
Sementara itu, ribuan mil jauhnya dari Brescia pada saat yang bersamaan. Seorang pria berjaket kulit hitam dilengkapi dengan celana jeans dan sepatu boots yang juga berbahan kulit dengan warna cokelat tua, berdiri gagah di atas puncak salah satu tebing ngarai terbesar di kawasan negara bagian Arizona, Amerika Serikat. Pria tersebut menurunkan sedikit kaca mata hitamnya. Dia lalu memandang tajam ke arah lembah di bawah sana untuk beberapa saat. Setelah itu, kembali dibetulkannya letak kaca mata yang dia kenakan. Tanpa bicara dengan ekspresi yang tampak sangat dingin.
Pria itu tiada lain adalah Juan Pablo Herrera. Dia baru saja tiba dari Meksiko dan langsung menuju ke tempat tersebut, yang memang menjadi tujuan utama dari perjalanannya kali ini. Dengan berbekal uang yang didapat dari hasil sitaan terhadap kartel narkoba beberapa waktu yang lalu, Juan Pablo membeli beberapa perangkat senjata tempur dan juga peralatan penunjang lain seperti belati militer, teropong dan juga granat. Semuanya dia masukkan ke dalam tas ransel khusus.
Juan Pablo menyeringai, kemudian memandang ke langit untuk sejenak. Saat itu, matahari bersinar tepat di atas ubun-ubun. Pria asal Meksiko itu tak peduli, meskipun panasnya ngarai tempat dirinya berada terasa cukup untuk membuyarkan konsentrasi. Sebagaimana telah diketahui, bahwa selisih waktu antara Brescia dan Arizona terpaut sembilan jam. Jika di perkebunan Casa de Luca sudah memasuki pukul sembilan malam, maka di Arizona waktu masih berada pada jam dua belas siang.
Hati-hati, Juan Pablo menuruni puncak ngarai dan berjalan penuh kewaspadaan menuju lembah. Kakinya lalu berhenti pada sebuah batu besar yang menjulang di tepi lembah. Diketuk-ketuknya batu itu sambil terus dia amati untuk beberapa saat. Tangan kekarnya kemudian meraba permukaan batu, lalu berhenti pada satu titik di mana terdapat satu pahatan berbentuk simbol mata Ra, atau terkenal dengan nama Eye of Ra, yaitu mata kanan Dewa Matahari dalam kepercayaan Mesir kuno. Adalah sebuah gambar mata dengan satu garis melengkung yang terdapat di bagian atas, dan satu garis melengkung di bagian bawah.
Iris mata coklat madu milik Juan Pablo semakin mendekat pada simbol tadi. Dia lalu menekan bagian tengah dari gambar tersebut. Juan Pablo mundur beberapa langkah ketika batu besar itu mulai bergerak dan bergeser ke samping.
Di balik batu itu ternyata terdapat sebuah terowongan yang tampak sangat gelap dan memanjang. Dengan wajah dingin dan datar, Juan Pablo mulai memasuki tempat misterius itu. Tangan kanannya lalu meraih sebuah senter kecil yang dia selipkan di belakang daun telinga. Sementara tangan kirinya mengambil pisau militer yang kemudian dia selipkan ke tempat pisau paha paha kiri. Dia merogoh ke dalam ransel lagi dan mengeluarkan dua buah pistol semi otomatis. Satu pistol dia selipkan di punggung, sedangkan pistol lainnya dia genggam.
Semakin jauh Juan Pablo berjalan memasuki terowongan, maka semakin gelap jalan yang dia lalui. Pria tampan itu akhirnya berhenti ketika senternya tak banyak membantu. Dia memasukkan senter itu kembali ke dalam saku celananya. Tiba-tiba tanpa sengaja, kaki Juan Pablo menginjak sesuatu di lantai terowongan. Hal itu mengakibatkan munculnya sebuah layar hologram tepat di hadapan dirinya.
Juan Pablo sedikit terkejut. Akan tetapi, dengan segera dia dapat menguasai emosinya. Layar hologram yang awalnya berwarna hijau dan buram, kini membentuk wajah seorang wanita. “Identify yourself (identifikasikan dirimu),” ucap wanita hologram yang ternyata hanyalah sebuah kecerdasan artifisial. Namun, Juan Pablo tak menjawab. Dia malah bergerak memutari layar transparan yang super tipis itu.
“Identify yourself,” kembali terdengar hologram itu berbunyi. Akan tetapi, lagi-lagi tak dijawab oleh Juan Pablo.
__ADS_1
“Di zamanku dulu saat masih bergabung dengan Killer X, wujudmu masih belum ada,” desis Juan Pablo dengan nada yang selalu terkesan dingin.
Layar hologram itu kemudian menghilang dengan sendirinya. Berganti dengan suara alarm yang melengking nyaring. Juan Pablo segera mendongak. Tepat di atasnya, dia melihat sebuah lampu berwarna merah melekat pada langit-langit terowongan. Juan Pablo akhirnya mengetahui dari mana asal suara yang tadi dia dengar. Merasa terganggu dengan bunyi alarm tadi, Juan Pablo segera menembak lampu tersebut.
Matinya lampu merah itu, membuat suasana di sekelilingnya mendadak terang benderang. Sekarang Juan Pablo dapat melihat dengan jelas, terowongan itu terbuat dari dinding berwarna putih dengan banyak sekali tombol di bagian lantainya. Tak hanya itu, langit-langit terowongan mulai terbuka. Lubang-lubang berbentuk lingkaran muncul dari sana.
Juan Pablo mengambil satu pistol lain yang tersembunyi di balik pinggang. Dia lalu mengarahkannya ke atas. Dari dalam masing-masing lubang, terulur seutas tali dan orang yang merambat turun dari tali itu. Kesemuanya memakai pakaian militer berwarna hitam yang berada dalam posisi siap menodongkan senjata laras panjang mereka kepada pria asal Meksiko tersebut.
Merasa dirinya berada dalam bahaya, pria rupawan itu segera memuntahkan peluru dari senjata yang dia pegang, sebelum orang-orang tadi menembak dirinya. Beberapa di antara mereka langsung terjatuh dan terkapar di lantai. Beberapa lainnya berhasil menghindar sambil bergelantungan pada tali. Mereka memilih kembali masuk ke dalam langit-langit. Sedangkan satu orang lebih memutuskan untuk melompat sambil menembakkan senjatanya ke arah Juan Pablo yang segera lincah menghindari serangan itu.
Orang-orang yang bersembunyi di atas sana, terjatuh dari langit-langit dalam keadaan bersimbah darah. “Sembilan, sepuluh, sebelas,” Juan Pablo menghitung beberapa mayat yang bergeletakan di sekitarnya. “Masih segelintir yang keluar,” gumam pria itu. Juan Pablo pun meneruskan langkahnya ke bagian dalam terowongan. Raut wajahnya tampak begitu datar, seakan tanpa emosi sama sekali.
Juan Pablo kembali berhenti saat langkahnya dihadang sebuah gerbang besi yang terkunci rapat. Gerbang itu terbuat dari titanium dan dilapisi oleh kevlar, sebuah material yang jauh lebih kuat dari besi sebagai penahan dari terjangan peluru. “Masih dengan struktur yang sama,” Juan Pablo mengusap permukaan dinding itu pelan. “Anti peluru,” ucapnya lagi, “tapi tidak dengan ini,” Juan Pablo mengarahkan moncong pistolnya pada kotak hitam yang menempel di dinding samping gerbang. Dia lalu menarik pelatuk senjatanya. Kotak hitam itu hancur berkeping-keping.
Gerbang besi tadi perlahan terbuka, bersamaan dengan seutas senyum samar yang tersungging di bibir Juan Pablo. Pria itu seakan bisa menebak apa yang sudah menunggunya di balik gerbang tersebut. Dengan gerakan secepat kilat, pria dari Amerika Latin tersebut memposisikan kedua tangannya lurus ke depan dan mulai menembak secara membabi buta. Belasan orang berpakaian militer lengkap pun ambruk dan terkapar saat peluru-peluru Juan Pablo menyasar tepat mengenai kepala mereka satu per satu.
Masih dengan wajah datar dan tanpa ekspresi, Juan Pablo masuk ke balik gerbang dan berjalan dengan tenang. Sementara tangannya terus menembak setiap gerakan yang tertangkap olehnya, hingga tak ada satupun nyawa yang tersisa di sana.
__ADS_1
Masih terlihat tenang, Juan Pablo melangkah sambil melintasi mayat-mayat itu. Dia baru berhenti ketika sebuah dinding yang terbuat dari kaca tebal turun dari bagian atas dengan cepat. Dua sisi dinding kaca tadi dilapisi titik-titik merah yang berupa sebuah sensor laser. Apabila dinyalakan, maka sensor laser tersebut sama halnya seperti sebuah pedang yang mampu mengiris tubuh manusia dengan mudah dan dalam waktu yang singkat.
Tak ingin dirinya menjadi daging cincang, Juan Pablo segera berguling menuju sisi seberangnya. Dia lalu menembak tombol hijau yang terletak di langit-langit terowongan. Dinding kaca itu berhenti bergerak. Demikian pula dengan titik-titik merah yang mulai menghilang. Setelah mengempaskan napas panjang, Juan Pablo melanjutkan pencariannya dalam menemukan setiap anggota Killer X dan juga Lionel tentunya.
“Tak ada siapa pun di sini,” seru seseorang dengan tiba-tiba. Juan Pablo langsung berbalik dan menembakkan pistolnya. Namun, peluru itu malah mengenai layar hologram yang muncul begitu saja. Di dalam layar yang telah berlubang itu, terdapat wajah seorang pria paruh baya yang tengah tersenyum kepadanya. “Satu per satu anggota Killer X pergi dari markas, sejak salah satu dari mereka tertangkap dalam kasus pembunuhan sang Senator. Sedangkan yang tersisa di sini hanyalah tentara bayaran Melker,” lanjut pria hologram itu lagi.
“Killer X sudah bubar?” tanya Juan Pablo dingin dan datar.
“Ya, mereka semua telah membubarkan diri. Apalagi setelah tewasnya Marcus dan Thomas Bolton,” jelas pria tua dalam hologram itu.
“Di mana dia?” tanya Juan Pablo lagi. Kali ini wajahnya menampakkan api amarah yang begitu besar.
“Dia tidak di sini. Dia sedang bertugas menjalankan misi dari Nenad,” jawab pria itu seakan tahu siapa yang Juan Pablo maksud.
“Misi apa?” Juan Pablo terus mencecar pria yang berada di dalam layar hologram tadi.
“Misi pembunuhan terhadap dirimu, wahai Elang Rimba,” tegas si pria tua tersebut.
__ADS_1