Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Emiliano's Kidnapping


__ADS_3

“Kita akan pergi ke mana?” tanya Gianna ketika Adriano membelokkan kendaraan ke arah rumahnya. Gadis itu belum tahu bagaimana cara kerja seorang Adriano D'Angelo.


“Aku akan mencari petunjuk di ruang kerja milik Padre,” jawab Adriano singkat, datar, dan tanpa menoleh sedikit pun.


“Begitu ya, ta-tapi ....” raut Gianna mendadak gelisah. Dia memainkan ujung dressnya. “Bagaimana jika Padra dibawa semakin jauh hingga tak diketahui lagi keberadaannya,” gumam gadis berambut pirang itu dengan teramat was-was.


“Kau ingin aku mengejarnya ke mana? Brescia dan Milan sangatlah luas. Padre bisa berada di mana saja saat ini,” Adriano berdecak kesal. Dia terus melajukan kendaraan hingga tiba di depan gerbang kediaman Emiliano Moriarty. Akan tetapi, pria itu tak langsung turun dari kendaraannya. Adriano merogoh ponsel dari saku kemeja. Dia lalu menghubungi seseorang terlebih dulu.


“Kau hendak menghubungi siapa?” tanya Gianna lagi terlihat resah.


Adriano tak menjawab. Pria bermata biru itu tak memedulikan pertanyaan adik tirinya tersebut. Dia masih terus menempelkan ponsel di telinga sampai terdengar seseorang di seberang sana yang menjawab panggilannya. “Detektif Ignazio. Apa kabar?” sapa Adriano ramah.


“Aku ingin meminta sedikit bantuanmu,” mata biru pria itu melirik kepada Gianna, seakan memberi isyarat padanya.


Adik tiri Adriano itu sepertinya merupakan yang paling cerdas jika dibandingkan dengan kedua saudaranya yang lain. Dia dapat memahami dengan cepat apa yang Adriano maksud, meskipun hanya melalui isyarat mata. Dengan cepat, Gianna mengarahkan telapak tangannya yang bertuliskan sebuah plat nomor kepada Adriano. Lalu, Adriano pun segera menyebutkan plat nomor tersebut kepada sang detektif. Setelah itu, sang ketua Tigre Nero kemudian mengakhiri panggilannya. “Kita akan bergerak setelah mendapat kabar dari detektif,” ujarnya seraya keluar dari kendaraan.


Tanpa menunggu Giana, Adriano mendorong pintu gerbang hingga terbuka lebar. Dia lalu kembali ke dalam mobil. Adriano melajukan kendaraan itu hingga masuk ke halaman. Bersamaan dengan dirinya yang baru turun dari mobil, Claudia sang ibu tiri juga muncul dari dalam rumah. “Adriano,” sapanya ragu.


Akan tetapi, pria bermata biru itu tak menyahut sama sekali. Dia malah melewati Claudia begitu saja dan segera memasuki rumah besar yang tak begitu terawat itu. Claudia sendiri tak berani berkomentar apapun, apalagi setelah melihat Gianna yang menempelkan telunjuknya di bibir sebagai tanda agar sang ibu tak banyak bicara.


“Buatlah dirimu berguna, Matrigna. Bantu aku menemukan petunjuk sekecil apapun di ruang kerja Padre,” ujar Adriano seraya berjalan menuju sebuah pintu salah satu ruangan, kemudian membukanya. Dia masih sangat hafal dengan setiap bagian dari rumah besar yang pernah menjadi tempatnya bernaung dulu.


Adriano memasuki ruang kerja sang ayah. Dia juga masih dapat mengingat dengan jelas password komputer Emiliano, sehingga dengan mudah dirinya dapat mengakses segala file yang ada di dalam sana. Sorot matanya tampak serius membaca serangkaian data yang muncul di layar dengan begitu teliti. Dia memulai penyelidikannya dari laporan keuangan, hingga aktivitas perusahaan yang sudah dalam status pailit. Pria rupwan itu mengernyitkan kening saat melihat satu kejanggalan yang didapati dalam laporan tersebut. “Apa kedudukan Ilario di dalam perusahaan Padre?” tanyanya pada Claudia yang saat itu tengah sibuk membuka buku satu per satu. Buku-buku itu berjejer rapi di dalam rak. “Apa yang kau lakukan?” Adriano menautkan alis karena keheranan atas tingkah ibu tirinya.


“Biasanya ayahmu selalu menyembunykan surat-surat penting di dalam sini. Siapa tahu ada yang terlewat,” jawab Claudia tanpa berhenti membuka tiap lembaran dari buku demi buku.


“Aku bisa melihat di sini daftar pemberi pinjaman. Semuanya adalah berasal dari pihak bank. Padre tak pernah meminjam uang di luar itu, maupun meminjam pada individu. Akan tetapi ….” Adriano berhenti berbicara. Demikian pula dengan Claudia. Dia juga tak melanjutkan apa yang tadi dilakukannnya. Mereka saling pandang dalam diam. “Aku membuka banyak email masuk, dan seluruhnya berasal dari nama-nama pemegang saham di perusahaan Padre. Mereka mengucapkan telah menerima pengembalian dana investasi,” lanjutnya.

__ADS_1


“Apa itu maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti,” Claudia menggaruk keningnya dengan gugup, lalu berteriak, “Gianna! Bantu aku!” seperti biasa. Sikap wanita itu masih belum berubah sejak dulu, membuat Adriano hanya dapat menggeleng perlahan.


“Kau ingin tahu? Itu artinya bahwa para investor di perusahaan sudah mendapatkan uang mereka kembali. Uang itu sebelumnya diinvestasikan di perusahaan Emiliano Moriarty. Ini aneh sekali, karena dari mana Emiliano Moriarty yang bangkrut bisa mentransfer uang dalam jumlah sebanyak itu?” selidik Adriano. Matanya tak lepas dari gerak-gerik Claudia yang tampak semakin gugup.


“Gianna!” bukannya menjawab, Claudia malah kembali berteriak lantang memanggil anak bungsunya itu.


“Ah, biar kuralat,” jemari Adriano tampak mengarahkan kursor ke salah satu email lain yang belum dia buka. Pria itu lalu membaca dengan teliti email tersebut, kemudian tersenyum sinis. “Ternyata bukan Padre yang mentransfer uang-uang itu, melainkan Ilario. Kenapa Ilario melakukan hal demikian? Dari mana dia mendapatkan uang dalam jumlah sebesar itu?” cecarnya penuh selidik.


“Ada apa, Bu? Kenapa harus berteriak-teriak?” Gianna menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


“Panggil kakakmu!” titah Claudia pelan tapi tegas dengan sorot mata yang sangat menakutkan, meskipun suaranya hampir tak terdengar.


“Ilario tidak ada. Dia keluar beberapa saat yang lalu, setelah tahu bahwa Adriano datang,” sahut Gianna tak acuh.


“Ck!" Adriano berdecak kesal, "cepat telepon dia!” titah Adriano sambil berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja. “Apakah Ilario masih menempati kamarnya yang dulu?” tanpa permisi, Adriano melangkah gagah menaiki tangga. Dia langsung menuju kamar saudara tirinya yang terletak di lantai dua.


“Pintu kedua di sebelah kirimu,” tunjuk Gianna yang ternyata juga mengikuti mereka. Dia tak peduli meskipun Claudia melotot tajam ke arahnya.


Adriano berjalan ke arah pintu yang sudah ditunjuk oleh Gianna. Namun, sayangnya ternyata pintu itu dalam keadaan terkunci. Tak ingin membuang waktu, dia menendangnya hingga jebol dan terbuka lebar.


“Hei! Apa yang kau lakukan!” sebuah teriakan kencang keluar dari samping kamar Ilario. Anak tertua Emiliano, telah berdiri di sebelah Adriano dengan mata nyalang, lalu bergerak secepat kilat menghalangi pergerakannya.


“Minggirlah, Agustine! Aku tak punya banyak waktu,” sergah Adriano. Raut wajah dan nada bicaranya terdengar tegas. Sesaat kemudian, sikap pria itu berubah dan kembali terlihat tenang. Namun, siapa sangka jika bahasa tubuhnya tetap dirasa begitu mengintimidasi bagi mereka yang ada di sana.


“Tidak ada yang boleh berbuat seenaknya di kediaman Moriarty!” Agustine memberanikan diri menghalang-halangi gerak Adriano. Dia juga mendorong tubuh tegap sang ketua Tigre Nero tersebut. Akan tetapi, pria rupawan itu terlalu kokoh dan kuat untuk seseorang seperti Agustine. Dia tetap tegak berdiri di tempatnya.


Dengan raut yang terlihat sangat tenang, Adriano menarik kerah kemeja Agustine lalu mengangkatnya, sampai-sampai Agustine harus berjinjit karena tak ingin tercekik.

__ADS_1


“Minggir atau kupatahkan lehermu,” gertak Adriano. Dia sama sekali tak terlihat main-main saat itu. Wajah tenang yang ditunjukkannya tadi kini berubah menjadi seringai menakutkan.


Ciut, Agustine terpaksa menurut dan menyingkir. Sedangkan Claudia tak berani menengahi. Dirinya hanya terpaku di ujung tangga, menyaksikan seseorang yang saat masih bocah selalu dia pukuli. Kini, bocah itu telah menjelma menjadi pria kuat tak tertandingi. Namun, pada akhirnya Claudia ikut masuk.


“Tidak ada apapun di dalam kamar Ilario,” ujar Agustine kemudian di sela rasa takutnya.


“Jika memang tidak ada, kenapa kau harus menghalang-halangi? Jangan ikut campur karena aku yang memutuskan,” Adriano mulai membalik bantal-bantal dan selimut di atas ranjang. Dia juga menggeser sofa kemudian membuka lemari pakaian. Tak hanya itu, pria tiga puluh dua tahun tersebut mengeluarkan laci dan membuang seluruh isinya. Dia baru berhenti ketika dirinya menemukan sebuah bungkusan besar berwarna hitam.


Dengan segera, Adriano membukanya. Sesaat dirinya mengamati bungkusan itu, kemudian terbelalak. “Milik siapa ini?” Adriano menoleh dan menatap ibu beserta saudara-saudara tirinya. Gianna langsung menggeleng. Jelas terlihat jika dia sama sekali tak tahu menahu. Lain halnya dengan Claudia dan Agustine yang mendadak pucat pasi.


“Kutanya sekali lagi, milik siapa ini?” Adriano merogoh ke dalam bungkusan tersebut dan mengambil beberapa kantong plastik kecil berisi serbuk putih, lalu melemparnya ke dekat kaki Claudia.


“Apakah itu .…” Claudia ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


“Ya, itu adalah heroin,” ucap Adriano. “Kenapa Ilario memiliki heroin sebanyak ini di dalam kamarnya? Apa dia menjadi bagian dari organisasi mafia atau hanya pengedar saja?”


Agustine menggeleng pelan. Keringat dingin mulai mengalir deras di keningnya.


“Tidak adakah yang berkeinginan untuk menjawab?” Adriano memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, sementara tangan lainnya merogoh ponsel lalu menjawab panggilan masuk. “Bagaimana, Detektif?” tanyanya tanpa melepaskan pandangan dari Agustine dan Claudia. Dia menggumam pelan seraya mengangguk perlahan, lalu mengakhiri panggilan.


“Baiklah. Jika tak ada satu pun yang bersedia untuk menjawab, maka biar kutebak sendiri," Adriano memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja. “Orang-orang itu menculik Padre, akibat ulah Ilario. Begitukah, Ibu?” dia memberikan penekanan lebih pada kata ‘ibu’.


🍒🍒🍒


Hai readers, satu lagi rekomendasi novel keren yang ceuceu persembahkan.


__ADS_1


__ADS_2