Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Travestimento


__ADS_3

"Anda benar -benar profesional, Tuan D'Angelo," sanjung Timothy dengan raut wajah yang terlihat bersahabat. Sedangkan Adriano hanya menanggapinya melalui sebuah senyuman.


"Adriano adalah rekan bisnis yang sempurna. Aku bisa menjamin hal itu. Kami sudah lama menjadi partner dalam beberapa kerja sama proyek besar," terang Bianca.


"Kau terlalu berlebihan, Bianca," Adriano merasa tak enak atas sanjungan wanita cantik itu.


"Aku akan memegang kata-katamu, Nona Alegra," Don Vargas menimpali. Sedangkan Juan Pablo tak mengeluarkan sepatah kata pun. Pria Meksiko-Spanyol itu hanya menyimak obrolan mereka dengan sorot mata yang selalu terlihat dingin.


"Anda bisa mempercayaiku," Bianca mengalihkan perhatiannya kepada pria paruh baya dengan rambut agak gondrong itu. Sesaat, dia juga melirik Juan Pablo yang tampak tidak tertarik dengan obrolan tersebut.


"Sudahlah, aku rasa kita berkumpul di sini bukan untuk memberikan penghargaan padaku" ucap Adriano. Dia lalu mengarahkan pandangannya pada konstruksi baja yang sudah mulai berdiri. "Jadi, bagaimana?" tanyanya.


"Ah, iya," Don Vargas menanggapi. Dia menerima gulungan kertas yang disodorkan oleh Timothy padanya. Pria berambut ikal dengan warna cokelat tersebut, kemudian membuka gulungan kertas tadi. Di sana, terlihat sebuah rancangan bangunan yang sedang dikerjakan saat itu. Adriano memegangi bagian lain kertas yang berukuran cukup lebar tersebut. Dia mengamati gambar yang tertera di dalam kertas. "Inilah proyek kerja sama kita, Tuan D'Angelo. Kasino bertaraf internasional dengan segala fasilitas penunjangnya yang luar biasa. Hotel, pusat perbelanjaan, sarana olahraga, semua berada dalam satu area. Aku yakin jika tamu-tamu kasino kita yang berasal dari luar kota atau bahkan luar negeri, akan benar-benar dimanjakan saat berada di sini. Surga dunia ini, akan membuat mereka pasti ingin segera kembali kemari. Aku jamin itu," tampaklah serigai puas di wajah Don Vargas kepada Adriano, yang masih mengamati rancangan tadi.


"Ya, Anda benar. Ini terlihat sangat luar biasa," sahut Adriano melirik sejenak kepada pria paruh baya di sebelahnya. Sesaat kemudian, dia mengalihkan perhatian kepada Timothy Dixon. "Anda adalah arsitek yang sangat hebat, Tuan Dixon. Rancangan yang Anda buat menurutku sangat unik. Aku suka dengan bentuk bangunannya yang tidak biasa. Benar-benar menarik," sanjung Adriano, meskipun dalam hatinya masih diliputi banyak tanda tanya dan rasa penasaran yang begitu besar akan pria tersebut.


"Aku senang dan merasa sangat bangga karena bisa bekerja sama dengan Don Vargas. Karena itulah, aku tak ingin mengecewakannya. Apalagi, aku tahu jika Don Vargas adalah orang yang sangat disiplin, rapi, dan juga detail dalam segala hal," sahut Timothy tak kalah puas dan bangga.


"Itu adalah sesuatu yang sangat mutlak, Tuan Dixon. Ketika aku mengeksekusi sesuatu, maka harus kulakukan dengan total dan tanpa ragu. Bagiku tak boleh ada celah sedikitpun untuk berbuat keliru. Karena itu pasti akan fatal akibatnya. Segalanya harus dikerjakan dengan sempurna, sehingga hasilnya pun pasti akan memuaskan. Bukankah begitu, Tuan D'Angelo?" Don Vargas menoleh kepada Adriano dengan sorot matanya yang tampak tajam dan juga berapi-api.

__ADS_1


"Ya. Filosofi kita sama dalam mengerjakan sesuatu. Aku pun demikian. Ketika diriku sudah menceburkan diri dalam sebuah kolam penuh ikan, maka aku harus dapat menangkap ikan-ikan tersebut hidup atau mati. Barulah aku akan kembali ke daratan," balas Adriano seraya menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.


"Luar biasa! Kita akan menjadi partner bisnis yang yang tak terkalahkan," Don Vargas tersenyum lebar seraya menepuk pelan pundak Adriano.


Namun, belum sempat pria bermata biru itu membalas ucapan Don Vargas, ponsel miliknya terasa bergetar. Adriano memang sengaja mengubah setingannya. "Maaf, sebentar," Adriano menjauh beberapa langkah dari mereka karena harus menjawab telepon dari Mia. Wanita itu masih saja mengkhawatirkan sang suami dengan begitu berlebihan. "Pronto. Aku masih berada di lokasi proyek, Mia. Sebentar lagi aku akan pulang," Adriano menjelaskan tanpa diminta.


Terdengarlah tawa pelan Mia di ujung telepon. Dia sadar jika dirinya telah bersikap berlebihan, sehingga mungkin membuat sang suami menjadi cukup risih dan juga tidak nyaman. "Apa kau terganggu karena telepon dariku, Adriano?" tanya Mia merasa tak enak.


"Tentu saja tidak, tapi saat ini aku sedang sibuk. Jadi, kita lanjutkan saja nanti saat aku sudah kembali ke rumah," jawab Adriano.


"Baiklah, aku mengerti. Semoga Tuhan selalu melindungimu, Sayang," ucap Mia lagi sebelum menutup sambungan teleponnya.


"Aku ingin Anda selalu memantau setiap perkembangan proses pembangunannya," harap Don Vargas setelah dirinya menyalami Adriano.


"Tentu. Aku menyukai kerja sama ini dan pasti akan meluangkan waktu. Lagi pula, tak ada hal lain yang bisa kukerjakan selama di sini, selain mengajak keluargaku berjalan-jalan," balas Adriano.


"Anda memang kepala keluarga idaman, Tuan D'Angelo. Rasanya pasti sangat menyenangkan ketika kita berada dalam kehangatan seperti itu. Sayangnya, aku sudah tidak merasakannya lagi. Karena itulah, aku mencurahkan seluruh waktuku untuk pekerjaan," tutur Don Vargas. Raut menakutkan serta tatapan tajam yang sempat membuat Adriano merasa terganggu, ternyata berbanding terbalik dengan sikapnya yang sangat bersahabat.


"Anda tidak memiliki anak?" tanya Adriano yang sudah dapat menangkap arah pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


"Tidak. Istriku divonis tidak dapat mengandung, karena ada masalah dalam rahimnya. Meskipun begitu, aku sangat mencintai wanita itu. Dia yang paling sempurna di mataku. Namun, sayangnya dia harus pergi terlebih dahulu. Aku tidak bisa apa-apa selain menerima segalanya," terang Don Vargas dengan raut wajah yang terlihat berbeda.


"Setidaknya, kulihat Anda masih bisa menikmati hidup dalam kesuksesan," balas Adriano. Sedangkan Don Vargas hanya membalasnya dengan sebuah senyuman sambil menyentuh pundak pria bertubuh jangkung itu. "Baiklah. Aku permisi dulu," mereka kembali bersalaman. Setelah itu, Adriano menyalami yang lainnya termasuk Juan Pablo yang sejak tadi tak berbicara sepatah kata pun.


"Sampai bertemu lagi, Adriano," Bianca mencium pipi kiri Adriano dengan hangat. Adriano membalas ucapan wanita cantik tersebut lewat sebuah anggukan.


Selang beberapa saat, Adriano sudah berada di dalam mobil. "Langsung pulang saja," titahnya pada sang sopir yang telah setia menuggu sejak tadi. Sopir itu mengangguk tanpa memberikan jawaban. Mobil sedan hitam yang dikendarainya pun mulai melaju, meninggalkan area pembangunan proyek. Saat di dalam perjalanan, Adriano segera merogoh ponselnya. Dia mengirimkan sebuah pesan kepada Coco.


Tolong periksa biodata dari pria bernama Timothy Dixon. Dia merupakan seorang arsitek yang sudah cukup ternama di sini. Setelah itu, kirimkan padaku.


Adriano menunggu sejenak hingga Coco membalas pesannya.


Tunggu sebentar. Akan segera kucari.


Sebuah balasan masuk dari Coco. Setelah membacanya, Adriano kembali menunggu. Dia menopang dan sesekali mengusap-usap dagu dengan hiasan janggut yang sudah tercukur rapi, membuatnya terlihat sangat maskulin. Tak berselang lama, masuklah sebuah pesan yang masih dari Coco. Pria itu memang bisa diandalkan. Dia bekerja dengan sangat cepat. Adriano pun tak menyangka jika pria konyol seperti Coco ternyata memiliki kecerdikan yang luar biasa. Sekarang dia mengerti kenapa pria berambut ikal tersebut bisa berteman akrab dengan Matteo de Luca.


Dibukanya pesan yang Coco kirimkan. Namun, alangkah terkejutnya pria bermata biru itu ketika melihat foto profil dari seorang Timothy Dixon. Itu bukanlah pria yang dia temui tadi di lokasi pembangunan kasino. Adriano bahkan sampai harus memastikan dengan cara memperbesarnya berkali-kali. Ya, itu memang dua orang yang terlihat berbeda.


Adriano menautkan alisnya. Dia pun berpikir dengan dalam. Akan tetapi, konsentrasinya buyar, ketika dia menyadari bahwa jalan yang dilewati terlihat berbeda. "Apa kau tidak salah mengambil jalan?" tanyanya. Sedangkan sang sopir tidak menjawab. Dia hanya menoleh sambil menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2