
"Kalian sudah menghabisinya?" tanya Juan Pablo seraya mendekat dan berdiri tepat di hadapan Stefano, pria dengan postur yang tak lebih tinggi dari dirinya. "Kalian buang ke mana mayat Ilario?" tanya sang bos besar lagi, membuat Stefano tampak gugup. Dia bahkan lebih sering berkedip karena rasa terkejut atas kunjungan mendadak Juan Pablo ke sana.
"Kami ... kami membawa Ilario pergi jauh dari kota Milan, kemudian membakar dia hidup-hidup," jelas Stefano gugup.
"Astaga. Memangnya berapa kerugian yang Ilario timbulkan?"
"Cukup banyak, Bos. Karena itulah kami menghabisinya. Selain itu, dia juga terus melarikan diri sehingga membuat kami merasa jengkel," jelas Stefano lagi.
"Apa karena itu juga kalian menculik Emiliano Moriarty?" Pertanyaan Juan Pablo terdengar semakin tegas dan juga penuh penekanan.
"Iya, Bos. Namun, apa masalahnya dengan mereka?" tanya Stefano heran.
Juan Pablo tak segera menjawab. Dia lalu mengedarkan pandangan pada pria-pria lain yang berdiri dengan sikap hormat kepadanya. Juan Pablo mengamati satu per satu wajah yang ada di sana. "Siapa di antara kalian yang mengenal Adriano D'Angelo?" tanyanya lagi.
Beberapa pria itu saling pandang. Tak lama, salah seorang dari mereka mengangkat tangannya. "Aku, Bos," jawab pria itu sambil sesekali menunduk ketika Juan Pablo berjalan menghampirinya.
"Siapa namamu?" tanya pria bermata cokelat madu itu dengan dingin.
"Giuliano Kappey, Bos," jawab pria yang tak lain adalah Giuliano.
"Bagaimana kau bisa mengenal Adriano D'Angelo?" selidik Juan Pablo.
"Aku sudah lama mengenalnya. Apalagi sejak dulu Artiglio Di Corvo mendapat pasokan narkoba yang diproduksi oleh Tigre Nero. Seperti yang kita ketahui, bahwa pabrik narkoba milik Vincenzo Moriarty juga saat ini sudah berada dalam pengelolaan Tigre Nero," jelas Giuliano lagi.
"Begitukah?" Juan Pablo mengalihkan perhatiannya kepada Stefano. "Lalu kenapa aku masih menemukan nama Vincenzo Moriarty sebagai pemasok kita, bukannya Tigre Nero?" tanya pria itu heran.
__ADS_1
"Entahlah, Bos. Sepertinya Adriano D'Angelo memang tidak berniat mengganti nama pabrik itu. Dia hanya menjalankannya," jelas Stefano sedikit ragu. Dia begitu gugup dan takut salah bicara.
Juan Pablo kembali terdiam. Dia lalu memasukkan tangannya pada saku mantel. "Baiklah. Aku harap kalian tidak mencari masalah dengan Adriano D'Angelo atau siapa pun yang berhubungan dengannya. Ingatlah untuk selalu merahasiakan namaku sebagai ketua baru dari Artiglio Di Corvo," pesan Juan Pablo dengan tegas, sebelum dirinya berlalu keluar dari dalam gedung itu. Juan Pablo berjalan dengan cukup tergesa-gesa menuju ke mobil. Dia harus segera kembali sebelum Gianna terbangun dan mencarinya.
Dengan kecepatan tinggi, pria asal Meksiko itu melajukan sedan hitam yang dia kendarai. Tak berselang lama, dia pun telah kembali ke hotel. Juan Pablo melangkah sangat hati-hati saat memasuki kamar yang ditempatinya bersama Gianna. Untunglah karena gadis itu masih tertidur lelap.
Juan Pablo segera melepas seluruh pakaian dan naik ke atas tempat tidur, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Saat itu, Gianna tampak bergerak. Dia membalikkan badan ke arah Juan Pablo berada. "Aku tadi terbangun, tapi kau tidak ada," ucap gadis itu dengan sorot mata sayu dan suara yang parau.
"Aku ke kamar mandi," jawab Juan Pablo. Dia lalu memeluk tubuh Gianna seraya mengecup keningnya. "Ayo kita tidur lagi," ajaknya.
Gianna menggumam pelan. Dia tersenyum kecil dengan kedua mata yang kembali terpejam. "Aku mencintaimu, Tuan Herrera," ucapnya pelan. Sementara Juan Pablo tak menjawab. Dia menanggapi ucapan Gianna dengan semakin mengeratkan pelukannya. Juan Pablo pun mulai memejamkan mata.
Keesokan harinya, kedua sejoli itu sudah bersiap. Seusai sarapan, mereka lalu pergi dari hotel itu dan kembali ke kediaman Emiliano. Tak banyak waktu yang mereka habiskan di sana, karena keduanya hanya sekadar berpamitan. Gianna juga memberikan sejumlah uang kepada sang ayah, meskipun Emiliano sempat menolak.
Setelah dari kediaman Emiliano, Juan Pablo tiba-tiba mengarahkan kendaraannya menuju ke Brescia. "Aku ingin menemui Adriano sebentar," ucapnya.
Hampir satu jam perjalanan, mobil sedan hitam milik Juan Pablo kini telah memasuki halaman depan Casa de Luca. Setelah membukakan pintu untuk Gianna, mereka kemudian berjalan masuk. Kebetulan, di sana ada Damiano yang langsung menyambut kehadiran dua sejoli tersebut.
"Apa kabar, Nak?" pria tua itu memeluk Juan Pablo dengan hangat sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Kabarku sangat baik, Tuan Baresi," jawab Juan Pablo setelah mereka saling melepaskan pelukan.
"Kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan tuan? Aku merasa risih karenanya," protes Damiano diiringi senyum hangat.
"Oh baiklah. Maafkan aku," balas Juan Pablo seraya tersenyum kecil. Tatapannya kemudian tertuju kepada Miabella yang baru muncul. Namun, gadis kecil itu memilih untuk kembali masuk ke ruangan sebelumnya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Gia?" Damiano beralih kepada Gianna. "Kudengar tuan Moriarty sedang sakit."
"Iya, Paman. Aku sengaja datang dari Roma untuk menjenguknya," sahut Gianna. Dia mengedarkan pandangan ke bagian lain ruangan itu. "Di mana Mia?" tanyanya kemudian.
"Mia dan Adriano belum kembali dari rumah sakit," jawab Damiano.
"Ada apa, Paman? Siapa yang sakit?" tanya Gianna yang duduk di dekat Juan Pablo.
"Beberapa waktu yang lalu Coco baru menjalani operasi pemotongan usus. Kemarin lukanya terkoyak lagi, sehingga dia harus kembali dilarikan ke rumah sakit," jelas Damiano.
"Astaga, aku tidak tahu hal itu. Mia tidak mengatakannya padaku. Kenapa Ricci tiba-tiba harus dioperasi pemotongan usus, Paman?" tanya Gianna lagi penasaran. "Terakhir kali bertemu dengannya di Roma, dia masih terlihat sehat," ujar Gianna.
"Ya. Setelah dari sana, Coco dan Adriano berangkat ke Serbia. Namun, Coco kembali dalam keadaan terluka," tutur Damiano kembali menerangkan.
"Serbia?" ulang Juan Pablo. Pria bermata cokelat madu itu tampak berpikir sejenak. "Adriano pergi ke Serbia? Kapan itu?" tanyanya.
"Sekitar beberapa minggu yang lalu," jawab Damiano lagi, membuat Juan Pablo kembali berpikir. Pria itu tampak memicingkan matanya.
Namun, bahasa tubuh yang dia tunjukkan tak membuat Damiano serta Gianna merasa terganggu atau curiga. Terlebih, karena saat itu ada seorang penjaga pintu gerbang yang datang ke sana.
"Tuan Baresi, ada kiriman surat untuk tuan Adriano D'Angelo," lapor pria bertubuh tinggi besar yang tadi Juan Pablo temui di gerbang kedua. Dia menyodorkan sebuah amplop kepada Damiano yang segera menerimanya.
"Adriano belum kembali dari rumah sakit. Apa ini surat yang sangat penting dan mendesak?" tanya Damiano seraya membolak-balikkan amplop yang baru diterimanya.
"Aku kurang tahu, Tuan. Seorang pria hanya memberikan itu pada penjaga pos pertama. Dia meminta untuk menyerahkannya kepada tuan D'Angelo," jawabnya.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih. Kau boleh kembali." Damiano menyuruh penjaga pos tadi kembali ke tempatnya. Setelah itu, dia meletakkan amplop yang baru diterimanya di atas meja. "Sebentar. Aku akan menghubungi Adriano dulu," pamitnya seraya berlalu. Dia menuju bagian lain Casa de Luca dan meninggalkan Juan Pablo berdua saja dengan Gianna.
"Tadinya aku ingin bicara dengan Adriano," ucap Gianna tampak sedikit kecewa. Namun, Juan Pablo tak menanggapi ucapan dari kekasihnya. Perhatian pria itu justru fokus tertuju pada amplop yang tergeletak di atas meja. Juan Pablo tengah mengamati dengan jelas nama yang tertera di atas amplop tersebut. Dia memicingkan mata saat membaca nama Jacob O. Karlsberg.