Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Two Little Monsters


__ADS_3

"Apa yang kau bicarakan dengan Adriano?" tanya Francesca yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Coco. Gadis itu menatap pria berambut ikal tersebut sambil melipat kedua tangan di dada. "Aku harap kalian tidak membahas sesuatu yang macam-macam," tukasnya.


"Macam-macam apa? Perempuan maksudmu?" Coco berdiri tepat di hadapan Franncesca. Sepasang mata cokelatnya menatap lekat gadis cantik itu. Sesaat kemudian, Coco meraih pinggang sang kekasih kemudian mendekapnya cukup erat. "Rasanya sudah lama sekali kita tidak bersenang-senang," goda sahabat dekat mendiang Matteo tersebut.


"Kau terlalu sibuk," sahut Francesca.


"Aku? Apa kau tak salah bicara, Sayang?" sindir Coco.


"Baiklah. Aku yang mengabaikanmu," balas Francesca mengalah. "Aku yang selalu sibuk sendiri dan ...."


"Apa kau tidak pernah berpikir bahwa aku ini bodoh?" sela Coco.


"Bodoh dalam hal apa?" tanya Francesca. "Bagaimana kau bisa berpikir bahwa dirimu bodoh? Sedang terbaring lemah tak berdaya pun, kau bahkan bisa memikat seorang wanita cantik. Sungguh luar biasa," sindir gadis bermata hazel itu seraya memalingkan wajahnya.


Coco tergelak saat mendengar sindiran tadi. Dia tampaklah bahwa dia tak merasa bersalah sedikit pun. "Setidaknya itu merupakan ciuman pertamaku dengan wanita lain, setelah beberapa tahun menjalin hubungan denganmu. Kau bisa menilai sendiri betapa setianya aku dalam menjalani hubungan jarak jauh kita berdua. Namun, sudahlah. Dengarkan aku." Coco mengajak Francesca untuk duduk di sofa.


"Kita akan melakukan pemberkatan bulan depan. Pastinya banyak sekali yang harus kau persiapkan. Aku rasa kau akan membutuhkan bantuan dari kedua kakakmu. Jadi, aku tadi sudah meminta izin kepada Adriano agar dia mengantarkan Mia kemari. Sepertinya, Mia jauh lebih bisa diandalkan dibandingkan Daniella. Namun, aku juga akan memintanya untuk membantumu di sini," tutur Coco terlihat meyakinkan.


"Jadi?" tanya Francesca seraya menautkan alisnya.


"Jadi? Oh, astaga! Kenapa kau hanya menanggapi seperti itu? Setidaknya katakan sesuatu yang lebih panjang," protes Coco dengan nada sedikit kecewa, membuat Francesca tertawa renyah. Dia seakan merasa puas karena berhasil membalas sikap menyebalkan kekasihnya.


"Baiklah. Aku senang bisa mempersiapkan acara pernikahanku dengan mereka berdua. Ini saat-saat yang ditunggu jadi ... jadi pasti akan kubuat seistimewa mungkin," jelas Francesca dengan antusias.


"Baguslah. Apa aku perlu melakukan perawatan?" tanya Coco seraya memainkan kedua alisnya.


“Tidak usah!” larang Francesca. “Tanpa perawatan saja wajahmu sudah sangat menggoda, apalagi jika kau melakukan .…”


Belum selesai Francesca berbicara, Coco sudah lebih dulu menyambar bibir gadis itu dan melu•matnya. Dengan mata terpejam, dia merasakan manisnya bibir sang kekasih. Sesuatu yang tak akan pernah membuatnya bosan. Demikian pula dengan Francesca. Dia membalas ciuman Coco dengan jauh lebih hangat dan bergairah. Akan tetapi, semuanya harus berakhir ketika mereka berdua mendengar suara celotehan anak-anak dari arah ruang tamu.


“Daniella?" gumam Coco dan Francesca secara bersamaan.


Tebakan mereka sepenuhnya benar. Tampak Romeo dan Tobia yang sedang berkejaran menuju ruang tengah, tempat Coco dan Francesca tengah memadu kasih. Romeo bahkan sempat menyenggol guci antik yang terletak di samping pintu. Hampir saja guci itu jatuh jika saja Daniella tidak buru-buru memeganginya.


“Romeo, Tobia, duduk!” sentak Daniella. Telunjuknya terulur lurus ke arah dua bocah kecil yang super aktif tersebut. Romeo dan Tobia seketika terdiam membeku.


“Astaga, Sayang. Kau menyuruh mereka duduk seperti kau memberi perintah kepada anjing,” protes Marco yang berdiri di belakang istrinya.

__ADS_1


“Coba saja kau diam di rumah seharian penuh dan awasi mereka selama dua puluh empat jam. Kujamin kau pasti akan memilih menghadapi musuh-musuh mafiamu! Dua monster kecil itu jauh lebih mengerikan dibanding penjahat-penjahat di luar sana!” gerutu Daniella yang seketika berhenti ketika melihat dua orang calon pengantin tengah berdiri kikuk di balik sofa. “Astaga, apakah kedatanganku mengganggu?” tanyanya seraya memegang dada.


“Sejujurnya, iya. Padahal hampir saja aku dan Francy bercinta di sini,” celetuk Coco yang segera disambut oleh pukulan di lengan dari Francesca. Sementara Marco langsung merengkuh Romeo dan Tobia, kemudian mendekap mereka. Marco juga menutup telinga kedua anaknya sambil melotot tajam.


“Maaf, Marco. Namun, kalian memang datang di saat yang sangat tidak tepat,” Coco terkekeh melihat wajah Marco yang tidak terima.


“Kami datang kemari bukan untukmu, tapi untuk Francy. Betul ‘kan, Francy? Apa yang sudah kau persiapkan untuk pesta nanti?” Daniella beralih pada adiknya dan menyerahkan pengawasan dua monster kecil tadi kepada sang suami.


“Tidak ada,” jawab Francesca enteng sambil merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat ulah Coco.


“Apa?” Daniella terbelalak tak percaya. “Kau ingin melangsungkan pernikahan di awal bulan, tapi kau belum mempersiapkan apapun? Awal bulan itu dua minggu lagi, Francy! Apa-apaan kau ini? Ayo ikut aku! Kita bicara di ruang rahasia.” Tanpa permisi, Daniella menyeret sang adik ke ruangan lain di Casa de Luca, meninggalkan Coco beserta Marco begitu saja, yang harus mengawasi Romeo dan juga Tobia.


“Kebetulan sekali, Marco. Selagi para wanita tidak ada di sini. Ayo, kita bicara,” ajak Coco seraya mendekat, lalu merangkul sepupu Matteo tersebut.


“Kau tidak lihat?” Marco mengarahkan bola matanya ke arah dua balita dalam gendongannya yang kini tengah memandangi Coco sambil meringis.


“Astaga, di mana pengasuh mereka? Berikan mereka pada pengasuhnya sebentar. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu,” ajak Coco.


“Mereka sedang menurunkan barang-barang Romeo dan Tobia dari dalam mobil,” jawab Marco sembari mendengus pelan.


“Astaga, berapa banyak barang yang kau bawa untuk mereka?” tanya Coco lagi.


“Ya, ampun! Kau seperti sedang bermigrasi ke lain benua, Amico,” Coco berdecak keheranan.


“Jangan meledek! Nanti kau akan merasakan sendiri. Kudoakan anak-anakmu jauh lebih banyak dan lebih nakal dari anak-anakku!” ucap Marco yang segera disambut dengan tawa lebar dari Coco.


“Padre! Aku mau naik kuda-kudaan!” celoteh Romeo.


“Aku juga!” sahut Tobia tak mau kalah.


“Kenapa kau selalu menggangguku!” Romeo tak suka jika adiknya mengikuti apa yang hendak dia lakukan, sehingga dia marah dan mulai menjambak rambut Tobia yang ikal dan sedikit panjang. Dua bocah itu tampak berkelahi dalam gendongan ayahnya. Marco sendiri terlihat pasrah dan tak berniat melerai. Sesekali dirinya melirik Coco yang tampak meringis kecil.


Beruntungnya karena saat itu datang seorang pengasuh yang lain dengan tergopoh-gopoh.


“Permisi, Signore. Biar saya bawa mereka ke kamar,” ucap wanita itu meminta izin.


“Tidak mau! Aku ingin kuda-kudaan!” tolak Romeo.

__ADS_1


“Padre sudah membelikan kalian kuda-kudaan baru di dalam kamar, I miei figli (anak-anakku). Lihatlah kalau tidak percaya,” bujuk Marco.


Ragu-ragu, kedua bocah itu saling pandang dalam diam. Tampaknya mereka tengah berpikir. Namun, pada akhirnya keduanya memilih menurut dan mengikuti pengasuh mereka.


Marco pun akhirnya dapat bernapas lega, lalu menepuk pundak Coco. “Ayo, kita mengobrol di ruang kerja,” ajaknya seraya merengkuh lengan pria berambut ikal tersebut. “Apa yang hendak kau bicarakan denganku?” tanyanya setelah mereka tiba di ruang kerja Matteo yang selalu tampak bersih dan rapi, meskipun jarang dimasuki.


“Aku ingin mengajakmu ke Kroasia,” jawab Coco setelah mengempaskan dirinya ke atas kursi.


“Kenapa?” Marco turut duduk di samping Coco.


“Kau pastinya sudah diberitahu oleh detektif Ignazio, bukan?” Coco mengangkat satu alisnya.


“Ya, detektif menceritakan padaku bahwa Adriano selalu memberikan laporan tiap kali dia mendapatkan penemuan baru dalam kasus Matteo,” jawab Marco.


“Tentunya kau sudah tahu siapa Lionel,” timpal Coco.


“Ya, dia merupakan kaki tangan Nenad dan sekaligus terlibat dalam pembunuhan Matteo,” jawab Marco lagi.


“Adriano berpikir jika Nenad kemungkinan tahu rahasia Lionel, mengingat mereka berdua sudah bekerja sama dalam waktu yang lama,” tutur Coco.


“Lalu?” Marco mengernyitkan keningnya.


“Aku berniat mengajak Adriano untuk menangkap Nenad dan mengorek semua informasi yang dia tahu. Mungkin kita bisa mendapatkan titik terang dari sana. Aku juga berniat mengajakmu serta. Sudah lama kita tidak berpetualang bersama, ‘bukan?" ujar Coco sambil menaikturunkan kedua alisnya.


"Oh, tentu saja aku mau. Namun, apa kabar dengan tiga bersaudara itu? Menghadapi istri yang merajuk, ternyata jauh lebih menakutkan dari pada melawan banyak musuh bersenjata," ujar Marco khawatir.


"Kau tenang saja. Aku dan Adriano sudah membuat rencana untuk membuat para gadis sibuk dengan persiapan pesta," jelas Coco dengan santai.


"Oh, memangnya masa hukuman Adriano sudah berakhir? Bukankah dia dilarang pergi ke manapun oleh Mia?" Marco tampak merasa ragu.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Para wanita mungkin merasa berkuasa, tapi kita kaum pria tetap harus jauh lebih cerdik," ujar Coco. "Satu hal yang harus kita perhatikan saat ini adalah tentang seseorang yang berasal dari Amerika Latin," ucap pria berambut ikal itu lagi.


"Siapa?" Marco membetulkan posisi duduknya. Dia tak tahu siapa yang dimaksud oleh Coco.


"Kemarin Adriano menceritakan padaku bahwa ada seseorang yang telah berhasil menghabisi Lionel," jelas Coco.


"Siapa?" tanya Marco lagi.

__ADS_1


"Juan Pablo Herrera."


__ADS_2