
"Apa kau serius, Arsen?" Olivia yang saat itu tengah menyiapkan makan malam, segera menghampiri sang suami tanpa meletakkan makanan di dalam piring yang dipegangnya. Dia berdiri di hadapan pria rupawan itu dengan mata berbinar.
"Ya. Aku sudah menyelesaikan semua permasalahan orang tuamu, dengan caraku tentunya," jawab Arsen seraya memamerkan senyuman kalem.
"Kau melunasi bunga dari pinjaman kami, Nak?" tanya Xaverio merasa tak enak.
"Tidak, Tuan Bellamy. Aku tidak akan sudi mengeluarkan uang sepeser pun untuk orang seperti Varoni," sahut Arsen yang kemudian segera tersenyum lebar. "Kupastikan dia tidak akan berani berbuat macam-macam lagi," lanjut pria itu dengan yakin.
"Arsen ...." Olivia tak mampu berkata-kata. Dia begitu terharu atas apa yang telah dilakukan sang suami untuk kedua orang tuanya. Tanpa segan, Olivia mencium pria itu di hadapan Xaverio juga Berta yang hanya bisa tersenyum lega.
"Kita bisa kembali ke Yunani dengan tenang, Olive. Setelah makan malam, segera kemasi barang anda berdua. Aku akan membawa kalian ke Casa de Luca," Arsen menoleh kepada mertuanya untuk sejenak, "kuharap di sana kedua orang tuamu bisa merasa jauh lebih nyaman," ucapnya lagi seraya kembali mengalihkan pandangan kepada Olivia.
"Itu pasti!" balas Olivia dengan antusias dan penuh keyakinan. "Ayo. Aku sudah memasak untuk kita semua," ajaknya tanpa melepas senyuman yang dia tujukan untuk sang suami tercinta.
Seusai makan malam, Xaverio dan Berta segera berkemas. Setelah itu, mereka pun bergegas pergi menuju Casa de Luca di Brescia, dengan membawa harapan untuk bisa hidup lebih baik dan juga jauh lebih layak. Rencananya, mereka akan memberitahukan kepindahan itu kepada adik dari Olivia yang tengah berada di sekolah asrama.
Sementara di Casa de Luca, pada sebuah kamar yang ditempati oleh Coco, terlihat Francesca tengah merapikan piring bekas makan malam sang kekasih. Kondisi Coco pun terus berangsur membaik. Pria berambut ikal tersebut telah bisa duduk, meskipun belum terlalu banyak bergerak apalagi turun-naik tempat tidur.
"Kau ingin yang lain, Ricci?" tawar Francesca yang saat itu hendak keluar kamar dengan membawa piring kotor tadi.
"Tidak. Aku sudah kenyang. Lagi pula, aku tidak boleh terlalu banyak makan dulu," sahut Coco tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi. Melihat sikap Coco yang demikian, Francesca pun merasa kesal. Tak biasanya Coco mengalihkan perhatian dari wajahnya, ketika mereka sedang berbincang-bincang. Namun, kini Coco telah banyak berubah.
"Sampai kapan kau akan bersikap tak acuh padaku, Ricci?" tanya Francesca dengan raut wajah dan tatapan yang sangat serius. Dia meletakkan piring kotor tadi di atas meja, lalu berdiri dengan tangan kanan di pinggng. Gadis itu seakan ingin menantang pria yang tengah duduk tenang di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Francesca?" Coco balik bertanya. Dia juga menyebut gadis itu dengan nama aslinya, bukan lagi Francy. "Kau boleh pergi dan kembali ke Roma jika tidak suka berada di sini. Aku tidak pernah memaksamu untuk merawatku," ujar Coco mengalihkan perhatiannya sejenak kepada gadis yang dulu amat dia cintai.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Kau tidak menyukai kehadiranku di sini?" tantang Francesca dengan nada dan tatapan sinis.
"Sudah kukatakan bahwa kau tidak harus bertanggung jawab untuk merawatku," sahut Coco masih terlihat tenang, meskipun dia tahu bahwa saat itu Francesca tengah merasa jengkel padanya. "Aku tak ingin menjadi beban siapa pun," ucap pria itu lagi.
"Oh, begitu? Jika bukan aku yang merawatmu, lalu siapa yang akan kau andalkan di sini? Pelayan? Paman Damiano? Kau pria tidak tahu diri! Seharusnya dirimu sadar! Kau bahkan kesulitan hanya untuk sekadar melepas pakaian dalam dan buang air kecil!" cerca gadis bermata hazel tadi. Dia tak ingin lagi menahan rasa jengkel dalam hatinya.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Usiaku sudah tiga puluh dua tahun, tak seperti usiamu yang baru dua puluh enam, Nona Ranallo. Tubuhku memang tak berdaya, tapi akalku masih tetap bekerja," ucap Coco dingin.
"Kau benar-benar menyebalkan, Ricci! Kenapa aku harus jatuh cinta pada pria sepertimu!" gerutu Francesca lagi. Sebisa mungkin dia berusaha untuk menahan agar tangisnya tidak pecah.
"Kenapa aku juga harus menunggumu sekian lama?" balas Coco, membuat Francesca seketika terdiam. "Tolong tinggalkan aku sendiri," pinta pria bermata cokelat itu, seraya mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Francesca.
Setibanya di dalam dapur, adik tiri Mia tersebut segera meletakkan peralatan makan kotor yang dia bawa ke dalam bak cuci piring. Francesca lalu termenung sejenak di sana. Sesaat kemudian, gadis bertubuh semampai itu memutuskan untuk keluar dari dapur tadi. Dia lalu menuju bukaan dan berdiri dengan tatapan menerawang pada pekatnya malam yang menyelimuti kota Brescia, khususnya Casa de Luca. Francesca termenung di sana untuk beberapa saat lamanya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Nak?" suara Damiano seketika membawa Francesca kembali ke alam nyata. Dia mengakhiri renungan akan sesuatu yang teramat mengganggu pikirannya.
"Paman? Anda belum tidur?" gadis bermata hazel itu mengikuti langkah Damiano yang berada tak jauh di belakang, hingga pria tua tadi berdiri di sebelahnya.
"Aku tidak bisa tidur. Udara terasa begitu panas di dalam kamar. Karena itulah aku memilih untuk keluar saja," jawab Damiano menjelaskan. Sementara tatapannya tertuju pada hamparan luas perkebunan anggur yang tidak terlihat jelas dalam pekatnya malam. "Apa Coco sudah tidur?" tanynya kemudian.
"Belum. Dia sedang menonton televisi," jawab Francesca pelan. Rasa kesal dan marah itu masih menggunung di dalam hatinya, tapi berusaha dia tutupi dari Damiano.
__ADS_1
Suasana hening sejenak di antara mereka. Keduanya seakan tengah memikirkan pembahasan apa yang akan diperbincangkan, karena Francecsca memang jarang sekali melakukan hal itu bersama Damiano. Satu helaan napas berat pun terdengar dari pria yang selalu penuh dengan petuah bijaksananya.
"Coco seperti putra kedua bagiku, setelah Matteo. Mereka sahabat terbaik yang pernah ada. Aku sangat bangga dengan keduanya," Damiano mengawali perbincangan dan seketika menghapus kecanggungan dalam diri Francesca, yang saat itu masih terdiam mendengarkan.
"Kau tahu, Nak?" Damiano menoleh kepada gadis cantik di sebelahnya untuk sesaat. "Pertama kali aku mengenal pemuda itu, kulihat dia sangat mandiri. Kau pasti sudah tahu bahwa Coco tidak memiliki orang tua sejak berusia remaja. Pemuda itu melakukan segala sesuatunya sendirian. Hal tersebut terus berlangsung hingga dia dewasa dan tinggal di bengkel. Coco mengurus dirinya tanpa meminta bantuan kepada siapa pun, tak juga kepada Matteo sahabatnya," Damiano terdiam beberapa saat. Dia kembali mengela napas pendek, lalu mengempaskannya perlahan.
"Kami tidak pernah membahas hal itu, Paman. Selama ini, Ricci selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja," balas Francesca menanggapi.
"Itulah dia, Nak. Ketika kemarin-kemarin aku sedang sakit, Coco merawatku dengan sangat telaten. Dia tidak merasa risih sama sekali. Hal yang sama terjadi saat dirinya kembali dari Roma. Coco memang tidak bicara apapun padaku, tapi aku melihat dia pulang dengan kondisi yang tidak baik. Putraku berjalan sambil tertatih. Ada noda darah pada celana jeansnya. Hampir semalaman dia mengobati luka seorang diri," Damiano kembali terdiam sejenak, sebelum melanjutkan penuturannya.
"Aku melihatnya dengan diam-diam. Dia kesakitan, Nak. Namun, esoknya Coco bersikap biasa saja di hadapan semua orang, seakan tak terjadi apapun pada dirinya. Dia bahkan menemani Adriano pergi ke Serbia. Lalu, kabar buruk itu sampai di telingaku. Tak terkira betapa cemasnya perasaanku saat itu. Kepergian Matteo sudah membuat diriku terpukul bahkan hingga saat ini. Aku tidak ingin kehilangan seorang putra lagi untuk kedua kalinya, meskipun Adriano kini hadir dan menganggapku sebagai ayahnya."
"Aku sudah sering bertanya kepadanya, kenapa dia tak kunjung menikah. Coco pasti akan tertawa sambil menjawab, dia belum bisa memberikanmu kehidupan yang layak. Padahal, sudah sering kukatakan padanya bahwa kehidupan layak hanya akan tercipta, ketika sebuah pasangan merasa bahagia dengan kekurangan masing-masing. Mereka merasa pantas untuk saling memiliki, dan tak memandang rendah ataupun saling meremehkan. Aku yang telah gagal dalam berumah tangga, memang terkadang merasa malu saat memberikan nasihat seperti ini. Akan tetapi, semuanya kulakukan semata-mata hanya untuk agar kalian bisa jauh lebih baik dariku. Orang tua yang sukses, adalah mereka yang telah berhasil menjadikan kehidupan anak-anaknya jauh lebih baik dari kehidupannya," Damiano kembali terdiam dan menatap hamparan pekat yang seakan tak berujung.
Sementara Francesca hanya terdiam. Dia tengah meresapi, mencerna, juga memaknai semua petuah yang didengarnya malam itu. Sesaat kemudian, gadis bermata hazel tersebut mengalihkan pandangan kepada pria tua di sebelahnya. "Bolehkah aku memeluk Anda, Paman?" tanyanya.
"Jangan terlalu formal atau merasa sungkan, Nak," sahut Damiano seraya tersenyum hangat. Dia menyambut pelukan dari Francesca yang juga sangat merindukan sosok ayah dalam hidupnya.
Seusai perbincangan bersama Damiano, Francecsa kembali ke kamar Coco. Pria itu terlihat sudah merebahkan tubuh dengan mata terpejam. Entah dia benar-benar tidur atau hanya berpura-pura.
Dengan langkah yang sangat hati-hati, Francesca mendekat kemudian duduk di tepian tempat tidur. Dia memandangi paras tampan pria yang telah dipacarinya selama sekian tahun. Semua hal indah yang pernah mereka lewati bersama pun hadir dalam ingatan. Betapa selama ini Coco sudah menjadi kekasih yang baik bagi dirinya.
Disentuhnya rambut ikal yang dulu selalu dia belai dengan mesra. Francesca sangat merindukan hal itu. "Aku tak akan pergi ke manapun, meski kau mengusirku dengan kasar. Kau tahu kenapa, Ricci? Jawabannya karena aku sangat mencintaimu." Sebuah kecupan lembut pun mendarat di kening Coco.
__ADS_1