Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Palloncino


__ADS_3

Sementara Coco duduk termenung sendiri di dalam kamar, ketika terdengar suara ketukan di pintu. Namun, dia tak ingin beranjak dari tempatnya. Coco bahkan tak menyalakan lampu kamar sekali. Sikapnya tersebut tentu saja membuat Francesca yang baru masuk merasa begitu heran. "Ricci, apa kau ada di dalam?" tanyanya seraya meraba dinding untuk mencari saklar.


Setelah lampu menyala, Francesca tertegun melihat calon suaminya yang tengah termenung sendiri. "Ricci? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.


Coco yang sejak tadi hanya termenung, kemudian menoleh. "Hai, Francy," sapanya datar.


"Ada apa?" tanya Francesca lagi seraya duduk di hadapan pria yang akan menjadi calon suaminya. Sebagai seseorang yang telah lama mengenal Coco, tentu saja dia sudah paham dengan setiap perubahan sikap dari pria itu. "Apa kau ada masalah? Aku harap bukan karena pernikahan yang sebentar lagi akan kita langsungkan."


"Tidak. Tentu saja bukan karena itu," jawab Coco membantah pemikiran Francesca.


"Kalau begitu kenapa? Kau baru kembali dari pesta. Kemarin dirimu terdengar sangat bersemangat saat bicara di telepon. Lalu, kenapa saat kembali jadi lesu seperti ini? Andai kalian masih ingin di sana dan berpesta sepuasnya, maka ...."


"Tidak, Francy. Ini tidak ada hubungannya dengan pesta atau rencana pernikahan kita. Aku ... aku hanya lelah. Itu saja," jelas Coco. Dia tak memberikan tatap matanya kepada sang kekasih. Pria itu lebih memilih menyandarkan kepala, lalu mendongak ke langit-langit sambil terpejam. Dia juga tak bicara apapun lagi.


Sementara Francesca hanya bisa terdiam sambil memperhatikan pria yang sangat dia cintai. Di satu sisi, dirinya merasa bahagia karena Coco telah kembali, tak membuatnya merasa was-was lagi. Akan tetapi, di sisi lain jslas saja dia tak senang saat melihat sikap dari kekasihnya tersebut. "Mungkin kau ingin sendiri. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu," ucap gadis bermata hazel itu pada akhirnya. Dia bermaksud untuk beranjak dari hadapan pria berambut ikal tersebut.


Namun, sebelum Francesca sempat berlalu dari sana, Coco lebih dulu mencegahnya. "Tidak, Francy. Jangan pergi. Tetaplah di sini dan temani aku," pintanya. Coco beringsut ke dekat gadis yang akan dirinya nikahi hanya sekitar beberapa hari lagi. Dia merebahkan tubuh dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan gadis cantik tersebut.


"Kau kenapa, Ricci? Apa yang membuatmu terlihat sangat ketakutan?" tanya Francesca lagi memastikan.


"Dari mana kau tahu bahwa aku merasa takut, Francy?" Coco balik bertanya.


"Kau terlihat cemas, Sayang. Wajahmu tampak sangat gelisah. Ini bukan dirimu. Kau tak pernah bersikap demikian. Katakan padaku ada apa?" tanya Francesca lagi dengan setengah mendesak.

__ADS_1


Coco tak segera menjawab. Dalam bayangannya kembali hadir sosok Monique dengan tubuh yang berlumur darah. Tak lama, dia juga teringat saat melempar tubuh indah itu ke dalam lautan. "Ternyata diriku tak setangguh yang kukira, Francy. Mungkin karena itulah aku tak hidup dan berkecimpung dalam dunia mafia secara langsung," tutur pria itu mulai mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Aku sama sekali tak mengerti, Ricci. Apa yang terjadi selama di Monaco?" tanya Francesca lagi yang masih terus mendesak agar Coco bersedia untuk lebih terbuka.


"Tidak, Francy. Tak terjadi apapun," bantah Coco. Dia kembali menolak untuk jujur terhadap sang kekasih.


"Lalu, kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini. Kata-katamu terdengar sangat aneh, Ricci. Aku sama sekali tak memahaminya," ucap Francesca masih menunjukkan raut wajah yang khawatir.


"Entahlah, Francy. Aku ... aku hanya ingin memanfaatkan sisa hidup ini, nyawa yang masih Tuhan berikan padaku untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakannya sama sekali," racau Coco seraya bangkit kemudian duduk sambil menghadap kepada Francesca. Digenggamnya tangan dengan jemari lentik berhiaskan sebuah cincin yang pernah dia berikan sebagai tanda pengikat. Coco mencium tangan gadis itu dengan dalam.


"Kita akan menikah dan memiliki banyak anak. Aku tak akan mengeluh untuk setiap nyawa yang Tuhan titipkan padaku. Kita akan merawat mereka bersama-sama, menjadikannya sebagai anak-anak yang berguna dan ... dan ... aku ... astaga. Mulai saat ini aku akan ingin menjadi seseorang yang jauh lebih religius," racau Coco lagi membuat Francesca menjadi semakin tak mengerti.


Namun, gadis itu sepertinya tak ingin bertanya, apalagi terus mendesak kekasihnya untuk bicara. Dia meraih tubuh Coco kemudian memeluknya dengan erat. "Aku akan selalu berada di dekatmu, Ricci. Kau dan aku akan menjalani segalanya bersama-sama. Tak ada lagi Francesca dan Ricci, karena kedua nama itu telah bersatu menjadi kita. Kita berdua, Sayang," Francesca merenggangkan pelukannya, kemudian menangkup paras tampan pria yang sangat dia cintai. Tak lupa, gadis itu mengecup lembut bibir pria tersebut dengan mesra.


......................


Keesokan harinya, Francesca tengah sibuk membantu Mia menyiapkan sarapan. Dia bercerita tentang keanehan yang terjadi kepada Coco.


"Ricci ingin menjadi lebih religius?" ulang Mia meyakinkan ucapan Francesca.


"Ya, Mia. Aku tidak tahu jika pesta lajang ternyata dapat memberi pengaruh yang positif juga bagi seseorang," sahut Francesca tanpa menoleh. Dia sibuk menyiapkan menu sarapan yang akan segera dihidangkan. Setelah itu, gadis bertubuh semampai tersebut segera membawanya ke ruang makan.


"Astaga, yang benar saja! Alasan macam apa itu?" protes Daniella kepada Marco. Mereka terdengar cek-cok saat memasuki ruang makan. "Enrica! Awasi Tobia dengan benar!" Sang pengasuh putra kedua ikut menjadi sasaran kekesalan Daniella. Wanita paruh baya yeng merupakan pengasuh Tobia itu pun mengangguk sopan. Dia segera menggendong anak bungsu sang majikan.

__ADS_1


"Apa-apaan itu? Jatuh saat mengejar balon!" gerutu Daniella sambil duduk pada salah satu kursi di meja makan.


"Ada apa, Dani?" tanya Francesca yang merasa heran.


"Iya. Kenapa pagi-pagi begini kau sudah kesal?" Mia ikut menimpali.


"Bagaimana aku tidak kesal. Lihat saja kaki suamiku yang bengkak. Padahal dia harus kembali ke Palermo untuk urusan pekerjaan. Kalau sudah begitu, bagaimana aku bisa tenang mengizinkannya pulang sendiri. Sementara aku harus tetap di sini membantu mempersiapkan pesta pernikahan Francy," gerutu Daniella kesal. Sedangkan Marco terlihat tak ingin menanggapi kemarahan sang istri. Dia sangat mengenal karakter Daniella yang tak pernah mau mengalah. Karena itu, Marco lebih memilih diam dan membiarkannya mengeluarkan segala unek-unek hingga selesai.


"Astaga. Jadi, saat kau kembali semalam ... kakimu sedang terluka?" tanya Mia mengalihkan perhatiannya kepada Marco.


"Ini hanya luka kecil, Mia. Bagi kami kaum pria, luka seperti ini tak akan membuat ...."


"Buktinya kau kesulitan berjalan dengan normal!" sergah Daniella masih dengan nada bicaranya yang kesal. "Kau tahu apa yang membuatku semakin kesal, Mia?" Daniella mengalihkan perhatiannya kepada sang adik yang baru selesai menata meja makan. "Tuan Marco de Luca terjatuh saat mengejar balon berwarna merah," sindir wanita bertubuh sintal itu, membuat Mia dan Francesca seketika tertawa. "Apakah itu tidak terdengar konyol bagi kalian berdua?"


"Oh, Tuhanku." Mia menutupi mulutnya karena tak kuasa menahan tawa.


"Ada apa ini?" tanya Adriano yang baru muncul di sana bersamaan dengan Coco.


"Kenapa Marco bisa terluka seperti itu, Sayang?" tanya Mia, meskipun dia tak yakin jika sang suami akan mengatakan yang sebenarnya. Mia merasa jika mereka bertiga pasti telah bekerja sama untuk tetap memilih bungkam.


"Oh, itu karena Marco kurang berhati-hati. Kami sedang mengadakan lomba menangkap balon di tepian kolam renang. Dia terpeleset dan akhirnya terjatuh. Kakinya terkilir, lalu ...."


"Sudahlah, Adriano. Kenapa tidak kau katakan saja yang sebenarnya kepada Mia. Kau juga Marco. Kenapa kalian harus berbohong terhadap istrimu," sela Coco yang seketika membuat Adriano dan Marco memandang ke arahnya, begitu juga dengan Daniella, Mia, serta Francesca. Ketiga wanita itu menunggu penjelasan yang sebenarnya.

__ADS_1


Sementara Adriano dan Marco, menatap tajam penuh isyarat kepada sang calon pengantin.


__ADS_2