Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
First Date


__ADS_3


Mia mengempaskan napas dalam-dalam saat mendengar jawaban dari Adriano. Namun, dia tak tahu harus berkata apa. Wanita itu hanya menatap paras tampan pria di hadapannya dengan lekat.


"Satu per satu tabir ini akan segera terungkap Mia. Itu pasti," ucap Adriano lagi.


Sedangkan Mia masih terdiam. Namun, kini dirinya tampak tersenyum. Disentuhnya wajah rupawan dengan hiasan janggut tipis itu. "Terima kasih," sahutnya pelan.


"Satu lagi, Mia," Adriano kembali berkata. "Bagaimana jika besok aku mengajakmu kencan?" tawarnya dengan senyuman kalem yang selalu menjadi ciri khas pria itu.


"Kencan?" raut cemas yang tadi sempat menggelayuti wajah cantik Mia, perlahan memudar. Seutas senyuman muncul di sana, dengan sorot mata yang mulai terlihat tenang.


"Iya, berkencan," Adriano menegaskan. "Kita langsung menikah dan tidak menjalani proses pacaran seperti kebanyakan orang. Aku rasa itu akan membuat hubungan kita menjadi semakin erat," ujar pria itu lagi. "Kemarin aku bertemu teman lama. Dia mengundang kita agar menonton pertunjukannya, pada acara ulang tahun sebuah cafetaria di Milan. Kita akan pergi besok. Berdua saja," Adriano mengakhiri kata-katanya dengan setengah berbisik.


Sedangkan Mia hanya tersipu. Dirinya merasa begitu tersanjung, dengan debaran jantung yang sulit untuk diartikan.


Mia tak pernah menyangka jika dirinya akan kembali terjerat, dalam pesona seorang pria selain Matteo. Terkadang dirinya tak mengerti karena dia begitu mudah tersentuh dan jatuh cinta terhadap Adriano, pria yang kini kembali menghilangkan rasa hausnya akan kehangatan setelah kepergian sang suami. Malam itu kembali Mia lalui dengan ******* dalam pelukan kedua lengan kokoh Adriano D'Angelo.


......................


Mia berdiri di hadapan cermin sambil memandangi dirinya dalam balutan halter dress berwarma turquiose. Dress cantik di atas lutut, dengan bagian belakang yang mengeskpos punggung mulus Mia. Sepasang ankle strap heels pun kian mempercantik penampilannya sore itu.


Sementara Adriano yang sudah siap dengan kemeja hitamnya, kembali masuk kamar setelah menemui Miabella. Rencananya mereka tidak akan membawa gadis kecil itu.


Tak ada rasa bosan ataupun puas bagi Adriano, ketika dirinya memandangi keindahan fisik sang istri. Seperi mimpi yang menjadi kenyataan, saat dirinya dapat menikmati keindahan yang selama ini hanya ada dalam angannya dan terasa begitu jauh untuk dia jangkau. Akan tetapi, takdir begitu berpihak padanya. Dia kini dapat memeluk dan mencium Mia kapanpun, tanpa harus merasa bersalah.


Seperti saat itu. Gejolak dalam diri Adriano tak dapat dia tahan, ketika disuguhi pemandangan indah dari penampilan Mia yang tak biasa. Wanita berambut cokelat itu tampak sangat menggoda, membuat Adriano tak mampu menahan diri.


Dia menghampiri sang istri dan berdiri di belakangnya. Ujung jemari pria itu menelusuri lekuk indah punggung dengan bulu-bulu halus Mia. Sentuhan lembut yang berakhir dengan sebuah kecupan lembut.

__ADS_1


"Jangan, Adriano. Bukankah kita harus segera berangkat?" tolak Mia yang mulai terangsang dengan godaan sang suami.


"Sebentar saja, Mia. Jika tidak, maka kau akan membuat kepalaku menjadi pusing," bisik Adriano. Dia lalu menurunkan pakaian dalam Mia dengan setengah berjongkok, dan melepasnya lewat satu kaki. Adriano kembali berdiri dan menatap pantulan mereka berdua dari cermin rias.


Tanpa harus diberi perintah, Mia mengangkat kaki kanannya dan dia letakan di atas meja, memberi ruang yang cukup lebar sehingga Adriano dapat memasuki dirinya dengan leluasa. Sebuah lenguhan tertahan meluncur dari bibir Mia, ketika pria itu makin merapatkan tubuh dan menghujamnya dengan semakin dalam. Mia segera melingkarkan tangannya, pada leher Adriano yang kembali menunjukan keperkasaan dari belakang Mia. Sesekali pria itu menciumi leher sang istri, membuatnya semakin tak kuasa mengendalikan setiap ******* yang meluncur dari bibirnya.


Sekitar setengah jam kemudian, keduanya telah kembali merapikan diri dan keluar dari kamar. Senyuman pun tak juga lepas dari wajah Mia yang tampak begitu berseri.


"Daddy Zio!" seru Miabella seraya berlari ke arah Mia dan Adriano.


"Kau di rumah dulu, ya," ucap Adriano yang segera menggendong Miabella dan mencium pipinya.


"Kami tidak akan lama, Sayang," Mia ikut menimpali seraya terus mengikuti Adriano hingga menuju pintu keluar. Di sana Damiano sudah berdiri. Dia bertugas untuk menjaga Miabella selama Adriano dan Mia keluar.


"Bawakan aku oleh-oleh," pinta Miabella dengan manja.


"Kau ingin apa, Sayang?" tanya Adriano sebelum menurunkan gadis kecil itu.


"Baiklah," jawab pria bernata biru itu seraya menurunkan Miabella. Dia lalu sedikit merapikan kemejanya.


"Jangan nakal, Bella. Jangan menyusahkan kakek Damiano," pesan Mia setelah mencium putri semata wayangnya. Setelah itu, dia dan Adriano berlalu menuju mobil sport merah yang sudah terparkir di halaman Casa de Luca. Miabella melambaikan tangannya ketika mobil mewah itu mulai melaju dan menghilang di balik pintu gerbang bangunan megah tersebut. Miabella sudah terbiasa berdua dengan Damiano. Selama hampir satu tahun, Mia kerap meninggalkannya untuk menjalani terapi atas gangguan kecemasan yang benar-benar parah akibat kematian Matteo.


Jarak tempuh dari Brescia menuju Milan tidaklah jauh. Mobil sport yang Adriano kendarai, kini sudah berada di pusat kota mode tersebut. Tidak sulit menemukan cafètaria yang dimaksud, karena tempat itu memang terletak tepat di jantung kota dan termasuk salah satu cafè yang besar. Setelah memarkirkan mobilnya, Adriano segera keluar. Dia juga membukakan pintu untuk Mia. Setelah itu, mereka berjalan bersama memasuki tempat itu.


Suasana di sana sudah ramai. Hampir setiap meja telah terisi. Adriano tertegun sejenak. Mereka datang terlambat dan tidak melakukan reservasi, atau mungkin sebagian besar yang datang adalah warga kota Milan.


"Kita duduk di mana? Hampir setiap meja telah terisi," Mia mengedarkan pandangannya pada setiap sudut tempat itu.


Namun, tak berselang lama seorang pelayan datang menghampiri mereka. "Tuan D'Agelo?" sapanya dengan sopan, dan segera berbalas sebuah anggukan dari Adriano. "Mari. Meja untuk Anda sudah disiapkan," ajaknya. Dia berjalan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh Adriano serta Mia. Pelayan itu membawa mereka berdua pada sebuah meja paling depan. Di sana telah menunggu seorang wanita cantik berpenampilan menarik yang segera berdiri saat menyambut kehadiran Adriano dan Mia.

__ADS_1


"Carina," sapa Adriano ramah.


"Akhirnya kau datang juga," sambut wanita cantik yang tiada lain adalah Carina de Rossi. Tanpa segan dia mencium pipi Adriano, membuat Mia merasa tak nyaman saat melihatnya. Sesaat kemudian, perhatian wanita cantik itu beralih kepada Mia yang berdiri dengan tatapan aneh padanya. "Apakah ini adalah nyonya D''Angelo?" tanyanya.


"Ya. Ini istriku, Florecita Mia D'Angelo," jawab Adriano seraya merengkuh pinggang ramping Mia. "Mia, perkenalkan dia adalah Carina de Rossi. Carina dan aku merupakan teman lama," Adriano saling memperkenalkan kedua wanita cantik itu.


"Aku tahu siapa dia," jawab Mia mencoba menguasai dirinya. "Seluruh Italia mengenalnya ... kurasa begitu ...." Mia memaksakan diri untuk tersenyum.


"Ow, terima kasih, Mia. Boleh jika kupanggil begitu?" Carina menanggpi ucapan Mia.


"Tentu. Itu memang namaku," sahut Mia kembali merasa tak nyaman.


"Baiklah, silakan duduk. Aku ingin kalian bisa menikmati acaranya. Nanti akan kuperkenalkan pada sahabatku. Dia pemilik tempat ini," ucap Carina lagi dengan anggun. Pandangannya tertuju pada Adriano dengan sorot mata yang dipenuhi kekaguman. Sebagai seorang wanita, Mia dapat memahami arti tatapan itu. Terlebih cara bicara dan bahasa tubuh dari Carina pun sangat berbeda, tak seperti seorang teman yang berbicara dengan sahabatnya.


Carina terlihat sangat menyebalkan di mata Mia, yang hanya menjadi pendengar dari perbincangan hangat antara Adriano dengan wanita itu. Tak berselang lama, seorang wanita muda lain datang menghampiri mereka. Dia menyapa Carina dengan begitu akrab. “Adriano, inilah tuan rumahnya yang ingin kuperkenalkan padamu. Malena Aguerra Del Rey,” Carina lagi-lagi tersenyum manis kepada Adriano saat memperkenalkan wanita pemilik cafetaria tersebut. Sementara Mia hanya dapat mengempaskan napas pelan, ketika dilihatnya sikap Malena yang tak jauh berbeda dengan Carina di hadapan Adriano.


Namun, yang menjadi perhatian paling menarik bagi Malena saat itu tampaknya bukanlah Adriano, melainkan Mia sendiri. Malena menatap Mia dengan lekat. “Dia adalah istri Adriano,” bisik Carina.


“Mia de Luca?” Malena memicingkan kedua matanya, membuat Mia tersentak. Begitu juga dengan Adriano.


“Kau mengenalnya?” tanya Carina.


Malena tertawa renyah. “Siapa yang tidak mengenal Matteo de Luca?” jawabnya dengan enteng, tetapi membuat Mia merasa semakin tidak nyaman. “Aku adalah sahabat dekat Camilla Rosetti. Dulu dia sering mengajak Matteo datang kemari. Namun, aku juga tidak menyangka karena tiba-tiba Matteo justru menikah dengan wanita. Kau mungkin tak melihat atau mengenaliku, tapi aku menghadiri pesta pernikahanmu waktu itu,” tutur wanita bermata hazel tersebut yang segera disambut rona tidak percaya dari Carina.


Carina lalu mengalihkan perhatiannya kepada Mia yang sejak tadi hanya memilih untuk diam. “Matteo de Luca? Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Dia sosok yang sangat misterius. Omong-omong, aku turut berduka cita atas apa yang terjadi padanya.”


“Terima kasih, tapi itu sudah lama. Aku juga akan sangat menghargai jika kita tidak membahasnya saat ini,” jawab Mia menanggapi ucapan belasungkawa dari Carina. Sementara Adriano saat itu hanya tersenyum kecil seraya menggaruk keninynya perlahan. Ini akan menjadi acara kencan yang buruk baginya dan juga Mia. Namun, belum sempat Adriano mengatakan sesuatu, seorang pemandu acara sudah terlebih dahulu naik ke panggung yang telah disediakan di sana. Dia mulai membuka acara perayaan hari jadi ke-5 cafetaria tersebut. Pembawa acara itu juga memanggil nama Carina untuk segera tampil dan membawakan lagu-lagu andalannya.


Carina tampil dengan begitu percaya diri. Senyuman indahnya terus terkembang di antara lantunan suara merdu yang menghanyutkan semua pengunjung cafe. Tak heran jika wanita itu menjadi salah satu diva terkenal di Italia.

__ADS_1


"Aku tidak menyukai wanita itu, Adriano," bisik Mia. Rasanya dia ingin segera beranjak dari sana, terlebih ketika Carina mempersembahkan lagu terakhirnya khusus untuk Adriano.


__ADS_2