Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Testa di Cervo


__ADS_3

Tepat menjelang dini hari, Juan Pablo baru tiba di kediamannya yaitu kota Las Vegas. Rumah mewah tersebut berada di kawasan pinggiran kota, dan cukup sepi dari hiruk pikuk aktivitas manusia. Sebuah tempat yang memang cocok bagi seseorang dengan karakter seperti Juan Pablo Herrera.


Mustang klasik yang Juan Pablo kendarai, melaju perlahan dan berhenti di depan halaman luas bangunan megah tadi.


Rumah itu tak lagi berpenghuni, sejak Don Vargas memutuskan untuk pindah ke Monaco. Juan Pablo juga sengaja tidak menyewa pegawai untuk merawat atau membersihkan tempat tersebut, karena sudah berulang kali para detektif dan agen federal pemerintah mengawasi kediamannya tersebut. Jadi, dia dengan sengaja membiarkannya tampak terbengkalai begitu saja.


Dengan wajah lelah, Juan Pablo turun dari mobil sambil menenteng kepala Don Vargas yang terbungkus kain. Dia berjalan melintasi ruang tamu. Setelah itu, dirinya tiba di ruang tengah, kemudian berhenti di depan sebuah pintu kamar yang biasa dia tempati jika sedang singgah ke Las Vegas.


Dengan sangat hati-hati, Juan Pablo meletakkan kepala pria yang teramat disayanginya itu di atas meja kamar yang berhadapan langsung dengan jendela. Dia lalu melepas kaus hitam yang telah basah oleh keringat, kemudian dia lemparkan seenaknya ke lantai. Setelah itu, dia beralih pada celana jeans. Akan tetapi, saat dia menurunkan celana berbahan tebal itu, dia mendapati sesuatu di sakunya.


Sembari mengernyitkan kening, Juan Pablo merogoh dalam-dalam saku celana jeansnya. Tanpa diduga, dia menemukan sebuah flash disk kecil berwarna putih. Juan Pablo merasa heran, sebab dia yakin bahwa dirinya tak pernah meletakkan benda itu di dalam sana. Dia juga baru pertama kali melihat flash disk tersebut.


Juan Pablo merasa penasaran, sehingga dia memutuskan untuk menyalakan laptop yang berada tepat di samping kepala Don Vargas. Ditancapkannya flash disk tadi pada bagian samping. Sebuah file berisi satu rekaman video muncul di layar. Ragu-ragu, Juan Pablo mengarahkan kursor ke tombol putar.


Wajah keriput Pedro muncul di sana. Wajah yang teduh dan bijaksana itu tersenyum, seakan-akan tengah melihat lawan bicaranya secara langsung.


“Cómo estás, Chico? (Apa kabarmu, Nak?)


“Kuharap kau selalu baik-baik saja, Juan. Organisasi tak lagi sama sejak kau memilih untuk keluar dari sini. Semua orang seperti hilang kendali, terlebih Melker. Dia merasa seperti menjadi dewa. Walaupun memang dialah yang mendirikan perkumpulan ini, tetapi sikapnya terlalu berlebihan kepada anggota yang lain," sebuah kata-kata pembuka dari pria tua itu. Sementara Juan Pablo terus menyimaknya dengan saksama.


“Aku selalu ingat ketika dia masih menjadi mata-mata pemerintah. Akulah yang senantiasa membimbingnya, sampai dia terjebak dan berkhianat. Ketika Melker dikeluarkan dari CIA, aku turut mengundurkan diri demi terus membersamainya. Aku juga membantu mendirikan organisasi besar ini. Namun ….”


Pria tua itu berhenti berbicara, tampak dalam rekaman tersebut ketika dia meraih ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu.


Setelah itu, Pedro kembali menatap layar dan mulai bercerita. “Melker tak lagi sama. Jika kau bersedia, luangkanlah waktu untuk menjenguk anak dan istrinya. Aku tahu jika ini terlalu berlebihan, tapi aku merasa hidupku tak akan lama. Selamatkanlah dia dan keluarga kecilnya. Kembalikan pria itu menjadi seperti Melker yang kukenal dulu," pinta Perdro dengan sungguh-sungguh.


“Akan tetapi, seandainya Melker tak berniat untuk berubah, maka dengan terpaksa ….”


Pria itu berhenti berbicara untuk sejenak dan menarik napas panjang.


“Habisi saja kami semua, Juan,” lanjutnya dengan lirih. Sesaat kemudian, rekaman itu pun video itu berakhir.

__ADS_1


Juan Pablo meraup wajahnya kasar, lalu beranjak dari depan layar komputer. Dia mengempaskan diri ke atas ranjang dengan mata menerawang pada langit-langit kamar. Tanpa disadari, pria Meksiko itu tertidur lelap untuk beberapa saat lamanya. Juan Pablo baru terbangun ketika terdengar bunyi alarm yang begitu nyaring.


Sejenak, pria berkulit eksotis itu terduduk. Dia terdiam untuk beberapa saat sambil mengumpulkan tenaga dan juga kesadarannya, sambil menyugar rambut ke belakang. JuanPablo lalu turun dan bergegas keluar kamar. Alarm tersebut adalah sebuah pertanda bahwa ada seseorang yang telah memasuki rumahnya tanpa izin.


Juan Pablo menaiki tangga menuju lantai dua. Di sana dia memasuki salah satu kamar yang penuh dengan berbagai macam senjata. Senjata-senjata itu ada yang tergantung di dinding. Ada pula yang tersimpan rapi di dalam rak.


Dia memilih satu senapan laras panjang peninggalan sang ayah, kemudian mengisinya dengan peluru. Setelah itu, pria tersebut lalu mengokangnya. Tak lupa dirinya menyalakan kamera dan monitor pengawas di ruangan tadi.


Juan Pablo menekan beberapa tombol panel di depan monitor, tapi sayangnya dia tak menangkap sosok apapun.


“Melker!” geramnya. Pria itu kembali mengoperasikan tombol panel, mencari gambaran melalui kamera pengawas hingga ke tiap sudut bagian rumah. Akan tetapi, dia tetap tak menemukan apapun.


Juan Pablo akhirnya berhenti dan bersiap menarik pelatuknya. Kini, dia mengerti di mana Lionel bersembunyi. Pelan dan tanpa suara, pria asal Meksiko itu menarik pelatuk senapan dan mengarahkannya ke atas langit-langit ruangan. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, sebuah peluru melesat dari luar jendela dan menembus rak dinding yang terbuat dari kaca hingga pecah berhamburan.


Dengan segera, Juan Pablo mengarahkan senapannya ke arah jendela. Dia terdiam sejenak mencari asal tembakan. Satu kali tembakan pria itu arahkan pada jendela rumah seberang. Namun, pelurunya tak mengenai apapun. “Ck!” Juan Pablo berdecak kesal. Dia hendak berbalik, tetapi lebih dulu seseorang menyerang dan memukul rahangnya.


Juan Pablo terhuyung dan hampir terjatuh. Namun, dia dapat menyeimbangkan diri dengan cepat, sambil mengarahkan senapan panjang itu pada seseorang di depannya yang sekarang telah menghilang. “Hm, jadi begitu? Kau ingin bermain-main denganku rupanya,” seringai pria berjuluk Elang Rimba tersebut.


Lionel alias Melker mundur beberapa langkah untuk menghindar. Pria itu terkekeh pelan. “Dasar perusak!” makinya kesal. “Kau tahu betapa banyak pengorbanan yang kulakukan demi membangun markas rahasia itu!” sentaknya kemudian.


“Masih tak sepadan jika dibandingkan dengan kematian el Tio,” balas Juan Pablo datar.


“Astaga,” Lionel tertawa nyaring. “Aku benar-benar tak menyangka jika kau adalah Elang Rimba. Kupikir kau hanyalah tangan kanannya saja. Sepertinya kau tumbuh semakin kuat semenjak meninggalkan Killer X.” Pria itu lalu bertepuk tangan, entah untuk apa maksudnya.


Juan Pablo sendiri tak menanggapi. Dia malah melemparkan belati itu ke arah Lionel. Lagi-lagi, pria asal Swedia itu sanggup menghindar. Dengan gerakan yang tak terduga, Lionel maju secepat kilat dan berusaha menyarangkan pukulan pada Juan Pablo. Pria tampan itu lebih dulu mengelak dengan memutar tubuhnya ke samping sambil mengarahkan pukulan ke pinggang Lionel, membuat pria itu meringis dan mundur sejenak.


“Brengsek! Kau mengenai ginjalku!” umpatnya. Dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya, Lionel melompat, menumpukan kaki pada dinding lalu menerjang Juan Pablo menggunakan kaki, dan telak mengenai ulu hati pria itu.


Juan Pablo sempat terbatuk-batuk, tapi dia kembali berdiri dan mengepalkan tangan. “Di mana pistolmu? Kenapa kita tak saling tembak saja sekarang!” sentaknya.


“Aku bosan dengan senjata. Tangan kosongku sudah lama tak bekerja,” Lionel menyeringai dan kembali menyerang Juan Pablo dengan pukulan-pukulannya.

__ADS_1


Pria itu sempat mengelak hingga pukulan terakhir Lionel lolos dan mengenai rahangnya.


Juan Pablo terjatuh dan kembali berusaha berdiri. Akan tetapi, Lionel lebih dulu menendangnya. Namun, dia sigap menahan tendangan Lionel dengan tangan kiri, sementara tangan kanan melaju dan memukul pangkal paha Lionel sekencang-kencangnya.


Lionel memekik kesakitan sebelum akhirnya terjatuh. Giliran Juan Pablo berdiri dan berjalan melewati Lionel yang terkapar begitu saja. Ternyata pria itu mencabut belati yang tertancap di kepala rusa yang menjadi hiasan dinding.


Juan Pablo berbalik dan siap menyerang. Akan tetapi, Lionel lebih dulu menerjang, sampai belati itu terlepas dari genggaman. Juan Pablo kembali terhuyung dan mundur beberapa langkah, hingga tubuhnya mengenai tembok.


Lionel melingkarkan tangan di dada Juan Pablo, lalu menekannya sekuat tenaga.


Juan Pablo sempat kesulitan bernapas. Kedua tangannya terangkat ke atas dan berusaha meraih hiasan kepala rusa, tetapi gagal. Tak putus asa, dia menginjak kaki kanan Lionel, lalu menendang pangkal pahanya.


Lilitan tangan Lionel terlepas, membuat Juan Pablo bebas bergerak. Dengan kekuatan penuh, dia memukul wajah Lionel bertubi-tubi sampai wajah pria bermata hijau itu sobek di beberapa bagian.


Hantaman terakhir di pelipis Lionel, membuatnya hilang keseimbangan. Lionel jatuh terduduk di hadapan Juan Pablo. Pandangan matanya mulai memburam, akibat banyaknya darah yang menetes pada wajah. “Juan Pablo Herrera. Sang Killer X. Luar biasa,” racaunya.


“Aku bukan lagi Killer X,” sahut Juan Pablo dengan nada dingin dan datar.


“Aku tak bisa membayangkan seandainya Adriano D’Angelo tahu bahwa kau telah meniduri adik tirinya,” Lionel tergelak sampai tersedak ludahnya sendiri yang dipenuhi oleh darah.


Juan Pablo terbelalak. Wajah bengisnya semakin menegang akibat perkataan Lionel. Tanpa ekspresi, Juan kembali memukuli priq itu. Beberapa hantaman menyasar ulu hati, hingga pria itu jatuh tersungkur.


Tak berhenti sampai di situ, Juan Pablo meraih hiasan kepala rusa dan menurunkannya dari dinding. Tanduk kepala rusa yang diawetkan itu dia arahkan tepat ke belakang kepala Lionel. Sang ketua Killer X pun meregang nyawa di tangannya.


Dengan tenang, Juan Pablo menarik tanduk rusa yang tertancap, lalu mengembalikan hiasan itu pada tempatnya. Dia lalu mendekati mayat Lionel dan membalikkan badannya. “Aku tak hendak mengambil kepalamu, karena aku tidak sudi melihat wajahmu. Cukup jantungmu saja, Brengsek!” ujarnya dengan senyuman yang tampak sangat mengerikan.


Diraihnya belati yang berada tak jauh dari jasad Lionel. Tanpa ampun, Juan Pablo menusukkannya pada dada sang ketua Killer X, hingga darah dari raga tak bernyawa itu menyembur ke mana-mana. Darah itu juga mengenai wajah dan tubuh Juan Pablo, ketika dia berhasil membelah dada dan perut Lionel hingga ke pusar.


Kebengisan seorang Elang Rimba terlihat dengan jelas saat itu. Pantaslah jika nama besarnya begitu disegani di dunia hitam. Elang Rimba tak segan untuk menghabisi siapa pun yang menjadi lawannya dengan brutal.


"Ini untukmu, el tio!" ucap Juan Pablo sambil menyeringai buas, ketika dirinya mengoyak tubuh Lionel dengan sangat beringas.

__ADS_1


__ADS_2