
"Elang Rimba yang perkasa. Mimpi apa kau semalam? Apa malaikat maut tak memberitahu, bahwa hari ini adalah saat di mana nama besarmu akan lenyap dari dunia hitam?" seringai Adriano puas. Dia sudah berada di atas angin, setelah melakoni pertarungan sengit dengan Juan Pablo.
Mendengar kata-kata menakutkan dari Adriano, nyatanya tak membuat pria asal Meksiko itu menjadi takut meski dirinya telah dalam kondisi terdesak dan terluka parah. Dia masih bisa tertawa sinis sambil meludah darah ke samping tubuhnya.
Melihat sikap arogan Juan Pablo, emosi dalam diri Adriano semakin menggebu. Dia bersiap untuk mengakhiri pertarungan, sampai pintu katerdral didobrak dari luar.
"Hentikan, Nak!" cegah Damiano setengah berseru, ketika melihat Adriano yang akan menghabisi Juan Pablo dengan beringas. Saat itu, kedua pria tadi sudah dalam kondisi sama-sama terluka parah, hingga mengeluarkan darah segar yang menetes dan mengotori pakaian keduanya.
Damiano baru muncul di lokasi yang menjadi tempat pertarungan dari dua kekuatan besar, Adriano melawan Juan Pablo. Pria tua itu melangkah penuh haru ke dekat putra dari Mattea Juanita Herrera yang sudah dalam keadaan terdesak. "Juan, Anakku." Dia menurunkan tubuhnya tepat di sebelah pria yang berjuluk Elang Rimba tadi. Bergetar tangan sang ayah asuh dari mendiang Matteo de Luca itu, ketika dirinya menyentuh rambut hitam Juan Pablo dan membelainya lembut. "Kenapa kau melakukan semua ini, Nak?" tanyanya.
"Seharusnya aku melakukannya sejak bertahun-tahun yang lalu," jawab Juan Pablo masih tetap menunjukkan sisi angkuhnya. Sesekali, pria itu meringis kecil menahan sakit dari luka yang dialami.
"Menyingkirlah, Damiano. Biarkan aku menghabisi bajingan tengik ini sekarang juga!" Adriano berkata dengan nada bicaranya yang terdengar dingin, dan disertai sorot mata yang teramat bengis.
"Tidak, Nak! Tidak!" tolak Damiano dengan tegas. Dia mengarahkan tatapannya kepada Adriano yang sudah dikuasai amarah tak terbendung. "Lebih dari tiga tahun yang lalu, aku menyaksikan Matteo tewas bersimbah darah di tempat ini. Perasaan sakit karena kehilangan itu masih ada hingga sekarang. Aku telah kehilangan seorang putra yang teramat kucintai." Damiano tertunduk untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria itu kembali mengangkat wajah, lalu mengalihkan pandangan kepada Juan Pablo yang masih terlihat susah payah menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Ketahuilah sesuatu, Juan," ucap Damiano lagi dengan suara bergetar. "Aku sudah bisa mengenalimu dari sejak pertama kali kau datang ke Casa de Luca waktu itu. Aku langsung tahu bahwa pria tampan ini merupakan putra dari Mattea Herrera," tutur pria tua tersebut.
"Bagaimana kau bisa mengenal ibuku?" tanya Juan Pablo heran sambil memegangi dada. Darah segar pun menetes lagi dari sudut bibirnya. Pria asal Meksiko itu tampak begitu emosional saat Damiano menyebutkan nama sang ibu.
"Tenangkan dirimu, Nak. Bernapaslah dengan baik," saran Damiano seraya menyentuh pundak Juan Pablo. Sementara yang lainnya hanya terpaku memperhatikan dengan raut wajah tak mengerti. Begitu juga Adriano yang masih berdiri tegak. Sementara kedua tangannya terkepal sempurna.
"Akan kuceritakan sesuatu padamu, Juan," ucap Damiano lagi. Pria itu terdiam sejenak dengan tatapan menerawang. "Aku tahu jika saat itu kau pasti belum ingat apapun. Waktu di mana Mattea Herrera membawamu ke Casa de Luca untuk yang pertama, sekaligus terakhir kalinya. Usiamu baru sekitar dua tahun. Kau sangat tampan. Ya, kau sudah terlihat tampan dari kecil, Juanito. Seperti itulah Mattea memanggilmu," tutur Damiano pelan tapi pasti.
"Bagaimana kau bisa mengenal ibuku?" tanya Juan Pablo lagi.
__ADS_1
"Aku tidak mengenalnya. Aku baru mengetahui seperti apa Mattea Herrera secara langsung, pada saat dia datang membawamu ke Casa de Luca. Mattea adalah wanita yang ramah dan sangat sopan. Dia juga cantik tentunya. Namun, tidak bagi tuan Corradeo de Luca," tutur Damiano lagi yang seketika membuat Marco tersentak.
"Apa hubungannya kakek Corradeo dengan semua ini?" tanya sang ketua Klan de Luca tersebut.
"Tuan Corradeo adalah pria tegas dengan kekuasaan yang sangat luas. Pengaruhnya begitu besar, sehingga banyak di antara para kolega bisnis yang ingin berbesan dengannya. Satu yang beruntung adalah keluarga Castruccio. Mereka salah satu bangsawan ternama di Italia," terang Damiano.
"Keluarga bibi Gabriella?" tanya Marco meyakinkan.
"Ya, kau benar," sahut pria tua itu lagi seraya mengangguk pelan. "Tuan Corradeo memilihnya untuk berbesan. Kesepakatan perjodohan pun ditentukan. Namun, ternyata tak semulus rencana para penguasa pada kenyataannya. Tuan Roberto de Luca menolak tegas keputusan tersebut, karena dia telah memiliki seorang kekasih. Gadis asal Spanyol yang berprofesi sebagai perawat. Sayang sekali, gadis itu bukanlah dari kalangan seorang bangsawan. Dia adalah Mattea Juanita Herrera. Ibunda Juan Pablo." jelas Damiano yang seketika membuat mereka semua terkejut bukan main. Cuma Juan Pablo yang menunjukkan raut datar dan seakan tak peduli.
"Juan kau ...." Marco tak melanjutkan kata-katanya.
"Kalian keluarga kaya yang tak berotak!" maki Juan Pablo di sela-sela kesakitannya.
"Jangan salah paham, Juan," tegur Damiano. Dia beruasaha untuk meluruskan semua kekeliruan yang berlangsung selama puluhan tahun tersebut.
"Aku tak sedang melakukan sebuah pembelaan terhadap siapa pun, Nak. Ini adalah hal yang sebenarnya. Aku menjadi saksi hidup dari ketegangan yang terjadi antara tuan Roberto dengan tuan Corradeo de Luca. Hampir setiap hari mereka berselisih, karena tuan Roberto bersikeras menolak. Dia ingin tetap mempertahankan ibumu dan juga kau, Juan. Dia mengakuimu sebagai putranya yang sah, meskipun saat itu aku pun tak tahu apakah pernah terjadi pernikahan diam-diam atau tidak antara tuan Roberto dengan ibumu."
"Persetan dengan keluarga de Luca!" sentak Juan Pablo hingga dirinya batuk-batuk. Darah pun kembali menetes dari mulut pria tampan tersebut.
"Puncaknya adalah hari itu, saat di mana tuan Roberto membawa kalian ke Casa de Luca. Niatnya hendak mengenalkan kalian berdua. Dia berharap agar tuan Corradeo bisa menerima kau dan ibumu. Namun, semua berakhir seperti yang telah diperkirakan." Damiano kembali tertunduk lesu.
"Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat Juanito kecil yang malang. Kau menangis saat melihat ibumu berurai air mata atas penolakan keras dari tuan Corradeo de Luca."
"Juan, orang yang telah kau habisi di tempat ini adalah adikmu sendiri. Tuan Roberto pun tak melupakan kalian begitu saja. Karena itulah dia memberikan nama Matteo kepada putra semata wayangnya. Itu sebagai bukti bahwa dalam hati kecilnya, dia masih menyimpan nama ibumu 'Mattea'. Aku sangat mengetahui hal itu, karena tuan Roberto kerap bercerita padaku. Aku adalah ayah kedua bagi Matteo, dan tuan Roberto menganggapku seperti saudaranya sendiri."
__ADS_1
"Kau telah keliru jika berpikir bahwa ayahmu adalah seseorang yang tak bertanggung jawab dan tak punya hati. Kau salah besar karena menganggap keluarga de Luca sebagai musuhmu. Hal yang tidak termaafkan adalah ketika kau pun harus menghabisi adikmu sendiri.
Juan, seandainya saat itu kau datang pada kami. Tunjukkan siapa dirimu dan bicara baik-baik, aku pasti akan jauh lebih bahagia karena memiliki banyak putra dan tak harus merasa kehilangan." Damiano menyeka air mata yang mulai membanjiri wajahnya. Kepedihan yang telah terkubur sekian lama, kini terusik lagi. Kenangan pahit atas kematian Matteo memang teramat sulit untuk dia lupakan begitu saja, meskipun dirinya mencoba untuk terlihat bahagia.
"Karena itulah, Damiano. Biarkan aku membalaskan kematian Matteo de Luca, demi kepedihan Mia, demi masa depan Miabella yang entah akan seperti apa andai Mia tak dipertemukan denganku, dan demi air mata yang kau teteskan sebagai seorang ayah!" ucap Adriano penuh penekanan. Tak tahan dirinya untuk segera menghabisi Juan Pablo yang terlihat sudah tak berdaya.
"Bunuhlah aku, Adriano," tantang Juan Pablo seraya tertawa sinis penuh ejekan. "Apa kau tak sadar bahwa kita berdua memiliki nasib yang sama, sebagai anak yang terabaikan?" Juan Pablo memejamkan matanya untuk beberapa saat. Bayangan paras cantik Gianna dengan senyuman manisnya hadir di pelupuk mata. Juan Pablo mengela napas dalam-dalam kemudian mengempaskannya perlahan.
"Silakan habisi aku di sini. Kalian ingin memberondongku dengan peluru? Lakukanlah. Akan tetapi, izinkan aku untuk berpamitan kepada seseorang yang saat ini sedang menunggu kepulanganku," pinta Juan Pablo tenang. Dia seperti sudah pasrah menerima kematiannya.
"Berpamitanlah pada dunia ini, Brengsek!" maki Coco seraya melemparkan ponsel ke atas tubuh Juan Pablo yang berusaha untuk duduk. Dia meraih ponsel tadi kemudian mengetikkan deretan angka yang merupakan nomor ponsel. Juan Pablo pun menyentuh ikon loudspeaker pada layar.
"Pronto," terdengar suara seorang wanita yang sangat Adriano kenal sebagai suara milik Gianna.
"Bice," sahut Juan Pablo berusaha untuk terdengar baik-baik saja.
"Juan? Apa ini kau?" tanya Gianna. "Kapan kau kembali? Tubuhku rasanya tak karuan. Seharian ini aku sudah berkali-kali memuntahkan semua makanan," keluh Gianna tanpa tahu keadaan Juan Pablo yang sebenarnya.
"Paksakan untuk makan," balas Juan Pablo. "Jaga dirimu baik-baik selagi aku tak ada," pesannya yang kemudian diiringi senyum getir. Sementara mulut pria tampan itu semakin berlumuran darah.
"Memangnya kau hendak ke mana? Kau tidak akan membiarkanku sendirian dalam melewati masa-masa kehamilan ini, bukan?" protes Gianna yang seketika membuat Adriano membelalakan matanya.
🍒 🍒 🍒
Mari kita lanjut ke rekomendasi novel kedua untuk hari ini.
__ADS_1