
"Mari kita masuk, Sayang," ajak Mia sambil menuntun Miabella. Dia tidak memedulikan Adriano yang masih berdiri di dekat mobilnya. Mia melangkah ke dalam bangunan Casa de Luca dengan penuh percaya diri. Wanita itu tahu bahwa Adriano pasti akan segera mengikutinya.
Apa yang Mia pikirkan ternyata memang tidaklah keliru. Adriano mengekor ibu dan anak itu dari belakang. "Bisakah kuberikan sedikit penjelasan, Sayang?" tawar pria bermata biru tersebut, berharap agar Mia tak marah padanya.
Wanita cantik bermata cokelat itu tertegun. Dia melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Miabella, kemudian menoleh kepada Adriano. "Apa yang ingin kau jelaskan padaku, Adriano? Kenapa firasatku mengatakan bahwa ini bukanlah sesuatu yang bagus," ujar Mia yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Ada rona kecewa pada wajah cantiknya.
"Aku memang bertemu dengan detektif Ignazio di Milan. Kami membahas sesuatu yang penting," jelas Adriano. Dia mengajak Mia untuk duduk. Sedangkan Miabella merebahkan tubuh mungilnya, dengan kepala di atas pangkuan sang ibu.
"Ibu, perutku sakit," keluhnya dengan wajah memelas.
"Beristirahatlah, Sayang," sahut Mia seraya membelai rambut panjang putrinya.
"Daddy Zio, apa es krim yang kumakan tadi beracun? Kenapa aku jadi sakit perut?" celoteh gadis kecil itu lagi sambil mengusap-usap perutnya.
"Kau pasti hanya kekenyangan, Principessa," jawab Adriano. Sesekali dia melirik Mia yang tengah menatapnya dengan tajam. Adriano tahu bahwa itu semua karena ulahnya. Namun, dengan segera dia meraih jemari sang istri, kemudian mengecupnya lembut dan penuh cinta. "Sepertinya sudah lama aku tidak membelikanmu perhiasan," ucap pria bermata biru itu dengan setengah merayu. Adriano berharap agar Mia melupakan rasa kesalnya.
"Kau ingin menyuapku, Sayang?" Mia mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja tidak. Itu murni tawaran untukmu. Ah, bukan sebuah tawaran, tapi tentu saja sesuatu yang memang sudah seharusnya kuberikan untuk dirimu," ujar Adriano meyakinkan Mia. Sedangkan ibunda dari Miabella tersebut hanya menanggapinya dengan tawa renyah.
"Kau tidak harus melakukan itu padaku, Adriano. Sekarang katakan, ada pembicaraan penting apa antara dirimu dengan detektif Ignazio?" Mia melihat sejenak kepada Miabella yang ternyata sudah tertidur lelap. Setelah itu, dia kembali mengalihkan pandangannya kepada Adriano sambil menunggu penjelasan dari pria tiga puluh dua tahun tersebut.
Adriano mengempaskan napas dalam-dalam sebelum dia bercerita kepada Mia. Sejujurnya bahwa pria itu tak ingin membuat sang istri menjadi cemas atas apa yang akan dia sampaikan. "Kami membahas tentang Lionel," ungkapnya.
"Siapa?" Mia mengernyitkan kening karena tak mengenal sosok yang Adriano maksud.
"Lionel," ulang Adriano. "Dia adalah orang yang telah membuat Ricci terluka dan harus menjalani perawatan hingga saat ini," jelas pria bermata biru itu kemudian. Adriano lalu terdiam sejenak. Dia membiarkan Mia mencerna penuturannya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Jangan katakan jika kau ingin membalas dendam padanya," tukas Mia beberapa saat kemudian.
"Ini bukan hanya tentang balas dendam, Mia. Lionel adalah orang yang sangat berbahaya. Detektif Ignazio mengatakan bahwa dia merupakan bagian dari aliansi pembunuh bayaran di Amerika. Aku yakin jika dia juga yang telah menghabisi Don Vargas. Selain itu, tidak menutup kemungkinan bahwa organisasinya juga terlibat dalam kasus pembunuhan Matteo," papar Adriano panjang lebar.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Mia terdengar ragu.
"Instingku jarang sekali meleset, Mia. Kau ingat dengan pria yang kemarin membuatmu tak sadarkan diri saat berada di pasar malam?" Adriano menatap lekat sang istri yang mulai terlihat gelisah.
"Apakah pria itu Lionel?" tanya Mia.
"Ya. Dialah Lionel. Pria itu ada di Brescia dan sepertinya dia sedang memburuku. Jika tidak kuhadapi, maka aku harus terus merasa was-was akan keselamatan kalian. Kau dan juga Miabella, atau mungkin siapa saja yang berada di sekitarku," jelas Adriano dengan hati-hati. Dia tak ingin menimbulkan perasaan takut dalam diri Mia.
"Tidak, Adriano!" tolak Mia dengan tegas. "Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu kembali berhadapan dengan kematian! Jangan mengada-ada!" sorot tajam Mia layangkan kepada sang suami, sebagai tanda protes keras terhadapnya.
Adriano tidak segera menanggapi sikap Mia yang membuat dirinya kembali merasa terbatasi. Pria bermata biru itu kemudian berpikir dalam-dalam. Dia dapat memahami ketakutan yang dirasakan oleh istri tercintanya. “Mia, dengarkan aku, Sayang. Jika aku tidak segera mengatasi hal ini, maka dia akan bisa membahayakan kita semua. Mengertilah, Mia. Jika aku tidak menghentikannya, maka sudah pasti dia yang akan menghentikanku,” tegas Adriano dengan kalimat yang penuh penekanan.
“Sayang, dengarkan aku,” melihat gelagat tak baik dari istrinya, Adriano segera meraih kembali jemari Mia. “Aku selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjaga agar dirimu dan Miabella tetap aman dari siapa pun, terlebih Lionel. Orang itu sudah mencoba mencelakaimu.”
“Kau bisa menyuruh orang lain untuk menyingkirkannya. Tidak harus kau yang melakukan semua itu, Adriano,” tolak Mia dengan mata berkaca-kaca.
“Mia,” ucap Adriano lirih dengan mimik mengiba. Ingin rasanya dia mengatakan jika kekuatan Lionel jauh berada di atas anak buahnya, termasuk Benigno. Semua tak akan bisa melumpuhkan pria tersebut jika Adriano tak ikut turun tangan. Namun, dia sudah dapat menebak apa yang akan dilontarkakn oleh Mia jika pria itu berkata demikian.
“Aku tidak ingin berbicara lagi, Adriano. Aku akan menidurkan Miabella di kamarnya,” tutup Mia.
“Biar aku yang menggendongnya,” tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Adriano segera merengkuh tubuh mungil putri sambungnya. Dia lalu membopong balita cantik itu sampai ke kamar, lalu membaringkannya di atas ranjang. Sementara Mia memilih untuk turut berbaring di samping Miabella dengan mata menerawang.
“Miaku sayang,” Adriano begitu iba melihat sang istri yang kembali dilanda kecemasan. Pengalaman buruk di masa lalu benar-benar memukul mental wanita itu. “Aku mencintaimu, Mia. Tolonglah. Jangan berpikir terlalu berat,” ujarnya sambil berjalan memutari ranjang, kemudian duduk di dekat tubuh Mia. Adriano mengecup lembut kening istrinya dan menatap dalam-dalam seraya terus memikirkan cara agar dia bisa melenyapkan Lionel dengan segera.
__ADS_1
“Beristirahatlah. Aku akan berada di luar kamar,” dia mengecup kening Mia sekali lagi, kemudian mengecup bibirnya. Adriano tersenyum saat Mia sama sekali tak menanggapi. Wanita itu malah memejamkan mata dan pura-pura tertidur.
“Baiklah, Sayang,” lemah lembut, Adriano memebelai rambut panjang nan indah milik Mia, kemudian berlalu dari sana. Dia memutuskan untuk menemui Coco di kamarnya.
Ketika Adriano masuk, tampak Coco yang baru selesai makan malam. Sedangkan Francesca tak banyak bicara. Gadis bermata hazel tersebut hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Setelah itu, dia lalu keluar dari kamar.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Adriano sambil berjalan ke dekat tempat tidur. Dia mengambil sebuah kursi kayu, kemudian meletakkannya di sebelah ranjang.
"Rasanya sangat membosankan. Aku ingin turun dari tempat tidur dan pergi keluar kamar. Namun, Francy belum mengizinkanku," keluh pria berambut ikal itu.
"Francesca merawatmu dengan sangat baik. Itu merupakan sebuah pertanda bagimu, Ricci," sahut Adriano menanggapi keluhan Coco.
"Entahlah. Aku tidak ingin terlalu berharap banyak lagi, Amico. Lagi pula, mungkin sebaiknya aku memapankan diri terlebih dulu," balas Coco. Raut wajanya tampak sangat tidak bersemangat saat itu.
"Mapan dalam hal apa?" tanya Adriano, meskipun sebenarnya dia terlihat sudah dapat menebak arah dari ucapan Coco.
"Ah, sudahlah," Coco mengibaskan tangannya perlahan, sebagai tanda bahwa dia tak ingin membahas tentang masalah pribadinya lagi. Adriano pun tak memperpanjang hal itu. Lagi pula, dia ke sana bukan untuk membahas masalah demikian. "Ada apa? Aku yakin kau kemari bukan sekadar untuk melihat keadaanku, kan?"
"Ya," sahut Adriano, "ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," ujarnya tampak serius.
"Tentang apa?" tanya Coco ikut memasang mimik yang sama dengan Adriano.
"Lionel. Pria yang menembakmu saat kita menyerang Nenad Ljudevit di Menara Hitam," jawab Adriano.
"Kenapa lagi dia? Aku ingin segera pulih untuk ...." Coco tidak melanjutkan kata-katanya, karena saat itu Francesca terlebih dulu masuk dengan membawa air putih di dalam sebuah poci yang terbuat dari beling.
"Maaf, Adriano. Sudah waktunya Ricci untuk minum obat. Setelah itu dia juga harus segera tidur," ucap gadis bertubuh semampai yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Coco.
__ADS_1