Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
On the Edge of Death


__ADS_3

"Aku suka pria-pria seperti kalian. Bagaimana jika kita mulai melaksanakan rencana tadi. Aku ingin melihat seberapa besar nyali dan kehebatan kalian, Tuan-tuan," ucapan Monique terdengar bagaikan sebuah tantangan bagi Adriano dan juga Coco. Tanpa banyak bicara, dia berjalan dengan posisi paling depan. Wanita cantik itu melangkah dengan anggun dan penuh percaya diri seakan tanpa beban sama sekali. Sementara Adriano sudah bersiap untuk hal terburuk sekalipun. Baginya, kemungkinan Monique berkhianat adalah sebesar lima puluh persen. Oleh karena itu, dia sudah mempersiapkan diri sejak pertama kali menyetujui rencana yang dibuat oleh wanita cantik tersebut.


Di balik sikap tenangnya, Adriano menjadi jauh lebih waspada. Setidaknya, rompi anti peluru yang dia kenakan saat itu dirasa cukup untuk menghalau serangan musuh.


Sesampainya di depan pintu yang dimaksud oleh wanita berambut merah tadi, Adriano mengambil posisi di sisi kanan. Sementara Coco berpindah ke sisi kiri. Kekasih Francesca itu juga memakai seragam lengkap, sama seperti Adriano. Pria bermata biru itu mengangguk pelan pada Coco sebagai isyarat. Sedangkan pria berambut ikal tersebut dapat memahaminya, karena itu dia pun balas mengangguk.


Monique yang masih terpaku, belum juga membuka pintu. “Tunggu apa lagi?” tanya Adriano heran. Sedikit tersentak, wanita itu menoleh kepadanya. Monique pun kemudian mengangguk. Dia juga menoleh pada Coco yang telah melepas maskernya, lalu tersenyum.


“Tak disangka ternyata aku takut mati,” gumam Monique pelan.


“Tidak apa-apa, aku akan melindungimu jika terjadi sesuatu,” balas Coco, membuat wanita cantik jelita itu terhenyak. Raut wajahnya berubah untuk beberapa saat. Dia memandang aneh kepada Coco yang terlihat sangat menarik bagi dirinya.


“Kenapa kau memercayaiku?” tanya Monique. Perasaan wanita itu tersentuh dengan sikap Coco terhadapnya.


“Instingku mengatakan bahwa kau gadis yang baik,” jawab Coco seraya mengedipkan sebelah matanya.


“Oh, astaga. Ternyata pria Italia memang terkenal sangat tampan sekaligus penakluk wanita. Aku dengar mereka juga pencium yang hebat,” kelakar Monique, membuat Adriano memutar bola matanya. Tak disangka olehnya, karena di saat genting seperti saat itu, wanita cantik tersebut masih sempat melontarkan sebuah candaan.


"Hei, bagaiman kau bisa tahu bahwa aku berasal dari Italia?” tanya Coco yang memasang mimik heran.


“Tentu saja aku bisa menebaknya dari cara bicara, bulu matamu yang lentik, alis tegas dan tebal, garis wajah yang menawan ....” jelas Monique penuh sanjungan yang menggoda terhadap Coco. Sedangkan pria itu hanya tertawa pelan saat menanggapinya.


“Bisakah kau berhenti? Lenganku sudah pegal mengokang senjata,” sela Adriano yang mulai tak sabar.


“Iya, betul. Berhentilah. Kau tak bisa menggodaku, karena aku sudah memiliki calon istri. Aku sangat mencintainya. Dia juga sangat cantik. Namanya Francesca .…” kalimat Coco terpaksa berhenti ketika dilihatnya pintu di hadapan Monique perlahan terbuka. Raut wajahnya yang ceria berubah menegang. Apalagi saat dia melihat seorang pria tinggi besar keluar dari dalam sana.


“Ada apa, Monique? Kenapa kau lama sekali? Di mana penyampai pesan yang mereka katakan tadi?” tanya pria tersebut. Dia tak sempat melihat ke samping, ketika Adriano spontan menembaknya tepat di bagian leher.


Darah mulai mengucur deras. Pria itu mendelik dan sempat menoleh kepada Adriano sebelum roboh ke arah Monique. Sigap, wanita itu menggeser tubuhnya ke sebelah, sehingga pria tadi langsung terjerembab di atas lantai dan meregang nyawa.

__ADS_1


“Gawat!” seru Coco yang melihat dua orang berpakaian rapi keluar dari dalam ruangan. Sontak, Adriano merengkuh tubuh Monique, lalu menekan lehernya dengan lengan dan menggunakan dia sebagai tameng.


“Hei!” teriak salah seorang berpakaian rapi itu. Akan tetapi, dia tak berani mengambil tindakan apapun, begitu pula dengan rekannya.


“Buang senjatamu dan angkat tangan, jika tak ingin kupatahkan leher makhluk cantik ini,” ancam Adriano.


“Hei, sedang apa kalian?” terdengar sebuah suara yang nyaring berasal dari dalam ruangan yang Adriano yakini sebagai suara Nenad. Kedua pria itu tidak sempat menjawab karena Coco lebih dulu membungkamnya dengan berondongan peluru. Kedua pengawal Nenad itu pun tewas seketika.


“Bukan seperti ini rencananya!” protes Monique.


“Jangan khawatir. Aku tak akan melukaimu dan seharusnya Nenad juga demikian,” sahut Adriano dengan tenang. “Tetaplah berdiri di belakangku, Ricci,” sesaat, dia mengalihkan perhatiannya pada Coco yang segera dibalas dengan anggukan kepala.


Waspada, Adriano berjalan memasuki ruangan yang ternyata berukuran cukup besar. Ruangan itu penuh dengan berbagai macam perabotan antik dan mahal. Temboknya tertutup oleh wallpaper bercorak klasik. Terdapat pula beberapa pilar dengan gaya arsitektur Romawi yang berdiri tegak di tengah ruangan. Puluhan lukisan pun terpajang rapi memenuhi dinding.


Beberapa meter di depan Adriano, berdirilah seorang pria berambut pirang yang terlihat tegang di belakang meja kerjanya. Dia diapit oleh dua orang pengawal bersetelan rapi yang telah siap dalam posisi menyerang. Mereka membidik senapan laras panjang bertipe otomatis tepat ke arah Adriano.


“Jadi kau yang bernama Nenad?” Adriano bertanya dengan nada sinis.


“Satu-satunya cara untuk membunuhku adalah dengan membunuh kekasihmu ini terlebih dulu,” Adriano terkekeh.


“Oh, itu tidak masalah. Lagi pula, dia bukan kekasihku,” jawab Nenad dengan enteng, seraya memberi aba-aba pada kedua pengawalnya untuk menembak Monique.


“Brengsek kau, Nenad! Aku harap kau terbakar di neraka!” maki Monique, bersamaan dengan senjata dua pengawal itu yang siap menyalak. Sigap, Adriano menggeser tubuh ke samping, sehingga tampaklah Coco yang berdiri di belakang dirinya. Dia bergerak cepat memuntahkan peluru sebelum dua orang pengawal itu sempat menarik pelatuk. Hanya dalam hitungan detik, kedua pengawal tadi roboh tak bernyawa.


“Sekarang giliranmu!” Adriano mendorong tubuh Monique pelan dan mengarahkan moncong senjata kepada Nenad.


“Tunggu!” cegah Nenad. “Kita bisa membicarakan semuanya secara baik-baik. Perkenalkan dulu siapa dirimu, karena aku merasa jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya,” ucap pria tersebut, walaupun saat itu Adriano masih memakai masker yang menutupi wajahnya.


“Kami datang untuk membalaskan dendam atas kematian Matteo de Luca!” sahut Coco nyaring, membuat pria itu terbelalak tak percaya. Dia juga terlihat panik.

__ADS_1


“Ma-Matteo de Luca?” ulangnya terbata. “Apa hubungannya denganku?” kilah Nenad.


“Tidak perlu lagi berpura-pura, dasar bajingan! Kau menjual senjata-senjata sahabatku tanpa izin. Kau juga mencatut namanya untuk aksi ilegalmu! Akibatnya, banyak kelompok yang marah dan memburu Matteo! Dia mati karenamu!” Coco tak dapat menahan diri. Wajah tampannya seketika menjadi merah padam karena penuh emosi.


Sementara Monique hanya bisa diam memperhatikan itu semua dari sudut ruangan. Dia terlalu terkejut atas semua yang terjadi. Sesekali mata hijau jamrudnya menatap Coco sebelum beralih kembali kepada Nenad.


“Kalian tak bisa menyalahkanku. Beginilah bisnis dalam kehidupan mafia, Saudaraku. Semua orang harus bersiap mati sewaktu-waktu,” sembari berkata demikian, Nenad diam-diam meraih sesuatu dari dalam laci meja kerjanya. Akan tetapi, mata Coco lebih dulu melihat pergerakan itu. Tanpa ragu, dia menembak telapak tangan Nenad hingga berlubang. Pria itu memekik kesakitan.


Coco siap melesatkan peluru sekali lagi, ketika tiba-tiba dua orang pengawal yang berjaga di pintu merangsek masuk dan bermaksud untuk menyergap Adriano dari belakang. Satu orang lainnya juga bersiap menyerang dirinya.


Adriano lebih dulu membalikkan badan dan memukul pelipis tentara bayaran itu dengan popor senjata. Ketika pria itu limbung, dia sigap memutar senapan dan mengarahkan moncongnya ke dada kiri tentara tersebut. Cukup sekali tembakan, pria tersebut langsung tumbang.


Sementara itu, satu tentara lainnya yang sudah menarik pelatuk dan diarahkan ke kepala Coco, harus tewas sebelum niatnya terlaksana. Adalah Monique yang menembakkan peluru dari pistol kecil semi otomatis. Senjata itu tersembunyi di balik rok ketatnya dan tepat mengenai kepala pria tadi.


Mereka pun kembali memusatkan perhatian kepada Nenad yang kian memucat. Seluruh tubuhnya gemetar karena ketakutan.


“Tak kusangka, ternyata kau adalah seorang pengecut,” ejek Coco.


“Tentu saja! Jika bukan seorang pengecut, kenapa dia harus menyewa ribuan tentara bayaran hanya untuk melindungi dirinya,” sambung Monique.


“Menyedihkan,” Adriano maju perlahan. Dia hendak menyiksa pria itu sebelum menghabisinya.


“Berhenti!” Nenad meringis, lalu merunduk. Dia menempelkan kepalanya ke atas meja dalam posisi membungkuk untuk menahan rasa sakit yang berasal dari telapak tangan yang berlubang.


“Kita habisi dia sekarang,” setengah berlari, Coco maju dan memutari meja kerja itu. Satu tangannya sudah bersiap meraih kepala Nenad ketika tiba-tiba dinding di belakang meja kerja bergeser. Muncul seseorang dari dalam sana sambil menenteng senapan serbu berkaliber besar. Senjata otomatis itu mampu memuntahkan belasan peluru hanya dalam satu kali tembakan. Kejadian itu terasa begitu cepat. Pria itu menembak Coco dengan membabi buta. Sementara Nenad sudah lebih dulu menjatuhkan diri ke lantai dan meringkuk di bawah meja.


Dalam keadaan terkejut dan tak menyangka, Adriano membalas tembakan pria itu secara bertubi-tubi pula. Pikirannya berjalan seiring dengan gerak tangannya yang terus menembak ke arah pria tadi. Memorinya pelan-pelan terbuka. Kini Adriano dapat mengingat dengan jelas bahwa pria yang tengah beradu peluru dengannya saat itu, tiada lain adalah pria yang telah menembak mati Marcus Bolt.


“Apa kabar, tuan D’Angelo,” pria yang Adriano ingat sebagai Lionel, tersenyum lebar. Padahal, saat itu tangan dan kakinya terluka akibat terkena peluru Adriano.

__ADS_1


“Brengsek!” seru Adriano dengan lantang. Saat itu, dia berniat untuk kembali menembak Lionel. Akan tetapi, pria tadi sigap merunduk dan segera bersembunyi di balik meja kerja. Dengan gerakan yang begitu gesit, Lionel kemudian menyeret Nenad yang tengah bersembunyi. Pria itu membawanya masuk ke dalam dinding yang terbuka dengan cara merangkak. Keduanya berhasil melarikan diri, karena saat itu Adriano tiba-tiba menghentikan serangan. Adriano terdiam saat menyadari bahwa Coco berada dalam posisi tertelungkup, dengan tubuh yang tak bergerak sama sekali.


__ADS_2