Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Tanpa Gaun Pengantin


__ADS_3

Seusai berkata demikian, Juan Pablo kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Gianna. Tak lupa dia juga mengecup rambut pirang gadis yang tertidur dalam posisi membelakanginya. "Aku benar-benar mencintaimu," bisik Juan Pablo lagi meskipun tak ada tanggapan dari Gianna. Tak berselang lama, terdengar langkah menjauh diakhiri suara pintu yang tertutup.


Gianna membuka mata. Gadis itu terdiam beberapa saat, sebelum tangisnya hadir mengiringi rasa terkejut atas semua pengakuan dari pria yang sangat dia cintai. Ingatannya kemudian tertuju kepada sang kakak. Seberapa buruk sikap dan tabiat Ilario, tetapi pria itu tetaplah saudara kandungnya. Apa mungkin dia bisa menerima semua yang telah Juan Pablo ungkapkan padanya? Tak ada yang salah. Dia yang memaksa pria asal Meksiko itu untuk berkata jujur. Akan tetapi, mendengar semua itu ternyata membuat dirinya merasa sakit hingga harus berurai air mata. Sisi lain dari hati Gianna menolak. Namun, dia sadar dengan kondisinya saat ini yang tengah mengandung benih dari seorang Juan Pablo.


Sementara Juan Pablo sendiri memilih untuk menyendiri di beranda halaman belakang. Tatapannya menerawang, menembus tirai-tirai putih yang mengelilingi tempat itu, menyamarkan pandangan ke arah kolam renang. Juan Pablo kemudian meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja. Dia tampak menghubungi seseorang.


"Pronto," terdengar suara sapaan seorang pria dari seberang sana.


"Adriano? Apa kau sudah berangkat ke Inggris?" tanya Juan Pablo yang ternyata menghubungi sang ketua Tigre Nero.


"Ya. Aku akan berangkat hari ini. Pilot pribadiku sedang bersiap-siap. Kenapa? Apa ada masalah?" tanya pria tiga puluh dua tahun itu.


"Ya. Ada sedikit masalah yang sangat mendadak. Aku membatalkan perjalanan hari ini," sahut Juan Pablo datar tanpa mengalihkan pandangan dari tirai putih yang bergerak karena tiupan angin.


"Baiklah. Jadi kapan kau akan berangkat?" tanya Adriano lagi.


"Besok. Aku pastikan besok sudah berada di Inggris," tegas Juan Pablo.


"Ya sudah. Aku harus berangkat sekarang, karena persiapan sudah selesai. Nanti kuhubungi lagi jika sudah tiba di Birmingham untuk melakukan persiapan awal," tutup Adriano. Perbincangan itu pun berakhir.


Juan Pablo kembali termenung. Ingatan pria itu melayang pada belasan tahun silam, saat dirinya untuk pertama kali harus menghabisi seseorang yang menjadi target dari tugas yang dia dapatkan. Mungkin itu menjadi sesuatu yang teramat disesalkan, ketika dia menggunakan kemampuan istimewa yang dimilikinya untuk menjadi seorang pembunuh bayaran. Akan tetapi, kisah hidup dan rasa marah yang teramat besar pada takdir, membuatnya ingin membuktikan diri. Memang benar, nama Elang Rimba kini teramat disegani.


Siang terus bergulir menuju sore. Sementara Juan Pablo masih terduduk di sana, dengan ditemani asap rokok. Pikirannya bercabang ke segala arah. Salah satunya adalah pada kehamilan Gianna.


"Tuan, aku sudah mengantarkan makan siang untuk kekasih Anda. Akan tetapi, dia belum menyentuh makanannya sama sekali," lapor seorang pelayan yang biasa mengurus villa milik Juan Pablo.


"Apa dia sudah bangun?" tanya Juan Pablo mematikan sisa rokoknya di dalam asbak.

__ADS_1


"Terakhir kulihat dia sedang duduk di tempat tidur," jawab si pelayan.


Tanpa menanggapi lagi ucapan wanita itu, Juan Pablo segera beranjak dari duduknya. Dia bermaksud untuk menuju ke kamar, tapi dengan segera niat itu diurungkan saat melihat Gianna yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berada. "Bice," sapa Juan Pablo ragu.


Melihat kehadiran Gianna di sana, si pelayan pun segera berpamitan. Dia meninggalkan pasangan kekasih itu dan kembali pada tugasnya.


Sepeninggal si pelayan tadi, Juan Pablo segera berjalan menghampiri Gianna yang masih berdiri mematung sambil menatapnya dengan lekat. Namun, pria itu tak berani untuk terlalu mendekat. Belum pernah seorang Juan Pablo Herrera sang Elang Rimba merasa begitu ragu dan sungkan, apalagi di hadapan seorang wanita.


Akan tetapi, semua keraguan dalam diri pria tampan berambut gelap itu seketika sirna, saat Gianna tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya, membuat Juan Pablo tak percaya. Dengan segera dia membalas pelukan hangat sang kekasih tercinta. "Bice," sebutnya pelan. Sedangkan Gianna menangis tersedu-sedu dalam dekapan pria yang merupakan ayah dari calon bayi dalam kandungannya.


"Aku mencintaimu, Elang Rimba. Entah sejahat apa dirimu, seberapa kelam hidup yang kau jalani, tapi di mataku kau adalah pria yang baik," ucap Gianna di sela tangisannya.


Perlahan Juan Pablo merenggangkan pelukannya. Dia mengusap air mata yang membasahi pipi mulus gadis cantik itu. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya seraya menangkup wajah sang kekasih.


"Aku sudah jauh lebih baik," jawab Gianna.


"Apa perlu kuantar, Bos?" tawarnya.


"Tidak usah," tolak Juan Pablo seraya membukakan pintu dan memastikan Gianna duduk dengan nyaman di dalam. Setelah itu, dia mengikuti masuk lalu duduk di belakang kemudi. Tanpa banyak bicara, pria bermata cokelat madu tersebut segera melajukan kendaraannya, meninggalkan halaman villa yang asri.


"Kita akan ke mana, Juan?" tanya Gianna yang belum mengetahui rencana dari kekasihnya.


"Kau akan segera tahu, Bice," jawab Juan Pablo menoleh sejenak kepada gadis yang duduk di sebelahnya. Dia kembali fokus pada jalan yang mereka lalui, hingga mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah gereja terdekat dari villa. Juan Pablo lalu keluar dari mobil. Dia juga membukakan pintu dan membantu Gianna untuk turun. Setelah itu, pria tiga puluh lima tahun tersebut segera menuntun sang kekasih berjalan memasuki gereja tadi. Di sana suasananya cukup ramai, karena baru diadakan sebuah acara doa bersama. Namun, para jamaat sudah hendak membubarkan diri, ketika Juan Pablo dan Gianna masuk ke sana.


Juan Pablo tak melepaskan genggaman tangannya. Dia terus menuntun Gianna, melewati orang-orang yang akan keluar meninggalkan bangunan megah itu. Kedua sejoli tadi terus melangkah maju, hingga mereka berhenti di dekat altar. Kebetulan, di sana ada seorang pastor yang sepertinya baru selesai memimpin khotbah setelah acara selesai.


"Ada apa, Anak-anakku?" tanya pastor yang telah berusia lanjut itu. Dia memandang penuh kasih pada Juan Pablo serta Gianna.

__ADS_1


"Tolong nikahkan kami sekarang juga," pinta Juan Pablo dengan nada bicaranya yang terdengar sangat yakin. Ucapan yang terlontar dari bibirnya, sontak membuat Gianna menatap dengan tak percaya.


"Bukankah kau belum siap untuk ini, Juan?" Raut wajah gadis berambut pirang itu menyiratkan sebuah keraguan.


"Siap atau tidak, aku tak akan membiarkan anak itu terlahir tanpa melihat sosok ayahnya," jawab Juan Pablo tanpa ada keraguan sedikit pun. "Apa kau mau menerimaku, Bice?" tanya pria itu kemudian.


Gianna tak kuasa menahan haru. Ini memang bukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang dia khayalkan. Tak ada pesta, musik, ataupun gaun pengantin yang indah. Entah pernikahan macam apa yang berlangsung tanpa hiasan bunga dan ... kehadiran kedua orang tuanya. Namun, Gianna tak mampu untuk menolak ajakan pria yang sangat dia cintai. Tanpa harus ditanya untuk kedua kalinya, gadis itu mengangguk setuju.


"Kekasihku sudah setuju, Pastor. Tolong nikahkan kami sekarang juga. Biarkan Tuhan saja yang menjadi saksinya," ucap Juan Pablo yang berbalas sebuah senyuman dari pemimpin gereja itu.


Sesaat kemudian, pastor tadi pun segera melakukan pemberkatan bagi kedua sejoli itu. Semuanya berjalan dengan sangat khidmat, meski tanpa kehadiran siapa pun di sana. Pada detik terakhir, Juan Pablo memasangkan cincin yang dia lepas dari jemarinya. Hal itu membuat Gianna tertawa renyah, saat mendapati cincin yang berukuran terlalu besar untuk jemarinya yang lentik.


"Akan kuganti nanti dengan yang jauh lebih cocok untukmu," ucap Juan Pablo sebelum mencium sang mempelai wanita. Kini, mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Kau tidak marah padaku?" tanya Juan Pablo sesaat setelah pastor tadi pergi dari sana.


"Aku bingung, entah apa yang harus kukatakan pada kedua orang tuaku. Terlebih tentang masalah Ilario," jawab Gianna risau.


"Aku bersumpah tak ada hubungannya dengan kematian kakakmu. Aku tidak mengetahui hal itu. Namun, anak buahku mengatakan bahwa kakakmu telah berbuat curang dan merugikan Artiglio Di Corvo. Dia juga tidak bisa bekerja sama karena memilih untuk melarikan diri. Itulah yang membuatnya harus ... aku sangat menyesalkan hal itu, Bice," tutur Juan Pablo memberikan penjelasan kepada Gianna.


"Lalu apa yang harus kukatakan pada ayah dan ibuku?" Gianna masih terlihat resah.


"Kau tak perlu mengatakan apapun pada mereka, selain tentang pernikahan kita," jawab Juan Pablo lagi.


🍒 🍒 🍒


Satu lagi rekomendasi novel keren untuk dimasukkan ke daftar favorit.

__ADS_1



__ADS_2