Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Finiscilo


__ADS_3

"Ada apa, Francy?" tanya Mia penasaran saat melihat Francesca dan Coco berdiri mematung, sambil memperhatikan tiga lembar foto yang baru dikeluarkan dari dalam amplop. Mia dapat melihat tangan sang adik yang gemetaran sambil memegangi foto-foto tersebut.


"Francy, aku bisa menjelaskannya," ucap Coco yang terlihat salah tingkah dan tidak nyaman.


"Kau benar-benar kurang ajar, Ricci!" sahut Francesca seraya melemparkan lembaran foto tadi ke hadapan wajah Coco, sehingga pria itu harus memalingkan muka ke samping. Setelah berkata demikian, Franesca kembali ke dalam. Niatnya untuk pergi, dia urungkan karena rasa marah yang tiba-tiba muncul.


Merasa penasaran, Mia lalu memungut ketiga lembar foto yang berserakan di lantai. Seketika kedua matanya terbelalak, saat melihat gambar di dalamnya. Adalah Coco yang tengah mencium Monique dengan tubuh berlumur darah. "Astaga! Apa-apaan ini, Ricci? Kapan dan di mana ini?" tanya Mia.


"Mia, aku ... aku bisa menjelaskannya," jawab Coco. Terkejut dan bingung bercampur menjadi satu, membuat pria berambut ikal itu tak tahu harus memulai penjelasannya dari mana.


"Apakah karena ini pula kaki Marco terkilir dan ... ya Tuhan. Inikah pesta yang kalian maksud?" Mia mengernyitkan kening, tak habis pikir dengan ulah ketiga pria itu yang senang sekali menantang bahaya. "Aku akan menemui Francy dulu," ucap Mia lagi sesaat kemudian. Dia mengembalikan foto-foto tadi ke tangan Coco, kemudian pergi meninggalkan pria yang kini hanya berdiri mematung.


Coco terus memikirkan siapa kira-kira yang telah mengambil fotonya bersama Monique secara sembunyi-sembunyi. Beberapa saat kemudian, pria bermata cokelat itu melangkah gagah menuju bagian dalam bangunan Casa de Luca. Dia berhenti di depan kamar yang ditempati oleh Adriano dan Mia. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pria itu langsung saja masuk. Tampaklah di dalam sana, Adriano yang tengah merapikan janggutnya di depan cermin. "Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" tanyanya yang merasa terganggu dengan sikap tak sopan Coco.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu harus mengabadikan adegan ciumanku dengan Monique lalu mengirimkannya ke Casa de Luca!" Dengan penuh emosi, Coco melemparkan foto-foto tadi ke hadapan Adriano yang masih berdiri terpaku dengan wajah keheranan.


"Apa maksudmu?" tanya Adriano sambil memungut foto-foto itu dari lantai. Dia tertegun saat melihatnya. Sesaat kemudian, Adriano mengalihkan perhatian kepada Coco yang tampak menahan emosi.


“Kau brengsek, Adriano!” Seketika Coco melangkah maju, menerjang, dan berusaha untuk memukul wajah Adriano. Akan tetapi, pria bermata biru itu juga tak tinggal diam. Dia bergerak cepat dan segera menghindar, sehingga kepalan tangan Coco hanya mengenai ruang kosong.


Pria berambut ikal itu tak berniat untuk berhenti. Dia kembali berusaha melukai wajah tampan suami dari calon kakak iparnya. Namun, Adriano sama sekali tak terpancing. Dia mengelak sambil mengunci kedua kaki Coco hanya dengan menggunakan satu kaki kanannya.


Coco terjatuh ke belakang dengan kepala yang hampir saja membentur lantai. Beruntung, Adriano sigap mencegah dan menarik badan calon adik iparnya itu sampai kembali berdiri. “Tenangkan dirimu, Ricci. Untuk apa aku melakukan hal semacam itu? Apa untungnya bagiku? Jika aku yang mengirimkan foto-foto tadi, maka sama halnya dengan membuka semua kebohonganku kepada Mia. Sekali lagi, apa untungnya bagiku?” ucap Adriano dengan nada tenang dan datar. Matanya tajam menyorot pada Coco yang saat itu tampak tengah berpikir.

__ADS_1


“Bagaimana aku tidak menuduhmu? Karena hanya kau yang berada di sana. Siapa lagi kalau bukan dirimu?” tuding Coco lagi. Nada bicaranya terdengar ragu.


“Sekalipun hanya aku yang berada di sana, aku tidak mungkin memotretmu diam-diam, lalu mengirimkan fotonya kemari. Itu sama saja dengan bunuh diri. Astaga, katakan padaku, Mia belum melihatnya, ‘kan?” raut tenang Adriano berubah menjadi panik ketika dia teringat pada sang istri.


“Sayangnya, sudah. Dia melihat foto-foto itu bersama Francy,” jawab Coco setengah menunduk. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena telah menuduh Adriano.


“Matilah aku,” Adriano menepuk kening cukup kencang, lalu mengacak-acak rambutnya yang telah tersisir rapi. “Seharusnya aku tak menerima ajakanmu waktu itu,” sesal Adriano. Kini, giliran sang ketua Tigre Nero yang merasa was-was sambil berjalan mondar-mandir di depan Coco. “Apa yang harus kukatakan pada Mia. Sial sekali! Siapa yang iseng melakukan hal ini pada kita?” gerutunya tanpa henti.


“Ini aneh, Amico. Setahuku hanya kau dan aku yang berada di lantai atas rumah itu. Tak ada yang lain. Aku sangat yakin, karena saat itu aku dan Marco telah berhasil membunuh semua orang yang berada di sana,” terang Coco.


“Sebenarnya ... tidak semua,” gumam Adriano. Matanya tajam menatap Coco yang juga tengah memandangnya dengan heran.


“Maksudmu?” tanya Coco.


“Siapa lagi itu?” Coco menggeleng sambil berkacak pinggang.


“Seorang pria aneh bernama Jacob yang kulihat pertama kali di jendela. Kau ingat, bukan? Saat itu aku mengatakan padamu bahwa dia ingin berbicara denganku,” tutur Adriano.


“Apa yang dia bicarakan denganmu?” tanya Coco penasaran.


“Sesuatu tentang flashdisk milik Lionel. Dia mengatakan bahwa dia ingin membangun kembali organisasi dan membutuhkan bantuanku," jawab Adriano, “tapi … aku tidak yakin. Untuk apa dia iseng memotretmu dan mengirimkannya kemari?” gumam pria itu pelan.


Coco belum sempat menanggapi kalimat Adriano, sebab Mia tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar. “Ricci, kurasa hanya kau yang bisa mencegah Francy. Dia memaksa hendak pergi dan mengemasi barang-barangnya,” ujar Mia dengan nada dingin. Tampaknya dia juga tengah memendam emosi pada pria berambut ikal itu dan juga sang suami tentunya.

__ADS_1


“Astaga." Tanpa membuang waktu, Coco segera berlari meninggalkan kamar Adriano. Dia meninggalkan suami istri yang saling pandang dan hanya terdiam.


“Aku sangat kecewa padamu, Adriano,” ucap Mia beberapa saat kemudian.


“Sayang,” Adriano berusaha mendekat, hendak memeluk tubuh ramping sang istri. Namun, Mia lebih dulu menghindar.


“Berapa kali kukatakan padamu? Aku tidak mau lagi kau menyelidiki kasus kematian Theo. Apakah itu kurang jelas bagimu, Adriano? Ah, kalau begini caranya aku juga tidak kuat! Kau membuatku menjadi gila! Mungkin sebaiknya aku ikut pergi bersama Francy.” Mia membalikkan badan dan hendak berlalu dari sana.


Akan tetapi, tangan Adriano lebih dulu mencengkeram lengan Mia dan menariknya mendekat. Pria rupawan itu memutar tubuh istrinya sedikit kasar, kemudian merengkuhnya kuat-kuat. “Jika kau pergi, maka akulah yang akan menjadi gila. Kumohon, Mia. Maafkan kebodohanku. Jangan hukum aku seperti ini,” pinta Adriano seraya memeluk Mia dengan erat.


Mia sendiri tak berniat membalas pelukan itu. Perasaan marah karena dibohongi begitu menguasai hatinya. Dia memilih untuk diam dan tak menanggapi Adriano sedikit pun.


“Sayang,” Adriano mengurai pelukannya, lalu berlutut di hadapan Mia. “Katakan sesuatu. Jangan diam saja. Itu sungguh menyakitkan,” wajahnya memelas. Kebengisan dan kegagahan sebagai ketua klan hitam terbesar dan paling berpengaruh di daratan Eropa itu seakan menguap tak tersisa. Dia bertekuk lutut di hadapan seorang wanita lemah lembut, yang telah berhasil memporakporandakan hatinya sejak lama.


Sementara itu, di bawah atap yang sama dengan kamar yang berbeda, Francesca sudah selesai mengemasi pakaiannya dan tak memedulikan Coco yang meneriakkan namanya dari balik pintu. Francesca sengaja mengunci pintunya sesaat setelah Mia meninggalkan kamar. “Francy, aku akan mendobrak pintu ini jika kau tak segera membukanya!” seru Coco.


Gadis bertubuh semampai itu sama sekali tak memiliki keinginan untuk menanggapi. Dia hanya terpekur di sisi ranjang dengan mata nanar menatap lantai. Bayangan Coco yang tengah berciuman dengan Monique, begitu mengganggu pikirannya saat itu.


“Francy! Aku bersungguh-sungguh! Buka pintunya atau aku yang akan membuka paksa!” seru Coco lagi. Mendengar hal itu, Francesca malah menutup telinganya dan menunduk dalam-dalam.


“Satu … dua … tiga!” Selesai Coco berucap demikian, dia menendang daun pintu itu sekuat tenaga hingga jebol. Dengan mudahnya, Coco mendorong pintu tadi menggunakan kaki sambil meringis pelan. Gerakannya terlalu kuat, sehingga luka di perutnya yang baru saja sembuh kembali terasa nyeri.


Sembari memegangi perut, Coco berjalan pelan ke arah calon istrinya. “Tolong dengarkan aku, Sayang,” pintanya.

__ADS_1


“Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku, Ricci. Aku mengerti. Mungkin kau masih ingin melampiaskan amarahmu akibat sekian banyak penolakan yang kuberikan di masa lalu. Tidak apa-apa, teruskan saja. Akan tetapi, maafkan aku. Ternyata aku tak sekuat yang kukira. Kurasa, lebih baik jika kita akhiri semuanya sampai di sini,” ujar Francesca pelan. Gadis itu mulai terisak, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


__ADS_2