
Adriano mengemudikan mobilnya dengan tenang. Namun, raut wajah pria bermata biru itu tampak begitu datar. Masih terngiang di telinga Adriano, sebutan anak haram yang dialamatkan anak-anak Claudia terhadap dirinya. Secara tidak langsung, dia kembali terkenang akan sosok sang ibu yang telah lama tidak dia temui.
Domenica pergi setelah dia menyerahkan Adriano kepada sang ayah. Wanita itu hilang bagai di telan bumi. Dia yang tengah dalam keadaan sakit, seakan tak ingin jika Adriano mengetahui saat dirinya akan meregang nyawa. Karena itulah, Domenica memilih untuk menghilang dan bersembunyi. Selama ini, Adriano terus mencari keberadaan sang ibu, meskipun dirinya tak yakin jika wanita yang telah melahirkannya tersebut masih hidup. Namun, setidaknya dia bisa mengetahui di mana letak pusara yang menjadi tempat peristirahatan terakhir ibunya.
"Kau tidak apa-apa?" Mia menyentuh lengan Adriano dengan lembut. Suara wanita itu telah berhasil membawa Adriano kembali dari lamunannya. Dia melihat ke arah Mia sambil tersenyum dan mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Adriano lalu menoleh ke jok belakang, di mana Miabella duduk dengan tenang. Gadis kecil itu tengah asyik memainkan boneka, yang Adriano belikan setelah mereka kembali dari kediaman Emiliano. "Kau menyukainya, Bella?" tanya pria itu seraya kembali mengarahkan pandangan ke depan.
"Aku sangat menyukainya, Daddy Zio," jawab Miabella tanpa menoleh. Dia terlalu asyik pada mainan barunya.
"Kau sangat memanjakannya, Adriano," ucap Mia lagi. Dia menatap pria dengan mata biru yang menawan.
"Kita pernah membahasnya, Mia," sahut Adriano tenang sambil terus mengemudi. "Setelah ini, segeralah berkemas. Kita akan kembali ke Monaco besok," ucap Adriano membuat Mia terkejut.
"Kenapa sangat mendadak?" protesnya. Mia sepertinya masih merindukan Italia, dan belum ingin kembali ke Monaco.
"Aku harus berangkat ke Inggris, Mia. Satu lagi, kalian berdua akan ikut denganku ke sana," Adriano masih terlihat tenang, meskipun dirinya kembali membuat Mia terkejut.
"Ke mana? Ke Inggris maksudmu?" Mia seakan tidak percaya dengan ucapan sang suami. Namun, Adriano meyakinkannya dengan sebuah anggukan tegas. "Apakah kami tidak akan menjadi penghambatmu?" Mia yang saat itu mengarahkan badannya kepada Adriano, kini kembali mengahadap lurus ke depan. Raut wajah cantiknya tiba-tiba terlihat sendu, dengan tatapan nanar yang menyertainya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan membawa serta Ricci bersama kita. Jadi, selama aku mengurusi beberapa hal di sana, dia yang akan menjagamu dan Miabella," jelas Adriano.
Akan tetapi, Mia sepertinya masih belum merasa yakin. Dia kembali melayangkan tatapan protes kepada pria di sebelahnya. "Jika Ricci menjagaku, lalu siapa yang akan menyertaimu?" Mia tampak sangat mengkhawtirkan keselamatan Adriano.
"Tuhan, Mia," jawab Adriano tenang, dengan senyumannya yang penuh kharisma. Sorot mata yang menggoda, mengarah kepada Mia untuk beberapa saat hingga wanita itu menjadi salah tingkah. "Tuhan yang akan menjagaku. Itulah yang dikatakan Miranda tadi," ucap Adriano lagi. Dia lalu mengempaskan napas pelan.
"Dia benar, Adriano," balas Mia menanggapi ucapan pria itu. "Tuhan dan juga doaku tentunya," lanjut Mia dengan senyuman lembut yang membuat Adriano begitu terbuai. Disentuhnya wajah sang istri dengan punggung tangan kanan, sementara tangan kiri masih memegang kemudi.
“Tetap fokus, Sayang,” tegur Mia. Dia mengingatkan Adriano agar tetap berkonsentrasi pada lalu lintas. Sementara Adriano hanya tersenyum, terlebih karena tak biasanya Mia memanggil dirinya dengan sebutan sayang. Adriano kembali pada kemudi, karena Mia juga mengalihkan pandangannya ke depan. Sesekali, terdengar tawa ceria Miabella yang masih asyik dengan mainan barunya.
Tanpa terasa, mobil yang Adriano kemudikan telah memasuki gerbang pertama Casa de Luca. Seorang penjaga membukanya lalu memberi hormat. Kendaraan mewah itu kembali melaju menuju gerbang kedua yang berjarak kurang lebih dua ratus meter. Kembali, seorang penjaga membukakan pintu sambil memberi hormat. Setelah gerbang kedua, barulah mobil sport merah Adriano berhenti di halaman Casa de Luca.
“Setelah ini aku akan berbincang sebentar dengan Ricci. Kuharap dia sudah kembali dari bengkelnya,” Adriano berkata sambil melepas sabuk pengaman.
“Kami akan membahas tentang rencana ke Inggris. Marco juga akan bergabung lewat sambungan video call,” terang Adriano seraya membuka pintu, lalu keluar. Dia berjalan mengitari mobil menuju ke pintu sebelah. Adriano lalu membukakannya untuk Mia.
“Apakah Marco akan ikut juga ke Inggris?” tanya Mia sambil keluar dan berdiri. Dia memperhatikan Adriano yang tengah membantu Miabella melepas sabuk pengamannya. Setelah itu, dia menggendong gadis kecil tersebut untuk segera masuk.
Di dalam sana, tampak Coco yang sedang asyik bermain game dengan menggunakan ponselnya. Sedangkan Damiano, sepertinya baru kembali dari perkebunan. Wajah pria tua bersahaja yang bijaksana itu masih terlihat lusuh. "Apa yang kau bawa, Bella?" Damiano langsung menyambut cucu kesayangannya.
__ADS_1
Miabella segera meminta turun dari gendongan Adriano. Dia berlari kecil menuju sang kakek yang tengah duduk santai di atas sofa ruang tamu. "Lihatlah, Kakek. Daddy Zio yang membelikannya untukku," tunjuk gadis kecil bermata abu-abu itu.
"Ayo, Sayang. Kau harus mandi dan berganti pakaian. Setelah itu akan kukepang lagi rambutmu seperti kemarin," ajak Mia. Tanpa menjawab, Miabella menghampirinya. Setelah berpamitan pada semua yang ada di ruangan itu, Mia lalu menuntun Miabella menuju kamar gadis kecilnya.
"Aku pikir kau tidak akan pulang ke Casa de Luca. Aku sengaja menutup bengkel lebih awal hari ini," ucap Coco tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel.
Adriano menoleh padanya, tapi tak berkata apa-apa. Dia lalu mengalihkan tatapan kepada Damiano. "Ayahku sudah setuju untuk bekerja denganmu, Damiano," ucapnya. "Dia akan datang besok dan mulai melakukan tugasnya. Aku harap kalian berdua dapat menjadi rekan yang solid," lanjut pria bermata biru itu.
"Oh, tentu saja. Selama ayahmu bersedia untuk bekerja sama denganku," Damiano menanggapi.
"Tidak perlu khawatir. Ayahku bukanlah pria yang keras kepala. Jadi, aku rasa menyatukan kau dengannya adalah ide yang sangat brilian," ujar Adriano lagi. Tatapannya lalu beralih kepada Coco. "Aku akan kembali ke Monaco besok. Kita akan berangkat ke Inggris dari sana. Jadi, kau ikut lagi kembali ke Monte Carlo."
Coco menghentikan permainannya. Dia balas menatap Adriano. "Apa kau sudah mencari tahu tentang Thomas Bolton sebelumnya? Jangan sampai saat sudah berada di Inggris nanti, kau kebingungan harus melakukan apa," ujar pria berambut ikal itu dengan setengah mencibir.
"Kau tidak perlu khawatir, Ricci," sahut Adriano tenang.
"Siapa Thomas Bolton?" Damiano ikut menanggapi.
Adriano menoleh kepada pria tua yang duduk tidak jauh darinya. Dia pun mulai menceritakan tentang segala temuannya untuk perkembangan kasus pembunuhan Matteo, termasuk ketika dirinya dan Coco menghabisi Andreja Borislav di Kroasia. Sebagai orang terdekat Matteo, Damiano harus mengetahui semua itu.
__ADS_1
"Elang Rimba? Aku tidak pernah mendengar nama itu ataupun nama-nama lainnya yang kau sebutkan, Nak," ujar Damiano.
"Mereka memang bukan berasal dari Italia, Damiano," jelas Coco, "tapi, aku masih merasa penasaran dengan pria yang kau temui di Amerika. Dia seperti mengetahui sesuatu dan mengarahkanmu pada .... " Coco tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tampak berpikir sejenak.