Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Astucia


__ADS_3

Pagi itu terasa cukup dingin, tapi tak membuat Juan Pablo terus terlelap dalam tidurnya. Pria tampan tersebut harus mengakhiri mimpi malam yang indah dan merasa terganggu, ketika dia merasakan ada seseorang yang sejak tadi memainkan pangkal hidungnya yang mancung. Perlahan, Juan Pablo membuka mata. Tampaklah paras cantik Gianna. Gads cantik itu tengah tersenyum padanya dengan wajah polos. Dia juga tertidur dalam posisi menyamping sambil menghadap ke arahnya. "Buon giorno (Selamat pagi)," sapa pria berambut gelap tersebut pelan. "Kau cantik sekali," ucapnya lagi, seraya menyentuh paras sang kekasih dengan menggunakan punggung tangan.


"Aku pikir kau tidak menginap di sini, Juan," ucap Gianna dengan suara parau.


"Aku merindukanmu. Akan tetapi, semalam kau tidur cepat," balas Juan Pablo dengan sebuah senyuman kecil. Dia masih membelai pipi gadis cantik bermata biru di hadapannya. Bisa jadi bahwa Gianna adalah wanita kedua yang mampu meredam segala amarah dalam diri pria asal Meksiko tersebut, selain Mattea tentunya. "Apa kau yakin jika dirimu baik-baik saja, Bice?" tanya pria itu kemudian. Juan Pablo melihat ada sesuatu yang lain dari diri sang kekasih.


"Aku baik-baik saja, Juan. Terima kasih," jawab Gianna tersenyum lembut. Dia lalu menyentuh rahang kokoh pria yang selama ini telah berhasil mencuri hatinya. "Ayahku selalu berpesan agar aku bisa menjadi wanita yang kuat dan tidak manja. Aku menyandang nama besar Moriarty. Rasanya memalukan jika diriku terlalu lemah atau bahkan menjadi pecundang, meskipun ayah bukanlah seseorang seperti paman Alessandro," tutur Gianna.


"Kenapa ayahmu lebih memilih jalan lain?" tanya Juan Pablo dengan tatapan lekat yang dia layangkan terhadap Gianna.


"Ayahku hanya ingin hidup tenang, itu yang dia katakan padaku. Namun, pada kenyataannya hingga kini ... entahlah, terkadang aku merasa begitu kasihan padanya. Dia semakin tua, tapi belum menemukan ketentraman hati yang diimpikannya selama ini," sesal Gianna. Setitik air mata jatuh di atas bantal, setelah meleleh dan melewati batang hidung bagian atasnya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Juan Pablo dengan suara yang terdengar berat dan dalam. Dia menyeka air mata itu. Juan Pablo lalu teringat kepada sang ibu yang kerap menitikkan air mata saat tengah memberikan nasihat kepada dirinya.


"Aku hanya terbawa perasaan. Entah kenapa, akhir-akhir ini diriku menjadi jauh lebih sensitif," sahut Gianna tersenyum nanar.


"Aku tidak suka melihatmu menangis. Jika saatnya nanti telah tiba dan diriku sudah merasa siap, maka aku pasti akan langsung membawamu. Aku ingin agar kita hidup jauh dari Italia. Dari Eropa," ujar Juan Pablo dengan yakin. Dia lalu meraih tangan Gianna, kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Ke mana kau akan membawaku, Juan?" tanya gadis berkulit putih itu.


"Bagaimana dengan Amerika? Bukankah kau selalu ingin ke sana?" tawar Juan Pablo yang seketika membuat wajah murung Gianna menjadi berubah ceria. Sepasang mata biru gadis itu berbinar indah. Gianna pun tersenyum bahagia. "Kau mau?" tanyanya meyakinkan.


"Tentu saja. Aku akan merasa bahagia ke manapun kau membawaku," sahut Gianna yakin, "tapi, Amerika adalah impianku sejak lama."


"Sungguh? Apa itu artinya bahwa kau sangat mencintaiku, Bice?" tanya Juan Pablo lagi. Dia yang biasanya hanya diam, saat berhadapan dengan Gianna selalu berubah menjadi seseorang yang lebih banyak bicara. Hal itu dapat disadari dengan jelas oleh pria berjuluk Elang Rimba tersebut. Namun, Juan Pablo tak terlalu memedulikannya.


"Kau pria yang kuinginkan, Juan. Apa kau juga menginginkanku?" tanya Gianna dengan raut wajah penuh harap.

__ADS_1


"Lebih dari yang kau bayangkan," sahut Juan Pablo. Dia menarik gadis cantik tersebut agar semakin mendekat padanya. Tanpa banyak bicara lagi, Juan Pablo mendekap tubuh semampai itu dengan erat. Gianna pun kembali memejamkan mata. Pagi yang dingin tak begitu terasa, karena dirinya kini berada dalam hangatnya pelukan seseorang yang tercinta.


Beranjak siang, Gianna telah bersiap untuk pergi ke club dan melakukan tugasnya. Dia memang sengaja mengambil jam siang saat tempat hiburan malam itu tutup, karena Gianna tak terbiasa dengan hingar-bingar suasana sebuah night club.


"Aku sedang bersiap-siap untuk mengadakan pesta peresmian kasino. Pesta itu akan dilangsungkan beberapa hari lagi di Birmingham, Inggris. Adriano juga pasti hadir di sana, karena ini merupakan proyek kerja sama antara kami berdua," tutur Juan Pablo setelah memarkirkan mobil sedan hitam kesayangannya di halaman depan Angelo Notturno, club malam milik Adriano.


"Jadi, kau akan segera berangkat ke Inggris?" tanya Gianna dengan raut sedikit kecewa. Entah apa yang terjadi, karena seperti ada dorongan dalam dirinya yang membuat dia ingin selalu berada di dekat Juan Pablo. Padahal, selama ini gadis itu sudah terbiasa dengan hubungan jarak jauh di antara mereka berdua.


"Aku harus mempersiapkan semuanya, Bice. Ini bukan acara sembarangan," sahut Juan Pablo yang masih duduk di belakang kemudi.


"Kau baru datang dan akan segera pergi lagi," keluh Gianna kecewa. Dia yang tadinya setengah menghadap kepada Juan Pablo, langsung saja menyandarkan tubuh sambil memasang wajah merajuk.


"Siapa yang tadi mengatakan tak ingin menjadi gadis yang manja?" sindir Juan Pablo. Sedangkan Gianna tak menjawab. Gadis itu hanya mendelik dengan begitu sinis kepada sang kekasih. "Astaga." Pria bermata cokelat madu tadi segera melepas sabuk pengaman yang melintang di dada. Dia lalu mendekat dan membalikkan wajah Gianna sehingga menghadap padanya. Juan Pablo mencium gadis itu dengan mesra, membuat Gianna tak mampu berkutik dan meluruhkan segala rasa kesal dengan seketika.


"Apa kau merokok saat menungguku bersiap-siap tadi?" tanya gadis berambut pirang itu seraya memasang wajah tak nyaman.


"Aku tidak menyukai baunya! Mulai saat ini aku ingin agar kau berhenti merokok!" tegas Gianna yang membuat Juan Pablo tampak semakin keheranan.


"Hey, kenapa dirimu menjadi begitu sensitif? Sebelumnya kau tak ada masalah apapun dengan hal itu," pikir Juan Pablo yang kembali mengernyitkan kening.


"Aku tidak menyukainya mulai hari ini! Perasaanku sedang aneh," jawab Gianna merasa heran dengan dirinya, kemudian tersenyum geli. Dia lalu melepas sabuk pengaman dan bermaksud untuk keluar. Akan tetapi, niat gadis itu harus diurungkan saat Juan Pablo menahan dengan cara memegangi pergelangan tangannya. "Kenapa? Kau ingin protes padaku?" tanya Gianna.


"Tidak, bukan itu," sanggah Juan Pablo. "Aku hanya ingin mengajakmu untuk ikut denganku ke Inggris. Kita bisa menghabiskan beberapa hari di sana. Barangkali itu bisa membuat perasaanmu kembali normal seperti biasa," tawar pria tampan tersebut.


"Aku? Ke Inggris?" tanya Gianna tak percaya. "Tentu saja aku mau." Gadis itu tampak sangat kegirangan dan juga antusias dengan tawaran dari kekasihnya tersebut.


"Baiklah. Kita akan berangkat besok," ucap Juan Pablo lagi.

__ADS_1


"Apa itu artinya kau akan menginap lagi di tempatku?" Raut ceria Gianna semakin terlihat jelas saat itu. Terlebih, setelah Juan Pablo menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan pelan. Tanpa sungkan, gadis cantik itu segera memeluk pria tersebut dengan erat. "Aku mencintaimu, Juan. Sangat-sangat mencintaimu," ucap Gianna seraya meciumi wajah Juan Pablo dengan gemas, membuat pria yang selalu memasang raut dingin dan datar itu menjadi tak nyaman karenanya. "Aku turun dulu," pamit Gianna kemudian. Dia pun keluar dari dalam mobil, lalu berjalan dengan tenang menuju pintu masuk bangunan megah tadi.


Sementara Juan Pablo terus memperhatikannya dari dalam mobil. Dia menatap sekeliling dari dalam sana, tetapi tak melihat apapun yang mencurigakan. Juan Pablo kemudian melajukan kendaraannya. Dia meninggalkan area parkir club malam itu.


Pada jarak yang cukup jauh, pria asal Meksiko tersebut kemudian berhenti dan menepikan mobil yang dia kendarai. Juan Pablo lalu keluar dan memilih berjalan kaki untuk kembali ke area club. Sambil terus melangkah, matanya tajam melihat setiap pergerakan yang dapat dia tangkap. Juan Pablo kemudian menaikkan penutup kepala jaket hoodie yang dikenakannya. Dia berdiri sambil bersandar pada dinding bangunan tinggi yang merupakan sebuah toko.


Setelah menghabiskan beberapa saat di sana, Juan Pablo lalu beranjak menuju ke kedai kopi yang terletak di seberang club malam milik Adriano. Dari tempat tersebut, pria itu kembali mengawasi keadaan sekitar. Namun, lagi-lagi dirinya tak melihat pergerakan apapun yang dirasa mencurigakan. Juan Pablo bahkan menunggu di sana hingga beberapa saat, sampai Gianna tampak keluar dari dalam club.


Akan tetapi, pria tiga puluh lima tahun itu tak segera menghampiri sang kekasih. Dia masih memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh. "Bersembunyi di mana kau, Jacob?" gumam pria tampan tersebut bertanya pada diri sendiri. "Kenapa kau tak juga muncul?" geram Juan Pablo lagi pelan. Dia lalu menghabiskan sisa kopi yang sudah mulai dingin, bersamaan dengan ponsel yang bergetar. Juan Pablo pun segera memeriksanya. Seketika, dia mengernyitkan kening saat membaca pesan masuk itu.


Apa kau sedang menungguku, Elang Rimba?


Sebuah pesan yang diyakini berasal dari Jacob.


Dari mana kau tahu nomor ponselku?


Juan Pablo membalas tanpa menanggapi pertanyaan tadi.


Kenapa kau harus bertanya dari mana?


Jacob seakan memberikan sebuah petunjuk kepada Juan Pablo, yang membuat pikiran pria asal Meksiko itu seketika tertuju kepada sosok Adriano D'Angelo.


🍒 🍒 🍒


Hai, ceuceu datang lagi bawa rekomendasi novel yang sangat bagus.


__ADS_1


__ADS_2