
Adriano hanya terdiam memperhatikan pria yang kini tengah bersimpuh sambil memegangi kakinya. Dingin, tatapan serta ekspresi pria bermata biru tersebut dia layangkan kepada Emiliano. Adriano seakan tak peduli jika pria yang tengah memohon ampun padanya itu, adalah pria yang telah membuat dia terlahir ke dunia. Rasa marah, benci, dan juga jijik bercampur menjadi satu dalam dadanya. "Beruntunglah karena aku tidak mengikuti jejakmu, Emiliano Moriarty," geram pria bermata biru tersebut pelan tapi penuh penekanan.
"Jangan, Nak. Jangan pernah mengikuti jejakku. Aku tidak berharap kau melakukan suatu kebodohan seperti yang pernah kuperbuat di masa lalu. Cukup ayahmu saja yang merasakannya," ucap Emiliano tanpa mengubah posisi. Dia masih bersimpuh di hadapan Adriano. "Aku tahu jika kau pasti sangat membenciku. Akan tetapi, kini aku sudah semakin tua. Aku tak ingin membawa beban dosa ini hingga nanti ketika aku harus mati,” ucap pria paruh baya itu lagi penuh sesal.
“Kau terlihat sangat menyedihkan. Emiliano Moriarty ternyata sama pengecutnya seperti Ilario dan juga Agustine. Aku heran bagaimana kalian masih bisa percaya diri menyandang nama besar Moriarty,” ucapan yang terdengar sangat ketus dari Adriano ditujukan untuk sang ayah.
“Lihatlah aku,” Adriano kembali berkata masih dengan penekanan dan nada yang sama seperti tadi. “Saat ini aku sudah dewasa. Tubuhku bahkan telah jauh lebih tinggi darimu. Kenapa kau harus bersikap peduli padaku? Adriano D’Angelo bisa menjaga dirinya dengan baik,” tegas pria itu.
“Aku ayahmu. Sudah sewajarnya jika diriku bersikap peduli. Bagaimana kau bisa mempertanyakan hal seperti itu?”
“Lalu kau di mana ketika aku membutuhkan sebuah perlindungan darimu sebagai ayahku? Tidakkah kau mendengar suara tangisan serta rintihan kesakitan, saat Claudia memukuli dan melampiaskan seluruh amarahnya padaku?” Adriano beranjak dari duduknya kemudian berdiri tegak, memperlihatkan sikap layaknya seorang penguasa.
“Aku terlunta-lunta di jalanan, kelaparan. Saat itu, pintu kematian seakan sudah terbuka lebar untukku. Kau menyakiti hati Domenica D’Angelo. Namun, sayangnya karena ternyata dirimu tak berniat untuk memperbaiki kesalahan terhadap ibuku. Dia terpaksa menyerahkanku padamu dengan satu harapan bahwa kau akan merawatku dengan baik. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Kau begitu tunduk di bawah mulut kasar istrimu yang menyebalkan. Dia seperti iblis betina yang sangat mengerikan. Namun, itu dulu. Sekarang tidak ada iblis yang tak bisa kutundukkan. Apalagi dia hanya seorang wanita tua tak berdaya,” ucap Adriano dengan raut yang terlihat sangat serius. Garis wajahnya tampak begitu tegas dan menyiratkan sebuah keberanian yang besar. “Bangunlah. Seharusnya kau berlutut di hadapan ibuku, bukan di hadapanku. Adriano D’Angelo tak akan terenyuh oleh hal seperti itu,” ucap pria bermata biru tersebut seraya memalingkan wajah. Sesaat kemudian, dia bahkan membalikkan badan sehingga membelakangi sang ayah.
Sementara itu, Emiliano perlahan memberanikan diri untuk mendongak. Sebelum dirinya memutuskan berdiri, pria paruh baya tersebut menatap sang anak untuk beberapa saat. Tak salah jika Adriano bersikap begitu padanya. Emiliano mengakui segala kelemahan yang dia miliki, bahkan hingga saat ini pun Claudia masih kerap memegang kendali atas dirinya. Sebuah karakter yang sangat jauh berbeda dengan sang kakak, yaitu Alessandro Moriarty.
Kini, Emiliano harus hidup dalam penyesalan yang tak berujung. Rasa bersalah kepada Domenica dan juga Adriano terus merantai langkahnya, hingga dia tak dapat berjalan dengan cepat apalagi sampai berlari. Tak ayal, perasaan itu terus mengikuti dan bahkan menghantui dirinya. Namun, ternyata untuk meminta pengampunan kepada Adriano pun tak semudah yang dia pikirkan.
Emiliano lalu berdiri dengan tatapan yang masih tertuju kepada putranya. Sedangkan Adriano lebih memilih untuk membelakangi pria itu. Adriano tak ingin memperlihatkan bahwa sebenarnya dia pun merasakan sesuatu yang tak nyaman dan teramat mengganggu.
“Katakan kenapa kau sampai menjemputku ke tempat itu, Nak?” tanya Emiliano lirih. Dia masih berharap agar Adriano memberikan sebuah jawaban seperti yang diinginkannya.
__ADS_1
“Itu karena Gianna datang dan meminta bantuanku,” jawab Adriano dingin dan tanpa menoleh sedikit pun.
“Tidak adakah alasan yang lain?” Emiliano masih berharap lebih.
“Karena kedua putramu tak ada yang berani bertindak. Ilario bahkan melarikan diri dan membiarkan ayahnya menjadi sasaran. Sungguh memalukan,” cibir Adriano sinis. “Sudahlah. Aku sangat lelah. Mia juga tidak suka jika aku terlambat masuk kamar,” tanpa berbasa-basi lagi, Adriano melangkah pergi meninggalkan sang ayah.
Akan tetapi, baru saja Adriano berjalan beberapa langkah, pria itu harus tertegun ketika Emiliano kembali berbicara padanya. “Apa kau ingin bertemu dengan ibumu, Nak?” tanyanya. Namun, Adriano tak segera menjawab. Dadanya terasa semakin bergemuruh. Ya, tentu saja. Anak mana yang tak ingin berjumpa dengan ibu yang sekian lama tidak ditemuinya. “Jika kau mau, maka aku bisa menemanimu untuk bertemu dengannya,” ucap Emiliano lagi.
“Kapan?” tanya Adriano setelah dirinya berpikir untuk beberapa saat.
“Kapan pun kau siap,” sahut Emiliano. “Bagaimana jika besok? Selagi kau masih berada di Italia. Ini kesempatan yang baik untukmu,” ucapnya lagi.
Adriano tak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan, kemudian melanjutkan langkahnya. Sementara Emiliano masih terpaku memperhatikan sang putra yang kini telah menghilang di balik dinding kokoh bangunan Casa de Luca. Dia melangkah masuk dengan raut tegang. Tak ada senyum sedikit pun dari paras tampannya saat itu. Pandangan Adriano tertuju lurus ke depan. Dia bahkan tak menyadari keberadaan Coco di ruang tamu yang dilewatinya. Pria berambut ikal tersebut sedang asyik memainkan ponsel. Tampaknya dia baru kembali, karena di atas meja terlihat helm dan juga kunci motor. Coco pun masih mengenakan jaket kulit kesayangannya. “Hey, Amico,” sapanya kepada Adriano yang lewat begitu saja.
“Ya, begitulah. Aku baru kembali dari Milan,” sahut Coco. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya yang merasa heran dengan sikap Adriano. Namun, sang ketua Tigre Nero tak menjawab. Dia hanya mengempaskan napas pelan seraya kembali melangkah. Sementara Coco menggeleng tak mengerti. Dia memilih untuk kembali memainkan ponsel, hingga terdengar suara Adriano yang tiba-tiba berbicara lagi padanya. Coco kembali meletakkan benda itu, kemudian menoleh.
“Apa kau tahu dengan organisasi kecil di wilayah Genova?” tanya Adriano.
“Genova? Organisasi yang mana? Setahuku di sana ada dua organisasi kecil,” ujar Coco. Dia memainkan kedua bola matanya tanda sedang berpikir. “Ah, tidak. Dua organisasi itu sudah bersatu,” ralatnya kemudian.
“Organisasi yang diketuai oleh Giusto Baldovino,” Adriano menegaskan.
__ADS_1
“Ya, itu maksudku. Namun, semenjak Giusto tiada, organisasi itu dipegang oleh putranya yang bernama Nicola. Sayangnya, Nicola tidak secakap ayahnya. Ada beberapa anak buah mereka yang tertangkap ketika sedang bertransaksi narkoba,” terang Coco membuat Adriano menjadi tertarik untuk melanjutkan perbincangan tersebut.
“Kau tahu banyak tentang organisasi itu rupanya. Aku mengenal Giusto karena dulu dia selalu mengambil barang dariku,” ucap Adriano seraya duduk tak jauh dari Coco.
“Ya. Mereka organisasi kecil, tapi bisa menyuplai obat-obatan terlarang ke hampir seluruh pelosok Italia. Sekarang masuk akal jika ternyata Tigre Nero ada di belakangnya,” ujar Coco manggut-manggut.
“Dari mana kau bisa mengetahui seluk-beluk tentang mereka?” tanya Adriano lagi.
“Ada seorang kenalanku di sana. Sahabat lama,” sahut Coco.
“Apa kau tahu sekarang organisasi itu berada di bawah pimpinan siapa?” Adriano kembali bertanya. Entah kenapa dia merasa tertarik dengan hal itu.
“Kenapa memangnya? Apa kau berniat untuk kembali bekerja sama dengan mereka?” Coco malah balik bertanya. “Sejujurnya aku tidak terlalu peduli dengan organisasi tersebut, karena itu juga hanya sebatas obrolan ringan antara diriku dengan Stefano. Sahabatku itu hanya ingin berbagi kebahagiaan atas jabatan barunya dalam organisasi,” ujar Coco santai.
“Stefano?” ulang Adriano seraya menautkan alis.
“Ya. Stefano Verratti. Dia yang bertanggung jawab atas organisasi itu sekarang, setelah Nicola resmi menyerahkannya pada seseorang yang mereka sebut sebagai bos besar."
🍒🍒🍒
Jangan bosan ya, ini ceuceu rekomendasikan lagi satu novel keren.
__ADS_1