Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Admiration


__ADS_3

Malam itu, Adriano sudah bersiap dengan tuxedo hitam. Dia berdiri di depan cermin besar seukuran tinggi badannya di dalam walk in closet. Dia terlihat begitu tampan. Sesekali Adriano merapikan rambut dan membetulkan letak tuksedonya sembari menunggu Mia yang masih berhias di dalam kamar, dengan dibantu oleh beberapa pelayan dan seorang penata rias.


“Daddy Zio!” terdengar Miabella berseru nyaring sambil mengetuk-ngetukkan tangan mungilnya di pintu walk in closet. Adriano tersenyum lebar seraya membuka pintu, lalu berlutut di hadapan gadis kecil itu.


“Ada apa, Principessa?” tanyanya lembut.


“Apakah kau tidak ingin mengintip ibuku? Dia cantik sekali,” ujar Miabella penuh semangat.


“Oh, ya? Benarkah itu?” mata biru Adriano tampak berbinar saat mendengar ucapan Miabella. Sementara gadis kecil tersebut menanggapinya dengan mengangguk riang.


“Sebenarnya aku ingin ikut, tapi kakek Damiano melarang. Kata kakek, aku masih terlalu kecil untuk ikut pesta,” celotehnya. “Padahal aku juga ingin cantik seperti ibu dan memakai baju-baju bagus,” sambung Miabella, membuat Adriano terbahak.


“Nanti akan kubuatkan pesta khusus untukmu, Principessa. Kau akan menjadi gadis tercantik di seluruh negeri.” Adriano langsung berdiri dan menggendong Miabella sambil mencium pipinya dengan gemas. Dia lalu berjalan keluar dari walk in closet, bersamaan dengan sang istri yang sudah siap. Malam itu, Mia mengenakan gaun pesta yang telah mereka beli kemarin dari butik milik Christiabel.


Adriano berdiri terpaku menyaksikan kesibukan para wanita yang tengah membantu Mia. Tampak beberapa pelayan merapikan bagian belakang gaun, sedangkan penata rias menyempurnakan tatanan rambut coklat Mia yang tersanggul rapi agar tak menutupi punggungnya yang terekspos sempurna.


Adriano memandang sosok cantik di depannya itu tanpa berkedip. Beberapa kali pula pria itu menelan ludahnya. “Apa kubilang, Daddy Zio. Ibuku cantik sekali bukan?” celoteh Miabella lagi seraya merosot turun dari gendongan ayah sambungnya. Miabella lalu menghambur ke arah Mia dan memeluk kakinya. “Ibu,” serunya sambil melompat-lompat.


“Bella, Sayang,” Mia mencondongkan tubuhnya lalu mencium kening sang putri. “Baik-baik di rumah, ya. Jangan merepotkan kakek Damiano,” tuturnya seraya kembali berdiri tegak dan mengalihkan perhatian pada Adriano yang masih terpaku menatapnya. Untuk sesaat, pandangan mereka saling bertemu dan terkunci satu sama lain. Dua anak manusia itu saling mengagumi meskipun tanpa adanya kata-kata.

__ADS_1


“Ibuku cantik! Ibuku cantik!” Miabella yang telah mengurai pelukannya dari sang ibu, segera berlari keluar menuju kamar Damiano. Demikian pula dengan seorang penata rias dan para pelayan yang berpamitan. Kini, di dalam kamar itu hanya ada Adriano dan Mia. Pria rupawan bermata biru tersebut tampak sangat gagah. Dia melangkah perlahan mendekati Mia.


“Kau cantik sekali,” bisik Adriano. Tak sedetik pun dia mengalihkan tatapannya dari paras menawan sang istri yang malam itu tampil bak bidadari.


“Kau juga sangat tampan,” pipi Mia merona melihat sang suami yang tampak luar biasa dalam balutan setelan tuxedonya. Tak lupa Mia merapikan kembali bagian depan tuxedo yang Adriano kenakan, berikut dengan dasi kupu-kupu yang melengkapinya.


“Apakah kau sudah siap?” Adriano mendekatkan bibirnya pada bibir Mia. Sementara tangannya bergerak nakal, menyapu punggung mulus Mia dan bergerak turun hingga ke pinggul kemudian mere•masnya pelan.


“Jika aku menuruti godaanmu, bisa dipastikan kita akan terlambat datang ke pesta,” ucap Mia seraya mengulum senyumnya. Dia memejamkan mata agar tak melihat tatapan Adriano yang sayu sekaligus penuh gairah.


Sementara Adriano terkekeh pelan sebelum mencium bibir Mia dengan lembut. “Baiklah. Ayo kita berangkat,” ajaknya yang dibalas dengan anggukan kepala dari Mia. Tak lupa, wanita itu juga mengusap sisa lipstiknya yang menempel di bibir Adriano, karena ciuman tadi.


Sekitar dua puluh menit perjalanan hingga Adriano dan Mia tiba di lokasi pesta. Dua orang petugas valet membukakan pintu kiri dan kanan mobil mewah yang telah terparkir. Beberapa orang pengawal serta penanggung jawab pesta, juga sempat menyambut Mia yang turun dari kendaraan dengan begitu anggun. Akan tetapi, Adriano bergerak cepat. Dia segera meraih pergelangan tangan Mia, kemudian menuntunnya masuk ke dalam gedung. Rasa bahagia dan bangga yang membuncah di hati Adriano, membuat dia tampak jauh lebih sumringah dari biasanya. Malam itu, Mia memang tampil sangat sempurna.


Di dalam ruangan pesta yang super luas, Adriano berkali-kali mengangguk dan mengulurkan tangan saat bertemu dengan beberapa orang yang dia kenal. Langkahnya kemudian terhenti ketika dirinya melihat Don Vargas dari kejauhan. Pria tersebut tengah asyik berbincang dengan beberapa orang pria yang merupakan tamu undangan. Tepat di samping Don Vargas, berdirilah Juan Pablo Herrera yang juga tampil sangat menawan.


Genggaman Adriano sama sekali tak lepas dari pergelangan tangan Mia, bahkan terasa semakin erat. Mia sempat melirik pria dengan tatapannya yang tertuju ke depan dan menuntun dirinya untuk menghampiri Don Vargas. Sontak kedatangan mereka berdua menyita perhatian semua orang yang berada di sekeliling majikan Juan Pablo itu. Para pria juga sepertinya tak dapat melepaskan pandangan dari sosok Mia yang benar-benar memesona. Terlebih Juan Pablo yang seakan tak berkedip saat memerhatikan istri dari kolega bosnya tersebut.


“Selamat datang, Tuan D’Angelo. Dari tadi aku sudah menunggu kehadiranmu,” sambut Don Vargas ramah. “Aku berniat mengajakmu bertarung,” ujar pria tua itu sambil terbahak.

__ADS_1


“Bertarung?" ulang Adriano seraya menautkan alisnya karena tak mengerti. "Aku bari tiba di sini dan Anda sudah menantangku, Don Vargas,” ujar Adriano lagi diiringi sebuah senyuman yang masih sedikit kaku. Terus terang saja bahwa Adriano harus mengembalikan konsentrasinya.


“Don Vargas ingin mengajak Anda bermain Roulette,” terang Juan Pablo tanpa mengalihkan tatapannya dari Mia yang terlihat sedikit salah tingkah ketika semua mata memandang ke arahnya.


Adriano hanya bisa mengembuskan napas pelan, berusaha menahan gejolak dan cemburu di dalam dada atas sikap Juan Pablo pada istrinya. Dia kembali memamerkan senyumnya dan mengangguk pada Don Vargas. “Kuharap Anda tidak menyesal karena telah menantangku. Aku terkenal sangat jago dan tak pernah kalah,” canda Adriano.


“Oh, selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu. Mungkin ini pertama kalinya Anda akan kalah melawanku,” balas Don Vargas dengan jumawa. Senyuman lebar tak hentinya dia pamerkan kepada Adriano.


“Itu tidak mungkin, karena aku telah membawa jimat keberuntungan,” bantah Adriano seraya merengkuh pinggang Mia dengan makin erat, sehingga wanita itu semakin mendekat padanya. Tak biasanya Adriano bersikap demikian. Dia tak pernah ingin mempertunjukkan sikap mesranya terhadap Mia. Namun, kali ini pria itu dengan sengaja mengecup kening istrinya. “Kurasa Anda akan kesulitan untuk dapat mengalahkanku,” ucapnya membuat Don Vargas dan beberapa kolega yang lain kembali tertawa.


“Kita lihat saja seberapa besar kemampuan Anda, Tuan D'Angelo,” tantang Don Vargas lagi masih dengan sikapnya yang bersahabat.


"Dengan senang hati, Don Vargas. Aku tidak akan pernah menolak tantangan dalam bentuk apapun," balas Adriano tenang.


"Itulah yang kusukai dari Anda, Tuan D'Angelo. Anda adalah salah satu pria pemberani yang pernah kukenal, tentu saja setelah ajudan setiaku Juan Pablo. Asal Anda tahu bahwa keberanian dan kehebatan pria muda ini tiada duanya," sanjung Don Vargas seraya menepuk pundak Juan Pablo. Akan tetapi, pria itu masih terlihat biasa saja meskipun dirinya telah mendapatkan sebuah sanjungan luar biasa dari Don Vargas, karena perhatian Juan Pablo saat itu masih tertuju kepada Mia.


🍒🍒🍒


Hai, ini ceuceu bawakan lagi rekomendasi novel keren untuk semuanya.

__ADS_1



__ADS_2