Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Abu di Dalam Guci


__ADS_3

Sudah dua hari jasad Damiano bersemayam di rumah duka. Banyak kolega, kerabat dekat maupun para petinggi organisasi datang memberi penghormatan terakhir untuknya. Akan tetapi, hari itu adalah hari terakhir tubuh kaku Damiano diletakkan dalam peti mati. Rencananya jasad pria tua tersebut akan dikremasi di sebuah krematorium pusat kota Brescia, yang letaknya tak begitu jauh dari perkebunan.


Semua orang hadir dalam proses pembakaran jenazah Damiano, tak terkecuali Juan Pablo yang datang dan mengambil tempat duduk paling belakang. Kurang lebih sekitar dua jam proses tersebut berlangsung. Abu jenazah sudah disimpan rapi di dalam sebuah guci yang terbuat dari porselen, dan khusus dipesan oleh ketua klan de Luca, yaitu Marco.


Motif dari guci berwarna dasar putih itu pun tak sembarangan. Di sana terdapat ukiran simbol klan yang dilengkapi sebuah kalimat dalam bahasa latin khas Romawi. Kalimat itu ditulis secara berulang dan terukir melingkar memenuhi permukaan guci. Sebuah filsafat yang berasal dari penulis era Romawi kuno bernama Marcus Tullius Cicero yang berbunyi : 'gloria virtutem tamquam umbra sequitur'. Kalimat itu sendiri memiliki makna bahwa kekuatan kemuliaan seperti bayangan. Sebuah pepatah yang sangat digemari oleh Damiano semasa hidupnya.


Petugas kremasi menyerahkan guci tadi kepada Miabella, yang bertindak sebagai keturunan utama dari Roberto de Luca. Gadis cantik bermata abu-abu tersebut menerimanya dengan tangan gemetar. Tak terkira betapa hancur perasaannya saat menerima apa yang tersisa dari seorang Damiano. "Kakek,” isaknya lirih.


Tangisan Miabella terdengar semakin kencang, saat dirinya keluar dari tempat kremasi. Di sisi kiri dan kanannya berjajar seluruh anggota dari klan de Luca yang semuanya memakai setelan berwarna hitam. Setiap dari mereka juga memiliki tato yang sama, yaitu Trinity Knot di punggung tangan sebelah kanan, sebagai simbol bahwa mereka adalah anggota dari keluarga besar klan de Luca.


Sementara itu, para tetua klan sudah berdiri gagah di samping mobil masing-masing yang akan mengiringi mobil Miabella menuju aula rahasia. Aula tersebut terletak di lantai bawah tanah bangunan Casa de Luca, tempat Matteo dan Marco dinobatkan sebagai ketua.


Saat itu adalah pertama kalinya Miabella menjejakkan kaki di aula rahasia tersebut. Aura dingin dan keramat langsung menyambut gadis cantik yang tengah memegang guci itu. Salah seorang tetua mengarahkannya pada sebuah anak tangga menuju panggung, yang menempel di salah satu sisi dinding aula. Pada dinding tersebut, terdapat banyak lubang berbentuk persegi dengan formasi sejajar dan bertingkat. Masing-masing lubang berisi guci dengan warna, motif dan ukiran yang berbeda-beda.


Dinding itu memang dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan, bagi orang-orang yang sangat berjasa dalam melayani para ketua dan keturunan langsung marga de Luca.


Dengan hati-hati, Miabella meniti anak tangga satu per satu hingga dirinya tiba di depan dinding tadi.


Salah seorang pengawal bergegas menghampiri putri Matteo tersebut. Dia menyiapkan sebuah tangga untuk gadis itu. Miabella pun segera menaiki tangga tersebut, hingga tangannya dapat menggapai lubang tertinggi. Dia lalu meletakkan guci berisi abu Damiano di sana.


Setelah itu, Miabella turun perlahan kemudian berbalik menghadap semua orang yang telah memenuhi aula. Mata abu-abunya mengawasi satu per satu orang yang hadir. Dia memperhatikan mereka dengan saksama. Gadis itu kemudian mengembuskan napas panjang sebelum memulai sambutan.

__ADS_1


“Buongiorno a tutti. È un onore che tutti voi possiate essere qui. Oggi ho consegnato la salma di Damiano Baresi al pilastro dell'esecuzione organizzativa. Depongo qui le sue ceneri per preservare il grande no•me della famiglia de Luca. vivrà sul suo trono eterno in questo luogo, per proteggerci tutti (Selamat pagi semuanya. Sebuah kehormatan, anda semua bisa hadir di sini. Pada hari ini, telah kuserahkan raga Damiano Baresi kepada pilar penegak organisasi. Kusemayamkan abunya di sini untuk menjaga kelangsungan nama besar keluarga de Luca. Dia akan hidup di singgasananya yang abadi di tempat ini, untuk melindungi kita semua).”


Selesai menyampaikan sambutannya, Miabella menundukkan kepala dan kembali menitikkan air mata. Bayangan masa kecil bersama Damiano, memenuhi ingatan gadis itu.


Akan tetapi, tepuk tangan riuh dari semua orang yang hadir di sana, membuat Miabella harus kembali mengangkat wajah. Para tetua mengangkat tangan kanan sembari memamerkan pin emas masing masing-masing. Sementara para ajudan membuat siulan khas yang biasa diperdengarkan saat terjadi peristiwa besar, seperti peperangan ataupun peringatan kematian.


Sebuah senyuman samar tersungging dari bibir indah Miabella, tatkala sang ibu dan juga ayah sambung kesayangannya, memperhatikan dia dengan penuh rasa kagum dan bangga. Apalagi ketika banyak orang mengelu-elukan namanya. “Viva figlia Matteo (Berjayalah putri dari Matteo)!”


Salah seorang pengawal mengulurkan tangan dan membantu Miabella untuk turun. Gadis itu pun segera menghambur ke arah Adriano dan memeluknya cukup lama. Setelah itu, dia berpindah kepada Mia. Tak lama kemudian, dia melepaskan pelukan lalu menyalami setiap orang yang berdiri di sana.


Penghormatan khusus dia berikan pada tetua klan, yaitu dengan memberi salam sambil membungkukkan badan. Sikap seperti itu dia lakukan, hingga tibalah dirinya pada deretan tamu terakhir di mana Juan Pablo berada.


Gadis itu tersenyum manis, lalu membungkukkan badan pada sang paman. Coco yang melihat hal itu sungguh terkejut, sampai-sampai wajah tampannya berubah merah padam. “Apakah si setan kecil tidak tahu, bahwa pria itulah yang telah membunuh ayahnya?” desis Coco seraya mengepalkan tangan.


“Aku akan memarahi Bella nanti!” geram Coco kemudian. Ekor matanya mengikuti gerak Miabella yang keluar dari aula, diikuti oleh para tetua dan semua anggota organisasi de Luca. Sementara para wanita dan anak-anak keluar setelah Marco mengarahkan mereka ke taman, tempat dilangsungkannya perjamuan. Terakhir, Coco yang keluar dari sana, beriringan dengan Juan pablo.


“Seandainya mereka tahu bahwa kaulah yang telah membunuh Matteo, mungkin saat ini giliranmu yang akan dikremasi,” celetuk Coco pada Juan Pablo sambil tertawa mengejek.


“Tidak masalah. Aku justru akan berterima kasih kepada siapa pun yang berhasil membunuhku,” jawab Juan Pablo tenang dan datar.


“Kau masih saja sombong,” hardik Coco dengan tatapan tajam seperti hewan buas yang akan menerkam mangsanya.

__ADS_1


“Tentu saja tidak, Tuan Francesco Ricci. Aku tidak berniat untuk sombong. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Sebagian besar waktuku telah terbuang sia-sia. Entah berapa nyawa yang terlepas dari raga akibat tangan jahanamku ini.” Juan Pablo membuka telapak tangannya dengan mata menerawang. Dia memperhatikan telapak tangan yang terlihat besar dan kokoh itu. “Aku sudah berjanji tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama." Juan Pablo terpejam beberapa saat. Butiran bening menetes di sudut matanya.


“Miabella bersikap baik padamu, karena dia belum mengetahui yang sebenarnya,” cibir Coco dengan nada mengejek.


“Kau salah, Ricci. Aku sudah menceritakan semuanya pada Miabella. Tak ada satu pun yang terlewat,” sahut Juan Pablo kalem.


“Apa?” Coco terbelalak tak percaya. “Lalu, kenapa dia masih saja memberi penghormatan padamu?”


Juan Pablo tersenyum samar, kemudian berjalan menjauh meninggalkan aula. Tujuannya adalah menuju taman, di mana semua orang tengah berkumpul.


Sedangkan Coco yang masih merasa penasaran, bergerak mengikuti pria yang begitu mirip dengan Matteo tadi. “Aku tidak percaya Miabella bisa bersikap seperti itu padamu. Aku tahu dia memiliki karakter yang sama seperti Matteo. Dia tak akan semudah itu memaafkan orang yang telah menghancurkan hidup dan kebahagiannya,” lanjut Coco.


Juan Pablo menghentikan langkah tiba-tiba. Dia lalu menghadap ke arah Coco. Sorot mata yang awalnya tajam, berubah sendu seketika. “Pada mulanya, Miabella memang terkejut. Matanya sempat berkaca-kaca. Akan tetapi, gadis itu kemudian tersenyum begitu manis padaku. Dia mengatakan bahwa dirinya tak akan mendendam, karena ... karena ....” Pria Meksiko itu tak melanjutkan kata-katanya.


Juan Pablo malah menunduk sambil mengusap pipi. “Anak itu ... dia memercayaiku. Dia mengatakan bahwa aku adalah pria yang baik dan layak diberikan kesempatan kedua, karena diriku masih bersedia mengunjungi makam ayahnya. Dia yakin bahwa perasaan bersalah yang menghantuiku seumur hidup, telah menjadi hukuman yang jauh lebih berat dari sebuah kematian mengenaskan. Miabella tak ingin menambah penderitaanku dengan memupuk dendam dan permusuhan,” sambung Juan Pablo pada akhirnya.


“Gadis kecil yang dulu menangis ketakutan saat melihatku menodongkan senjata pada ibunya, kini telah berubah menjadi wanita yang teramat kuat. Miabella pantas menyandang nama besar de Luca. Aku sangat bangga padanya.” Juan Pablo tersenyum nanar, kemudian melanjutkan langkah untuk bergabung bersama Miabella.


Sementara Coco hanya diam terpaku di tempatnya. Perkataan yang telah dilontarkan oleh Juan Pablo, terasa menampar dirinya dengan begitu keras. Rasa sakit atas kehilangan sosok sahabat tercinta, perlahan terobati. Juan Pablo ternyata sudah menerima karma atas perbuatannya. Dia tersiksa batin, walaupun Coco tak bisa membalaskan dendam atas kematian Matteo.


Padahal, belum tentu juga Matteo menyimpan dendam karena kematian tragis itu. Terlebih, Coco merasa jika Matteo sudah tenang di surga. Keyakinan tersebut sepatutnya membuat dia sadar, bahwa Matteo telah menerima takdir atas dirinya.

__ADS_1


“Astaga ” Coco menggeleng lalu tertawa pelan. Pikirannya mulai terbuka dan mengingatkan dia akan sesuatu tentang peninggalan paling berharga dari Matteo, yaitu Miabella.


__ADS_2