Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Di Antara Pohon Anggur


__ADS_3

Carlo segera menghentikan cumbuan yang tengah dia lakukan, ketika telinganya mendengar dengan jelas ungkapan cinta Miabella. Bukan hanya Carlo, Miabella pun sama tertegun atas pengakuan yang baru saja dia ucapkan. Putri dari Matteo de Luca tersebut, sama sekali tak menyangka jika dirinya akan menyatakan cinta terhadap sang pengawal pribadi. Akan tetapi, perasaan yang teramat indah itu sudah tak dapat dia sembunyikan lagi.


“Kau mencintaiku, Nona?” tanya Carlo dengan sorot tak percaya. Samar dia menatap wajah cantik itu, yang terkena pantulan lampu penerang dari lorong.


Miabella tak segera menjawab. Mata abu-abunya menatap sayu kepada sang pengawal rupawan. “Apa kau tidak merasakannya?” gadis itu malah balik bertanya. Suaranya terdengar agak bergetar karena merasa ragu dan was-was menunggu jawaban dari Carlo.


“Aku jatuh cinta padamu bahkan jauh sebelum kau menyadari arti keberadaanku,” sahut Carlo.


Angan pria berambut gelap tersebut kemudian melayang pada beberapa tahun silam, ketika Miabella merayakan ulang tahunnya yang kedelapan belas. Dia begitu terpana pada sosok gadis belia yang tengah menuruni tangga dengan anggun, kemudian berbaur dengan para tamu.


Sesekali, bola mata abu-abu Miabella menyapu ruang pesta untuk mencari sosok Carlo. Ketika gadis itu dapat menemukan sang pengawal, barulah dia dapat bernapas lega dan kembali mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada para tamu.


Akan tetapi, Miabella hanya berpura-pura menikmati pesta. Sebenarnya, putri sambung Adriano D’Angelo yang tengah menjadi pusat perhatian dan dibanjiri ucapan selamat tersebut, merasa tak nyaman di dalam keramaian yang mengelilinginya.


Padahal, saat itu hanya tamu-tamu penting yang hadir di sana. Hadiah-hadiah mewah juga menghujani gadis yang sedang berulang tahun itu.


Carlo sangat memahami bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh Miabella, meskipun gadis itu tak mengungkapkannya dengan kata-kata. Namun, segala rasa tak nyaman dalam diri gadis cantik tersebut, menguap begitu saja saat melihat wajah tampan Carlo yang tersenyum padanya. Tak terkira betapa pria itu amat tersanjung atas sikap gadis Miabella.


Ada satu hal lagi yang tak dapat dilupakan oleh Carlo ketika itu, yaitu pada saat acara pemotongan kue ulang tahun. Miabella menyerahkan empat potongan kue untuk ayah, ibu, adik, serta Damiano. Dia lalu membuat satu potongan baru dan meletakkannya pada piring kecil, kemudian berjalan melintasi ruangan menuju ke tempat di mana Carlo berdiri.

__ADS_1


Dengan senyuman lembut dan hangat, Miabella menyerahkan kue itu kepada Carlo seraya mencium pipinya. Saat itulah perasaan indah seorang Carlo mulai hadir. Dia membiarkan nama Miabella Conchetta masuk dan memenuhi seluruh ruang di hatinya.


“Apa yang kau pikirkan?” Suara lirih Miabella membuyarkan segala lamunan Carlo.


“Aku sedang memikirkanmu,” jawab Carlo seraya tersenyum, lalu kembali membenamkan wajahnya di leher jenjang putri Matteo de Luca dan melanjutkan apa yang sempat terjeda.


Miabella memejamkan mata sambil terus memeluk erat tubuh tegap sang pengawal. Ini adalah pengalaman pertama baginya merasakan semua sentuhan seperti apa yang diberikan oleh Carlo. Miabella tak mampu berkata-kata. Dia hanya ingin menikmati semuanya.


Untunglah karena saat itu kondisi di perkebunan cukup gelap. Satu-satunya penerangan di sana hanya dari lampu-lampu berwarna kuning di dalam lorong, yang memantul dengan tak begitu jelas ke arah perkebunan. Apa yang mereka lakukan di antara pohon anggur tadi, sudah pasti tak akan terpantau oleh penjaga malam di perkebunan.


Gelap dan sunyi seakan tak ada kehidupan di sana. De•sahan manja nan parau Miabella, berbaur dengan suara helaan napas berat Carlo yang begitu seksi dan menggoda. "Apa kau yakin padaku, Nona?" tanya Carlo tanpa berhenti menjelajahi bagian-bagian penting, dari raga indah gadis yang sudah pasti akan dia miliki malam itu. Meskipun dalam suasana gelap, tapi setiap hal yang Carlo lakukan tak mungkin sampai salah sasaran.


Deretan pohon anggur yang akan segera dipanen pada akhir musim panas ini, menjadi saksi bisu dari rintihan pelan Miabella yang telah kehilangan harta karun paling berharga, karena Carlo telah berhasil membuka kuncinya. Makin lama, gadis cantik tersebut semakin dapat mengimbangi dan menemukan perasaan nyaman itu. Harus Miabella akui bahwa apa yang Carlo lakukan padanya sangatlah luar biasa.


Carlo memperlakukannya dengan sangat manis. Dia membelai lembut pucuk kepala Miabella. Mereka tak memikirkan apapun saat itu. Entah apa yang akan terjadi, andai saja muncul seekor ular dan menghampiri keduanya. Namun, Carlo ataupun Miabella seakan mengabaikan segala hal. Dua sejoli tadi terlalu larut dalam rasa nikmat dari penyatuan pertama mereka, meskipun bukanlah di tempat yang semestinya.


"Apa kau baik-baik saja, Nona?" bisik Carlo. Gerakan tubuhnya melambat untuk beberapa saat, ketika pria itu kembali melu•mat bibir Miabella.


"Carlo ...." Miabella tak dapat berkata apa-apa selain menyebut nama sang pengawal, yang telah berhasil membawa dirinya pada sisi baru kehidupan. Miabella menelusupkan kedua tangannya ke dalam t-shirt yang Carlo kenakan. Perlahan dia meraba permukaan tubuh sang pengawal yang kembali memacu dirinya.

__ADS_1


Carlo tersenyum seraya menggumam pelan. Pria itu terus bergerak tanpa rasa lelah sedikit pun untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Tepat pada detik di mana dia akan tiba pada titik tertinggi, Carlo segera menarik dirinya. Sisa-sisa dari penyatuan penuh kemesraan itu pun tercurah habis.


"Oh astaga ...." Keduanya tertawa pelan, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Dengan napas yang masih terengah-engah, Carlo kembali melu•mat bibir dari gadis yang kini telah berhasil dia miliki.


"Bagaimana rasanya?" tanya Carlo sambil mengecup lembut kening Miabella.


"Aku tidak yakin bisa berjalan sendiri ke dalam Casa de Luca," ujar Miabella menanggapi pertanyaan Carlo. Dia kembali tertawa pelan sembari merapikan dirinya.


"Jangan khawatir, karena aku yang akan menggendongmu hingga ke dalam kamar," sahut Carlo kembali mencium bibir gadis itu. Tak bosan-bosan dia melakukan hal tersebut. Carlo seakan belum puas untuk mencurahkan segala perasaan yang selama ini hanya dia pendam seorang diri. Namun, kali ini pria itu patut untuk bersyukur, karena Miabella ternyata memiliki rasa yang sama.


Malam kian larut, ketika mereka memutuskan untuk masuk. Seperti biasa, Carlo mengantar sang nona hingga ke depan kamar. "Buonanotte, Cara mia (Selamat tidur, Sayangku)," ucap Carlo lembut seraya mengecup kening Miabella untuk beberapa saat. Tak lupa, dia kembali mencium bibir gadis itu.


Setelah memastikan Miabella masuk, Carlo pun berlalu menuju kamar yang dia tempati. Sedangkan Miabella berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Gadis itu terpaku sejenak di dekat meja wastafel. Dia memandangi wajahnya dengan lekat, kemudian tersipu.


Miabella tak menyangka bahwa dirinya baru selesai bercinta. Sesuatu yang selama ini hanya ada dalam angannya. Kini, segala rasa penasaran itu terjawab. Sesaat kemudian, Miabella menurunkan celana. Seketika gadis itu tertegun, ketika mendapati bercak darah yang mengotori pahanya.


"Astaga," gumam Miabella seraya mengusap pahanya dengan perlahan.


Gadis itu kemudian memutuskan untuk beranjak ke dekat shower. Dinyalakannya kran sehingga tetesan air pun mulai keluar, dan membasahi seluruh tubuh polos yang kini sudah menjadi milik seorang Carlo. Miabella memejamkan mata, meresapi setiap percikan menyegarkan yang mengenai permukaan kulit halusnya.

__ADS_1


Kembali terbayang dalam ingatan, apa yang tadi dirinya dan Carlo lakukan di atas rerumputan perkebunan. Itu merupakan sesuatu yang tak dapat dia percaya. Sesaat kemudian, bayangan gadis cantik itu tertuju kepada teman-teman yang sudah lama tak berkomunikasi dengannya. Miabella pun tersenyum kecil, ketika teringat satu ucapan dari mereka, 'the first one always bleeds'.


__ADS_2