
Beberapa hari telah berlalu. Akan tetapi, sikap Adriano masih juga belum berubah terhadap Mia. Pria bermata biru itu masih betah mengurung diri di ruang kerjanya. Mia memilih untuk bersabar dan tak melakukan protes yang berlebihan, meskipun hingga saat itu dia tak tahu apa yang menjadi permasalahan Adriano, sehingga menjaga jarak dengannya. Selama bertahun-tahun, Adriano menerima penolakan demi penolakan keras yang dia lakukan. Seperti halnya di awal-awal pernikahan mereka, Mia masih belum juga mau disentuh oleh Adriano. Akan tetapi, pria itu selalu bersikap sabar padanya. Mia berpikir, mungkin saat itu adalah waktu yang tepat untuk membalas semua perlakuan manis dari Adriano dengan cara bersabar dan menunggu sampai pria tersebut menjadi lebih tenang.
“Ibu, ibu sedang memikirkan apa?” tanya Miabella yang tengah asyik bermain boneka di atas ranjang kamarnya. Saat itu, waktu sudah menjelang petang.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya memikirkan Daddy Zio. Ibu rindu padanya,” jawab Mia seraya tersipu malu.
Gadis itu segera terbelalak mendengarkan kalimat Mia. Wajah imutnya terlihat sangat menggemaskan ketika Miabella membuka mulut lebar-lebar sebagai tanda bahwa dia tengah terkejut. “Daddy Zio tidak menjenguk Ibu?” tanyanya dengan raut keheranan.
“Tidak. Bukankah Daddy Zio tidak mau keluar dari ruangannya sama sekali? Iya, kan?” Mia balik bertanya sekadar untuk meyakinkan.
Miabella menggeleng kuat-kuat. “Tidak, Bu. Daddy Zio selalu kemari setiap malam. Dia mengucapkan selamat tidur, lalu mencium keningku,” telunjuk mungilnya dia arahkan ke dahi.
“Itu tidak mungkin, Sayang. Kamarmu ini sudah dipasangi kamera oleh Daddy Zio, jadi Aku bisa selalu mengawasi melalui layar monitor yang diletakkan di kamar kami. Selama ini, aku tidak pernah melihat siapa-siapa selain kau,” Mia mencolek hidung putri kesayangannya dengan gemas.
“Ibu salah. Daddy Zio selalu kemari setiap malam. Aku tidak berbohong, Bu,” Miabella cemberut. Bibir mungilnya melengkung, menunjukkan bahwa dia sedikit marah.
“Hm, baiklah,” Mia mengalah, tapi rasa penasarannya mulai menyapa dan menggelitik hati wanita itu. Dia lalu memutuskan untuk memeriksa kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut ruangan. Betapa terkejutnya Mia ketika mengetahui bahwa semua kamera berada dalam keadaan tidak aktif.
“Kemarin lusa, Daddy Zio memencet-mencet benda kecil itu, Bu,” lapor Miabella seraya terkikik geli.
“Benarkah itu?” Mia menoleh kepada Miabella, sedangkan gadis kecil itu mengangguk-angguk kencang. “Kalau begitu, aku harus menanyakan semua ini padanya. Ayo, kita bersiap, Bella. Hari ini kita akan memaksa untuk bertemu Daddy Ziomu!” ajak Mia antusias.
Tak berselang lama, Miabella sudah tampil rapi. Begitu pula dengan Mia. Dia lalu mengajak putrinya ke dapur. Seperti biasa, Mia membuat kue di saat Miabella menyantap sarapan, lalu bergegas menuju ruang kerja Adriano. Dalam beberapa hari terakhir, Mia selalu melakukan hal itu walaupun berakhir dengan kecewa. Adriano tak pernah mau membuka pintu ruang kerja untuk dirinya. Dalam hati, dia terus bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab dari perubahan sikap Adriano terhadapnya.
__ADS_1
“Daddy Zio! Ibuku datang lagi bersama kuenya!” seru Miabella setelah mereka berdua sampai di depan ruangan Adriano. Gadis kecil itu tampak antusias. Tak henti-hentinya dia melompat-lompat di sebelah Mia. Namun, keceriaan itu harus berhenti ketika muncul seorang wanita yang terlihat begitu cantik dan elegan.
“Ada apa ini? Kenapa kau tidak langsung masuk saja, Nyonya?” tanya wanita yang tak lain adalah Bianca. Nada suara wanita itu terdengar setengah mengejek.
Tentu saja Mia tak akan menjawab jika Adriano sudah menghapus aksesnya, agar bisa masuk ke dalam ruangan dengan bebas. “Ti-tidak ada. Aku hanya ingin memberinya kejutan,” kilah Mia sedikit tergagap.
“Oh, ya? Sepertinya kau tidak tepat waktu dalam memberi suamimu kejutan. Kemarin aku sudah membuat janji untuk bertemu dengannya. Kami akan membahas proyek kasino hari ini,” tutur Bianca penuh percaya diri.
Tak terkira rasa marah dan kecewa yang Mia rasakan saat itu. “Kau … berjanji untuk bertemu dengan suamiku sekarang? Di ruang kerjanya” ulang wanita bermata cokelat itu seolah tak percaya.
“Iya, kenapa memangnya?” Bianca bersedekap sambil setengah mendongak, seakan menantang Mia. Rasa percaya dirinya terlihat sangat tinggi dan seakan mengalahkan segala keyakinan Mia terhadap Adriano.
Mia menggeleng lemah, kemudian tersenyum getir. Adriano menolak bertemu dengannya, tetapi membuat janji bersama Bianca. Mia sungguh-sungguh tak bisa mentolerir hal ini. Dadanya bergemuruh penuh dengan amarah, hingga tak terasa tangannya bergerak begitu saja, mengarahkan cake buatannya ke dada kolega Adriano tersebut.
Mia melemparkan kue tadi hingga mengotori bagian depan blazer Bianca. Tampak jelas raut emosi dan tidak terima pada wajah wanita keturunan Argentina Perancis itu. Melihat hal tersebut, Miabella beringsut ketakutan dan segera bersembunyi di belakang tubuh sang ibu, seperti biasanya.
Pada detik itu, Mia merasa dikhianati berkali-kali. Semua bayangan indah tentang Adriano pun sirna sudah. Mia berpikir bahwa Bianca mengetahui hal tersebut dari Adriano. Sementara suaminya itu selalu mengaku bahwa dia tak pernah menceritakan dosa terbesarnya kepada siapa pun. Perih dan kecewa, membuat Mia harus menitikkan air mata. “Ayo, kita pergi dari sini, Bella. Aku akan menyuruh paman Coco untuk menjemput kita. Kita akan pulang ke Italia,” putus Mia.
Refleks, Miabella menggeleng kencang. “Kita pergi bersama Daddy Zio kan, Bu,” tanyanya memelas. Akan tetapi, Mia tak menjawab. Dia terus menuntun tangan mungil putrinya, menjauh dari Bianca yang terus memperhatikan tajam ke arah Mia.
“Mia, tunggu!” tiba-tiba pintu ruang kerja Adriano terbuka lebar. Sosok pria yang dirindukannya selama beberapa hari ini, tampak gagah berdiri di ambang pintu.
“Ah, Adriano. Kebetulan sekali. Lihat apa yang istrimu lakukan padaku,” lapor Bianca.
__ADS_1
Alih-alih merasa simpati, Adriano malah melayangkan tatapan sinis kepada wanita itu. “Kita batalkan pertemuan hari ini. Aku tidak bisa berkonsentrasi melihat bajumu yang terlalu kotor,” tolak Adriano dengan intonasi datar seraya berlalu begitu saja meninggalkan Bianca yang terperangah.
Pria itu setengah berlari mengejar Mia. “Mia, kumohon!” rasa ragu dalam diri Adriano seketika menghilang, kala dirinya mendengar bahwa Mia berniat untuk pulang ke Italia. “Jangan pergi dari sisiku!” tangan Adriano kini berhasil meraih pergelangan Mia dan membuat wanita itu berbalik ke arahnya.
“Daddy Zio, ibu melarangku untuk menoleh padamu,” celoteh Miabella dengan polosnya. Posisinya masih membelakangi Adriano, sehingga membuat pria bermata biru itu tertawa geli. Sedangkan Mia memilih untuk menahan tawanya.
“Maafkan aku, Mia. Aku tak bermaksud untuk menolakmu, tapi .…” Adriano tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia lalu menyentuh pundak sang istri. Tatapannya tertuju langsung, pada bola mata coklat milik Mia yang terlihat begitu indah dan menenangkan.
“Tidak masalah, Adriano. Semua sudah tak ada artinya lagi. Aku akan menjauhimu seperti yang kau inginkan,” tegas Mia.
“Jangan bicara begitu, Sayang,” intonasi Adriano terdengar begitu lembut. “Aku hanya belum sanggup menemuimu,” ungkap pria itu pada akhirnya.
“Kenapa? Alasan macam apa itu?” Mia melipat tangannya di dada dan memandang penuh tanda tanya pada Adriano.
Untuk sejenak, sang ketua dari Tigre Nero tersebut tak mampu berkata apa-apa. Entah mengapa, seluruh kekuatan dan juga keberaniannya seperti lenyap seketika, jika dia dihadapkan pada sosok cantik yang selalu menjadi pujaan hatinya. Adriano akan selalu tak berdaya oleh wanita bermata teduh itu. Entah disadari atau tidak, tiba-tiba pria bepostur tegap tersebut menurunkan tubuhnya. Dia berlutut di hadapan Mia, dengan wajah yang terlihat menyimpan sejuta rasa penuh dilema.
"Adriano, apa yang kau lakukan?" Mia bermaksud untuk membantu pria itu agar segera bangkit. Sementara Bianca terbelalak tak percaya. Selama dirinya mengenal sosok Adriano D'Angelo, baru kali ini dia melihat pria tersebut bersikap demikian di hadapan seorang wanita. Adriano adalah sang penguasa. Walaupun karakternya sangat tenang dan juga terkesan ramah, tetapi pria itu selalu menjaga wibawanya di depan setiap orang yang dia temui. Pantang bagi seorang Adriano untuk melakukan hal demikian, dalam situasi apapun. Lalu, apa yang terjadi padanya?
"Kau kenapa, Sayang?" Mia meraih tengkuk kepala sang suami, kemudian mendekap serta mengelus lembut rambut belakang pria itu. Sementara Adriano membenamkan wajah tampannya di tubuh Mia, masih dalam posisi berlutut.
Untuk beberapa saat, Adriano hanya terdiam, memejamkan mata sambil menghirup aroma tubuh sang istri yang selama beberapa hari ini tidak dia temui. Kerinduan itu menguar dan membuatnya tak ingin lalai walau sedetikpun, dalam mencium aroma yang selama ini seakan menjadi candu bagi dirinya. "Ampuni aku, Mia," ucap Adriano setelah beberapa saat dirinya hanya terdiam. Suara pria itu terdengar sangat dalam dan juga berat.
"Apa yang harus kuampuni dari dirimu, Adriano? Kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku," balas Mia dengan lembut dan juga terdengar cukup lirih.
__ADS_1
"Maafkan untuk segala kesalahan di masa lalu. Aku tak pernah menyangka jika pada akhirnya akan seperti ini," jelas Adriano. Perlahan, dia mendongak dan menatap Mia yang tengah menunduk padanya. Mia tak ingin melihat Adriano dalam keadaan seperti itu. Segera dibantunya pria tersebut untuk bangkit. Kali ini, Adriano menurut.
"Seberapa besar kesalahanmu padaku, sehingga kau harus berlutut seperti tadi? Aku rasa, tak sebesar dosaku padamu yang telah membuat kau hampir mati. Apapun alasan yang membuatmu merasa ingin menjauh dariku, semoga itu bukan karena kau menemukan cinta yang lain," ucap Mia lirih seraya melirik kepada Bianca.