Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Sudden Kiss


__ADS_3

“Minggir, Pierre!” Bianca mencoba untuk mendorong tubuh tegap Pierre agar menyingkir dari hadapannya. Wanita itu benar-benar sulit untuk dikendalikan. Pierre pun cukup kewalahan dalam menghadapinya. Namun, pria asal Perancis tersebut tak patah arang sedikit pun.


“Dengar, Nona Alegra. Aku sudah mengingatkanmu sebelumnya agar jangan mengusik tuan D’Angelo. Apalagi jika kau sampai mengganggu nyonya D’Angelo. Tuanku tidak akan menyukai hal itu,” tegur Pierre. Dia kembali mengingatkan Bianca.


“Aku tahu seperti apa Adriano. Dia tidak akan bisa berbuat kasar kepada seorang wanita yang bukan lawannya,” bantah Bianca dengan sikap menantang.


Pierre mengela napas pelan. Dia menggeleng perlahan. “Meskipun begitu, bukan berarti kau bisa berbuat seenak hatimu. Ingatlah bahwa kesabaran seseorang ada batasnya,” tegur pria berambut pirang itu lagi.


“Aku tidak takut dan juga tidak peduli dengan apapun yang akan Adriano lakukan padaku,” ujar Bianca lagi penuh percaya diri. Tampak jelas seberapa sombongnya wanita muda tersebut.


“Oh, astaga. Kenapa kau begitu sombong dan keras kepala. Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu,” tegur pria asal Perancis itu lagi. Sepasang matanya yang berwarna hijau, menatap tajam kepada Bianca. Dia begitu gemas atas sikap keras wanita tersebut.


“Kau tidak perlu melakukan apapun Pierre Corbyn! Satu-satunya yang harus kau lakukan sekarang adalah menyingkirlah karena urusanku dengan Mia belum selesai!” Bianca kembali mencoba mendorong tubuh Pierre, tapi tenaganya tidaklah terlalu kuat. Akhirnya, dia memilih untuk memukul-mukul lengan dan dada sang ajudan setia Adriano, berharap agar pria tadi menyingkir dari hadapannya.


“Silakan lampiaskan saja kekesalanmu padaku, karena aku tak akan mengizinkanmu mengganggu nyonya D’Angelo,” ujar Pierre tenang. “Aku yang berkewajiban untuk menjaganya ketika tuan tidak ada,” ucapnya lagi. Pierre mencoba memegangi kedua tangan Bianca yang terus bergerak dengan seenaknya.


“Aku tidak punya urusan denganmu!” bantah Bianca semakin kesal. Nada bicaranya terdengar smakin ketus.


“Kau akan berurusan denganku andai masih bersikap seperti ini. Jika masih ingin berada di pesta, maka sebaiknya jaga perilakumu, Nona. Jika kau tetap bersikap liar, maka terpaksa aku akan mengantarkanmu pulang,” ancam Pierre.


“Tidak ada seorang pun yang bisa mengaturku! Bianca Alegra melakukan apapun sesuai kehendak hatinya! Tidak kau atau siapa pun yang bisa ....”


“Aku bisa melakukan apapun terhadapmu, jika kau menjadi ancaman atas ketenangan istri dari tuanku,” sela Pierre seraya memegangi kedua tangan Bianca dengan erat. Dia tak membiarkan wanita itu pergi ke manapun.


“Ow, aku takut sekali,” ledek Bianca sambil tertawa mengejek.


“Sudah seharusnya begitu,” balas Pierre seraya tersenyum kecil. Pierre terlihat sangat tenang saat itu. Namun, dia tak pernah menyangka bahwa Bianca akan berbuat nekat. Dia menginjak kaki Pierre dengan kencang, kemudian mengangkat lutut. Lutut itu Bianca arahkan pada selang•kangan pria asal Perancis tersebut dengan sangat keras.

__ADS_1


Pierre pun mengaduh disertai ringisan kecil. Dengan terpaksa dia harus melepaskan pegangannya dari tangan Bianca, kemudian memegangi selang•kangannya yang terasa sakit.


Melihat ada celah, Bianca pun bergegas mendorong tubuh Pierre agar menjauh darinya. Wanita itu bermaksud untuk kembali masuk ke aula pesta. Namun, dengan segera Pierre kembali meraih tubuh Bianca. Pria berambut pirang tersebut menarik tangan mantan rekan bisnis Adriano tersebut, sehingga kembali bersandar pada pilar.


“Bekerja samalah, Nona,” pinta Pierre dengan dalam. “Ayo, sebaiknya kuantar kau pulang.” Pierre menahan rasa ngilu akibat ulah Bianca tadi. Dia menuntun wanita itu menuju mobil miliknya yang terparkir.


“Hey, siapa kau! Berani-beraninya kau ....” Bianca memukul-mukul lengan Pierre, berusaha melepaskan genggaman pria tadi dari pergelangan tangannya. Namun, Pierre tak peduli sama sekali. Dia terus menuntun wanita itu menuju mobil sedan putih milik Bianca.


“Pulanglah dan tenangkan dirimu. Kau hanya akan mengacaukan pesta jika terus berada di sini. Beruntung karena bukan tuan D’Angelo yang melihat perlakuanmu terhadap istrinya,” ujar Pierre seraya terus menuntun Bianca. Dia kembali menatap lekat wanita yang saat itu tampak sangat kesal. Bianca terus memberontak, berharap agar Pierre melepaskan cengkeramannya. Namun, pria itu tak melakukan apa yang dia inginkan. Pierre justru semakin mengeratkan pegangan tangannya.


“Dengarkan aku Nona Alegra. Aku tahu bahwa harga dirimu teramat tinggi. Kau tidak terbiasa menerima sebuah hinaan sedikit pun. Namun, kau juga tidak berhak untuk menginjak-injak harga diri orang lain. Aku yakin pemahaman seperti itu pasti sudah kau ketahui dengan baik, sehingga tak perlu kujelaskan lagi dengan panjang lebar,” ucap Pierre dengan nada bicara yang sangat tenang.


“Mereka berdua sangat menyebalkan, Pierre!” Bianca masih saja merasa jengkel. Unek-unek dalam hatinya seakan tak habis-habis dia tujukan kepada Adriano dan juga Mia. Wanita itu bahkan berkali-kali mendengus kesal.


“Ya, aku bisa memahami hal itu. Namun, cobalah untuk berpikir dengan jernih. Kau wanita yang cerdas dan juga modern. Sikap liarmu itu hanya akan menurunkan image tersebut. Percayalah padaku.”


“Pejamkan matamu, kemudian tarik napas dalam-dalam,” saran Pierre dengan nada bicara yang terdengar semakin melunak.


“Untuk apa aku menurutimu?” Bianca melipat kedua tangannya di dada dengan tetap memasang wajah yang ketus. Dia seakan tak ingin beradu tatap dengan si pemilik mata hijau di hadapannya.


“Aku biasa melakukan itu untuk menenangkan diri. Tak ada salahnya kau ikuti caraku, lagi pula tak memakan biaya sedikitpun. Sudahlah, ayo buka kuncinya. Aku harus memastikan kau pergi dari sini dengan segera,” ujar Pierre.


“Kau tidak berhak mengusirku dari sini, Pierre! Kau bukan tuan rumah penyelenggara pesta. Aku tak harus menuruti semua ocehanmu! Jika Mia merasa terganggu, maka suruh saja dia yang pergi, bukannya aku!” gerutu Bianca tanpa henti, membuat Pierre berkali-kali mengempaskan napas panjang.


“Astaga, tak kukira kau bisa berisik seperti ini. Sudahlah, sebaiknya kau segera masuk ke mobil dan pulang,” saran Pierre. Dia bermaksud untuk membukakan pintu bagi Bianca.


“Jangan lakukan apapun, Pierre Corbyn! Kau sama saja dengan kedua majikanmu!” Bianca terus menggerutu, membuat Pierre harus ekstra sabar dalam menghadapinya.

__ADS_1


“Jika kau seorang pria, maka pasti sudah kupukul sejak tadi!” ujar Pierre menahan emosi yang sejak pertama ingin dia lampiaskan. Namun, berhubung yang dihadapinya adalah seorang perempuan, maka dia terus berusaha menahan diri.


“Oh, kau ingin memukulku? Kalau begitu ayo lakukan!” Bianca mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan sikap yang seakan hendak menantang Pierre. Sorot mata wanita itu tajam dia layangkan penuh kemarahan.


Sementara Pierre terdiam beberapa saat mendapat tantangan demikian dari wanita cantik di hadapannya. Napas pria tersebut mulai tak beraturan. Pierre kemudian semakin mendekat. Sedangkan Bianca masih pada posisinya tadi. “Kau benar-benar wanita yang keras kepala, Nona Alegra,” ucap Pierre menahan emosi dalam dirinya. "Kau bahkan sudah berbuat kasar padaku," ucapnya lagi.


“Inilah aku, Pierre Corbyn,” balas Bianca masih terlihat menantang pria asal Perancis itu. “Menyingkir dan biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan Mia!” Nada bicara Bianca terdengar sangat tegas. Tak ada rasa takut sama sekali dari sikap yang ditunjukkan wanita muda tersebut.


Namun, Pierre pun tak akan pernah membiarkannya dengan mudah. Dia semakin mendekat kepada Bianca. “Cepat masuk ke mobilmu dan pergi dari sini!” suruh Pierre dengan penuh penekanan.


“Aku tidak harus menurut padamu. Kau bukan siapa-siapa dan tak bisa melakukan apapun untuk menghalangiku. Dasar ajudan bodoh pengganggu!” umpat Bianca seenak hatinya.


Emosi dalam diri Pierre tak lagi bisa ditahan mendengar kata-kata kasar Bianca terhadapnya. Dengan segera dia meraih wajah wanita itu, kemudian membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang kasar. Tak dipedulikannya Bianca yang terkejut dan kembali memberontak dengan sekuat tenaga.


“Berani-beraninya kau!” sentak wanita cantik itu sambil melepaskan diri. Dia mengelap permukaan bibirnya menggunakan punggung tangan. Sekuat tenaga, dia mendorong tubuh tegap Pierre sambil mengarahkan telapak tangan tepat ke arah pria asal Perancis tersebut. Namun, Pierre jauh lebih sigap. Dia menahan serta memegangi tangan Bianca.


“Kau benar-benar tidak sopan, Pierre,” sentak Bianca lagi yang tak terima atas perlakuan ajudan dari Adriano tersebut.


“Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membuatmu diam, Nona Alegra,” balas Pierre seraya kembali mencium wanita itu untuk kedua kalinya. Bianca pun tak bisa berkutik, karena Pierre menahan dirinya agar tak bergerak sama sekali. Dia hanya terdiam menerima perlakuan demikian terhadapnya.


Hai semua. Selagi menunggu update terbaru dari Adriano, ada baiknya mampir dulu yuk ke novel kolaborasi ceuceu dengan author Ayaya Malila. Mohon dukungannya ya, karena novel ini ikut event juga. Ceuceu tunggu ya 😉


Judul : Racun Cinta Arsenio


Napen : Crazy_Girls


__ADS_1


__ADS_2