Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
The Silence


__ADS_3

Pesawat pribadi milik Adriano mendarat di bandara Nice tepat pada malam hari. Pria tampan bermata biru tersebut kemudian melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan kirinya. Saat itu, jarum jam sudah menunjuk ke angka tujuh. Dia lalu membantu Marco berdiri, kemudian menuntunnya menuruni tangga pesawat. Sementara peralatan tempur dalam koper, sudah dibawa oleh beberapa kru melalui jalan lain agar aman dari pos pemeriksaan.


“Bagaimana ini, Adriano? Apa yang harus kukatakan pada Dani,” tanya Marco cemas.


“Nanti kita pikirkan. Badanku lengket sekali. Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan tubuh yang kotor,” jawab Adriano dengan santainya.


Sementara Coco tak banyak bicara. Dia masih memikirkan kejadian tadi sore, di mana dirinya membuang jasad Monique begitu saja ke lautan lepas. Coco bahkan puasa berbicara sampai tiba di mansion milik Adriano.


Di sana, mereka bertiga menghabiskan beberapa saat lamanya untuk membersihkan diri. Setelah itu, ketiga pria tersebut bersiap untuk kembali ke Italia. Satu jam kemudian, Adriano yang telah selesai lebih dulu, tampak sudah siap menunggu. Dia berdiri dengan gagah di landasan helikopter. Tampaklah dari kejauhan, Marco berjalan dengan dibantu oleh Pierre. Coco juga ikut berjalan di samping mereka, tapi dia sama sekali tak terlihat ingin untuk membantu sang ketua Klan de Luca tersebut.


“Kau harus menyembunyikan wajah sedihmu atau Francesca akan curiga,” tegur Adriano saat Coco memasuki helikopter. Pria berambut ikal itu tengah sibuk memasang sabuk pengaman dengan raut masam.


“Aku tahu itu,” sahut Coco malas-malasan.


“Sudah kukatakan padamu. Coco telah jatuh cinta pada wanita itu,” celetuk Marco yang susah payah duduk di kabin helikopter dan harus dibantu oleh Pierre. “Terima kasih, Pierre,” ucapnya kemudian.


“Mon plaisir, Monsieur (Dengan senang hati, Tuan)," jawab Pierre seraya meletakkan satu tangannya di dada sebagai simbol hormat. Setelah mengangguk sopan kepada Adriano dan Coco, dia lalu turun dari helikopter dan melangkah menjauh. Sesaat kemudin, pria asal Perancis tersebut lalu berbalik ke arah helikopter tadi sampai baling-baling besi itu terbang tinggi meninggalkan mansion.


“Kau beruntung memiliki ajudan setia seperti Pierre,” ujar Marco seraya menoleh kepada Adriano.


“Dia bukan hanya sekadar ajudan,” jawab Adriano singkat sambil tersenyum penuh arti.


“Oh, tentu saja,” balas Marco. Pria itu kemudian terdiam untuk sejenak. Tatap matanya beralih pada pergelangan kaki yang mulai membengkak. “Lalu, apakah kau sudah menemukan ide untuk dijadikan alasan apa yang akan kuberikan pada Dani?” tanyanya disertai ringisan kecil.

__ADS_1


“Katakan saja bahwa kau terjatuh di tepi kolam renang karena sedang fokus mengejar balon merah,” jawab Adriano enteng.


“Alasan macam apa itu? Sudah kukatakan cari alasan lain. Kau tadi mengatakan padaku jika kau baru bisa berpikir dalam keadaan tubuh yang bersih,” protes Marco.


“Sayangnya hanya itu yang terlintas dalam kepalaku, Marco. Aku tak bisa memikirkan alasan lain,” Adriano terkekeh, lalu menepuk pundak ketua klan de Luca tersebut dengan akrab.


“Katakan saja kau terjatuh saat membantu memapahku yang sedang mabuk berat,” sahut Coco. Dia yang sedari tadi terdiam, akhirnya bersuara juga. “Maaf, aku tadi tak bisa membantumu,” imbuhnya seraya memalingkan wajah ke arah jendela. Setelah itu, tak ada lagi percakapan sampai ketiganya tiba di atap bangunan Casa de Luca. Di sana tampak Damiano bersama beberapa orang pelayan telah menunggu kedatangan mereka.


"Apa semua baik-baik saja saat kami pergi, Damiano?" tanya Marco yang berdiri dengan dibantu oleh Adriano.


"Semuanya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan selain ulah kedua putramu, Marco," jawab Damiano diiringi tawa pelan.


"Oh, astaga. Kenapa lama sekali mereka dewasa?" keluh Marco sambil berjalan tertatih dengan dipapah oleh Adriano. Sementara Coco telah lebih dulu masuk tanpa banyak bicara.


"Saat mereka dewasa, kau sudah menjadi kakek-kakek, Marco," celetuk Adriano.


"Biasa, sindrom pra pernikahan. Coco merasa stres karena membayangkan akan segera melepas masa lajang. Dia menjadi jauh lebih sensitif," sahut Marco mengada-ada.


"Bukankah ini yang dia tunggu sejak lama?" pikir Damiano heran.


"Ya, namanya manusia. Siapa yang bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya," balas Marco. Dia lalu duduk setelah mereka tiba di ruang tamu. "Terima kasih, Adriano," ucapnya.


"Sama-sama. Aku akan menemui ...."

__ADS_1


"Daddy Zio!" seru Miabella yang membuat Adriano tak sempat melanjutkan ucapannya. Gadis kecil itu berlari menghambur kepada sang ayah. Di belakangnya, tampak Mia mengikuti dengan senyuman manis saat menyambut kepulangan sang suami.


"Apa kabar, Sayangku?" sapa Adriano seraya mencium Mia sambil menggendong Miabella dengan tangan kiri.


"Kupikir kalian tidak akan pulang," balas Mia.


"Sebenarnya di sana sangat menyenangkan, Mia. Namun, sayangnya kami harus segera kembali. Omong-omong, di mana Daniella?" Marco tampak mengedarkan pandangannya.


"Dani sedang menemani Romeo dan Tobia di kamar. Sepertinya mereka akan tidur cepat. Hari ini anak-anak melakukan banyak aktivitas, sehingga mereka kelelahan," terang Mia.


"Lalu kenapa kau belum tidur, Principessa?" tanya Adriano seraya mencium pipi Miabella.


"Dia baru saja akan tidur saat tahu kau pulang, Sayang. Akhirnya Bella langsung berlari keluar kamar. Sebaiknya kau antarkan dia lagi, karena Bella harus istirahat," ujar Mia.


"Begitu rupanya," balas Adriano seraya menimang-nimang Miabella, hingga gadis kecil itu tertawa riang. "Ayo, akan kutemani kau sampai bermimpi indah, Sayang." Adriano memindahkan posisi anak itu. Dia mendekapnya, sehingga Miabella jadi menghadap ke belakang dengan wajah yang berada di atas pundak sang ayah sambung.


"Buona notte, Nonno (Selamat tidur, Kakek)," ucap Miabella seraya melambaikan tangan kepada Damiano yang masih duduk menemani Marco.


"Buona notte, Mio ​​nipote (Selamat tidur, Cucuku)," balas Damiano. Kini, di ruang tamu itu hanya ada dirinya dan Marco. "Aku masih penasaran dengan Coco. Apa yang terjadi padanya?" tanya Damiano yang tak percaya begitu saja dengan jawaban dari pria itu tadi.


"Tidak ada apa-apa, Damiano. Dia hanya sedikit sensitif. Kau tidak usah khawatir," jawab Marco menutupi apa yang sebenarnya terjadi kepada Coco.


"Bagaimana aku tidak khawatir. Terakhir aku melihatnya seperti itu saat dia akan berangkat ke Serbia, lalu kembali dalam keadaan terluka," ucap Damiano seraya mengempaskan napas dalam-dalam. "Aku selalu mengkhawatirkan Coco. Sekian lama kami hidup berdua di sini, saling menjaga, dan berbagi segala hal. Ya, meskipun terkadang dia tak bercerita apa-apa padaku, tapi aku bisa melihat dengan jelas perubahan sikapnya yang tak biasa."

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, Damiano. Dia akan baik-baik saja." Marco tersenyum kecil. Ayah dua anak itu kemudian terdiam sejenak. Tak berselang lama, Marco berusaha untuk berdiri. "Aku akan menemui Daniella dulu. Selamat malam, Damiano," pamit Marco. Dia berjalan tertatih menuju kamar yang ditempatinya bersama sang istri.


Sementara Damiano memperhatikan kepergiannya dengan tatapan aneh. Tidak Coco tak juga Marco. Kenapa sekembalinya dari pesta, mereka berdua terlihat aneh? Pikir Damiano seraya menggeleng pelan. Sayang sekali, ketiga pria muda itu seakan saling menutupi dan menghindar dari segala pertanyaan serta rasa penasaran Damiano. Namu, tak lama lagi dia akan segera mengetahui yang sebenarnya. "Aku akan menunggu," ucap Damiano pelan.


__ADS_2