
Adriano tampak baru selesai menghubungi seseorang, ketika Coco tiba di Casa de Luca setelah mengantarkan Francesca ke kota Roma. Segera dihampirinya pria bermata biru yang masih berdiri di teras itu. "Ada kabar terbaru?" tanya Coco sok akrab. Dia seakan lupa dengan semua sikapnya terhadap Adriano selama ini.
"Aku harus berangkat ke Inggris dalam minggu ini. Persiapkan dirimu, karena kau juga harus ikut denganku," titah Adriano dengan begitu enteng.
"Hey, Bung! Sejak kapan kau menjadi bosku? Seenaknya saja," gerutu Coco pelan. Namun, Adriano tak memedulikan sikap protes pria itu. Dia terus melangkah masuk menuju kamarnya. Adriano masih memiliki satu pekerjaan yang tak kalah penting, yaitu membujuk Mia yang masih marah dan cemburu padanya. Namun, setelah dilihat ternyata Mia tak ada di dalam kamar. Adriano pun berinisiatif untuk menuju ke kamar Miabella. Benar saja. Mia ada di sana. Wanita itu tengah sibuk mengepang rambut putri semata wayangnya.
"Hai, Daddy Zio," sapa Miabella dengan wajah ceria. Dia begitu senang karena Mia mengepang rambutnya dengan cantik. "Kau suka rambutku?" tanyanya seraya menunjukkan hasil karya dari sang ibu.
"Oh, itu sangat cantik," sanjung Adriano seraya menurunkan tubuhnya di hadapan Miabella yang tengah duduk di ujung tempat tidur.
"Ucapkan terima kasih kepada ibuku," suruh gadis kecil itu.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Adriano seraya mengernyitkan keningnya.
"Karena sudah membuatku cantik," jawab Miabella dengan polos. "Aku akan memperlihatkan rambutku kepada kakek sebelum dia pergi ke kebun," ucapnya lagi seraya turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar, meninggalkan Mia dan Adriano yang sedang mengalihkan perhatiannya kepada Mia. Pria itu menatap wanita cantik dengan rambut yang disanggul menggunakan jepitan kecil. Sedikit acak-acakan, tapi terlihat seksi di mata Adriano.
Merasa tak nyaman, Mia segera beranjak dari duduknya dan bermaksud untuk keluar kamar. Akan tetapi, dengan segera Adriano mencegahnya. "Kau masih marah padaku, Mia?" tanyanya.
"Jangan ganggu aku, karena sekarang diriku sedang kesal," tolak Mia mencoba menghindar dari tatapan manis Adriano yang penuh rayuan. Sementara pria itu hanya tersenyum menanggapi sikap Mia yang tengah merajuk padanya. Adriano justru semakin mendekat. "Apa yang harus kulakukan agar bisa membuatmu berhenti bersikap seperti ini padaku?" tanya Adriano dengan setengah berbisik. Akan tetapi, belum sempat Mia menjawab, terdengar suara dering ponsel Adriano. Pria itu segera memeriksanya. Adalah sebuah pesan masuk dari seseorang. "Kita lanjutkan nanti," bisiknya lagi seraya berlalu keluar kamar.
Mia yang saat itu berharap agar Adriano terus membujuk dirinya, merasa semakin kesal. Akhirnya, Mia memutuskan untuk merapikan kamar Miabella.
Di ruang tamu Casa de Luca, telah berdiri seorang pria yang tiada lain adalah Emiliano Moriarty. Adriano sengaja meminta pria itu untuk datang ke sana, karena suatu alasan. "Adriano? Kenapa kau menyuruhku datang kemari? Lagi pula sedang apa kau di tempat ini?" Emiliano segera menyambut putranya dengan serentetan pertanyaan. Pria tua itu mengernyitkan kening karena tak mengerti.
"Aku memang menginap di sini, karena ...."
"Daddy Zio!" seru Miabella yang berlari menghampiri ayah sambungnya. Gadis kecil itu bergelayut manja sambil memeluk paha Adriano. Di belakang Miabella, menyusul Damiano yang telah bersiap hendak pergi ke perkebunan. Selama ada Miabella di sana, Damiano pergi ke perkebunan hanya sekadar untuk memantau sebentar, kemudian segera kembali ke rumah.
Melihat hal itu, Emiliano merasa semakin tidak mengerti. "Sudah berapa lama kau menikah, Nak? Begitu teganya kau karena tidak memberitahuku sama sekali, jika aku telah memiliki seorang cucu yang cantik seperti ini," Emiliano menghampiri Miabella dan setengah berjongkok di hadapannya. Sedangkan gadis kecil itu, segera mundur dan bersembunyi di belakang Adriano.
"Kemarilah, Nak. Aku adalah kakekmu," bujuk Emiliano dengan senyuman ramah dan hangat. Akan tetapi, Miabella tetap menolaknya.
Adriano hanya tersenyum kecil menanggapi hal itu. Sementara Damiano tak berani untuk banyak bicara. Dia mengenal pria itu sebagai adik dari Alessandro Moriarty. "Damiano, perkenalkan ini adalah ayahku," Adriano menoleh kepada pria tua dengan topi yang selalu menjadi ciri khasnya.
__ADS_1
Damiano maju dan segera menyalami Emiliano. "Apa kabar, Tuan Moriarty," sapa Damiano.
"Anda mengenalku?" balas Emiliano dengan heran.
"Secara tidak langsung. Mendiang tuan Roberto bersahabat baik dengan kakak Anda, tuan Alessandro," terang Damiano ramah.
"Oh, ya. Tentu. Mereka bergelut dalam dunia yang sama, sedangkan aku lebih memilih untuk menarik diri dan tidak ikut campur dalam urusan organisasi hitam," ujar Emiliano.
"Karena itulah aku memintamu datang kemari," sela Adriano. Dia mempersilakan sang ayah untuk duduk. Sedangkan Miabella ikut duduk sambil terus memeluk sang ayah. "Begini, Damiano. Berhubung ayahku sekarang tidak memiliki pekerjaan yang tetap, maka menurutku akan lebih baik jika kalian bisa bekerja sama mengurus perkebunan dan juga produksi anggur. Selain untuk membantu meringankan beban pekerjaanmu, ayahku juga seorang pengusaha yang andal meskipun saat ini perusahaannya kacau dan tak mungkin untuk diselamatkan," jelas Adriano yang seketika membuat Emiliano terkejut bukan main.
"Bukankah kau akan meninjaunya dulu, Nak?" protes pria tua itu.
"Sudah kulakukan. Bukan hal yang sulit bagiku untuk itu. Karenanya aku mengambil keputusan ini," tegas Adriano.
"Lalu, bagaimana dengan suntikan dana yang akan kau berikan?" tanya Emiliano lagi dengan penuh harap.
"Rasanya sayang sekali bagiku jika harus menggelontorkan sejumlah dana untuk menyelamatkan perusahaanmu yang sudah lebih dari kacau, terlebih jika kau masih mempercayakan perusahaan kepada orang-orang seperti Agustine dan Ilario. Keputusan terbodoh yang kau ambil, Padre," jelas Adriano membuat sang ayah mengempaskan napas penuh sesal.
"Aku hanya memberikan satu kali penawaran. Silakan kau pertimbangkan baik-baik," ucap Adriano tenang. "Lagi pula, kau pasti sudah mengetahui Du Fontaine. Apa kau tidak tertarik untuk menjadi salah satu dari bagian merk terkenal itu? Tidak lama lagi, aku akan membawa merk itu ke Yunani dan juga Inggris. Kau masih ingin banyak berpikir, Padre?" Adriano mulai membujuk sang ayah.
"Dulu, tuan Roberto dan tuan Alessandro melakukan kerja sama. Mereka mampu menguasai pasaran Italia, bahkan hingga ke beberapa negara tetangga. Aku rasa, kita bisa mengembalikan kerja sama berlandaskan kekeluargaan yang sempat terputus. Apalagi dengan pernikahan Adriano dan ...."
"Bella, apa kau ingin makan buah?" Mia muncul di antara mereka, tanpa sengaja memotong kalimat Damiano begitu saja. Sesaat, dia menoleh kepada Emiliano kemudian mengangguk sopan. Mia bermaksud meraih Miabella dari pangkuan Adriano. Namun, gadis kecil itu menolak. Dia masih ingin berada dalam pangkuan sang ayah.
"Tak apa, Mia. Dia tidak menggangguku," ucap Adriano seraya menoleh kepada Mia. Pria itu menatapnya sesaat, kemudian mengalihkan pandangan kepada Emiliano. "Berhubung kau ada di sini, maka sekalian saja kuperkenalkan padamu. Ini adalah istriku, Florecita Mia D'Angelo," Adriano berdiri di dekat Mia yang terlihat sedikit kebingungan.
Emiliano ikut berdiri. Dia menatap Mia dengan cukup lekat. Sepasang mata tuanya tampak berbinar penuh keharuan. Sesuatu yang terlihat begitu jelas di mata Adriano. "Mia, dia adalah Emiliano Moriarty. Ayahku ...." ucapan Adriano terdengar begitu berat saat mengatakan hal itu. Namun, dia tetap harus memperkenalkan Mia terhadap ayahnya.
"Nak," Emiliano tak kuasa menahan haru. Sekian lama tak berjumpa dengan Adriano, sang putra kini kembali dengan membawa seorang istri dan putri yang cantik. Sebuah kejutan yang sangat luar biasa baginya.
"Apa kabar, Tuan Moriarty," Mia merasa bingung saat menyapa ayah mertuanya.
"Panggil aku ayah," pinta Emiliano. "Kau dan putrimu sama-sama cantik. Adriano memang menuruni bakatku dalam memilih wanita," gurau pria itu membuat Mia tersenyum lebar. "Katakan, sudah berapa lama kalian menikah?" Emiliano kembali mengajukan pertanyaan yang tadi belum dijawab oleh Adriano.
__ADS_1
"Dua bulan," jawab Adriano dengan raut biasa, tetapi berhasil membuat Emiliano terlihat tak biasa saja. Pria itu mengernyitkan kening seraya menatap kepada Adriano dan Mia secara bergantian. "Kami adalah pasangan pengantin baru," lanjut Adriano sambil melirik Mia yang terlihat tidak nyaman.
"Jadi, kalian memiliki anak sebelum menikah?" tanya Emiliano lagi.
"Dia putriku bersama mendiang Matteo de Luca," jawab Mia mencoba untuk kembali terlihat percaya diri.
Terdengar suara helaan napas panjang dari bibir Emiliano. Pria itu kemudian manggut-manggut. "Baiklah, aku paham. Cinta memang buta," ucapnya kemudian.
"Ya, kau benar sekali. Cinta terkadang datang pada seseorang yang dianggap kurang tepat. Jatuh cinta tak mengenal pada siapa dan dalam situasi seperti apa. Seperti halnya dirimu yang sudah menikah tapi masih bermain api dengan wanita lain. Semua itu di luar kendali kita," ucap Adriano lagi sambil menepuk-nepuk punggung Miabella yang tiba-tiba saja sudah tertidur dalam pelukannya.
Kalimat itu membuat Emiliano terdiam untuk beberapa saat. Suasana aneh dan canggung mulai terasa.
“Bagaimana jika Anda ikut bersamaku, Tuan Moriarty? Anda bisa melihat-lihat kondisi perkebunan sekaligus mempelajari proses ketika kami memanen anggur,” ajak Damiano untuk mencairkan suasana.
“Kurasa itu ide yang bagus,” sahut Adriano tanpa ekspresi.
Emiliano sempat menatap putranya sebelum beralih pada Mia dan Damiano. “Baiklah, kalau menurutmu itu bagus. Aku akan menurut padamu, Adriano. Melihat sepak terjangmu di dunia bisnis, rasanya aku akan mengikuti saranmu saja,” pria tua dengan rambut penuh uban itu pun tersenyum.
Baru beberapa langkah mengikuti Damiano, Emiliano kemudian berhenti dan berbalik pada Adriano. “Dari semua anak-anakku, kaulah yang paling bisa diandalkan. Terima kasih, Adriano. Aku senang bisa dekat dan akrab denganmu lagi,” ucapnya tulus sembari melirik pada Mia, lalu mengangguk.
“Aku percaya Adriano tidak pernah salah pilih,” imbuhnya sebelum kembali melangkah menyusul Damiano.
Pipi Mia merona kala mendengar pujian dari sang ayah mertua. Diam-diam, dia melirik Adriano yang ternyata tengah memandang ke arahnya sambil mengulum senyum.
“Biar kutidurkan Miabella,” Mia mengalihkan perhatiannya pada putri kecilnya. Tanpa menunggu persetujuan Adriano, dia merengkuh tubuh putrinya dan menggendong gadis kecil itu menuju kamar.
Adriano lagi-lagi hanya tersenyum melihat hal itu. Sepertinya dia tak hendak mengejar Mia, karena dia lebih memilih untuk keluar dan menuju halaman, lalu menyalakan mobil. Pria itu melajukan kendaraannya meninggalkan Casa de Luca.
Di dalam kamar Miabella, Mia mulai merasa resah. Ditunggunya sang suami yang tak kunjung menyusul. Ketika dilihatnya Miabella semakin nyenyak tertidur, Mia memutuskan untuk kembali ke kamar dan mencari sang suami di sana. Sayang, Adriano tak terlihat di manapun. Mia mencari di setiap sudut ruangan. Namun, kamar itu kosong. Di sana hanya ada sebuah kotak persegi berwarna hitam, tergeletak begitu saja di atas ranjang.
Penasaran, Mia membuka kotak itu dan terbelalak saat melihat isinya. Ragu-ragu, dia menyentuh dan mengusap kain yang terlipat rapi, begitu lembut dan tampak sangat mewah. Dia memberanikan diri untuk mengambil dan menempelkan di badannya. Adalah sebuah gaun malam berwarna hitam yang elegan. Terasa nyaman saat gaun itu menyentuh kulitnya. Seketika raut wajah cantik itu berbinar cerah, terlebih saat dia membaca kartu ucapan yang tersemat di dalam kotak.
“Maafkan aku jika telah membuatmu marah, Mia. Akan kutebus senyummu malam ini. Datanglah ke apartemenku dengan memakai gaun yang kuhadiahkan itu. Jam delapan tepat. Aku tidak menerima penolakan.”
__ADS_1