Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Rosa Blu


__ADS_3

"Delana?" Carlo menyebutkan nama wanita muda yang tengah berjalan ke arahnya. Dia merupakan seseorang yang terlihat sangat manis dengan rambut lurus, panjang, serta hitam berkilau. Delana mengikat rambutnya menggunakan tali lebar yang dibuat menjadi simpul pita cukup besar. Warnanya juga senada dengan midi dress yang dia kenakan. Sungguh wanita muda tersebut begitu sopan dan feminin jika dilihat dari segi penampilan.


"Ya, Tuhan. Kau ...." Delana tak mampu berkata-kata. Dia langsung saja menghambur ke dalam pelukan Carlo yang tampak terkejut. Sementara Miabella hanya terpaku memperhatikan adegan di hadapannya. "Ah, maaf." Delana segera mengurai pelukan, lalu mundur selangkah dari hadapan Carlo. "Aku hanya tak percaya karena bisa bertemu denganmu di sini. Kupikir kau tak akan kembali lagi ke Italia," ujar wanita muda itu.


Carlo tersenyum ramah. Dia lalu menoleh kepada Miabella yang hanya berdiri terdiam. "Tadinya aku memang ditempatkan di Monaco oleh tuan Adriano. Namun, karena nona Miabella memutuskan untuk tinggal dan mengurus perkebunan anggur de Luca, maka aku pun ikut kemari," jelasnya.


"Oh, jadi ini nona Miabella?" Delana mengalihkan perhatiannya kepada gadis cantik dengan tampilan jauh lebih modis dari dirinya yang sederhana. "Apa kabar, Nona? Kau pasti tak mengingatku sama sekali. Dulu aku datang ke acara ulang tahunmu di Casa de Luca." Delana bersikap ramah dan hangat kepada Miabella.


Akan tetapi, tidak dengan Miabella. Gadis itu hanya menatap aneh kepada Delana. Setelah beberapa saat kemudian, barulah dia menyunggingkan sebuah senyuman kecil.


Carlo yang sangat mengenal putri dari sang majikan, sudah bisa menebak bahwa saat itu Miabella mulai merasa terganggu. Itulah yang masih dirasa aneh oleh Carlo. Walaupun sudah dewasa, tapi gadis yang selama ini dia jaga ke manapun tersebut masih merasa nyaman hanya dengan orang-orang tertentu saja. "Apa kau lelah, Nona?" tanya Carlo berbasa-basi.


"Tidak juga," jawab Miabella. "Aku ingin ke sana," tunjuknya pada jembatan kayu yang menjorok ke tengah danau buatan tadi.


"Boleh, tapi berhati-hatilah karena seingatku danaunya cukup dalam," saran Carlo.


"Jangan khawatir. Aku pandai berenang," ujar Miabella seakan tak ingin dianggap sebagai bocah serta diremehkan. Sementara Delana merasa heran dengan sikap dan nada bicara Miabella yang terdengar begitu ketus terhadap Carlo.


Akan tetapi, lain halnya dengan Carlo yang justru tertawa pelan atas jawaban gadis itu. "Bukan begitu, Nona. Jika kau jatuh dan tercebur ke dalam danau, maka seluruh pakaianmu akan basah. Kita masih harus menempuh satu jam perjalanan untuk kembali ke Brescia. Kecuali jika kau bersedia meminjam pakaian dari Miranda," ujarnya seraya menggeleng pelan. Dia mencoba melontarkan candaan kepada Miabella. Padahal, Carlo tahu bahwa gadis tersebut sudah mulai kesal dengannya.


"Sta a te! (terserah!)," cibir Miabella seraya pergi dari hadapan Carlo. Dia berlalu begitu saja tanpa menoleh sama sekali kepada Delana yang masih menatap heran ke arahnya. Namun, wanita muda itu tak berani berkomentar apapun, mengingat dia tahu siapa Miabella Conchetta.


Miabella berjalan di atas jembatan kayu tadi, kemudian berdiri sambil memandang air danau yang berkilauan saat terkena cahaya matahari. Sementara Carlo berbincang akrab bersama Delana. "Apa kau sudah bertemu dengan Miranda?" tanya wanita cantik berambut hitam itu. Delana sendiri berusia lima tahun lebih muda dibandingkan Carlo.


"Aku sudah bicara dengan dia tadi, tapi Miranda harus minum obat dan beristirahat," jawab Carlo. Pria itu kemudian menggumam pelan. "Lagi pula, aku masih punya banyak waktu di sini. Jadi, bisa datang kemari kapanpun," ucapnya kemudian.


“Benarkah itu? Aku senang sekali mendengarnya.” Delana tampak begitu bahagia. “Bolehkah kusimpan nomor kontakmu?” tanya wanita muda itu.


“Tentu saja." Carlo segera merogoh ponsel dari di dalam saku jaket yang dia tenteng, kemudian menyebutkan nomor kontak dirinya. Sementara jemari pria itu juga bergerak lincah menyimpan nomor telepon teman masa kecilnya tadi. "Kupikir kau sudah tidak tinggal di sini," ucap Carlo setelah kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jaket.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus ke mana. Belum ada pekerjaan yang benar-benar bisa membuatku merasa nyaman. Lagi pula, Miranda juga masih membutuhkanku di sini," terang Delana dengan tutur katanya yang lembut.


"Apa kau juga belum berencana untuk menikah?" tanya Carlo lagi.


"Ah, ayolah jangan bahas hal itu," tolak Delana malu. "Setahun yang lalu aku sempat menjalin hubungan dengan seseorang, tapi sayang sekali karena harus kandas di tengah jalan," tutur wanita dengan ikat rambut unik tersebut.


"Kedengarannya jauh lebih baik daripada diriku yang selalu sendiri," canda Carlo.


Sementara dari kejauhan, Miabella sesekali mencuri pandang sampai akhirnya memperhatikan Carlo dengan perasaan aneh yang tak bisa dia jelaskan. Apalagi ketika melihat Carlo dan Delana sama-sama tertawa lebar. Belum lagi saat tangan Carlo yang berkali-kali menepuk pundak wanita muda tersebut.


Miabella mengembuskan napasnya kasar, kemudian segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Beberapa saat lamanya dia menunggu Carlo mengobrol hangat, sampai kaki gadis cantik itu merasa kesemutan karena terlalu lama berdiri. Dia pun memutuskan untuk menghampiri Carlo yang seakan tak hendak beranjak dari sana. “Aku mau pulang. Terserah jika kau masih ingin di sini,” ujar Miabella dengan nada bicara yang terdengar sedikit ketus.


“Apakah ada masalah di perkebunan, Nona?” tanya Carlo sedikit khawatir.


“Tidak ada masalah apapun. Tak seharusnya aku meninggalkan perkebunan terlalu lama. Tak apa jika kau masih ingin di sini, aku bisa memesan taksi online,” jawab Miabella masih dengan raut jengkel.


“Tentu. Sampai jumpa lagi, Carlo. Kabari aku jika kau memiliki waktu luang. Mungkin kapan-kapan kita bisa memesan tempat di Rosa Blu,” cetus Delana kembali memamerkan senyuman manisnya.


“Apa itu Rosa Blu?” tanya Miabella seraya menautkan alis.


“Itu adalah sebuah café yang tengah naik daun di pusat kota Milan, Nona. Banyak anak-anak muda yang menghabiskan waktu di sana,” jelas Delana dengan mata berbinar.


“Itu ide yang sangat bagus. Kau juga harus ikut jika ada waktu senggang, Nona. Ada baiknya agar dirimu bisa meluangkan waktu untuk bersenang-senang,” ujar Carlo.


“Akan kupikirkan,” sahut Miabella datar sambil mengulurkan tangan dan menyalami Delana dengan gerakan yang kaku. Gadis cantik itu langsung berbalik begitu saja dan melangkah menjauh tanpa berkata apa-apa lagi.


“Maafkan sikap nona Miabella, Delana. Dia tak mudah akrab dengan orang asing. Namun, sekali dirinya dekat dengan seseorang, kau akan melihat bahwa gadis itu memiliki kepribadian yang sangat baik dan tulus,” terang Carlo ketika Delana sedikit terheran-heran melihat sikap Miabella.


“Ah, tidak apa-apa. Tidak usah terlalu dipikirkan, Carlo. Aku sangat paham bagaimana sifat orang-orang kaya yang selama ini kuketahui. Mereka tak jarang bersikap angkuh dan semaunya sendiri,” sahut Delana sembari mengibaskan tangannya.

__ADS_1


“Oh, tidak. Kau salah. Nona Miabella bukan seseorang yang seperti itu. Dia sungguh istimewa,” sanggah Carlo dengan sorot mata penuh arti. Seutas senyuman samar juga tercipta di bibir tipisnya.


“Cara bicaramu terdengar seperti sedang membela seorang kekasih.” Delana tersenyum kecut, membuat suasana menjadi canggung.


“Ah, sudahlah. Kita lanjutkan obrolan ini lain kali.” Carlo menyodorkan tangan yang segera disambut oleh wanita muda nan cantik itu.


“Sampai jumpa lagi, Carlo. Semoga tak masalah jika sesekali aku menghubungi atau mengirimkan pesan padamu,” ujar Delana.


“Oh, sama sekali tak masalah. Hubungi aku kapanpun kau ingin.” Carlo mengangguk kemudian membalikkan badan. Setengah berlari dia mengikuti langkah Miabella yang sudah berada sangat jauh di depan. Gadis itu bahkan sudah kembali ke dalam bangunan rumah singgah, dan bergegas menuju halaman tempat di mana Carlo memarkirkan motornya.


Dengan tergopoh-gopoh, Carlo menghampiri Miabella. Gadis cantik itu sudah berdiri di samping motor besar miliknya dengan wajah cemberut. “Kukira kau sudah lupa padaku,” sindirnya setengah berseru, ketika Carlo berjalan mendekat.


“Mana mungkin aku lupa padamu, Nona." Carlo tergelak seraya meraih helm Miabella dan memasangkannya ke kepala gadis itu. Dia juga memakaikan jaket sebelum memasang jaketnya sendiri. Dengan gagah, Carlo menaiki motor dan menunggu sampai Miabella duduk nyaman di jok belakang. Tak lama kemudian, dia melajukan motor itu pelan meninggalkan area panti asuhan.


“Berpeganganlah padaku, Nona,” suruh Carlo saat dia merasa bahwa Miabella tak juga melingkarkan tangannya di perut, seperti yang gadis itu lakukan saat berangkat tadi.


“Tidak usah. Aku lebih nyaman begini,” tolak Miabella segera.


“Hm.” Carlo menarik napas dalam-dalam. Entah apa yang membuat sang nona merajuk seperti itu. Namun, dalam hitungan detik saja dia sudah menemukan jalan keluar agar Miabella kembali ceria.


Carlo memperlambat laju motornya kemudian menepi. Dirogohnya saku celana untuk mengambil ponsel, lalu mengetikkan sesuatu di sana. Tak berselang lama, Carlo meletakkan ponsel pada alat khusus yang berada di tengah stang, lalu melajukan motornya.


Miabella sempat heran ketika Carlo telah melewati belokan jalan yang menuju Brescia. Pria rupawan itu malah terus mengarahkan motornya ke pusat kota. Dalam hati, Miabella sungguh penasaran ke mana Carlo akan membawa dirinya. Namun, dia terlalu malas untuk bertanya.


Pada akhirnya, motor Carlo berhenti di kawasan perbelanjaan kota Milan. Dia memarkirkan motornya tepat di sebuah bangunan modern bergaya minimalis, tapi tetap terkesan mewah. “Ayo,” ajak Carlo setelah melepas helm.


“Tempat apa ini?” tanya Miabella. Dia terlalu lama tinggal di Monaco, sehingga hampir tak mengenali Italia dengan baik.


“Inilah Rosa Blu,” jawab Carlo seraya tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2