Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
A Choice


__ADS_3

Coco tersenyum sambil menatap Francesca. Sorot tajam dan ekspresi dingin yang diperlihatkan gadis itu, menunjukkan sesuatu yang Coco yakini sebagai perasaan cemburu. Tentu saja dia sangat menyukainya. Namun, dengan segera pria bermata cokelat tersebut mengalihkan perhatian kepada Monique yang masih duduk tenang dan anggun di sebelah dirinya. "Oh ya, Cantik. Kuharap kau tinggal sedikit lebih lama di Italia. Di negara ini ada banyak sekali hal menarik yang bisa kau lihat dan juga nikmati," ujarnya tanpa menanggapi ucapan Francesca tadi.


"Kau tidak dengar apa yang aku katakan, Ricci?" ucap Francecsa lagi masih dengan nada bicaranya yang masih terdengar ketus.


"Nanti sajalah. Lagi pula, kau lihat sendiri sekarang aku sedang menerima tamu. Tak sopan rasanya jika harus membiarkan nona Manduzic menungguku diseka," sahut Coco menoleh sejenak kepada Francesca yang menatap dia dan Monique dengan tajam.


Francesca tampak tengah berusaha menahan segala amarah yang sudah berada di ubun-ubun dan ingin segera dia luapkan.


"Baiklah. Silakan lanjutkan," balas gadis bermata hazel tersebut. Dia lalu membalikkan badan dan berlalu dari sana. Francesca meninggalkan Coco berdua dengan Monique.


Sepeninggal Francesca, raut wajah Coco seketika berubah. Dia terdiam dan tampak merenung. Sesekali, pria itu mengempaskan napas penuh keluhan. Perubahan sikap Coco tentu saja tak lepas dari perhatian Monique. Gadis berambut merah tersebut mendekatkan dirinya kepada Coco. "Kau tidak ingin mengejar kekasihmu?" tanyanya. "Dia terlihat sangat cemburu padaku," ucap wanita itu lagi.


"Hubungan kami sedang tidak baik-baik saja," jawab Coco. "Untuk pertama kalinya aku kesulitan mengendalikan seorang wanita."


"Kenapa kau ingin mengendalikan kekasihmu, Ricci?" tanya Monique lagi.


"Karena aku kesulitan menghadapinya," jawab Coco datar.


"Bukankah kalian sudah lama menjalin hubungan? Kedengarannya sangat janggal ketika kau mengatakan hal seperti itu. Namun, aku selalu berharap yang tebaik untukmu, meskipun jauh di dalam hati aku berharap agar kalian berpisah," celetuk Monique dengan enteng.


Seketika Coco tertawa renyah saat mendengarnya. Pria berambut ikal tersebut menggeleng pelan saat menanggapi ucapan Monique yang terdengar sangat jujur. "Dirimu bicara apa adanya. Aku suka itu," balas Coco. "Suatu saat nanti, aku yakin bahwa kau pasti akan menemukan pasangan terbaik. Kau berhak mendapatkan hal itu," ucap Coco dengan tulus.


Sedangkan Monique hanya tertawa saat mendengarnya. Gadis bertubuh sintal tadi tampaknya tak menanggapi serius ucapan Coco. "Bisa terlepas dari kungkungan Nenad saja sudah merupakan suatu keajaiban dalam hidupku. Aku sudah bosan harus terus melayani nafsu bejatnya. Dia itu seorang maniak. Kau tahu? Dia pernah memaksaku untuk bercinta dengannya lebih dari lima kali dalam sehari. Benar-benar gila," gerutu Monique.


"Astaga. Memangnya pria itu tidak punya pekerjaan lain?" tanya Coco heran.

__ADS_1


"Apa lagi yang dia kerjakan selain duduk sambil mengangkat kakinya ke atas meja. Setelah itu, dia akan memberi perintah kepada seluruh anak buahnya yang terpantau dalam kamera pengawas. Nenad akan membentak dan tak segan menampar mereka yang berbuat salah, padahal sebenarnya dia tidak akan bisa melawan andai mereka balik menyerangnya. Akan tetapi, itulah kekuatan uang, Ricci. Nominal yang besar dapat membeli jiwa siapa pun di dunia ini, tak terkecuali diriku," Monique tersenyum getir untuk sesaat. "Harus kuakui bahwa bekerja untuk Nenad membuatku hidup dalam kemewahan. Dia mengambil diriku dari lab dan memindahkan ke ruangannya ...." Wanita muda berambut merah tersebut tak melanjutkan kata-katanya. Tatapan yang sejak awal terus tertuju kepada Coco, kini beralih pada potret Matteo yang terpajang di dinding ruang tamu tersebut. Pandangan Monique pun menerawang untuk beberapa saat.


Sementara Coco, mulai memikirkan kata-kata dari wanita di sebelahnya. Dia terus merekam semua informasi tentang Nenad Ljudevit, termasuk nama tempat yang Monique sebutkan tadi.


Mereka berdua saling terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing, hingga akhirnya angan Monique kembali pada dirinya. Wanita muda berambut merah tersebut membetulkan posisi duduk. Dia juga merapikan rok serta blazer blazer yang dikenakannya. Monique lalu meraih tas yang dia letakkan di atas meja. Tampaknya mantan asisten kesayangan Nenad tersebut hendak pergi. "Sebaiknya aku pergi saja. Lagi pula, kau harus segera mengejar kekasihmu yang cemburu," ujar Monique seraya beranjak dari duduknya.


"Kau akan ke mana setelah ini?" tanya Coco ikut berdiri.


"Aku masih punya sisa beberapa hari di Italia. Akan kupergunakan sisa waktu itu untuk berkeliling dan mencari sesuatu yang bisa membuat diriku terkesan. Sebenarnya, pasti akan jauh lebih menyenangkan andai kau bisa menemaniku, tapi ... ya sudahlah," Monique mengakhiri penuturannya dengan sebuah senyuman kecil.


"Kau tahu aku tidak bisa," balas Coco sambil tersenyum. Pria itu terlihat sangat tulus bagi seorang Miljana Manduzic alias Monique.


"Ya, aku bisa memahaminya. Sampai bertemu lagi, Ricci," Monique mendekatkan wajahnya. Dia bermaksud untuk mencium bibir Coco. Namun, dengan segera pria berambut ikal itu memalingkan wajah, sehingga bibir burgundy si rambut merah hanya mendarat di pipinya. "Oh ...." keluh Monique dengan raut kecewa.


"Haruskah aku berharap agar kau masuk rumah sakit lagi, Ricci?" balas Monique memasang wajah cemberut. Namun, tak lama dia segera tertawa geli. Beberapa kemudian, wanita berambut merah itu akhirnya berpamitan dan pergi dari Casa de Luca, dengan sebuah taksi yang sejak tadi menunggunya di halaman.


Sepeninggal Monique, Coco bergegas menuju kamar yang ditempati oleh Francesca. Saat pria itu membuka pintu, dia mendapati sang kekasih tengah mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Gadis bermata hazel tersebut juga tampak kembali menangis pelan.


"Kau mau ke mana?" tanya Coco yang sudah berdiri tak jauh dari Francesca.


Adik tiri Mia itu tak segera menjawab. Dia bahkan tak memedulikan pria yang tengah memperhatikannya. Francesca terus saja mengemasi semua barang-barangnya hingga selesai. Setelah itu, dia menurunkan koper tadi dari atas tempat tidur. Francesca pun bermaskud untuk keluar dari kamar.


Namun, sebelum Francesca sempat melanjutkan langkah hingga menuju pintu, Coco telah terlebih dulu mencegahnya. Dia mencekal lengan gadis itu hingga Francesca menoleh serta menatapnya tajam dengan sepasang mata yang basah dan juga memerah karena terlalu banyak menangis.


"Jangan mencegahku untuk pergi, Ricci. Keberadaanku di sini hanya akan membuatmu terganggu," ucap Francesca. Makin lama, tatap matanya semkin melunak. "Biarkan aku pergi dan kau bebas melakukan apapun," lanjut gadis itu lagi dengan lirih.

__ADS_1


Mendengar ucapan Francesca yang demikian, Coco pun hanya terdiam. Perlahan, dia melepaskan cekalannya dari lengan gadis bertubuh semampai tersebut. Coco berdiri terpaku saat Francesca mulai melangkah ke dekat pintu. Namun, sebelum gadis itu sempat memutar pegangannya, pria berambut ikal itu membuka suara dengan tegas. "Sekali kau melangkah keluar dari kamar ini, maka itu artinya kau akan kehilangan diriku untuk selamanya."


Francecsa segera menghentikan gerakan tangannya. Gadis itu tertegun sejenak. Dia sepertinya tak ingin menoleh, ketika Coco berjalan mendekat padanya. Namun, setelah beberapa saat kemudian, Francesca memberanikan diri untuk melihat kepada pria yang sudah berada di sebelahnya.


Tampaklah Coco yang yang berlutut di hadapan gadis bermata hazel tersebut. Dia meraih jemari lentik Francesca, lalu menggenggamnya. "Jika kau menolakku saat ini, maka aku bersumpah tak akan meminta lagi padamu. Silakan ambil keputusan yang menurut kau adalah sesuatu yang terbaik untuk dirimu dan juga diriku."


Francesca terdiam menatap pria tampan yang sangat dia cintai. Keegoisan dan juga ambisi yang terlalu besar, telah membuat dirinya mengabaikan semua cinta dan harapan indah dari si pemilik mata cokelat itu. Tak dapat dipungkiri olehnya, perasaan yang begitu dalam yang dia miliki untuk Coco memang tak pernah berubah. Namun, selama ini dia terlalu menikmati segala sikap dari sang kekasih, yang terkesan begitu memanjakan dan membiarkan dirinya dengan segala apapun yang dia inginkan.


"Ricci, kau ...." Francesca tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Menikah denganku atau pergi dan menjauhlah untuk selamanya," Coco memberikan sebuah pilihan yang sebenarnya teramat mudah bagi Francesca.


Dilepaskannya tangan kiri yang tengah menggenggam gagang koper. Francesca segera membantu pria berambut ikal tersebut untuk bangkit. Setelah itu dia lalu merangkulnya dengan erat. "Inikah jawabanmu, Francy?" bisik Coco sambil memeluk erat Francesca yang tengah menumpahkan air matanya dengan leluasa.


"Maafkan untuk semua kebodohanku, Ricci. Maaf karena telah membuatmu menungguku hingga bertahun-tahun lamanya," isak gadis bermata hazel tersebut lirih.


"Aku juga minta maaf untuk semua rasa kecewamu padaku," balas Coco. Dia lalu mengecup kening Francesca dengan lembut dan penuh perasaan, seraya mengurai pelukannya.


"Kau tega sekali!" Francesca memukul lengan Coco dengan kesal. Sedangkan pria berambut ikal itu hanya menanggapinya dengan terkekeh geli. "Apa maksudmu berciuman dengan si rambut merah itu?" omel Francesca lagi.


"Aku hanya iseng, Francy," jawab Coco dengan enteng.


"Iseng katamu?" Gadis itu membelalakan kedua matanya sambil bertolak pinggang. "Kalau begitu, maka artinya aku pun boleh berbuat iseng terhadap Dante atau Serafino," ancam Francesca jengkel.


"Hey, lihat saja jika kau sampai berani melakukannya. Aku akan mengurungmu seumur hidup di dalam kamar, kemudian mengikat kedua tangan dan kakimu di ranjang," balas Coco dengan sangat tegas.

__ADS_1


__ADS_2