sebelum mendekati sesosok mayat yang sudah membusuk.
“Andreja Borislav, sang monster yang telah tumbang,” ujar seseorang yang lain yang telah berdiri di belakang pria itu.
“Sekuat apa Adriano D’Angelo sehingga bisa menghabisi Andreja semudah ini?” geram pria tersebut.
“Jelas sudah jika selama ini kita terlalu meremehkannya. Berhati-hatilah Thomas. Sebentar lagi giliranmu. Aku yakin Andreja sudah menyebutkan namamu,” sahut rekannya yang lain.
Pria yang dipanggil dengan nama Thomas itu berdecak kesal, lalu menoleh pada sang rekan. “Jangan banyak bicara! Segera buang mayatnya dan hapus seluruh barang bukti. Jangan sampai ada jejak yang tertinggal,” perintahnya.
“Setelah ini, bagaimana?” tanya sang rekan.
“Aku akan membuat perhitungan dengan D’Angelo. Sebelum dia berusaha memburuku, maka aku yang akan memburunya terlebih dulu!” tegasnya. “Aku, Thomas Bolton, tak akan dapat dikalahkan semudah itu. Kupastikan ketua klan Tigre Nero pasti akan mati di tanganku,” tutupnya sembari tergesa-gesa menuruni anak tangga dan keluar dari rumah tersebut. "Aku akan kembali ke Inggris, dan melakukan persiapan," ujarnya lagi sebelum masuk ke mobil.
"Persiapan untuk apa?" tanya salah seorang rekannya yang lain.
Thomas Bolton tersenyum sinis. "Pesta atas kematian D'Angelo," jawabnya dengan percaya diri. Dia pun menutup pintu mobil dan segera melajukannya, meninggalkan tempat itu. Sementara yang lain sudah memasukan kantong sampah berwarna hitam, berisikan mayat Andreja Borislav ke dalam mobil.
__ADS_1