
Mia terbangun seraya bernapas lega, ketika mendapati sang suami terlelap di belakangnya. Adriano melingkarkan tangan di pinggang Mia yang tengah memeluk Miabella. Wanita cantik itu tersenyum. Entah sejak kapan dirinya tertidur di ranjang Miabella. Dengan hati-hati, Mia menyingkirkan tangan Adriano dari atas tubuhnya. Dia lalu bangkit dan beringsut turun. Tak biasanya Mia bangun lebih dulu dari putri ataupun suaminya.
Wanita itu kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri hingga beberapa saat lamanya. Ketika dia membuka pintu kamar mandi dan hendak keluar dari sana, Mia mendapati Adriano sudah berdiri tegak di balik pintu. “Kau sudah bangun, Mia? Apa kau baik-baik saja?” tanya pria bermata biru itu lembut.
“Aku baik-baik saja, Sayang. Dari mana kau semalam?” Mia balik bertanya.
Adriano tak segera menjawab. Dia khawatir Mia akan kembali cemas jika dirinya memberitahukan tentang pertemuan antara dia dengan Lionel semalam, sehingga pria itu memutuskan untuk tak menanggapi pertanyaan sang istri. Adriano malah merengkuh tubuh Mia yang masih berbalut handuk putih. Dia lalu mencium lembut bibir wanita itu. Tangannya pun bergerak nakal menelusuri dada dan pinggul Mia, sampai terdengar suara Miabella memanggil mereka berdua.
“Ibu, Daddy Zio, apa yang sedang kalian lakukan di sana?” balita cantik itu memicingkan mata sambil memandang keheranan pada kedua orang tuanya.
Merasa terkejut, Mia buru-buru mendorong tubuh Adriano agar menjauh dan bersikap seolah tak terjadi apapun. “Selamat pagi, Sayang. Aku akan berpakaian dulu lalu menyiapkan sarapan untuk kalian,” Mia menghampiri Miabella lalu mencium kening dan pipi gembulnya.
“Setelah sarapan nanti, aku akan mengajak kalian jalan-jalan,” ujar Adriano, membuat ibu dan anak itu serentak menoleh ke arahnya.
“Jalan-jalan ke mana?” mereka berdua bertanya secara bersamaan.
Adriano terkekeh geli melihat kekompakan mereka berdua. “Aku berencana mengajak kalian ke Venice dulu, sebelum kita pulang ke Monaco hari ini,” jawabnya kemudian.
“Venice?” ulang Mia. Dia langsung saja tertegun karena tak menyangka bahwa Adriano tiba-tiba mengajaknya ke kota kecil itu.
“Kenapa kita harus ke sana?” tanyanya lirih dengan mata berkaca-kaca kala mengenang masa lalunya.
“Tidak apa-apa. Aku ingin agar kau dapat sedikit menenangkan pikiran. Kemarin, aku sangat kalut saat melihatmu hampir kembali dilanda gangguan kecemasan,” jelas Adriano seraya melangkah masuk ke kamar mandi.
Setitik air mata menetes di sudut bibir Mia, kala dirinya teringat pada sebagian besar kenangan dalam hidupnya yang dia habiskan di sana. Kota Gondola, kota sejuta kenangan, tempat dia tumbuh dewasa di bawah asuhan sang ayah tercinta. Di sana jugalah yang menjadi tempat pertama kalinya dia bertemu dengan Matteo. Venice juga merupakan kota yang membuatnya harus mengalami kejadian berdarah hingga membuat dirinya mengalami trauma berat. Kematian Valentino yang saat itu baru saja selesai menjalani prosesi pernikahan bersama dia, kembali melintas dalam benaknya.
__ADS_1
“Ibu?” panggil Miabella, membuat Mia seketika tersadar.
“Ah, iya, Sayang?” Mia segera berbalik dan membelai rambut putri kesayangannya. “Tunggu di sini, ya. Sebentar lagi daddy zio akan segera keluar dari kamar mandi. Ibu akan berpakain dulu lalu membuatkan kalian sarapan.” Dengan segera, Mia menuju ruang ganti dan segera berpakaian. Setelah itu, langkahnya tampak tergesa-gesa menuju dapur utama. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika mendapati suasana di Casa de Luca menjadi jauh lebih ramai dari biasanya. Ada banyak orang di sana, salah satunya yang Mia kenali adalah Benigno.
“Ada apa ini?” Mia menepuk pundak Benigno pelan. Pria tinggi besar dengan tato di sekujur tubuhnya itu segera menoleh kepada Mia.
“Ah, Nyonya,” sapanya penuh hormat. “Bos mengundang kami semua datang kemari untuk sarapan bersama,” jawab Benigno sopan. Sebisa mungkin dia menyembunyikan alasan sebenarnya. Adriano sudah mewanti-wanti dia dan anak buah yang lain, agar tak mengatakan apapun yang dapat menimbulkan kecemasan bagi Mia.
“Oh, begitu rupanya.” Mia sedikit ragu atas penjelasan Benigno, tapi dia tidak terlalu memusingkannya. Mia mengalihkan segala keresahan hati dengan membantu pelayan menyiapkan makan besar pagi itu.
Satu jam telah berlalu. Semua hidangan sudah siap di atas meja khusus untuk jamuan besar, yang terletak di taman belakang bangunan Casa de Luca. Damiano juga tampak beramah tamah dengan Dante, Serafino, dan juga anak buah Benigno yang jauh-jauh datang dari Roma. Suasana semakin hangat ketika Adriano hadir dengan menggandeng Miabella yang sudah terlihat rapi dan cantik. “Kakek!” seru balita lucu itu seraya menghambur ke arah Damiano.
Sementara Adriano memilih untuk mendekati Benigno sambil berbisik, “Aku akan berangkat ke Venice pagi ini. Aku minta tolong padamu agar tinggal di sini setidaknya sampai besok pagi, hanya sekedar untuk berjaga-jaga.”
Adriano hendak mengucapkan beberapa patah kata lagi ketika Mia melambaikan tangan padanya. “Ayo, isi perutmu dulu,” ajak Adriano sembari menepuk punggung Benigno.
Sarapan pagi itu terasa begitu hangat dan ceria. Sayangnya Coco tak bisa bergabung di sana. Namun, masih banyak obrolan menarik diselingi celotehan Miabella. Kehangatan itu tak berakhir walaupun Adriano undur diri lebih dulu, untuk mengajak keluarga kecilnya berjalan-jalan ke Venice.
Dua jam lamanya Adriano berkendara hingga tiba di sana. Kanal-kanal berair jernih, cafe-cafe dan gondola yang bertebaran, seketika membuat perasaan Mia menghangat sekaligus pilu. “Aku menghabiskan masa remajaku di sini, Adriano,” suara Mia terdengar begitu lirih. Pandangannya terus tertuju ke luar jendela mobil dengan mata menerawang.
“Ayahku ....” Mia mulai terisak saat mengingat wajah teduh Mr. Gio.
“Apa kau ingin mengunjunginya? Dengan senang hati aku akan mengantarmu,” tawar Adriano.
Mia menoleh pada Adriano, lalu memandang Miabella sejenak. Dia tersenyum kemudian mengangguk.
__ADS_1
“Baiklah,” Adriano mengangguk dan memutar kemudi. Dia melajukan kendaraannya dengan arahan dari Mia, hingga mobil mewah Adriano berhenti di depan gerbang sebuah pemakaman umum kota yang terlihat sangat bersih dan rapi.
“Di mana ini, Daddy Zio?” tanya Miabella. Mata abu-abunya tampak membulat sempurna.
“Kita akan bertemu dengan kakekmu, Sayang. Ayah dari ibu,” sahut Mia dengan lembut sebelum dirinya turun dari kendaraan terlebih dulu.
Adriano turut keluar dari mobil, lalu membukakan pintu penumpang. Dia menurunkan Miabella dari kursi khusus balita, lalu menuntun putri sambungnya untuk mengikuti langkah Mia memasuki area pemakaman. Tubuh ramping itu berhenti di depan sebuah pusara dengan tanda salib. Tertera nama serta foto pria paruh baya pada nisan tersebut. “Itukah ayahmu, Mia?” Adriano terpaku sejenak menatap potret wajah teduh tapi juga penuh wibawa.
“Iya, Adriano. Dia adalah ayahku,” Mia duduk bersimpuh, lalu menundukkan kepala sambil berdoa di dekat pusara sang ayah untuk beberapa saat lamanya. Setelah selesai, Mia mendongak dan mengusap foto mr. Gio, kemudian berdiri dan memaksakan tersenyum.
“Bolehkah aku mengunjungi satu makam lagi?” pintanya pada Adriano.
“Tidak masalah meskipun kau ingin mengunjungi semua makam di tempat ini. Aku tetap akan menemanimu,” kelakar Adriano seraya tersenyum lebar, menampakkan lesung pipi dan deretan gigi putihnya yang menawan.
“Daddy Zio, kau sudah berjanji mengajakku keliling kota, bukan keliling makam,” protes Miabella.
Baik Mia maupun Adriano, terbahak mendengar celotehan putri kecil mereka yang semakin cerdas dan bawel.
“Sebentar saja, Sayang,” ujar Mia sambil menuntun Miabella menuju deretan makam yang terletak tak jauh dari pusara mr Gio. Namun, langkah Mia terhenti saat dirinya menatap sesosok pria yang berdiri menghadap sebuah makam yang akan dia tuju. Jantung Mia berdegup kencang, dengan sorot tak percaya memandang seseorang yang tak jauh di depannya.
“Ada apa, Mia?” tanya Adriano keheranan. Namun, Mia tak menjawab. Dia malah menghampiri pria tersebut sembari menepuk pundaknya. “Vale?” panggil Mia.
Pria itu menoleh dan terkejut. “Mi-Mia?” desisnya ragu.
“Ka-kau Vale? Ini tidak mungkin,” Mia menggeleng pelan dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
__ADS_1