
Angin berembus menerbangkan Mia dan segala kenangannya ke kota Venice. Kota dengan suasana yang sangat romantis, dan menghadirkan sejuta cerita indah di dalamnya. Di sanalah, Mia menemukan arti cinta sejati, setelah sekian lama membatasi diri dari hal itu. Entah bagaimana, karena Mia bisa kembali ke sana dan menapaki jalanan kecil dengan aroma keharuan yang teramat besar.
Senyuman lembut berbalut kepedihan, muncul di sudut bibir Mia tatkala dia melihat seseorang dengan mantel hitam berdiri di tepian kanal. Tubuh tegap itu teramat Mia kenal, meskipun hanya dia lihat dari belakang.
Mia, mengumpulkan segenap keberaniannya untuk melangkah maju. Dia menghampiri pria yang tengah asyik menatap ke depan. Pada bentangan kanal dengan gondola yang terus hilir-mudik tanpa henti. “Theo …,” sapanya pelan dengan suara bergetar. Berbalut rasa tak percaya.
Pria dengan mantel hitam tadi segera menoleh, lalu tersenyum. “Cara Mia? Kau di sini?” balas pria yang tiada lain adalah Matteo de Luca. Pria yang teramat Mia rindukan.
Namun, bukannya menjawab, Mia malah menangis seraya langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu. “Hey, kenapa kau menangis?” tanya Matteo sambil menahan tubuh Mia. Matteo membalas pelukan wanita itu. Dia mengelus rambut panjang Mia. Pria itu terdiam sejenak, seakan tengah meresapi pertemuannya dengan wanita yang sangat dirina cintai. “Apakah aku telah membuatmu bersedih, Cara Mia?” bisik Matteo seraya mengurai pelukannya dari Mia.
“Bagaimana mungkin kau tidak membuatku bersedih? Kau pergi meninggalkanku dan Miabella dengan begitu cepat. Aku terus menangisimu setiap hari, setiap malam. Namun, kau tak juga kembali. Kenapa kau melakukan itu padaku dan putri kita?" Mia memukuli dada Matteo pelan, untuk melampiaskan kesedihan dan rasa marah pada takdir yang harus dirinya dapatkan.
“Hey, tenangkan dirimu." Matteo memegangi kedua pergelangan tangan Mia dengan lembut. Sementara wanita berambut cokelat itu masih terisak. “Ini aku, Cara Mia. Sekarang, aku ada di hadapanmu,” ucap Matteo mencoba menenangkan wanita yang masih menangis tersedu-sedu.
“Maaf, karena aku tak bisa menuntaskan tugas sebagai suami dan ayah bagi kalian berdua. Sebenarnya, aku ingin sekali melihat wajah Miabella saat dia sudah dewasa. Aku juga ingin duduk berdua denganmu di beranda rumah, untuk menikmati senja dengan rambut kita yang sudah memutih. Namun, apa dayaku, Cara Mia. Aku tak sanggup melawan kekuasaan Tuhan. Seberapa kerasnya aku menahan rasa sakit, ketika jantungku terkoyak. Tetap saja tenaga yang kumiliki tak sanggup mempertahankan nyawa ini dari ragaku. Akan tetapi, aku tak akan menyesalinya sama sekali,” ucap Matteo lirih.
“Ada banyak kesalahan yang telah kuperbuat. Entah berapa nyawa lenyap oleh kedua tangan ini. Aku masih beruntung, karena hanya beberapa butir peluru yang melukaiku,” lanjut Matteo. Dia lalu membalikan badan. Matteo kembali menatap kanal dengan airnya yang berguncang pelan.
“Lihatlah. Seperti gondola-gondola itu. Setiap saat hilir-mudik silih berganti. Seperti itu pula kehidupan kita di dunia. Ada yang pergi dan tak lama tergantikan oleh seseorang yang baru. Itu sudah menjadi hukum alam. Kau, aku, atau siapa pun tak akan dapat mengubahnya dengan sekehendak hati. Terimalah semuanya dengan lapang dada. Lanjutkan hidupmu." Matteo mengembuskan napas dalam-dalam.
"Jangan bersikap egois, Sayangku. Kau masih memiliki tugas berat dan panjang. Sudah menjadi kewajibanmu untuk mendidik Miabella dengan baik," ucap Matteo lagi. Sementara, Mia hanya mendengarkan sambil terus terisak.
"Meskipun aku telah tiada dan tak bisa menemani kalian lagi. Namun, kenangan indah kita bertiga akan selalu tercatat sampai akhir dunia. Jadilah ibu yang baik. Jangan biarkan Miabella kehilangan sosok ayahnya. Bagaimanapun juga, dia adalah putri dari Matteo de Luca."
"Aku tak ingin jika kelak Miabella menjadi seseorang yang menyedihkan. Putriku harus menjadi wanita yang kuat dan tangguh. Penuh keberanian dan bisa menjaga diri dengan baik. Oleh karena itu, tunjukkan padanya bahwa kau mampu untuk menjadi panutan. Perlihatkan pada putri kita bahwa Florecita Mia adalah wanita hebat, yang mampu melawan segala kepedihan dan cobaan hidup yang menerpanya. Biarkan Miabella tahu bahwa dia memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa, yang tak hanya mengandalkan kecantikan fisik semata."
"Kau bisa melakukannya, Cara Mia. Kau mampu untuk menjadi lebih dari dirimu yang sekarang. Jalani hidupmu dengan bahagia. Toong, jangan memberikan beban padaku karena telah meninggalkanmu dan putri kita,” pinta Mattei panjang lebar. Sedangkan, Mia hanya tertunduk tanpa menghentikan tangisnya.
Sesaat kemudian, Matteo kembali menghadap kepada Mia. Diraihnya tangan berjemari lentik, dengan balutan kulit kuning langsat yang telah sekian lama tak dia sentuh. Matteo, mengecup dalam-dalam punggung tangan itu penuh perasaan. “Aku pergi membawa cinta kita berdua. Aku sama sekali tak akan memaksamu untuk tetap bertahan dalam selimut cintaku, yang tak dapat lagi membuatmu merasa nyaman dan hangat," ujar Matteo.
__ADS_1
"Aku sudah tidak bisa menjadi pelindungmu lagi, Cara Mia. Karena itulah, cari pelindung yang baru untukmu. Kau masih muda dan berhak untuk kembali jatuh cinta. Aku tak akan menghalangimu untuk itu."
"Tidak, Cara Mia. Jangan sampai rasa cinta yang terlalu besar padaku, justru menjadi sebuah beban yang akan menghambat langkahmu. Aku tak akan menyukainya. Aku merelakan kau untuk meniti tangga kehidupan bersama siapa pun yang mampu untuk menjadi pelindung bagimu juga Miabella."
"Ingatlah pesanku ini. Aku mencintaimu. Ya, itu memang benar. Kau adalah pemilik senyuman terindah. Jangan pernah melupakan hal itu." Perlahan, Matteo melepaskan genggaman tangannya dari Mia
“Kau mau ke mana, Theo?” Mia merentangkan tangannya. Dia mencoba menggapai tubuh Matteo yang bergerak menjauh. Namun, pria itu tak menjawab. Dia tersenyum lembut sambil terus berjalan mundur. “Theo!” panggil Mia.
Mia ingin mengejar Matteo. Namun, kaki wanita itu seakan terpaku dengan kuat di tempatnya berdiri. “Theo! Kembali!” seru Mia lantang. Akan tetapi, Matteo tak memedulikannya sama sekali. Pria itu kini berdiri di atas gondola dengan mantel hitamnya.
Senyuman dari wajah tampan tadi perlahan memudar, ketika dia bergerak semakin jauh dan terus menjauh sampai tak terlihat lagi dari pandangan Mia. Lemas, tubuh Mia ambruk dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya terkepal di atas jalanan dengan tetesan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Mia baru tersadar, ketika meraskan tepukan lembut di pundak. Dia tersentak kaget. Seketika, dirinya membuka mata.
Adriano telah duduk di tepian tempat tidur. Pria itu memperhatikannya dengan raut penuh tanda tanya. “Apa kau bermimpi buruk? Kenapa kau tidur di sini, Mia?” tanya pria bermata biru tersebut keheranan.
“Aku baru tiba dan langsung kemari. Dua hari tak bertemu putrimu, aku merasa begitu kehilangan dan sangat merindukannya. Aku hanya ingin melihat keadaan Miabella. Ternyata kau tidur di sini,” tutur Adriano seraya berdiri.
“Ayo,” ajak Adriano sambil mengulurkan tangan kepada Mia. “Biarkan Miabella tidur sendiri. Lagi pula, aku sudah memasang kamera pengawas di kamar ini. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja,” ucap pria itu lagi.
Mia tak segera menyambut uluran tangan Adriano. Wanita itu terdiam sejenak dan berpikir. Dia mengingat-ingat pertemuannya dengan Matteo meskipun hanya berupa mimpi. Namun, dalam mimpi itu Matteo berpesan banyak hal kepadanya.
Ragu, Mia meletakan tangannya di atas telapak tangan Adriano. Dia lalu turun dari tempat tidur. Mia, mengikuti Adriano menuju pintu.
Sebelum benar-benar keluar, Mia sempat menoleh ke arah Miabella yang sudah terlelap. Setelah itu, Adriano kemudian mematikan lampu kamar itu, dan menyisakan lampu tidur saja. Dia menutup pintu rapat-rapat.
Dua orang penjaga yang berdiri tidak jauh dari pintu, segera mengangguk hormat ketika Adriano dan Mia melewati mereka. Ya, Miabella di sana mendapat perlakuan yang sangat istimewa bak seorang tuan putri.
“Mimpi seperti apa yang membuatmu sampai menangis, Mia?” tanya Adriano tanpa melepaskan genggaman tangannya dari wanita itu. Dia terus menuntun wanita yang sudah sekian lama menjadi pujaan hatinya tersebut.
__ADS_1
Sedangkan, Mia hanya terdiam. Sepertinya dia enggan untuk membahas hal itu dengan Adriano. “Bagaimana perjalananmu?” Mia justru mengalihkan topik pembicaraan.
“Besok saja kuceritakan, karena sekarang sudah malam. Aku juga sangat lelah,” jawab Adriano. Pria bermata biru itu membuka pintu kamar. Dia baru melepaskan genggaman tangan Mia, saat keduanya sudah berada di dalam ruangan mewah seperti kamar raja dan ratu.
“Apa kau ingin kubuatkan sesuatu?” tawar Mia yang membuat Adriano seketika menghentikan langkahnya. Dia yang tadinya akan masuk ke walk in closet, menatap Mia untuk sesaat.
“Tidak usah. Kau bukan pelayan di sini. Jadi, jangan merepotkan dirimu dengan pekerjaan dapur atau urusan rumah tangga lainnya,” jawab Adriano.
“Apa kau ingin mandi? Akan kusiapkan air hangat untukmu," tawar Mia lagi.
"Tidak usah," tolak Adriano menggeleng.
"Aku bosan karena tidak ada yang kulakukan di sini. Lagi pula, aku tidak merasa keberatan jika harus ke dapur. Saat masih di Casa de Luca, aku ....” Mia terdiam. Dia tak melanjutkan kata-katanya. Terlebih, karena Adriano sudah berlalu ke kamar ganti. Mia sadar, tak seharusnya dia mengungkit tentang kebiasaannya selama berada di kediaman Matteo tersebut.
Adriano melepas kemeja hitam yang dia kenakan, di depan cermin hampir setinggi dirinya. Kembali ditatap tubuh tegap dengan tiga luka parut di perut. Dia meraba bekas luka itu perlahan. Namun, sesaat kemudian pria tampan tersebut segera mengambil kaos hitam polos. Setelah itu, Adriano kembali ke ruang utama kamarnya. Dia melihat Mia masih duduk termenung di tepian tempat tidur.
Adriano menghampiri wanita cantik itu. Beberapa hari tinggal di dalam mansionnya, dia selalu menekankan agar Mia tak melewatkan jadwal makan. Pria itu berdiri di hadapan sang istri, setelah sebelumnya membuka laci di dekat tempat tidur. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci tadi. Adriano kemudian duduk di sebelah Mia.
“Jika kau merasa bosan, kau bisa membaca buku ini sambil menemani Miabella bermain. Sesekali, berkelilinglah di halaman. Kau bisa berenang atau melakukan apapun yang dapat membuatmu merasa terhibur," ucapnya.
Mia tak menjawab. Dia hanya menatap Adriano untuk sesaat. Pandangannya kemudian beralih pada tiga buah buku, yang dulu Adriano berikan sebagai hadiah.
"Sebaiknya, kau lanjutkan tidurmu," ucap Adriano lagi. Dia sudah bersiap untuk istirahat.
Mia menurut apa kata pria itu. Dia berjalan pada sisi lain tempat tidur. Berat rasanya bagi Mia untuk kembali memejamkan mata. Bayangan mimpinya yang bertemu dengan Matteo kembali hadir. Mia merasa begitu takut, meskipun ada setitik kebahagiaan karena dapat berjumpa kembali dengan mendiang suaminya tersebut.
Adriano juga rupanya masih terjaga, meski sudah dalam posisi berbaring. Pria itu menoleh kepada Mia yang tengah menatap langit-langit kamar. "Tenang saja. Semuanya akan segera teratasi," ucap Adriano membuat Mia menoleh padanya. Adriano kemudian mengubah posisi jadi menghadap kepada Mia. "Tidurlah," ucapnya seraya mengelus pipi wanita itu dengan punggung tangan.
Mia mengangguk pelan, kemudian berbalik. Dia membelakangi Adriano yang juga membelakanginya.
__ADS_1