Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Like a Father


__ADS_3

Helaan napas panjang meluncur dari bibir Adriano. Dugaannya tidak meleset, tapi dia juga tidak pernah menyangka bahwa Sergei mengenal Mark Bolton. Itu artinya pria asal Rusia tersebut pun pasti mengetahui siapa Thomas Bolton dan Andreja Borislav. Bukan hal yang tidak mungkin jika Sergei juga mengetahui pihak lainnya, yang terlibat dan harus bertanggung jawab dalam kasus kematian Matteo de Luca.


"Kenapa sampai harus pergi ke Amerika, Kroasia, dan Inggris, jika ternyata aku bisa mengorek informasi dari orang yang berada dekat denganku?" gumam Adriano setelah dia mengakhiri sambungan video call bersama detektif Ranieri. Pria itu kemudian beranjak dari duduknya dan keluar ruangan. Dia lalu menghubungi sang ajudan setia. "Pierre, kau di mana?" tanyanya.


"Aku masih di club, tuan," terdengar jawaban dari pria empat puluh tahun tersebut. Hari itu, Adriano memang menugaskannya untuk memantau beberapa perbaikan fasilitas yang sedang dikerjakan, pada salah satu club miliknya yang berada di kota Monte Carlo.


"Baiklah. Kau teruskan saja," balas Adriano yang segera menutup sambungan teleponnya. Pria bermata biru tersebut, lalu berjalan menuju kamar Miabella. Dia yakin jika Mia pun pasti sedang berada di sana. Lagi-lagi, dugaannya memang benar. Mia dan Miabella terdengar sedang asyik bercengkerama. Mereka tertawa riang. Tanpa sadar, Adriano yang masih berdiri di depan pintu kamar putri sambungnya ikut tersenyum lebar. Sebuah kebahagiaan yang yang membuat hidup pria berparas rupawan itu kian sempurna.


Perlahan Adriano mengetuk pintu lalu membukanya. Tampaklah ibu dan anak itu yang sedang duduk berdua di atas kasur, sambil menatap layar ponsel. Rupanya mereka berdua tengah asyik berswafoto. "Apanya yang seru gadis-gadis?" tanya Adriano sambil melangkah tenang ke dekat tempat tidur.


"Daddy Zio, kemarilah. Ayo ikut berfoto denganku dan ibu," ajak Miabella yang tampak sumringah saat melihat kehadiran Adriano di sana. Gadis kecil itu turun dari tempat tidur, kemudian menarik tangan sang ayah hingga dia ikut duduk bersama mereka. "Lihatlah, Daddy Zio. Kau terlihat sangat lucu," Miabella tertawa riang saat melihat wajah Adriano di layar ponsel dengan tambahan stiker yang menggemaskan. Pria tiga puluh dua tahun itu pun tertawa renyah. Dia tidak pernah melakukan hal konyol seperti itu sebelumnya. Namun, lama-kelamaan Adriano mulai menyukainya. Dia bahkan menggeser posisi Mia, dan asyik berfoto dengan Miabella.


Keceriaan itu baru berhenti ketika ada sebuah panggilan masuk ke nomor ponsel Adriano. Dengan terpaksa, sang ketua Tigre Nerro turun dari atas kasur dan berdiri di dekat jendela kaca yang langsung menghadap ke taman sebelah mansion. "Pierre?" sapanya tenang.


"Aku sudah kembali, Tuan. Apa anda membutuhkan bantuanku?" tanya Pierre yang saat itu berdiri di depan pintu masuk ruang kerja Adriano. "Sekarang aku berada di depan ruang kerja anda," ucapnya lagi.


"Aku sedang di kamar Miabella. Kau tunggu saja di situ," titah Adriano seraya mengakhiri perbincangannya. Dia kembali menghampiri Mia dan Miabella. "Maafkan aku, Principessa. Aku masih ada pekerjaan. Nanti kita lanjutkan lagi," ucapnya sambil mengecup pucuk kepala sang putri yang tampak merengut. Dia kecewa karena Adriano akan pergi dari kamarnya.

__ADS_1


"Kau hendak ke mana, Adriano?" tanya Mia yang terlihat penasaran.


"Ada sedikit urusan, Mia. Aku janji tidak akan lama," jawab pria bermata biru itu dengan tenang.


Namun, sikap tenang Adriano berbanding terbalik dengan Mia. Wanita itu segera turun dari tempat tidur, kemudian menghampiri sang suami. "Entah kenapa aku selalu merasa khawatir setiap kali kau mengatakan jika dirimu ada sedikit urusan. Tolong jangan membuatku cemas lagi seperti kemarin-kemarin," pinta Mia. Jemari lentiknya menangkup rahang tegas pria bermata biru itu dengan mesra.


"Hey, tenanglah," Adriano tersenyum kalem seraya mengecup tangan Mia yang masih berada di wajahnya. "Kau tidak perlu khawatir, karena aku akan selalu baik-baik saja. Doamu dan juga senyuman ceria Miabella adalah perisai yang sangat luar biasa bagiku. Kedua hal itu jauh lebih kuat dari baja paling keras sekalipun," dalam dan begitu bermakna kata-kata yang diucapkan Adriano kepada Mia, membuat wanita cantik tersebut tak segan-segan untuk menciumnya meski hanya beberapa saat.


"Aku akan menemui Pierre dulu," pamit Adriano. Perhatiannya kemudian beralih kepada Miabella yang masih asyik dengan layar ponsel. "Bella, jaga ibumu baik-baik," pesannya.


Miabella menoleh sesaat, kemudian tersenyum manis. "Iya, Daddy Zio. Aku akan menjaga ibu, tapi nanti belikan aku baju seperti yang dipakai Putri Jasmine," jawab gadis kecil itu sambil memperlihatkan layar ponsel kepada sang ayah.


"Tuan," sapa sang ajudan yang masih setia melajang. Dia mengikuti Adriano yang segera masuk setelah membalas sapaannya dengan sebuah anggukan. "Apa ada sesuatu yang penting?" Pierre terlihat sangat penasaran. Dia berdiri di dekat meja kerja, menghadap kepada sang majikan yang sudah duduk di atas kursi kebesarannya.


"Hubungi Sergei Redomir dan suruh dia agar datang kemari sore ini," titah Adriano.


"Mendadak sekali," Pierre merasakan ada sesuatu yang aneh.

__ADS_1


Adriano mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Dia menatap lurus kepada sang ajudan. "Seharusnya aku yang menemuinya secara langsung, tapi kondisiku sedang tidak memungkinkan. Lagi pula, Mia ...." Adriano menggaruk keningnya sesaat. "Intinya suruh Sergei untuk datang kemari," tegas sang ketua lagi.


"Baiklah," tak ada alasan bagi Pierre untuk membantah perintah sang majikan. Sebagai seorang ajudan yang mengabdi dengan penuh loyalitas, dia akan melakukan apapun tugas dari Adriano untuknya.


Sementara suasana di Casa de Luca saat itu tidak sesunyi biasanya. Suara tawa riang anak-anak, terdengar menghiasi bangunan megah yang kini seakan telah kehilangan keangkerannya. Dari semenjak Matteo mengundurkan diri dan memindahkan pusat kekuasaan ke Palermo, Casa de Luca hanya menjadi sebuah bangunan biasa di antara lautan kebun anggur.


"Damiano, makanlah dulu," Coco masuk dengan membawa nampan berisi makanan untuk pria tua yang saat itu sedang terbaring sakit.


"Terima kasih, Nak. Aku senang karena kau telah pulang. Setidaknya, aku berhenti untuk berbicara kepada dinding bisu," sambut Damiano yang seharian tadi tertidur karena pengaruh obat.


"Maaf jika aku tidak bisa merawatmu dengan baik," sesal Coco seraya duduk di tepian ranjang. Raut wajah yang biasa terlihat ceria dengan segala sikap konyol khas dirinya, kini tampak murung dan juga masam. "Apa perlu kuberitahu Mia tentang kondisimu?"


"Tidak, jangan," cegah Damiano. "Aku tidak ingin membuatnya cemas. Lagi pula, sudah beberapa hari ini dia tidak menghubungi kemari. Biasanya, Miabella rutin melakukan video call denganku," tutur pria paruh baya dengan rambut dan janggut yang telah memutih seluruhnya.


"Mia sedang sibuk merawat Adriano. Ada banyak hal yang terjadi selama kami berada di Inggris kemarin," terang Coco. Dia terdiam sejenak sebelum kembali bicara. "Kau tahu Damiano? Adriano sudah mempertaruhkan nyawanya demi mengungkap kasus kematian Matteo. Aku merasa bersalah karena pernah bersikap tidak baik padanya," sesal Coco lagi.


"Sudahlah, Nak. Ada banyak orang yang juga pernah berada di dalam posisi sepertimu. Aku rasa wajar jika kau merasa tidak terima, dengan kehadiran pria itu yang seakan menggantikan Matteo. Akan tetapi, bagiku keberadaan Adriano D'Angelo merupakan sebuah berkah dari Tuhan. Lihatlah bagaimana dia menjaga dan memperlakukan Mia serta Miabella. Sikapnya terhadap Miabella sungguh luar biasa, seakan-akan bahwa anak itu adalah putri kandungnya sendiri. Setidaknya, jika aku mati, maka aku bisa pergi dengan tenang karena ada yang melindungi cucuku dengan baik."

__ADS_1


"Ayolah, Damiano. Kumohon jangan berbicara tentang kematian. Satu kepergian Matteo telah menyisakan jutaan kepedihan bagiku. Aku belum siap untuk kehilangan lagi. Kau sudah seperti seorang ayah. Aku sangat menyayangimu," tak kuasa menahan sedih, Coco membenamkan wajahnya di atas pangkuan Damiano yang saat itu dalam posisi duduk bersandar.


__ADS_2