
"Apa yang ada dalam pikiranmu tentangnya?" Adriano tampak serius menatap Coco.
"Entahlah. Aku akan mencoba menyelidikinya nanti. Pekerjaan seperti ini harus dilakukan dengan pikiran tenang," jawab Coco seraya beranjak. "Omong-omong, Marco tadi menghubungiku. Dia akan siap sekitar pukul empat."
Adriano lalu melihat arloji yang melingkar di pergelangan kirinya. Masih ada sisa sekitar sepuluh menit lagi hingga pukul empat tepat. Namun, Coco sudah mengajak Adriano agar mengikuti langkahnya menuju ruang kerja milik mendiang Matteo. Sementara Damiano memilih untuk ke kamar dan membersihkan diri. Dia hanya akan menerima laporan dari perkembangan kasusnya saja.
Sudah beberapa kali Adriano masuk ke ruang kerja itu. Namun, dia tak sempat mengamati setiap detailnya. Baru kali inilah Adriano berkesempatan untuk menelusuri tiap sudut ruangan yang cukup besar tersebut.
Ada sesuatu yang pertama kali menarik perhatian Adriano, yaitu meja kerja yang selama ini dia lihat dari jarak agak jauh. Setiap kali memasuki ruangan itu, Adriano selalu memilih untuk duduk di kursi. Kini, pria tampan bermata biru tersebut memutuskan untuk menghampiri meja kerja dan memperhatikan beberapa bingkai foto yang terpajang di sana.
Di atas meja terdapat foto orang tua Matteo yang berada pada bingkai berukuran paling besar. Lalu, ada juga foto bayi Miabella yang baru berusia beberapa hari. Satu yang paling menarik perhatian Adriano adalah foto pernikahan Mia dan Matteo. Foto ketika pasangan itu baru saja mengucapkan sumpah setia dan tengah berciuman. Mia terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin dan juga kerudung putihnya.
“Sejak kepergian Theo, tak ada yang berubah sedikit pun dari ruangan ini. Kuharap kau tak keberatan,” ujar Coco yang sedari awal sudah memperhatikan gerak-gerik Adriano.
“Tentu saja, tak masalah bagiku. Lagi pula kenapa aku keberatan?” Adriano tersenyum samar, lalu duduk di belakang meja kerja Matteo. Dia kemudian menoleh ke arah jendela yang tepat berada di sebelahnya. Mata biru Adriano menerawang, menatap kosong pada halaman Casa de Luca yang tampak dari luar jendela.
Teringat olehnya saat Mia tanpa sengaja mengutarakan perasaan ketika wanita itu tengah berada dalam keadaan mabuk. Bagi Adriano, hal itu sudah lebih dari cukup. Dia tak perlu lagi memikirkan masa lalu yang memang sudah tak ada artinya di masa kini, selain hanya sebagai kenangan. Adriano tersadar. Kembali dilihatnya arloji yang sudah menunjukan pukul empat kurang beberapa menit.
“Jadi, apakah Marco sudah siap?” tanya Adriano setelah beberapa menit berlalu dalam diam.
“Coba saja untuk menghubunginya,” balas Coco.
“Baiklah,” Adriano menyalakan perangkat komputer pribadi di hadapannya. Seketika dia mengernyitkan kening. “Aku membutuhkan password untuk mengaktifkannya,” ujar Adriano seraya menoleh kepada Coco.
“Passwordnya mudah sekali. Kau hanya tinggal memasukan tiga huruf, yaitu Mia,” jawab Coco seraya menyeret sebuah kursi kemudian meletakkannya di samping Adriano. Dia lalu duduk dengan santainya di sisi suami Mia tersebut.
“Password salah,” sahut Adriano dengan raut muka dan suara yang datar.
“Ah, kalau begitu, Mia 0622,” jawab Coco lagi.
“Apa kau yakin?” mata Adriano kembali melirik pada Coco.
“Yakin sekali! Coba saja!” jawab Coco penuh percaya diri.
Adriano pun mencobanya. Dia tersenyum karena telah berhasil menyalakan layar komputer. “Angka apakah 0622 itu?” tanya Adriano.
__ADS_1
“Tanggal pernikahan Theo dan Mia,” Coco memiringkan kepalanya sambil menatap Adriano dengan tatapan lucu. Pria berambut ikal itu juga terlihat menaikturunkan kedua alisnya. Dia sepertinya sengaja menggoda pria itu.
“Bisakah kau jauhkan wajahmu dariku? Aku merasa kau seperti hendak menciumku,” celetuk Adriano sembari menjauhkan kepalanya dari Coco.
“Kau tidak sekeren itu sampai-sampai bisa membuat seorang pria normal sepertiku jatuh cinta, Amico,” dengus Coco kesal. “Cepat hubungi Marco!” ucapnya dengan emosi.
Adriano tertawa pelan, lalu membuka aplikasi untuk melakukan panggilan video. Tak berapa lama, wajah Marco tampak jelas di layar. “Pronto (halo)!” sapanya. “Sebelum kalian mengatakan sesuatu, ada yang ingin bergabung dengan kita sore ini," ucap Marco lagi.
Adriano dan Coco saling pandan mendengar ucapan Marco. Tanda tanya mereka akhirnya terjawab ketika satu lagi wajah seseorang muncul pada layar. “Detektif Ranieri,” ucap Adriano dan Coco bersamaan.
“Come stanno tutti (apa kabar semuanya)?” detektif itu menyunggingkan senyumnya lebar-lebar sambil melambaikan tangan. “Kudengar tuan Adriano berhasil menemukan satu dari pembunuh Matteo de Luca. Sayangnya, tuan Adriano yang terhormat tak mengabariku akan hal itu. Aku datang terlambat ke Croatia. Saat aku tiba di lokasi kejadian perkara, tempat itu sudah bersih, seakan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya,” jelas sang detektif.
Selesai berbicara demikian, wajah ramah dan ceria detektif Ranieri muda tiba-tiba menghilang begitu saja. Berganti menjadi seraut wajah tegang dan garang. “Aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi, tuan Adriano. Sesuai perjanjian, kau harus selalu melaporkan temuanmu padaku!” nada bicara pria itu meninggi.
“Bagiku, melaporkan setiap langkahku padamu adalah penghambat,” elak Adriano.
“Tak ada alasan, tuan Adriano. Kenapa sulit sekali bagimu untuk mengerti, bahwa kerja sama kita ini sama-sama menguntungkan kedua belah pihak, aku dan kalian,” jelas Ignazio Ranieri.
Adriano menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia tampak memikirkan kalimat terakhir sang detektif. Sementara Coco menggeleng pelan. Dia berusaha memberitahu Adriano melalui gerakan tubuhnya. Akan tetapi, Adriano tak menghiraukan pria itu. Sepertinhya Coco memiliki pendapat lain.
“Aku akan berangkat ke Inggris secepatnya dan tinggal di sana untuk sementara waktu. Selain demi memburu Thomas Bolton, aku juga harus meninjau proyek kerja sama dengan salah seorang rekan bisnis,” tutur Adriano tanpa diminta.
“Jadi, apakah Thomas Bolton ini juga merupakan salah seorang pelaku?” detektif Ignazio Ranieri tampak sangat tertarik dengan penuturan Adriano, terlebih ketika Adriano mengangguk.
“Dia salah satu eksekutornya juga. Aku dan Ricci berniat untuk menyelidiki dan mengejarnya ke sana. Oleh karena itu, aku membutuhkan dukungan dan sumber daya tak terbatas darimu,” lanjut Adriano.
Wajah Ignazio melunak. Dia terlihat menyandarkan punggung, lalu bersedekap. “Sumber daya apa yang kau minta?” tanyanya.
Sebelum menjawab, Adriano melirik kepada Marco yang tak banyak bicara, tapi bersikap paling tenang di antara ketiga orang yang lain. “Nanti akan kujelaskan ketika aku sudah berada di Inggris. Untuk saat ini, aku hanya ingin mencari tahu siapa Thomas Bolton dan bagaimana latar belakangnya,” tutur Adriano.
"Bukannya tadi kau sudah menyuruhku untuk tenang?" bisik Coco kesal.
"Adriano melirik pria berambut ikal tersebut dan tersenyum kalem. "Aku mengatakan itu agar kau tak banyak bicara," jawabnya enteng dengan setengah berbisik. Adriano kembali mengalihkan perhatiannya pada layar komputer.
Tampak detektif Ignazio yang tengah berpikir keras. “Aku mempunyai seorang kenalan yang juga berprofesi sebagai polisi,” ujarnya kemudian. “Dia memiliki akses pada pusat data. Dari sana, kita akan memulai langkah pertama kita dalam mencari tahu tentang siapa Thomas Bolton sebenarnya," tutur pria itu.
__ADS_1
“Satu lagi, detektif. Aku ingin kau yang membersihkan jejakku di sana, ketika semua selesai dan aku telah berhasil melumpuhkan Thomas Bolton,” pinta Adriano.
“Itu hal yang sangat mudah. Cukup dengan menjentikkan jariku,” seloroh Ignazio percaya diri.
“Baguslah, kalau begitu,” Adriano menyeringai puas. Demikian pula dengan Coco dan Marco.
"Jadi, kapan kalian akan berangkat?" tanya Marco.
“Kami akan berangkat ke Inggris dalam waktu beberapa hari ke depan,” jawab Coco.
“Aku akan mempersiapkan segalanya,” ujar Ignazio sebelum keluar dari panggilan video dan meninggalkan mereka bertiga. Adriano hendak mengucapkan sesuatu pada Marco. Namun, segera diurungkannya ketika dia melihat Mia masuk ke ruang kerja dengan raut was-was. “Ada apa, Mia?” tanyanya.
“Aku ingin bicara berdua denganmu,” tatapan wanita cantik itu lurus tertuju pada Adriano.
Marco yang dapat mendengar dengan jelas suara Mia segera mengakhiri panggilan, dan hanya Coco yang masih bergeming di tempatnya. Hal itu membuat Mia dan juga Adriano memandang ke arah pria berambut ikal tersebut.
“Kenapa?” Coco memasang wajah polos.
“Mia mengatakan dia ingin bicara berdua saja denganku,” jawab Adriano dengan nada bicara penuh penekanan.
“Anggap saja aku tak ada di sini,” Coco malah bersandar di kursi sambil menekuk tangannya di belakang kepala.
“Ricci!” suara tegas Mia telah berhasil membuat pria itu berdiri seketika.
“Baiklah, Mia. Kalau kau yang menyuruh, aku akan menurut. Aku tak ingin hubunganku bersama Francy berada dalam bahaya,” Coco segera berdiri dan bergegas keluar.
Adriano sendiri memilih untuk tetap duduk di tempatnya sembari menunggu Mia mendekati dirinya dan duduk di tempat Coco.
“Jadi, inikah alasanmu pergi ke Inggris?” lirih suara Mia. Sorot matanya terlihat begitu sendu.
“Iya, Mia. Sudah kukatakan, aku tak akan berhenti sampai segalanya terungkap,” Adriano mendekatkan wajahnya pada sang istri.
“Aku ....” Mia ragu melanjutkan kata-katanya. Pada dasarnya dia juga teramat bimbang. Di satu sisi, Mia ingin dalang di balik pembunuhan Matteo terungkap. Akan tetapi di sisi lain dia sangat mengkhawatirkan Adriano. “Entah kenapa perasaanku tak enak,” gumam Mia seraya menyentuh pipi suaminya.
“Semua akan baik-baik saja, Mia. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” Adriano lalu mengecup lembut bibir sang istri.
__ADS_1